Wahdah Islamiyah Yakin Ruhut Tak Pernah Belajar Sejarah

Wahdah Islamiyah meyakini Ruhut adalah seorang yang tidak pernah belajar sejarah berdasarkan catatan historis

Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP-WI) mengecam pernyataan Ruhut Sitompul, salah seorang anggota tim kampanye SBY-Boediono di media massa beberapa waktu lalu, yang menyatakan bahwa bangsa Arab tidak pernah memberikan bantuan kepada Indonesia dan membanggakan AS sebagai `penyelamat’ ekonomi negara ini.

"Wahdah Islamiyah meyakini Ruhut adalah seorang yang tidak pernah belajar sejarah karena berdasarkan catatan historis, justru bangsa Arab merupakan pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia ketika Belanda  menjajah bangsa ini selama 3,5 abad," ujar Muhammad Qasim Saguni, Sekjen WI, dalam pernyataan sikapnya yang dikirim ke situs hidayatullah.com, Senin (1/6).

Menurut Saguni, setelah Proklamasi 1945 pun bangsa-bangsa Arab (seperti Mesir, Suriah, Iraq, Libanon, Yaman, Arab Saudi, dan Afghanistan) tampil pertama kali mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia, meskipun pada saat yang sama AS dan bangsa-bangsa sekutu (Barat) memberikan bantuan militer plus politik kepada Belanda untuk mencoba menjajah kembali Indonesia.   

WI juga menduga bahwa Ruhut juga tidak pernah membaca suratkabar atau mengakses media massa lainnya tentang berita-berita seputar ekonomi dan kerjasama internasional. AS (yang dikatakannya banyak membantu Indonesia) justru terbukti telah memunculkan krisis moneter yang tidak kunjung berakhir selama 12 tahun terakhir di Indonesia dengan sistem pinjaman berbunga tinggi disertai syarat-syarat yang mencekik rakyat Indonesia.

Sebaliknya, bangsa-bangsa Arab seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait selama ini banyak membantu perekonomian Indonesia dengan bantuan hibah (tidak perlu dikembalikan) dan pinjaman lunak yang melegakan rakyat negeri ini.

"Bahkan kalau kita mau jujur, negara-negara Arab aktif memberikan bantuan sosial kemanusiaan secara gratis ketika Indonesia dilanda berbagai bencana alam. Di saat yang sama AS dan bangsa Barat lainnya enggan memberikan bantuan secara cuma-cuma," jelas Qasim

Menurutnya, WI memandang patut disayangkan bahwa SBY yang selama ini dikenal sering mengkritik secara langsung maupun tidak langsung atas sikap politik capres-cawapres lainnya yang dianggapnya kurang terpuji, justru di dalam tubuh tim kampanyenya menunjukkan sikap politik yang sangat tidak santun.

Karena itu, WI mendesak SBY untuk segera memberhentikan dengan tidak hormat Ruhut Sitompul sebagai anggota tim kampanye SBY-Boediono karena telah melukai perasaan kelompok etnis, suku, dan agama tertentu. Sebab jika tidak segera melakukan pemecatan maka dikhawatirkan dapat membangkitkan kemarahan yang lebih besar dari kelompok etnis, suku, dan agama tertentu yang dilecehkan itu.  

Minta Maaf

Sementara itu, sejak kasus keseleo lidah ini, pihak Partai Demokrat (PD) langsung merespon. "Setahu saya Pak Sekjen atas permintaan Pak SBY sudah menegur Ruhut," ujar Wasekjend DPP PD Nurhayati Assegaf Seperti yang dikutip detik.com, Ahad (31/5) lalu. "Teguran itu tidak cukup, Ruhut harus minta maaf secara terbuka ke seluruh rakyat Indonesia atas pernyataan tentang etnis Arab," ujar Nurhayati yang kebetulan juga berasal dari komunitas etnis Arab.

Hari senin lalu, bertempat di Kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat, Jakarta Timur, Senin, 1 Juni 2009 Ruhut telah menyampaikan rasa penyesalan dan permintaan maafnya.

“Saya meminta maaf dari lubuk hati yang terdalam kalau ada kata-kata saya yang membuat tersinggung etnis tertentu. Saya tidak bermaksud demikian, saya mohon maaf atas kejadian itu,” kata Ruhut Sitompul.

Ruhut mengakui pernyataan yang kontroversial itu keluar saat diskusi di Dewan Perwakilan Daerah. Ruhut yang mewakili tim sukses SBY-Boediono saat itu berdebat dengan dua anggota tim sukses dua kandidat. Permadi dari Megawati-Prabowo, dan Fuad Bawazier dari JK-Wiranto.

 “Sebelumnya, pihak kami diserang habis-habisan. Tentunya, saya sebagai salah satu tim sukses membela diri. Itu yang ditugasi kami,” ujar Ruhut yang didampingi Ketua Umum Demokrat, Hadi Utomo, dan Wakil Sekjen, Syarif Hassan.

Sebagaimana diketahui, Ruhut adalah salah satu pengurus Pemuda Pancasila dan Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan ABRI yang dikenal telah membela Yorries Raweyai, Ketua Harian Pemuda Pancasila yang pernah tersandung kasus perjudian.

Bersama Yorries dan Yapto Soeryosoemarno, Ketua Umum Pemuda Pancasila Ruhut aktiv  mendukung Partai Golkar. Namun tiba-tiba banyak orang kaget ketika ia telah meloncat ke Partai Demokrat (PD). [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

 

Artikulli paraprakSURAT PERNYATAAN SIKAP WAHDAH ISLAMIYAH
Artikulli tjetërWahdah Minta Klarifikasi Presiden PKS tentang “Selembar Kain Saja kok dirisaukan”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini