Wanita Punya Medan Sendiri

Hiruk pikuk kampanye semakin menggema, bendera-bendera partaipun telah tersebar, wajah-wajah calon wakil rakyat dipampang di jalan-jalan, tak sedikit gambaran wajah seorang wanita ikut mewarnai pandangan. Wanita…, masa ini namanya begitu diangkat, peranannya pun semakin meluas, tanpa alasan bahwa kaum pria lebih layak untuk menjadi pemimpin. Wanita telah menemukan peranannya di mana saja, tak terbatas oleh pagar-pagar rumah, ataupun anak dan suami.
Ir. Nashrah Arsyad, Msi, ibu dari  tiga orang anak yang kesehariannya sebagai Staf Pengajar di Universitas Muslim Indonesia dengan tegasnya menyatakan sangat tidak bersedia jika dirinya dicalonkan sebagai caleg, menimpali selorohan reporter Al Firdaus yang menemuinya di sekertariat Lembaga Muslimah Makassar. Tidak setujukah mantan kohati HMI Fak. Teknik dan Mantan pengurus LDK MPM UNHAS ini dengan besarnya andil wanita dalam kepemimpinan? Berikut wawancara singkat kami dengan beliau:

Bagaimana peranan wanita menurut anda dalam kehidupan ?
Wanita memiliki tiga peranan dalam kehidupan, sebagai anak, ibu dan istri.

Dalam kepemimpinan…?
Sejauh pandangan saya, seorang wanita tetap adalah seorang pemimpin (dalam rumah tangga), namun untuk kepemimpinan yang lingkupnya lebih luas menurut saya tidak mesti seorang wanita terjun langsung, cukuplah dia berada di belakang layar sebagai pe-motivator.

Sejauh mana Islam memberikan peranan bagi seorang wanita ?
Islam tidak membatasi wanita untuk mengambil perannya dalam segala sisi, melihat sirah para shahabiah banyak diantara mereka yang terjun langsung dalam menegakkan kalimatullah, yang pasti tetap melihat situasi pada saat itu. Kalau situasi sekarang , berbicara tentang wanita sebagai pemimpin, saya sangat setuju dengan arrijalu qawwamuna ‘alannisaa’.
( Setuju atau tidak setuju, itulah ketetapan Allah dalam kitab-Nya )

Melihat kenyataan sekarang dimana wanita sudah sangat jauh mengambil peranannya, contohnya dalam pemerintahan sebagai caleg. Menurut anda bagaimana?
Cukuplah kiranya mereka mengambil peranannya sebagaimana yang saya sebutkan tadi, sebagai anak, ibu, dan istri. Adapun kesempatan yang ada di pemerintahan berikanlah pada kaum lelaki, masing-masing kan punya medan sendiri-sendiri. Apalagi saat ini lagi moment-momentnya untuk mencalonkan diri, jangan sampai jadi caleg hanya sekedar  “caleg“ yang membawa semboyan partainya “peduli rakyat, dsb“ sekedar hiasan belaka. Terus terang saya sangat tidak setuju dengan yang seperti ini.

Dengan adanya jatah quota 30 % dari pemerintahan untuk wanita, ini sangat memungkinkan wanita naik sebagai pemimpin…
Bagi saya berapa persen pun yang diberikan untuk wanita tidak berarti kita sebagai wanita ramai-ramai untuk memberi dukungan. Dengan diberikannya kesempatan itu apakah memang kita sanggup berbuat banyak untuk itu ?

Bagaimana dengan pernyataan sebagian dari mereka yang mencalonkan wanita tidak lain untuk membela hak-hak wanita itu sendiri ?
Pembelaan hak-hak wanita tidak mengharuskan wanita turun langsung dalam kepemimpinan, apakah suami-suami atau saudara-saudara kita tidak berusaha mewakili istri-istri atau ibu-ibu mereka?. Adapun aspirasi-aspirasi dan permasalahan-permasalahan, menurut saya banyak cara untuk menyampaikannya.

Di luar masalah kepemimpinan, bagaimana dengan wanita-wanita yang bekerja di luar rumah ?
Ini hal yang relatif, tergantung yang melatarbelakanginya. Bisa jadi ada alasan syar’I yang mengharuskannya untuk itu, yang pasti bukan atas dasar emansipasi wanita, dan tetap ada usaha untuk meminimalisir penyimpangan-penyimpangannya agar bisa sesuai dari segi syari’at.

Akhirnya percakapan kami dengan sarjana Teknik Arsitektur Unhas yang juga telah menyelesaikan S2 nya di Manajemen Perkotaan ini ditutup dengan nasehat beliau,
“ Sebelum kita mampu untuk mencapai keseluruhan, alangkah baiknya saat ini kita merasa cukup dengan memperbaiki diri dengan mengembalikan tanggung jawab diri kita masing-masing, menunaikan tanggung jawab sebagai orang tua, sebagai istri, sebagai anak dan berusaha untuk mendapatkan hasil yang lebih baik ”. Wallahu A’lam. (uf,MDK al Firdaus)

Artikulli paraprakLangkah Menguatkan Iman
Artikulli tjetërKetika Keikhlasan Mesti Diuji

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini