Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِّ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ

“Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari (harumnya) minyak misk (kasturi).”

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya ini menunjukkan keutamaan orang yang berpuasa. Di mata manusia, orang yang berpuasa memang memiliki bau mulut yang tidak sedap. dan boleh jadi bau mulut itu membuat orang lain terganggu dan lari darinya karena mencium aroma bau mulut tersebut.

Akan tetapi, penilaian manusia berbeda dengan penilaian Allah. Bagi Allah, mulut hamba-Nya yang berpuasa adalah mulut yang harum. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersumpah bahwa keharuman mulut orang yang berpuasa melebihi aroma minyak kasturi.

Banyak analisa yang muncul terkait masalah ini, ada yang mengatakan bahwa nilai harumnya terletak pada sifat dari orang yang berpuasa itu sendiri yang senantiasa menjaga lidah dan mulutnya dari perkataan-perkataan jorok, kotor, keji, kasar, dan semacamnya.

Al-Qadhi ‘Iyadh Rahimahullah mengatakan, “Di akhirat nanti, Allah memberikan balasan kepada orang yang berpuasa sehingga bau mulutnya lebih wangi dari minyak kasturi. Bahkan pelakunya akan mendapatkan pahala terbaik di sisi Allah, pahala yang jauh lebih berharga dari minyak kasturi.”

Imam Al-Mu’iz bin Abdissalam berpandangan bahwa aroma wangi yang keluar dari mulut orang yang berpuasa ini terjadi di akhirat. Namun, Imam Ash-Shalah berpandangan bahwa ini terjadi di dunia. Ibnu Hajar Al-Haitsami dalam kitab “Ittihaf Ahlul Islam bi Khusushiyat Ash-Shiyam” berkomentar tentang sebab-sebab adanya aroma wangi pada mulut orang yang berpuasa.

Menurut Ibnu Hajar Al-Haitsami, aroma wangi itu karena puasa merupakan rahasia antara seorang hamba dan penciptanya di dunia, maka ia suka menampakkan bekasnya di akhirat untuk memberitahukan kepada semua makhluk-Nya besarnya keutamaan berpuasa, dan ketinggian derajat orang yang berpuasa dan sebagai balasan karena mereka telah menyembunyikan puasa mereka ketika di dunia.

Dari hadits  ini pula kita dapat mengetahui bahwa siapa yang beribadah kepada Allah dan menaati-Nya dan meminta ridha-Nya dengan sebuah amalan, boleh jadi amalan itu dibenci oleh manusia di dunia, akan tetapi ia sebenarnya sangat terpuji dan baik di sisi Allah.

Jaga Bau Mulut dengan Bersiwak

Meskipun di sisi Allah mulut orang berpuasa lebih harum dari minyak kasturi, bukan berarti ia semaunya menebarkan aroma mulutnya kepada orang-orang di sekitarnya. Hal itu pasti akan mengganggu orang lain yang berada di dekatnya. Untuk menjaga aroma mulutnya dari bau tidak sedap, ia dapat bersiwak atau menggosok gigi. Untuk menjaga kebersihan mulut, seorang muslim disunnahkan untuk bersiwak. Bersiwak hukumnya sunnah (dianjurkan) pada setiap saat, sebagaimana hadits dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersiwak itu akan membuat mulut bersih dan diridhai oleh Allah.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad).

Bahkan saking pentingnya menjaga bau mulut ketika akan menunaikan shalat Rasulullah hampir saja mewajibkan bersiwak atas umatnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي أَوْ عَلَى النَّاسِ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ
Seandainya tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan memerintahkan mereka bersiwak  setiap hendak menunaikan shalat.” (HR. Bukhari).

Bersiwak Saat Puasa

Para ulama membolehkan seseorang untuk bersiwak meskipun dalam keadaan puasa karena tidak ada dalil yang melarangnya. Ia bahkan suatu yang dianjurkan agar bau mulut selalu terjaga. Namun, sebagian ahli ilmu melarang untuk membersihkan mulut dengan menggunakan sikat dan pasta gigi. Hal ini ditakutkan jika pasta gigi tersebut masuk ke dalam perut.

Secara umum, para ulama membolehkan menggunakan sikat gigi ketika puasa jika tidak masuk ke dalam perut. Akan tetapi lebih baik sikat gigi tidak digunakan ketika puasa karena sikat gigi memiliki pengaruh sangat kuat hingga bisa mempengaruhi bagian dalam tubuh dan kadang seseorang tidak merasakannya.

Karena itu menurut Syaikh Al-‘Utsaimin Rahimahullah, yang lebih utama adalah orang yang berpuasa tidak menyikat gigi dengan menggunakan pasta. Masih menurut beliau, jika seseorang mengakhirkan untuk menyikat gigi hingga waktu berbuka, maka orang tersebut telah menjaga diri dari perkara yang dapat merusak puasanya.

Oleh Ustadz Mahardy Purnama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here