Wahdah Islamiyah Makassar
Peluang, Tantangan dan Strategi
Oleh
Ismail Rajab, ST
Ketua Litbang PP WI

Pengantar
Cabang Makassar merupakan salah satu cabang ormas Wahdah Islamiyah yang memiliki peran dan fungsi strategis. Selain berkedudukan di pusat Wahdah Islamiyah, sebagian besar sumber daya organisasi khususnya sumber daya manusia berada dalam wilayah kota Makassar.
Namun perkembangan dakwah di Makassar tidak terlepas dari dinamika kota Makassar itu sendiri. Makassar sebagai sebuah kota pantai dan perdagangan memiliki peluang dan tantangan tersendiri yang berbeda dari kota atau kabupaten lain. Keberadaan Wahdah Islamiyah di kota Makassar harus dapat memberi arti yang signifikan bagi proses Islamisasi masyarakat kota. Untuk itu perlu dilakukan inventarisasi potensi dan kemampuan internal organisasi agar dapat berperan sebagaimana mestinya.

Makassar, Selayang Pandang
Makassar adalah sebuah kota tua peninggalan kerajaan Gowa kurang lebih tiga setengah abad yang lalu. Sebagai sebuah kota yang terletak di bibir Selat Makassar, Makassar sejak dahulu memainkan peranan strategis dalam percaturan politik bahkan budaya. Ini ditunjukkan oleh fakta sejarah kekuasaan dan pengaruh kerajaan Gowa yang pernah membentang hingga Australia.
Sebagai kota yang memiliki pelabuhan yang agak besar, Makassar juga merupakan kota dagang. Perpaduan ini menunjukkan bahwa secara politis, Makassar tidak pernah lepas dari kepentingan politik para pemilik modal (kapital) lokal maupun asing. Hal ini, dihari-hari belakangan ini, semakin nampak dengan adanya kecenderungan Makassar ibarat hutan beton yang pohonnya terdiri dari mall, ruko dan pasar-pasar. Manusia Makassar kini terasing di rumahnya sendiri.
Makassar adalah kota pantai dan kota pelabuhan yang mewakili representasi masyarakat pesisir yang cenderung terbuka, demokratis, dan memiliki nilai-nilai egaliter. Budaya yang terbentuk adalah budaya modern yang terbentuk dari persentuhan dengan masyarakat luar. Mungkin—menurut hemat kami—, hal itulah yang menjadikan Makassar mengalami proses Islamisasi yang tidak bermasalah seperti halnya Batavia dengan masyarakat Betawinya. Dalam perkembangannya, Islam merambah ke istana dan menjiwai masyarakat hingga Islam menjadi agama resmi dan dominan yang mengatur kehidupan masyarakat . Bahkan yang menarik, keberadaan lembaga agama lebih dominan daripada lembaga adat. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah seberapa lama kondisi keberislaman itu bertahan?
Di era Sukarno, terlebih era Suharto, sebagaimana halnya kondisi Indonesia secara umum, Makassar mengalami stagnasi akibat kondisi politik yang mengedepankan stabilitas semu. Orang Bugis dan Makassar tersubordinasi oleh kebudayaan nasional yang cenderung dipaksakan. Simbol-simbol dinasionalisasi, peran dan fungsi agama “ditata” sedemikian rupa untuk mendukung “pembangunan”. Manusia Makassar yang merasakan keterasingan, memilih merantau ke negeri-negeri yang masih “bersahabat”.
Kini, diera reformasi, demokrasi atau tepatnya ultra-demokrasi mendapat tempat dimana-mana begitu pula di Makassar. Secara mendasar, keterbukaan adalah watak orang Makassar. Namun keterbukaan yang tanpa bingkai. Parahnya, keterbukaan saat ini dibingkai oleh kepentingan. Antara pemerintah dan rakyat dihubungkan oleh kepentingan birokrasi dan politik. Bahasa penghubung pemerintah dan rakyat saat ini adalah subsidi BBM, Jaring Pengaman Sosial, Bantuan Langsung Tunai, harga eceran minyak tanah, dan sebagainya. Antara sesama rakyat dihubungkan oleh kepentingan pribadi (baca: bisnis). Antara orang kaya dan orang miskin? Jangan ditanya lagi. Sehingga orang Makassar tidak lagi percaya adanya “sipakatau” (saling menghargai secara tulus), “siri’ na pacce”, ataupun “pa’mai baji” (kebaikan hati). Sekali lagi, kapitalisme telah menjadi tuan rumah di Makassar.
Hal ini berimbas pula terhadap dunia dakwah. Pola konsumsi masyarakat terhadap dakwah mulai disejajarkan dengan pola konsumsi lain seperti kebutuhan terhadap makanan ataupun hiburan. Da’i yang laku dan disenangi adalah yang da’i yang mampu memberikan hiburan. Untuk mendatangkan para da’i, dibutuhkan kekuatan modal sehingga memerlukan simbiosis dengan para pengusaha. Akibatnya? Menu dakwah adalah menu pasar!

Wahdah Islamiyah di Makassar, Evaluasi Internal
Keberadaan Wahdah Islamiyah di Makassar telah berusia kurang lebih dua puluh tahun dengan berbagai perubahan bentuk dan status. Keberadaan yang masing singkat ini tentu belum dapat memberikan perubahan yang signifikan bagi peta dan kondisi masyarakat secara sosiologis. Meski demikian, alhamdulillah, Wahdah Islamiyah di Makassar telah muncul sebagai salah satu “pemain baru”. Sebagaimana halnya seorang pemain baru, terdapat harapan sekaligus sinisme, optimisme sekaligus pesimisme terhadap Wahdah Islamiyah. Ini semua ditangkap dan berusaha diresponi dengan baik.
Secara internal, jika berbicara dari sudut budaya organisasi, Wahdah Islamiyah adalah organisasi kekaderan yang menuntut loyalitas dari setiap kader. Dalam perkembangannya, Wahdah Islamiyah mengalami rasionalisasi organisasi baik filosofi dasar maupun proses-proses organisasi . Pola hubungan dan komunikasi menjadi rasional. Partisipasi dan sumbangsih anggota berubah dari “siapa yang diamanahi” menjadi “siapa yang sempat dan siapa yang bersedia”. Makna kata “partisipasi” berubah. Jika sebelumnya partisipasi merupakan tuntutan pribadi, maka selanjutnya, partisipasi merupakan tuntutan organisasi. Hal yang paling jelas adalah semangat meminta pertanggungjawaban pengurus disetiap akhir periode. Bagi saya, ini adalah lambang-lambang rasionalisasi. Saya pernah bertanya kepada beberapa pihak , apakah hal ini diinginkan sepenuhnya? Jawabannya mengejutkan, yaitu tidak. Pertanyaan selanjutnya, darimana hal ini berasal? Jangan-jangan, ini infiltrasi kapitalisme!

Peluang, Tantangan dan Strategi
Ditengah kondisi seperti sekarang, tantangan dan sekaligus peluang berada pada kemampuan profesionalisme organisasi. Profesionalisme organisasi dakwah yang saya maksudkan adalah kemampuan memadukan misi internal dan kebutuhan eksternal. Kemampuan ini dibalut dengan kompetensi dan integritas yang memadai. Semoga dengan hal tersebut, dakwah dapat bertahan dan memberikan perubahan yang berarti bagi masyarakat kota.
Jika diperjelas, peluang itu adalah adanya “kebutuhan pasar” terhadap dakwah yang telah dianggap sebagai salah satu aktivitas sosial, minimal sebagai kebutuhan asesoris . Jika ada kebutuhan, berarti ada demand (permintaan) terhadap dakwah. Hanya saja, menu yang diharapkan adalah menu pasar . Maka tantangannya disini ada pada 2 (dua)  sisi yaitu pertama, meningkatkan kemampuan penyajian; dan kedua, kemampuan mengarahkan selera dan cita rasa terhadap dakwah.
Terhadap tantangan pertama, maka strategi Wahdah Islamiyah di Makassar adalah dengan meningkatkan kapasitas organisasi (capacity building) yang dilakukan dengan target pokok menyediakan kemampuan pelayanan yang prima. Untuk melakukan ini dibutuhkan pelatihan, workshop, penerapan standar kerja yang maksimal, pencarian sumber-sumber finansial organisasi, dan riset pasar. Selain itu, penciptaan budaya sebagai organisasi kekaderan diwujudkan melalui proses kaderisasi yang baik (tarbiyah Islamiyah harakiyah). Perlu ada semacam reorientasi tarbiyah ditingkat lapangan. Proses perubahan ini harus bertahap dan terencana dengan target perubahan iklim ber-tanzhim pada diri setiap kader.
Terhadap tantangan kedua, maka Wahdah Islamiyah di Makassar harus terus melakukan manuver dakwah yang bertujuan mempengaruhi opini dan wacana umum. Intensitas komunikasi dengan publik harus ditingkatkan baik monolog maupun dialog. Dialog lintas wacana mulai harus dilakukan, tentu saja oleh kader-kader yang dianggap mampu untuk itu. Upaya mempengaruhi wacana dan opini harus dilakukan dengan matang. Sebab jika tidak, maka alih-alih menjadi pencipta/pengendali wacana, malah akan terjerumus menjadi pengekor wacana pihak lain.

Penutup
Apa yang terungkap di atas, merupakan garis-garis besar pemikiran tentang keberadaan Wahdah Islamiyah di Makassar. Tentu saja masih membutuhkan penjabaran yang lebih sistematis. Untuk itulah, musyarawah cabang Makassar saat ini diadakan…

Artikulli paraprakPengelolaan Sekolah Swasta
Artikulli tjetërUrgensi Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini