MAKASSAR, wahdah.or.id – Ketua DPP Wahdah Islamiyah, ustadz Ir. Muhammad Qasim Saguni, MA. mengatakan tarbiyah termasuk sistem pendidikan non formal. Kurikulum materi-materi tarbiyah telah disusun sesuai dengan marhalah atau tingkatannya.

“Kalau kita meminjam istilah sistem pendidikan yang ada sekarang tarbiyah termasuk sistem pendidikan non formal yang memiliki kurikulum dan tingkatan-tingkatan atau yang disebut marhaliyah,” ujarnya dalam Diskusi Dakwah “Ayo Tarbiyah” sebagai rangkaian Umat Fest 2018 di Celebes Convention Center (CCC), Jl. Tanjung Bunga, Makassar.

Ustadz Qasim kemudian menjelaskan apa yang membedakan tarbiyah dengan dakwah pada umumnya seperti khutbah, taklim, tabligh akbar dan lainnya.

Sebelum menjelaskan lebih jauh, ustadz Qasim menegaskan tujuan dakwah umum dan tarbiyah ini sebenarnya sama yakni agar orang memahami dan mau mengamalkan Islam. Namun yang berbeda adalah dalam penerapan metodenya. “Kalau dalam dakwah umum pesertanya banyak, tidak terbatas, berbeda dengan tarbiyah yang pesertanya dibatasi (dalam satu halaqah),” ujarnya, Jumat (14/12).

Hal ini berdampak dalam pengontrolan peserta. Dalam dakwah umum yang pesertanya banyak sulit untuk mengontrolnya, siapa-siapa yang hadir. Adapun halaqah tarbiyah yang memang dibatasi pesertanya untuk memudahkan pengontrolan.

Perbedaan selanjutnya, kata ustadz Qasim, dalam dakwah umum tidak ada aturan-aturan yang mengikat. Beda dengan tarbiyah dimana peserta diikat dengan beberapa aturan misalnya harus bawa buku, alat tulis menulis, mushaf al-Qur’an.

Dalam tarbiyah ada beberapa program yang harus dijalankan yakni tahsinul qira’ah (memperbaiki bacaan), hafalan al-Qur’an, hafalan hadits. Pelaksanaan program tersebut harus dikontrol oleh murabbi sebagai pengajar. Pengontrolan inilah yang menurut ustadz Qasim akan berpengaruh terhadap output atau pun hasilnya. “Bagaimana bacaan al-Qur’annya, bagaimana hafalannya, bagaimana perkembangan pemahamannya, bagaimana pengamalannya dan sebagainya,” jelas ustadz Qasim.

Saat ditanya dampak tarbiyah yang diterapkan Wahdah Islamiyah selama ini, ustadz Qasim memberikan gambaran perkembangan Wahdah Islamiyah yang telah ada di 34 Provinsi dan 193 Kabupaten Kota seluruh Indonesia. “Mereka yang dikirim sebagai dai-dai adalah kader, lahir dari tarbiyah dan di sana mereka juga menjadikan tarbiyah sebagai motor penggeraknya,” pungkasnya.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here