Berwudhu merupakan amalan yang mendasari kesempurnaan ibadah yang paling agung Berwudhu merupakan amalan yang mendasari kesempurnaan ibadah yang paling agung. Ibadah yang pertama kali dihisab di hari kiamat adalah ibadah shalat, apabila wudhu seseorang tidak sempurna, maka tentunya akan mengurangi kesempurnaan ibadah sha-latnya, atau bahkan dapat menjadi pe-nyebab tidak diterimanya ibadah shalat tersebut. Untuk itu dituntut adanya ittiba’ (mengikuti) terhadap tuntunan Rasulullah . Sebahagian kaum muslimin melaku-kan wudhu sesuai dengan kebiasaaan yang banyak dilakukan orang, tanpa me-lihat ada tidaknya dalil-dalil yang menje-laskan tentang hal tersebut baik dari Al-Qur’an maupun dari As Sunnah, sehingga tanpa mereka sadari mereka telah ter-jatuh kepada perbuatan bid’ah. Dan di-antara kekeliruan tersebut adalah :
1. Melafazhkan niat Tidak ada dalil yang menjelaskan disya-ri’atkannya melafazhkan niat sebelum melakukan suatu ibadah, termasuk ketika akan berwudhu, karena niat letaknya adalah di dalam hati bukan di lisan. Dan hal ini termasuk dalam perbuatan yang diada-adakan di dalam agama (bid’ah). Berkata Syaikh Abdul Aziz bin Baaz رحمه الله: “Melafazhkan niat termasuk bid’ah, sebab tidak pernah ada riwayat dari Nabi dan seorang shahabatpun. Maka meninggalkannya adalah wajib sebab tempat niat adalah di dalam hati dan sama sekali tidak diperlukan lafazh niat”

2. Berdo’a tatkala membasuh ang-gota wudhu Orang yang membaca do’a setiap kali membasuh anggota wudhu, mereka berdalilkan hadits dari Anas bin Malik , bahwasanya Rasulullah bersabda : يَا أَنــَسُ أُدْنُ مِنِّيْ أُعَلِّمُكَ مَقَادِيْرَ الوُضُوْءِ، فَدَنَوْتُ، فَلَمَّا غَسَلَ يَدَيــْهِ قَالَ : بِسْمِ اللهِ وَ الْحَمْدُ ِللهِ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قًــوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ ….. “Wahai Anas, mendekatlah kepadaku akan kuajarkan kepadamu ukuran-ukuran wudhu, maka akupun mendekat. Tatkala membasuh kedua tangannya beliau membaca “Dengan nama Allah dan segala puji bagi Allah, tiada kekuatan dan daya kecuali milik Allah ………..” Namun hadits ini dhaif dan tidak bisa dijadikan dalil karena di dalamnya ada perawi yang dhaif yaitu Abbad bin Shuhaib Al Bashry. Imam Al Bukhari, An Nasaa’i dan lainnya menyatakan bahwa orang ini matruk (ditinggalkan) (Lihat Mizanul I’tidal 3:81). Imam An-Nawawi menegaskan:”Do’a ini tidak mempunyai dasar sama sekali”. Ibnul Qayyim menuturkan: “Apapun hadits yang menyebutkan tentang do’a setiap membasuh anggota wudhu yang berasal dari Nabi adalah dusta”.

3. Tidak membaca basmalah tatkala memulai wudhu Rasulullah bersabda : لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوءَ لَهُ وَلاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرْ اللهَ تَعَالَى رواه أحمد و أبو داود و ابن ماجه “Tidak sah suatu shalat bagi orang yang tidak ada wudhunya dan tidak sah wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah serta di hasankan oleh Al Albani) Berdasarkan hadits di atas Imam Ahmad berpendapat tentang wajibnya membaca basmalah sebelum berwudhu, mandi wajib dan tayammum. Dan ini juga pendapat Abu Bakar, Hasan Al Bashri dan Ishaq (Lihat Al Mughni 1:145).
4. Tidak menyatukan antara ber-kumur-kumur, istinsyaq (memasuk-kan air ke hidung) dan istintsar (mengeluarkan air dari hidung) dengan tiga cidukan. Diriwayatkan bahwa seseorang berkata kepada shahabat Abdullah bin Zaid Al Anshari : تَوَضَّأْ لَنَا وُضُوءَ رَسُولِ اللهِ فَدَعَا بِإِنَاءٍ …. فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ فَفَعَلَ ذَلِكَ ثَلاَثًا رواه البخاري ومسلم “Berwudhulah dengan wudhu Rasulullah . Maka ia meminta satu bejana air….lalu ia berkumur dan istinsyaq dari satu telapak tangan (cidukan), dan ia melakukannya tiga kali” (HR. Bukhari dan Muslim) Dan di riwayat yang lain : فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلاَثَ غَرَفَاتٍ رواه البخاري ومسلم “Kemudian ia berkumur dan beristinsyaq dan beristintsar dari tiga cidukan” (HR. Bukhari dan Muslim) Dan tidak pernah diriwayatkan bahwa-sanya Rasulullah memisahkan antara berkumur-kumur dengan memasukkan air kedalam hidung. Imam Ibnul Qayyim berkata: Beliau (Rasulullah ) menyambung antara berkumur dengan membersihkan hidung dengan menggunakan separuh cidukan untuk mulutnya dan menggunakan separuhnya lagi untuk hidungnya…Maka inilah pendapat yang paling benar tentang berkumur dan membersihkan hidung. Tidak pernah disebutkan dalam satu hadits shahih pun bahwa beliau memisahkan antara berkumur dan mem-bersihkan hidung”

5. Tidak mencuci semua permukaan muka Membasuh muka hukumnya wajib berda-sarkan firman Allah : غْسِلُوا وُجُوهَكُمْ…. المائدة : “…Cucilah wajah kalian….” (QS. Al Maidah :6) Adapun batasannya adalah mulai bagian tumbuhnya rambut kepala hingga ujung jenggot dan dari pinggir telinga kanan hingga pinggir telinga kiri. Dan apabila seseorang tidak mencuci semua permu-kaan wajah, ini berarti wudhunya tidak sempurna dan dia harus mengulangi wudhunya

6. Tidak mencuci kedua tangan hingga siku setelah mencuci muka Sebagian orang beranggapan bahwa mencuci tangan sampai siku adalah mencuci pergelangan tangan sampai siku dengan anggapan bahwa kedua tangan telah dicuci sebelumnya. Pendapat ini ke-liru sebab yang wajib adalah mengulangi mencuci tangan walaupun telah dilaku-kan sebelumnya. Allah berfirman : …وَأَيــْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ…. المائدة :6 “…Dan cucilah tanganmu sampai ke siku….” (QS. Al Maidah :6) Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin: “Sebagian orang ada yang mencuci kedua tangan setelah mencuci mukanya, mulai dari pergelangan tangan sampai ke siku, tanpa mencuci kedua telapak tangannya. Ini jelas salah, sebab kedua telapak tangan termasuk tangan. Oleh karena itu engkau harus mencuci kedua telapak tangan mulai dari ujung-ujung jari hingga siku setelah membasuh muka”

7. Hanya mengusap rambut kepala bagi-an depan Sebagian kaum muslimin hanya mengu-sap sebagian dari rambut kepalanya ketika berwudhu, padahal dengan cara ini wudhunya menjadi kurang atau tidak sempurna. Akan tetapi ia harus mengu-sap seluruh rambut kepalanya. Allah berfirman : حُوا بِرُءُوسِكُمْ …. المائدة 6 “…Dan usaplah kepala kalian…..” (QS. Al Maidah :6) Maksud ayat tersebut adalah seluruh rambut kepala bukan sebagiannya saja. Dan di hadits yang lain diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid ketika mencontoh-kan cara wudhu Nabi : ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيــْهِ فَأَقْــبَـلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ حَـتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ  رواه البخاري ومسلم “…kemudian menyapu kepalanya dengan kedua tangannya ke depan dan ke belakang, dimulai dari bagian depan kepalanya hingga membawa kedua tangannya sampai ke tungkuknya kemudian mengembalikannya ke tempat dimana ia memulainya (bagian depan kepala)” (HR. Bukhari dan Muslim)

8. Mengambil air baru untuk mem-basuh kedua telinga Tidak ada dalil yang shahih yang men-jelaskan bahwa Rasulullah  mengambil air baru untuk membasuh kedua telinga beliau. Di dalam hadits diriwayatkan : عَنْ ابْنِ عَـبَّاسٍ رَأَى رَسُولَ  يَـتَوَضَّأُ ….  وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ وَأُذُنـــَــيْهِ مَسْحَةً وَاحِدَةً  رواه الترمذي و النسائي Dari Ibnu Abbas, ia melihat Rasulullah  berwudhu ….. dan beliau menyapu kepalanya dan kedua telinganya dengan satu kali sapuan” (HR. At Tirmidzi dan An Nasa’i) Di hadits lain Rasulullah  bersabda :  اْلأُذُنـــــَانِ مِنْ الرَّأْسِ  رواه الترمذي و أبو داود “Kedua telinga termasuk bagian dari kepala” (HR. At Tirmidzi dan Abu Daud) Berkata Imam Ibnul Qayyim : “Beliau (Rasulullah ) membasuh kedua telinga bersama dengan kepala. Beliau mem-basuh bagian luar telinga dan dalamnya. Tidak diriwayatkan dari beliau bahwa beliau mengambil air baru untuk mem-basuh kedua telinga” (Lihat Zaadul Ma’ad 1:194)

9. Mengusap rambut kepala tiga kali Sebagian orang mengusap rambut kepa-lanya sebanyak tiga kali, karena meng-qiaskan dengan basuhan pada anggota wudhu yang lain. Hal ini bertentangan dengan riwayat yang shahih dari Rasulullah . Diri-wayatkan dari Ali bin Abi Thalib ketika mensifati wudhu Nabi  :  وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ مَرَّ ةً وَاحِدَةً  رواه أبو داود و الترمذي و النسائي “Dan beliau mengusap kapalanya sekali” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasaa’i) Berkata Imam Ibnul Qayyim : “Sekalipun beliau mengulang basuhan anggota-anggota wudhu (hingga tiga kali), namun beliau tetap mengusap kapala sekali saja. Begitulah yang diriwayatkan dari beliau dan tidak ada satu hadits shahihpun bahwa beliau melakukan kebalikannya” (Lihat Zaadul Ma’ad 1:193)

10. Tidak menyempurnakan wudhu, hingga ada anggota wudhu yang tidak terkena air. Diriwayatkan dari shahabat Anas bin Malik  bahwasanya Rasulullah  pernah melihat seorang laki-laki yang pada kakinya ada bagian yang tidak terkena air wudhu lalu Rasulullah  bersabda :  ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ  رواه مسلم “Ulangi dan baguskanlah wudhumu” (HR. Muslim) Diriwayat lain Rasulullah  bersabda :  وَيـــْلٌ لِــــْلأَعْقَابِ مِنْ الــنَّارِ  رواه البخاري ومسلم “Kecelakaan bagi tumit-tumit (yang tidak terkena air wudhu) dari api neraka” (HR. Bukhari dan Muslim) Maka dari itu hendaknya kita lebih berhati-hati ketika berwudhu jangan sampai ada salah satu dari anggota wudhu yang tidak terkena air wudhu se-cara sempurna

11. Berlebih-lebihan dalam menggu-nakan air wudhu Imam Al Bukhari berkata : “Para ulama tidak menyukai berlebih-lebihan dalam menggunakan air tatkala berwudhu” Diriwayatkan dari Anas bin Malik  ia berkata : كَانَ النَّبِيُّ  يـَـتَوَضَّـأُ بِالْمُدِّ رواه البخاري و مسلم “Adalah Nabi  berwudhu dengan air setakaran satu mud” (HR. Bukhari dan Muslim) Berlebih-lebihan di sini dapat juga berarti menambah jumlah basuhan lebih dari tiga kali, dikarenakan ada rasa was-was ketika berwudhu atau dengan ang-gapan bahwa hal itu akan lebih menyem-purnakan wudhunya. Padahal Rasulullah  telah bersabda :  فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ وَتــَعَدَّى وَظَلَمَ  رواه النسائي و ابن ماجه و أحمد ”Maka barangsiapa yang menambah lebih dari ini, maka ia telah berbuat keburukan, berlebih- lebihan dan berbuat kezholiman” (HR. Nasaa’i, Ibnu Majah dan Ahmad) Shalawat dan salam semoga senan-tiasa tercurahkan pada Rasulullah , keluarga dan para shahabatnya. -Achil bin Abdul Hafid-
Maraji’ : 1. Al Isyarah Ila Mi’ah Mukhalafah Taqa’u Fith Thaharah, Mustafa Muhammad Ath Thahhan 2. Shifatu Wudhui An Nabi , Fahd bin Abdirrahman Asy Syuwayyib

Artikulli paraprakZakat Fitri
Artikulli tjetërDasar-Dasar Keimanan (Aqidah 1)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini