Zina, Jangan Main Api 

Terhadap zina, jangankan melakukan, mendekati saja sudah dilarang. Mengapa?  Karena  zina  bagai zat yang mudah terbakar.

Mungkin orang itu pada mulanya tidak berniat, hanya nyerempet-nyerempet saja. Tapi itu sudah cukup menyulut hawa nafsu bergolak. Paling tidak, ukiran ruhani bekas dzikir dan baca Al Qur’an hangus begitu saja.     Belum lagi kalau percikannya membakar jiwa. Hancurlah bangunan ruhani yang sekian lama terbina. Rusaklah akal dan pikiran. Kenikmatan sekejap itu mengakibatkan penderitaan jangka panjang. Petaka dunia dan juga petaka akhirat, bila tidak segera bertaubat.

JIKA ZINA DIHALALKAN
Ada yang mencoba menghalalkan zina dengan takwil-takwil batil, bahwa zina adalah perkosaan. Adapun jika dilandasi suka sama suka maka itu bukan zina, tidak mengapa. Sebagian malah ada yang mencoba menipu Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì dan sesungguhnya mereka tidak menipu kecuali diri mereka sendiri dengan berpura-pura menikah dan berperan seakan-akan suami istri. Atau mereka berdalil dengan ucapan orang-orang Syiah yang batil tentang nikah mut’ah yang tidak lebih dari sekadar penghalalan zina dengan berkedok agama.
   
Sungguh benar ucapan Rasulullah:
  
"Pasti akan ada dari umatku suatu kaum (yang berusaha) menghalalkan zina, sutera(bagi laki-laki), khamar (minuman keras), dan alat-alat musik." (HR. Bukhari).

JANGAN DEKATI ZINA
Allah  berfirman, artinya:

"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang jelek." (QS. Al Isra’: 32)
   
Dalam tafsir Kalamul Mannan, Syekh Abdurrahman Nashir As-Sa’di berkata, "Larangan Allah untuk mendekati zina itu lebih tegas daripada sekadar melarang perbuatannya, karena berarti Allah melarang semua yang menjurus kepada zina dan mengharamkan seluruh faktor yang mendorong kepadanya."
   
Jika jalan-jalan dan faktor-faktor yang menuju kepadanya saja dilarang, maka apatah lagi dengan perbuatannya.
   
Masih dalam tafsirnya, Syekh Abdurrahman berkata, "Al fâhisyah adalah sesuatu yang dianggap sangat jelek dan keji oleh syariat, oleh akal sehat dan fitrah manusia, karena mengandung pelanggaran terhadap hak Allah, hak wanita, hak keluarganya dan suaminya, dan merusak kehidupan rumah tangga serta tercampurnya (kacaunya) nasab keturunan." Dan sering sekali fâhisyah di dalam Al Qur’an atau pun hadits dimaksudkan dengan zina.

BAHAYA ZINA
1. Dosa Besar
Zina adalah dosa besar dan bukan masalah kecil. Ibnu Mas’ud ÑÖí Çááå Úäå pernah bertanya tentang dosa-dosa besar kepada Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã "Wahai Rasulullah! Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?" Beliau bersabda, "Engkau menjadikan bersama Allah sekutu yang lain, padahal Dia yang menciptakanmu." Dia (Ibnu Mas’ud) berkata,

"Kemudian apa?" Beliau bersabda, "Engkau membunuh anakmu karena khawatir dia akan makan bersamamu." Dia berkata, "Kemudian apa?" Beliau bersabda, "Engkau berzina dengan istri tetanggamu."
   
Kemudian Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã membacakan ayat (tentang sifat-sifat hamba-hamba Allah Ar-Rahman), di antaranya Allah berfirman, (artinya): "Yaitu orang-orang yang tidak menyeru bersama Allah sesembahan yang lain dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak dan tidak berzina. Dan barangsiapa melakukan yang demikian akan mendapatkan dosa, akan dilipatkan azabnya pada hari kiamat dan kekal di dalamnya dengan terhina." (QS. Al Furqan: 68-69). (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Penyebab Terbanyak Terjerumusnya Manusia ke Dalam NerakaRasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã mengatakan bahwa yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka adalah mulut  dan farji (kemaluan). Beliau bersabda, artinya:

"Yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka adalah mulut dan kemaluan." (HR. Tirmidzi dan dia berkata hadits ini shahih).
   
Maka pantaslah kalau tentang hal ini Imam Ahmad mengatakan, "Aku tidak tahu ada dosa yang lebih besar setelah membunuh jiwa daripada zina."

3. Tercabutnya Unsur Keimanan di Dalam Hati
    Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã bersabda, artinya:
 
"Tidaklah orang yang berzina itu mukmin saat dia berzina." (HR. Bukhari dan Muslim).

4. Siksaan di AkhiratDari Samurah bin Jundub, beliau berkata bahwa Rasululllah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã bersabda, "Suatu malam aku bermimpi, ada dua orang yang mendatangiku, lalu keduanya mengajakku keluar, maka aku pun beranjak bersama keduanya…Lalu kami sampai pada sebuah rumah yang dibangun seperti tungku, ternyata di dalamnya ada suara gaduh dan hiruk pikuk. Lalu kami melongok ke arah tungku itu dan ternyata di sana ada kaum laki-laki dan perempuan yang telanjang. Ketika api dinyalakan, mereka pun berusaha naik hingga hampir-hampir bisa keluar (dari tungku). Jika api redup, mereka pun kembali ke tempat semula. Aku pun bertanya, "Siapakah mereka?" Dia menjawab, "Adapun laki-laki dan perempuan yang telanjang di bangunan semisal tungku itu adalah para pezina perempuan dan laki-laki." (HR. Bukhari).

5. Mendatangkan Bencana dan Malapetaka
Zina ketika telah merajalela merupakan tersangka utama atas datangnya bencana massal. Banyak jenis penyakit baru, aneh, sangat berbahaya, dan belum ditemukan cara pengobatannya.
   
Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã bersabda,
"Tidaklah perbuatan keji (zina) meyebar pada suatu kaum hingga mereka terang-terangan dengannya melainkan akan menjalar ke tengah mereka penyakit tha’un dan berbagai penyakit yang belum pernah dialami oleh orang-orang sebelum mereka." (HR. Ibnu Majah).
   
Demikian pula dengan bencana alam berupa banjir, kekeringan, letusan gunung api, gempa bumi, dan lain-lain.Diriwayatkan oleh Ummu Salamah—radhiyallahu ‘anha—beliau berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã bersabda, "Jika telah muncul berbagai kemaksiatan di tengah-tengah umatku, maka Allah akan menimpakan azab dari sisi-Nya yang mengenai mereka semua." Saya tanyakan pada beliau, "Ya Rasulullah, apakah ketika itu di dalamnya masih ada orang-orang shaleh?" Beliau menjawab, "Ya, benar." Saya tanyakan lagi, "Lalu bagaimana dengan mereka itu?" Beliau menjawab, "Mereka tetap tertimpa azab sebagaimana menimpa orang-orang pada umumnya, namun mereka akan mendapatkan ampunan dan keridhaan Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì." (HR. Ahmad).

ZINA DALAM TINJAUAN AKAL SEHAT DAN FITRAH
Tanyakan pada diri Anda, bagaimana jika istri Anda yang jadi obyek zina? Atau ibu Anda? Atau anak perempuan Anda? Atau kakak dan adik perempuan Anda?
Demikianlah cara berpikir yang diajarkan oleh Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã ketika datang pada beliau seorang pemuda dan berkata, "Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk berzina." Maka para sahabat segera melarangnya dengan marah. Kemudian Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã bersabda, "Mendekatlah!" Maka dia mendekat kepada Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã. Kemudian Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã bersabda, "Duduklah!" Maka ia duduk. Kemudian beliau bersabda, "Sukakah kamu bila itu terjadi pada ibumu?" Dia menjawab, "Tidak. Demi Allah, aku sebagai jaminan untukmu." Beliau bersabda, "Demikian pula manusia seluruhnya tidak suka zina itu terjadi pada ibu-ibu mereka." Kemudian beliau bertanya lagi, "Sukakah kamu bila itu terjadi pada anak perempuanmu?" Dan pemuda itu menjawab seperti tadi. Demikianlah selanjutnya beliau bertanya jika itu terjadi pada saudara perempuannya, bibinya, dan seterusnya.
   
Pemuda itu pada mulanya memiliki ukuran sendiri terhadap apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak. Sebelumnya, ia merasa boleh-boleh saja. Bila ia hidup di zaman sekarang, mungkin ia termasuk sebagai kaum yang membela kebebasan pornografi dan pornoaksi. Ia beranggapan, toh tidak ada yang dirugikan. Sama-sama senang, sehingga dengan ringannya mengajukan dispensasi untuk tetap dibolehkan berzina.
   
Jiwa merdeka pasti menganggap celanya zina. Ketika Hindun masuk Islam dan berbaiat kepada Nabi Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã yang salah satunya terdapat larangan zina, dia merespon, "Adakah wanita merdeka yang berbuat zina wahai Rasulullah?"
   
Bandingkan dengan para pembela pornografi dan pornoaksi yang turun ke jalan-jalan sambil berteriak-teriak menentang RUU APP. Bandingkan dengan keheranan Hindun—radhiyallahu ‘anha—ketika baru saja masuk Islam, "Mungkinkah ada wanita merdeka yang berzina?" Memang, hanya jiwa-jiwa terjajah, mental-mental budak yang menyukai perzinaan, bukan orang-orang merdeka!
Wallahul Musta’an wa ilaihil Musytaka (Al Fikrah)

   

 

Artikulli paraprakKetua MPR dan Walikota ke Wahdah
Artikulli tjetërKalau Saya Jadi Gubernur…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini