(Bukit Tinggi-Wahdah.Or.Id) – Dalam acara Tabligh Akbar Subuh Nasional Spirit 212 yang dihadiri ribuan umat jama’ah di Masjid Raya Bukit Tinggi, Sumatera Barat, Ust. Zaitun Rasmin mengajak kaum muslimin untuk bermuhasabah.

Begitu banyak persoalan yang memprihatinkan di tahun 2016, namun umat harus terus berjuang. Seperti yang terjadi di Jakarta, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah dengan terpilihnya pemimpin non muslim. Meskipun kecewa dengan hal ini, Wasekjen MUI Pusat ini mengajak agar umat tetap berjuang sesuai konstitusi.

Beliau juga menyatakan bahwa apa yang terjadi di Kalbar dan Kalteng sebagai bukti tolerannya umat Islam. “Inilah bukti yang jelas bahwa umat Islam sangat menjaga kedaulatan dan kebinekaan negara,” tegas Ketua Umum Wahdah ini.

“Jangan mengajari kami tentang pentingnya menjaga kebinekaan. Kami sudah membuktikan dengan dengan sebenar-benarnya (kebinekaan tegak),” tegas beliau.

Persoalan lain yang tidak kalah mempihatinkan adalah kondisi negeri ini yang dikuasai “asing dan aseng”. Yang oleh sebagian orang diistilahkan dengan “Sembilan Naga”. Hal ini sudah disadari dan diketahui oleh para tokoh dan pemikir namun belum ada hasil yang berarti.

“Kisah kebangkitan dan optimisme Spirit 212 akan terus berlanjut,”kata beliau. Maka dari itu, umat Islam tidak boleh berhenti berjuang, apalagi berputus asa. “Kekalahan adalah musibah, putus asa adalah musibah yang lebih besar.” kata ulama kelahiran Gorontalo ini.

Spirit 212 salah satunya adalah spirit untuk menegakkan hukum dengan sebenar-benarnya. Yaitu hukum yang konsisten dan berkeadilan. Konsisten artinya tidak pandang bulu, tidak tajam ke bawah tumpul ke atas.

Sedangkan hukum yang adil adalah hukum yang merupakan aspirasi dan mengayomi seluruh kepentingan masyarakat. Dan karena masyarakat mayoritas bangsa ini adalah umat Islam, maka tidak berlebihan jika umat Islam menginginkan tegaknya hukum Islam.

Inkarul Munkar Kunci Agar Negara Selamat dari Berbagai Musibah

Ketua Ikatan Ulama’ dan Da’i Se-ASEAN ini mengingatkan pentingnya inkarul munkar. Kepedulian untuk mengubah kemungkaran akan menghindarkan bangsa dan negara dari musibah. Hal ini senada dengan firman Allah dalam Surat Al Anfal 25.

“Yang lebih penting lagi kepedulian kita untuk mengubah kemungkaran,” tegas beliau. “Kalau masih ada orang peduli terhadap kemungkaran, masih bisa terhindar dari musibah yang umum.” Musibah umum artinya musibah yang menimpa semua orang, baik yang zhalim maupun yang shalih.

Beliau ingatkan bahwa semangat inkarul munkar yang ada dalam Aksi Bela Islam 1,2, dan 3 sudah pernah ada dalam sejarah umat Islam. Di zaman Nabi para sahabat pernah keluar berbondong-bondong saat Hamzah masuk Islam. Di zaman berikutnya juga kita lihat Aisyah dan Mu’awiyah keluar menuntut agar Khalifah Ali menegakkan hukum atas pembunuh Utsman, radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

Kembali beliau ingatkan bahwa inkarul munkar berbeda dengan jihad qital (perang). Inkarul munkar dilakukan dengan lisan karena kaum muslimin tidak memegang kekuasaan. Karena tidak cukup dengan sendirian, maka harus bersama-sama dengan aksi damai.

Ini juga terhitung jihad yang paling utama, “Afdhalul jihad kalimatu hqqin ‘inda sulthanin ja’ir,” kata beliau. Yaitu menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang tidak menegakkan keadilan alias zhalim. Inkarul munkar terhadap penguasa juga harus disertai dengan kesabaran. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, “Sekalipun mereka pukul punggungmu – (HR. Muslim)”

Ust. Zaitun kembali mengingatkan bahwa Spirit 212 ini mengandung tiga hal yang perlu dipertahankan dan dikobarkan terus. Yang pertama adalah semangat persatuan dan perjuangan. Yang kedua semangat satu komando, dan yang ketiga adalah semangat perjuangan damai. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here