Waspada DBD

Tidak lama lagi akan terjadi musim peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan. Musim peralihan ini merupakan waktu yang sangat disukai oleh beberapa serangga yang menjadi vektor beberapa penyakit.

Salah satunya adalah nyamuk Aedes. Nyamuk Aedes ini terdiri dari beberapa jenis yaitu Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. Nyamuk Aedes Aegypti inilah yang menjadi vektor dari penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemmoragic Fever (DHF). Pada tubuh nyamuk ini terdapat virus dengue yang dapat ditularkan kedalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk tersebut sehingga orang yang terkena gigitannya walaupun hanya satu kali akan berpeluang untuk tertular virus dengue dan menderita penyakit DBD. Oleh karena itu untuk menghindari penyakit ini maka metode yang paling baik untuk kita jalankan bersama adalah mengenal prilaku ataupun kebiasaan dari nyamuk Aedes Aegypti ini untuk memudahkan kita dalam melakukan tindakan pencegahan.

Aedes Aegypti senang bertelur di tempat-tempat yang terdapat air bersih, seperti sumur, bak mandi, kaleng-kaleng bekas yang dibuang dan dapat menampung air hujan, gentong dan sebagainya. D itempat seperti inilah nyamuk tersebut mengalami siklus perubahan dari telur, jentik atau larva dan akhirnya menjadi nyamuk dewasa selama kurang lebih 7 (tujuh) hari. Dengan mengetahui hal ini, maka Insya Allah akan dapat mencegah populasi nyamuk tersebut dengan usaha memutuskan rantai  ataupun siklus perubahan nyamuk dari telur, jentik hingga menjadi nyamuk dewasa. Tempat-tempat seperti bak mandi, dan tempat penampungan air lainnya dalam sepekan harus dibersihkan atau dikuras airnya sekali dalam 3 hari. Kaleng-kaleng bekas, baskom, ember plastik dan sejenisnya yang tidak terpakai sebaiknya ditanam di dalam tanah. Adapun sumur yang juga menjadi sarang dan tempat bertelurnya nyamuk ini diberikan bubuk abate. Bubuk abate ini dapat diperoleh secara gratis di puskesmas yang terdekat dibagian pemberatasan penyakit menular (P2M) dan sama sekali tidak berbahaya bagi kesehatan, karena ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa bubuk ini beracun, sehingga malas untuk menggunakan bubuk tersebut. Bubuk abate efektif untuk membunuh jentik-jentik nyamuk yang hidup di dalam air. Sedangkan aturan pemakaiannya dapat ditanyakan langsung ke petugas puskesmas.

Selain tempat bertelurnya, yang harus diperhatikan adalah tempat dan waktu perindukan atau beristirahatnya nyamuk dewasa. Pengetahuan ini bermanfaat dalam melakukan pengasapan (fogging) sehingga fogging yang dilakukan berjalan dengan efektif. Nyamuk dewasa sangat menyukai tempat-tempat yang lembab seperti di got-got, di lemari-lemari pakaian, di bawah meja dan kursi, dan sebagainya. Sedangkan nyamuk ini beristirahat pada siang dan malam hari. Aedes Aegypti mulai beraktifitas pada pagi dan sore hari. Jadi waktu yang baik untuk melakukan fogging adalah ketika nyamuk tersebut sedang istirahat, karena mereka berkumpul dan tidak beterbangan. Sebaiknya juga memperhatikan kondisi angin, jika kondisi angin lebih tenang maka hal tersebut lebih baik karena insektisida (malathion) yang digunakan tidak terbawa oleh angin. Sebaiknya sedini mungkin semua pihak harus mewaspadai akan  bahaya dari penyakit DBD/DHF ini. Sebelum penyakit ini banyak memakan korban, maka lebih baik diupayakan agar kebersihan lingkungan tetap terjaga dengan baik. Gerakan 3(tiga) M yaitu Menutup, Menguras dan Mengubur oleh Departemen Kesehatan RI sepertinya masih kurang disadari oleh masyarakat. Menutup maksudnya semua wadah atau tempat penampungan air bersih harus tertutup agar nyamuk Aedes Aegypti tidak dapat masuk untuk bertelur, menguras artinya dalam (3) tiga hari tempat-tempat air bersih seperti bak mandi dikuras dan dibersihkan, dan mengubur kaleng-kaleng, baskom ataupun ember bekas dan sejenisnya dalam tanah.

Anak-anak sekolah sangat rentan untuk terkena penyakit DBD karena umumnya dilingkungan sekolah mempunyai kelembaban udara yang disenangi oleh nyamuk ini dan paling cepat menular karena seorang murid yang sudah terkena virus dengue dirumahnya kemudian anak tersebut digigit oleh nyamuk lain lalu nyamuk ini menggigit orang lain, maka akan mempermudah dan mempercepat penyebaran penyakit ini dilingkungan tersebut.

Oleh karena itu marilah kita giatkan usaha dalam mencegah penyebaran virus tersebut dengan  mengefektifkan gerakan 3M. upaya 3M ini jauh lebih baik dilakukan sebagai bentuk pencegahan daripada metode pengasapan (fogging) yang hanya dapat membunuh sebahagian nyamuk dewasanya saja disamping biaya yang digunakan juga lebih besar. Perlu diingat bahwa kesehatan jauh lebih penting. Waspadalah terhadap DBD!
 

Artikulli paraprakLegalitas Formal Dalam Bisnis
Artikulli tjetërPelatihan Penyelenggaraan Jenazah Khusus Muslimah & Tablig Akbar Buol Sulteng

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini