Wasiat Untuk Wanita
Oleh Ustadz Rachmat Badani, Lc

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا ».

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Saling berwasiat kebaikanlah terhadap wanita, karena mereka tercipta dari tulang rusuk. Dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang berada pada tempat yang paling atas, jika engkau berusaha meluruskannya ia pasti akan patah, dan jika engkau membiarkannya ia pasti tetap bengkok, maka berwasiat kebaikanlah terhadap wanita”[1]

Islam mengatur dengan seksama hubungan antara seorang suami dan istrinya sebagai salah satu sunnatullah dan fitrah setiap manusia yang cenderung kepada lawan jenisnya. Dalam banyak hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan tips-tips yang sangat berharga untuk memupuk dan melanggengkan rasa cinta diantara pasangan keduanya. Namun ada kalanya seluruh usaha seseorang berbenturan dengan tabiat pasangannya yang mungkin berbeda dan sulit untuk dikompromikan. Oleh karena seorang wanita tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, sehingga memaksakannya lurus akan mematahkannya, dan membiarkannya maka ia akan tetap bengkok.

Ibnu Battal rahimahullah menjelaskan bahwa Rasulullah hendak mengajarkan pentingnya bersabar dan mengharap pahala kebajikan atas hal-hal yang tidak disukai dari seorang istri, serta meninggalkan apa yang tak dapat dilakukan seorang suami yaitu meluruskan tulang rusuk yang bengkok itu[2]. Namun apakah dengan demikian seseorang berhenti untuk berusaha ? tentu saja tidak, agar perintah Rasulullah untuk memberi wasiat kepada sang istri dapat terealisasi maka sangat urgen untuk mengetahui perbedaan antara pria dan wanita[3]. Karena sebuah kesalahan yang fatal jika wanita disamakan dengan pria. Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Dan laki-laki itu tidaklah seperti perempuan”[4]

Kepribadian Wanita

Kepribadian seorang wanita baik dari sisi akal, jasmani, jiwa dan sosialnya sangatlah berbeda dengan pria. Seorang wanita umumnya senantiasa mendahulukan konteks cinta, perasaan, perhatian, kecemburuan, kelembutan, dan hal yang semisalnya, sedang di sisi yang lain seorang pria justru menilai itu semua sebagai nomor yang kesekian. Kurangnya sifat kelembutan dan kepekaan pada seorang pria -yang sering dinilai sebagai kekurangan-, justru dapat dia temukan pada diri seorang wanita. Maka tidak heran jika kebanyakan pria menganggap pernikahannya hanya sebagai salah satu fase kehidupannya di dunia, sedangkan setiap wanita menganggapnya sebagai seluruh kehidupannya.

Dan tidaklah wanita dan pria memiliki ketertarikan antar satu dan yang lainnya melainkan karena keduanya dapat saling melengkapi. Oleh karena itu, ketika Allah ta’ala berfirman :

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari diri kalian sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya”[5].

Perasaan cenderung dan tenteram itu disebabkan karena keduanya dapat saling melengkapi kekurangan yang masing-masing dimiliki. Dan ketika kita memahami bahwa pria dan wanita adalah sama, maka kita telah salah menilainya.

Prioritas Wanita

Intelligence seorang wanita tentu berbeda dengan apa yang dimiliki oleh pria, hal itu bisa disebabkan karena wanita lebih mengedepankan prioritas yang berbeda dibanding pria. Kita menemukan bahwa seorang wanita lebih memprioritaskan unsur keindahan, kerapihan, dan kebersihan sampai pada hal-hal kecil dan detail. Rumahnya harus indah, bersih, harum, rapih. Dapur harus teratur, ruang tamu dan keluarga nampak menyejukkan, dan sebagainya.

Bisa dibayangkan jika anda –pria– pulang ke rumah sore hari dan mendapati isteri sedang sibuk menonton berita di tv, membaca majalah, atau tidur-tiduran, sedangkan rumah berantakan, dapur belum dibersihkan, makanan belum disiapkan, maka hampir-hampir rumah itu akan roboh oleh anda seorang diri. Oleh karena itu wanita lebih senang dengan hal-hal yang berbau indah, dan memang sudah seperti itu mereka diciptakan oleh Allah subhanahu wata’ala.

Harga Diri

Setiap wanita memiliki harga diri masing-masing, dan tidak ada seorangpun yang rela jika harga dirinya diinjak-injak bahkan oleh suaminya sekalipun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

« لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ ».

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang wanita mukminah, jika ia membenci sesuatu pada dirinya maka hendaknya ia mengingat kebaikan-kebaikan lainnya yang ada pada dirinya”[6].

Wanita lebih ingin dihargai dengan perhatian, sedang pria lebih suka dihargai dengan sanjungan. Perhatian tidak mengharuskan anda untuk membeli setangkai mawar untuk diberikan di malam rembulan dengan candle light di sebuah restaurant bintang lima. Perhatian tidak mengharuskan anda untuk membeli gelang, anting, dan kalung perhiasan untuk dipakaikan pada festival tahunan. Perhatian yang diinginkan wanita adalah untuk didengarkan, dimintai pendapat, disupport, ditemani berbelanja, dibantu menyelesaikan pekerjaannya dan disela-sela itu sisipkan ucapan sayang dan kasih serta penghargaan tertinggi untuknya.

Setiap wanita dan pria pasti memiliki kekurangan, dan kekurangan itu dapat dilengkapi oleh pasangan hidupnya. Jangan pernah menganggap remeh sebuah kekurangan, karena kekurangan itu dapat menjadi sebuah kesempuraan. Bukankah tulang rusuk itu bengkok ? justru karena bengkoknya, kita memiliki tubuh yang sempurna. Bukankah mobil kontainer hanya memiliki ruang yang kecil untuk beberapa orang penumpang saja di bagian depannya ? justru karena kecilnya ruang itu maka kontainer dapat mengangkut barang-barang yang banyak di bagian belakang mobil. Dan seperti itulah kesempurnaan sebuah kekurangan.

Karena itu, kenalilah wanita yang ada disekitar anda; ibu, isteri, dan anak, agar dapat memberi wasiat kebaikan yang terindah untuk mereka.

[1] HR Bukhari no. 5185 dan Muslim no. 1468

[2] Syarah Shahih Bukhari 7/295.

[3] Meskipun dalam pandangan syariat secara umum, kemuliaan dan tanggung jawab maka pria dan wanita memiliki kedudukan yang sama, kecuali dalam beberapa persoalan.

[4] QS Ali ‘Imran ayat 36

[5] QS Ar Ruum 21

[6] HR Muslim no. 1469

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here