Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah Mengucapkan Terima Kasih, kepada Redaksi Majalah Da’wah Kampus (MDK) Alfirdaus dan Seluruh Tim yang terlibat di dalamnya atas Konstribusinya menyumbangkan tulisan-tulisannya untuk di muat pada kolom “Muslimah” di Web site Wahdah Islamiyah,Syukran Jazakumullah Khaer.

MDK ini disejak pertama terbitnya pada tahun 2003 sampai sekarang tetap eksis menyuguhkan da’wah lewat tulisan tentang dunia kampus dan da’wah secara umum, Majalah ini tergolong berbeda dengan majalah yang lain, karena hampir seluruh tim dari Majalah ini berasal dari kaum muslimah, mereka tergabung pada suatu Forum khusus Muslimah, yaitu Forum Studi Ulil Albab (FSUA) yang anggotanya merupakan Gabungan Mahasiswi Unhas dan Poltek, di medan inilah Kaum Muslimah turut memberikan andilnya dalam perkembangan Da’wah dan Syiar Islam khususnya di kampus-kampus. Mudah-mudahan Majalah Da’wah Kampus ini tetap sukses selalu, Amin (Arf)

Walhasil, ribuan ibu demi pekerjaan, demi ke-seksi-an anggota badan rela menyusui hanya sampai beberapa bulan saja. Bahkan tidak jarang pula yang menggantikan peran menyusuinya pada botol dot. Di Amerika filosof bidang ekonomi, Joel Simon, pernah mengemukakan bahwa wanita di sana telah diambil pemerintah sebagai pekerja di pabrik-pabrik. Namun, wanita-wanita itu juga mempunyai masalah tentang keluarga, terutama perhatianya pada keluarga. Di negara maju dulu memang menjadi trend seorang wanita menjadi wanita karier.

Mereka, sangat senang jika mampu mendapatkan profesi dalam hidupnya dan sejajar dengan laki-laki. Namun belakangan, berdasarkan survei melalui polling oleh sebuah lembaga ternama di sana, menyebutkan 65 persen wanita lebih suka di rumah membina keluarga. Artinya, pola hidup beberapa tahun dulu telah ditinggalkan.

Berbeda dengan Indonesia, propaganda emansipasi harus dipahami wanita untuk merubah pola pikir, bahwa kultur wanita di rumah menjadi wanita luar rumah. Terlebih ketika krisis ekonomi menyerang bangsa ini, lompatan wanita menjadi wanita karier semakin besar, praktis merubah pola hidup masyarakat kita. Wanita menjadi mulia dan mendapatkan emansipasi jika sudah menjadi wanita karier.

Padahal, kita lihat saja berapa puluh ribu wanita yang memiliki bayi harus menyewa babby sister, untuk mengurus anaknya. Di tangan babby sister itu pula ibu memberi kekuasaan untuk mengasuhnya. Atas saran ibu pula akhirnya, bayinya diberi susu formula melalui dot. Anehnya, problematika keibuan ini, di dramatisir oleh ibu karier dengan dampak penyusuanya dan malah dianggap merusak keindahan payudara.

Sehingga, menjadikan asumsi bahwa kecerobohan ibu-ibu Indonesia menyumbang rendahnya Human Development Index (HDI) Indonesia. Ibu-ibu kita telah melupakan bahwa ASI, mempunyai mukjizat luar biasa bagi manusia. Yaitu, kadar ASI bisa berubah sesuai dengan fase-fase pertumbuhan bayi. Jumlah kalori dan zat gizi berubah berdasarkan keadaan bayi saat lahir, apakah ia lahir prematur ataukah tepat waktu. Bila bayi lahir prematur, kadar lemak dan protein ASI lebih tinggi daripada kebutuhan bayi umumnya, karena bayi prematur membutuhkan kalori lebih banyak. Sangat tidak bisa di temui pada susu formula.

Unsur-unsur sistem kekebalan tubuh yang dibutuhkan bayi, seperti anticore atau sel pertahanan tubuh, sangat tersedia dalam ASI. Ibaratnya mereka sebagai Paspampres, mempertahankan tubuh bayi yang sebenarnya asing bagi mereka, dan melindungi sang bayi dari musuh. Selain itu, ASI merupakan antibakteri. Perbedaanya dengan bakteri pada susu formula, bakteri bisa tumbuh dalam susu biasa yang disimpan pada suhu kamar selama enam jam. Namun, tidak ada bakteri yang muncul dalam ASI yang disimpan dalam suhu dan jangka waktu yang sama. Konsepsi ini setidaknya akan membawa manusia untuk tahan terhadap kematian, kesehatan dasar. Sekaligus memutar balikkan data World Bank tentang data rendahnya indeks pembangunan manusia Indonesia.

Ilmu biologi tetap menganggap bahwa ASI sangat dibutuhkan bayi dalam perkembangan otak dan tubuhnya. Namun, sampai saat ini, dengan banyaknya iklan susu formula membuat ibu-ibu menjadi kasat mata, untuk memilih susu formula dibandingkan dengan ASI. Susu formula adalah bentuk fermentasi dan modifikasi dari susu sapi sehingga bisa disebut Air Susu Sapi (ASPI). Di dalam ASI, terdapat tiga unsur protein yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ASPI. Sehingga, dampaknya masih akan di rasa sampai dewasa, dalam menjaga kesehatanya. Sebab, akan memperbaiki dan mempertahankan sistem kekebalan tubuh. Ini bisa ditemukan pada air susu ibu pertama keluar atau colustrum. Yang meningkatkan produksi antibodi, menjadi anti-oksidan dan anti radikal bebas (free radicals) yang akan menghancurkan plasma sel.

Selain itu, kadar 3,5-4,5 persen lemak menjadi sumber utama ASI dalam kandungan nutrien. Kemudian karbohidrat, yang kandungan utamanya adalah laktose, kadarnya paling tinggi dibanding susu mamalia lain (7%). Protein, dengan kadar 0,9 persen. ASI mengandung garam dan mineral lebih rendah dibanding susu sapi. Vitamin, ASI cukup banyak mengandung vitamin yang diperlukan bayi. Yaitu, vitamin K yang berfungsi sebagai katalisator pada proses pembekuan darah, dengan jumlah yang cukup, dan mudah diserap, juga mengandung vitamin E dan D.

Selanjutnya, ASI juga mengandung zat protektif. Yaitu flora normal akibat bakteri Laktobacilus sp. yang berfungsi mengubah laktose menjadi asam laktat dan asam asetat. Keduanya bersifat asam dalam pencernaan, yang mampu menghambat pertumbuhan mikro organisme, seperti bakteri E.Coli. juga laktoferin, yaitu protein yang berkaitan dengan zat besi. Dengan mengikat zat besi, maka laktoferin bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan kuman tertentu, seperti Stafilokokus dan Escericia sp. Kemudian mengandung enzim yang dapat memecah dinding bakteri (Lizozim). Antistreptokokus, yang melindungi bayi dari infeksi kuman tertentu. Antibodi, yang dapat mencegah bakteri patogen dan enterovirus masuk kedalam usus.

Akhirnya, tidak ada alasan seharusnya ibu membuang ASI nya untuk hak anaknya. Seandainya mampu di ketahui ibu-ibu karier kita, barangkali tidak akan lekas menyapih anaknya. Dan Indonesia akan mempunyai HDI lebih bagus dari sekarang. Apalagi, jika ibu-ibu tidak akan pernah memilih ASPI untuk menyusui bayinya. Sekali lagi, wahai ibu janganlah pilih ASPI sebelum bayi anda berumur 2 tahun.(red.Af.Arf) ( Dikutip dari: WASPADA Online)

Artikulli paraprakWanita Karir, ASI dan ASPI
Artikulli tjetërWahdah Islamiyah Ikut Pelatihan IT di Sahid

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini