Yang Tegar Di Jalan Dakwah

  
Alhamdulillah,wassholatu wassalamu ala Rosulillah,wa ba’du. Tulisan  ini kupersembahkan untuk kita semua, para muslimah, para akhawat dan para ummahat sekalian, agar kita senantiasa tegar dijalan dakwah. Jangan sampai fitnah dunia memalingkan kita dari jalan Robb kita.

Oh…betapa sulitnya perjuangan ini, betapa beratnya kehidupan ini. Jalan dakwah yang terjal dan berliku , kadang membuat kita kehabisan tenaga. Sulit bernafas dan melanjutkan perjuangan ini. Letih dan lemah. Lunglai terasa. Tak bersemangat lagi melanjutkan perjuangan. Begitu banyak duka, dan kesulitan hidup. Melilit dan membelit. Bagaikan lilitan ular di pepohonan. Sukar bergerak, tak bisa lepas. Inilah kiasan hidup kita di dunia, saat ini. Kenangan masa lalu berkelebat, terbayang  ketika kita masih sendiri. Ketika hidayah Allah datang menjelang. Kenangan manis tak terlupakan. Kaki berjalan, terseok-seok menuju kampus. Tas dijinjing, berat tak terasa karena semangat yang membara. Ingin membelah kampus. Membersihkan semua cecunguk yang menebarkan fikroh sesat dan beracun. Ingin membela saudara, mengajaknya agar tak terseret arus fitnah yang meraja lela. Tak terasa, amanah menumpuk begitu banyak. Sekian liqo’ tarbiyah kita pegang. Senin, selasa, rabu, kamis dan jum’at. Setiap hari penuh kesibukan. Mengisi tarbiyah bagi adik-adik mala maupun maba. Sabtu tarbiyah, Ahad musyawarah. Study club butuh pemimpin, baiklah, kita yang pimpin. Minimal jadi ketua departemen atau jadi anggota biasa, tak masalah. Yang penting ada yang harus kita kerjakan. Untuk perbaikan ummat!

Hari berlalu tiada terasa, usiapun semakin bertambah. Kita tak cuma butuh udara. Namun butuh pula teman sejati. Yang menebarkan aroma rahmat dan kasih sayang. Yah, harapan itu wajar. Muncul dikala kita masih sendiri. Betapa indahnya jika kita punya teman, yang selalu bersama siang dan malam menapaki jalan dakwah ini. Bersama meraih kemenangan. Dimanakah dirimu……..? Haruskah aku yang mencari dan menjemputmu? Sedang aku dalam kelemahan dan tertutupi rasa malu. Hanya munajat pada Sang Khaliq, agar pertolonganNya segera tiba. “Robbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqiir.” Duh, inilah doa Nabi Musa alaihissalam ketika bermunajat pada Robbnya. Dalam asa yang berkepanjangan, dalam munajat yang tak berhenti, jawaban itu ternyata datang juga, hampir jiwa putus asa, tapi Allah tak pernah lupa. Dipuncak harapan,”Wahai Robby…inikah yang Kau utus buatku? Tuk menemani hari-hariku seumur hidupku ? di dunia hingga JannahMu?…Dan aqadpun akhirnya terlaksana, dalam mitsaqan ghaliza. Perjanjian yang kuat antara dua insan di bumi ini. Bahagia, tenang, dan sejuta harapan bertaburan bagaikan bintang di langit. Subhanallah, subhanallah, perjuangan belum berakhir……….

Ketika kita telah berdua, tantangan dakwahpun kembali ada. Aku yang mulai sakit-sakitan,keluarga suami yang butuh penyesuaian, kuliah yang belum selesai, adik binaan yang malas datang dan seabreg beban yang lain mulai bermunculan. Aku tegang, Alhamdulillah ada suami yang sabar dan penyayang. Melayani ketika kita sakit, memperhatikan, membantu meringankan pekerjaan, dan memberi penguatan pada jiwa yang mulai lemah kembali. Lahirlah jundi pertama. Inilah lanjutan perjuangan ini. Kita mulai diberi amanah tuk menyiapkan generasi pelanjut. Generasi masa depan yang kita harap bisa eksis hidup dijaman yang bukan jaman kita. Lahir pula jundi berikut; dua.., tiga..,dst… Seorang dokter kandungan pernah berkata: “Bu! Masih muda sudah banyak anaknya, kalau tidak KB bisa dua puluh anaknya,”  Aku hanya tersenyum sambil membayangkan bagaimana sekiranya hal itu terjadi? MasyaAllah, Dialah yang memberi kita anak, dan menganugerahkan rezki. Jika semuanya anak-anak yang sholeh, Subhanallah. Apakah perjuangan telah berakhir….? Tidak!

Saudariku, ketika kita telah memiliki jundi, dan kita tetap memilih eksis dalam perjuangan ini, maka itu adalah anugerah. Kita bisa selalu memberikan bi’ah shalihah bagi anak-anak kita. Kita yang tetap jadi murabbi, pengurus, maupun kader keislaman yang lain, akan lebih mudah membentuk watak dan karakter jundi-jundiyah kita. Mereka akan bangga jika umminya bisa mengisi ta’lim, kajian dan lainnya daripada ketika kita hanya memilih menjadi ibu rumah tangga yang setiap hari hanya berputar pada dapur, sumur dan kasur. Inilah kelebihan seorang aktifis. Ketika rumah tangga dijadikan bahtera dakwah dalam ridho dan naungan Nya. Membina anak-anak dengan suasana dakwah dan suri teladan yang baik dari ummi shalihah. Ummi yang tidak hanya mengurus diri dan keluarganya semata.

 
Demikian pula kita tidak  menjadikan rumah tangga sebagai alasan tuk jauh dari majelis ilmu. Tetaplah konsisten dalam tarbiyah dan ta’lim kita, karena sesungguhnya kebutuhan kita akan ilmu dimasa ini, lebih banyak dari kebutuhan kita dikala masih sendiri. Di masa ini, lebih banyak beban, amanah dan tanggungjawab yang kita pikul, maka semakin butuhlah kita pada penguatan ruhiyah melalui ilmu. Agar bahtera kita tetap berlayar pada jalurnya. Tidak melenceng dan akhirnya tersesat ditengah lautan dunia mayapada ini.
 
Lihatlah sekelilingmu, masyarakat dan tempat tinggalmu. Adakah sesuatu yang bisa kita perbuat? Mungkin mereka, para ibu-ibu. Mereka ingin belajar islam, tapi tak tahu cara dan tempatnya. Atau anak-anak mereka belum bisa mengaji, ajarlah bersama anakmu. Atau jadikan rumahmu taman syurga tempat anak-anak menimba ilmu. Indah. Sangat indah walaupun kau membayar semuanya dengan keletihan, bersabarlah, Allah pasti akan menolongmu.

Saudariku, apakah amanah kita sampai disini? Lihat jugalah pada kekasihmu, yang dulu begitu kau impikan, bantulah dia, mungkin nafkah yang ia berikan belum mencukupi kebutuhanmu sekeluarga.  Sebagian besar waktu ia habiskan tuk bekerja sebagai bentuk tanggungjawabnya. Dan kebanyakan penghasilan hanya sampai pertengahan bulan saja. Belum lagi ketika dirinyapun adalah seorang aktifis dakwah. Yang bekerja pagi hingga malam untuk kemajuan dan kejayaan ummat. Beras yang hampir habis, susu bayi yang tingggal sedikit, lauk yang hanya tempe tahu bahkan terkadang semuanya tak ada.Tak mengapa! sifat ikhlas dan qonaah harus selalu menghiasi akhlakmu. Toh sampai detik inipun kita masih sehat walafiat. Keluarga kita baik-baik saja. Karena ada-ada saja pintu rahmat dan rezki dariNya. Bahkan Allah-pun berjanji, “Intanshurullah yanshurkum…” siapa yang menolong agamaNya, niscaya akan diberiNya jalan keluar dari arah yang tak disangka-sangka. Inilah kuncinya. Berusahalah membantu. Dengan cara apa saja yang penting halal. Rezki akan terbuka begitu kau berusaha. Bantu suamimu, bantulah jika dia butuh bantuan.
 
Yang terakhir, ketika kita telah menikmati jalan ini. Bersyukurlah senantiasa pada Allah dan mohonlah kepadaNya, agar kita selalu istiqomah. Dimudahkan segala urusan kita. Dijaga dan dilindungiNya dari fitnah  dunia. Hingga ajal menjemput dalam husnul khatimah. Dan kembali, kita berkumpul dijannahNya bersama keluarga tercinta, dan orang mukmin semuanya. Amiin. Jangan pernah berhenti menjadi seorang pejuang! Fastabiqul Khaerat. Be steadfast always!

Serambi Madinah
(AL KHANSA’ )

 

Artikulli paraprakMewujudkan Ummat Wasathan
Artikulli tjetërPOLIGAMI YES, TTM* NO !!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini