Ramadhan adalah bulan dilipatgandakannya pahala dari setiap amalan yang dikerjakan di dalamnya. Namun sayang, berbagai bentuk keutamaan dan kemuliaan di dalamnya tidak serta merta menjadikan para hamba menyambut dan mengisi relung waktunya dengan berbagai bentuk ibadah dan ketaatan. Banyak di antara mereka yang melalui hari-hari Ramadhan dengan seadanya. Seakan-akan, hari-hari Ramadhan tak jauh beda dengan hari-hari lainnya. Ironis memang. Di saat sebagian orang terus berjibaku dengan kualitas ibadah tertinggi, sebagian lainnya justru bersikap apatis dengan waktu-waktu mulia ini.  Ada juga, segolongan hamba yang bersemangat di awal-awal Ramadhan, namun kendur di akhirnya. Padahal, justru di titik akhir itulah kemenangan segera hadir. Ya, kemenangan menjadi hamba-hambaNya yang bertakwa dan berbuah surga yang indah.

Untuk itu, perlu kiranya bagi kita semua untuk mengetahui dan memahami poin-poin yang patut untuk diperhatikan agar semangat kita terus terjaga dalam mendulang berbagai kemuliaan dan keutamaan di musim-musim kebaikan seperti di bulan Ramadhan ini.

Pertama, perkuat keikhlasan. Karena semakin besar kekuatan ikhlas dalam beramal, semakin besar pula pahala amalan tersebut. Allah Ta’ala berfirman (artinya), “dan Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki” (QS. Al-Baqarah: 261). Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa, “yang demikian itu bergantung pada (tingkat) keikhlasannya.” (Tafsiir Ibnu Katsiir: 1/693). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (artinya), “Barangsiapa berpuasa sehari fii sabiilillaah (di jalan Allah), maka Allah akan menjauhkan wajahnya (dan seluruh raganya) dari api neraka sejauh 70 tahun perjalanan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Para ulama menjelaskan bahwa termasuk dalam cakupan makna fii sabiilillaah dalam hadits di atas adalah “ikhlas karena Allah semata”. Termasuk dalam hal ini adalah adanya tekad dan niat yang besar untuk melaksanakan sunnah-sunnah Ramadhan kendati terhalang oleh udzur berupa kelemahan fisik dan harta. Jika tekad dan niat tersebut terhalang oleh udzur, maka Insya Allah, terdapat pahala bagi niat yang saleh sesuai kadar kekuatan tekad dan harapan yang bersemayam di dalam hati. (Lihat Syarh Shahih Muslim: 13/57).

Oleh karena itu, senantiasalah mengikrarkan niat di dalam hati pada setiap amal atau pekerjaan yang dilakukan demi mengharapkan ridha Allah. Jangan remehkan hal ini. Coba bayangkan, hanya dengan tidur di siang hari, namun dengan niat agar bisa khusyu’ mengerjakan shalat sunnah tarawih di malam hari, kita sudah mendapatkan pahala tersendiri dari tidur siang tersebut. Tidak demikian halnya bagi orang yang tidur tanpa menghadirkan niat karena Allah. Demikian pula saat kita makan, minum, berjalan kaki, menaiki kendaraan, berbicara, diam, semuanya mereka hendaknya diniatkan sebagai bentuk sarana pengabdian dan taqarrub kepada Allah. Ja’far bin Hayyan rahimahullah mengatakan, “Niat adalah penentu amalan, karena sesungguhnya dengan niat tersebut, seseorang mampu mencapai sesuatu (di sisi Allah), apa yang tidak mampu ia capai dengan amalannya.” (Lihat Ta’thiirul Anfaas min Hadiitsil Ikhlaash: 34).

Kumpulkanlah sebanyak mungkin niat yang saleh dalam satu amal atau pekerjaan kita. Semakin banyak niat yang saleh dalam suatu amalan, semakin banyak pula pahalanya. Imam Abu Thalib al-Makkiy rahimahullah mengatakan, “Bisa saja niat yang banyak berkumpul pada satu amalan sesuai kadar kemampuan seorang hamba dalam menghadirkan niat dan sesuai kadar ilmu yang dimiliki orang yang beramal. Maka ia akan memperoleh untuk setiap niat, pahala tersendiri.” (Lihat Ta’thiirul Anfaas: 49).

Kedua, hendaknya lebih lebih mengutamakan amalan-amalan wajib daripada amalan-amalan sunnah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (artinya), “tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan yang lebih aku cintai daripada amalan-amalan wajib. Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku mencintainya” (HR. Bukhari). Hadits ini menunjukkan secara gamblang bahwa amalan wajib lebih dicintai Allah daripada amalan sunnah. Dengan demikian, jelaslah kekeliruan sebagian kaum muslimin yang begitu bersemangat melaksanakan shalat tarawih berjama’ah di masjid, sementara shalat fardhu mereka tunaikan di rumah masing-masing. Bahkan tidak menunaikannya dengan sengaja.

Setelah yang wajib, hendaknya mengutamakan ibadah-ibadah sunnah yang lebih mampu dilakukan secara berkualitas dan kontinyu daripada bersusah-payah melakukan amalan yang tidak sesuai dengan kemampuan. Hal ini dipetik dari firman Allah (artinya), “Katakanlah: ‘Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing’. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalan-Nya.” (QS. Al-Israa: 84). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (artinya), “Hendaklah kalian beramal sesuai kemampuan kalian..” (Shahih Muslim no. 782).

Begitu juga, hendaknya melakukan amalan-amalan sunnah dan kebaikan lainnya secara konsisten dan kontinyu sekalipun terbilang sedikit secara kuantitas. Janganlah seorang memaksakan diri mengkhatamkan al-Qur’ an dalam tiga hari, sehingga ia luput dari sunnah membaca dengan tartil dan tadabbur, lalu setelah itu dia tidak pernah lagi membaca al-Qur’an. Hal ini karena bacaan beberapa ayat al-Qur’an sesuai kemampuan, disertai tartil, tadabbur, dan konsistensi, tentu itu jauh lebih utama baginya. Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (artinya), “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling konsisten dan kontinyu, sekalipun hanya sedikit.” (HR. Muslim). Tentu saja, hal ini tidak berarti bahwa kita cukup merasa puas dengan yang sedikit. Tidak. Kita tetap didorong dan dianjurkan untuk beramal saleh sebanyak-sebanyaknya sesuai kemampuan, namun tetap menjaga kelangsungan atau keberlanjutannya.

Poin-poin ini menjadi penting untuk diperhatikan agar semangat dan kekuatan kita dalam beribadah, khususnya di hari-hari akhir Ramadhan, dapat terus terjaga dalam kualitas dan kuantitas yang baik.

Ketiga, ingatlah selalu bahwa “amalan itu tergantung pada akhirnya”. Dengan senantiasa mengingat hal ini, semoga semangat kita terus terjaga bahkan semakin membara di akhir-akhir Ramadhan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (artinya), “Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya”. (HR Bukhari).

Saat kita berada di hari-hari terakhir Ramadan, banyak di antara kita mungkin sudah lelah dan jenuh dengan rutinitas ibadah Ramadan. Atau bahkan ada di antara kita yang baru memulai fokus ibadah Ramadan di hari-hari terakhir jelang lebaran. Untuk mereka yang beribadah Ramadan sejak hari pertama, ingatlah untuk tidak menyerah karena setiap amalan tergantung pada akhirnya. Kita tidak ingin merusak jerih payah perjuangan Ramadan kita dengan menyerah di saat terakhir Ramadan, bukan? Untuk mereka yang baru memulai ibadah di hari-hari terakhir Ramadhan juga jangan putus asa. Karena sekali lagi, setiap amalan tergantung pada akhirnya. Jadi belum terlambat untuk memohon ampunan-Nya, berharap ridha-Nya, dan berharap doa-doa kita dikabulkan oleh-Nya.

Ingat, umur kita terbatas. Seorang hamba hendaknya senantiasa menyadari bahwa umurnya hanya beberapa waktu, hari-hari yang dilewatinya begitu cepat berlalu seperti kilauan kilat. Tidaklah hari-hari itu berlalu kecuali merupakan pahala kebaikan bagi orang-orang yang berbuat ihsan, dan akan menjadi penyesalan bagi orang-orang yang lalai. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menganjurkan agar banyak mengingat kematian. “Perbanyaklah untuk mengingat penghancur kelezatan (kematian)”, kata Rasul kita. (HR. Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah).

Keempat, ingatlah bahwa di setiap malam Ramadhan, Allah akan membebaskan orang-orang dari api neraka. Berdasarkan sabda Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (artinya), “Allah memiliki orang-orang yang akan dibebaskan dari api neraka, dan itu setiap malam“. (HR. Tirmidzi, Shahih At-Tirmidzi 1/209). Bisa jadi, justru di akhir-akhir Ramadhan itulah, jatah kita yang terpilih untuk dibebaskan dari api nereka dan belum ada jaminan kita masih hidup dan akan bertemu dengan Ramadhan di tahun depan .  Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Berbuat baiklah di sisa-sisa Ramadhan niscaya diampuni (kesalahanmu) yang berlalu, maka manfaatkanlah hari-hari yang tersisa, karena anda tidak tahu kapan bisa meraih rahmat Allah” (Hilyah Auliya, 11837).

Kelima, ingatlah selalu bahwa bulan Ramadhan adalah perlombaan dalam ibadah dan kebaikan. Yang namanya perlombaan tentu di akhir garis finish harus semakin semangat bahkan semakin kencang. Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kuda pacu apabila mendekati batas finish ia akan mengerakan (semua) kemampuannya untuk memenangkan perlombaan. Jangan sampai kuda pacu menjadi lebih cerdas darimu.”

Keenam, senantiasa memperbanyak taubat dan istigfar kepada Allah Ta’ala. Syaikh Muhammad bin Muhammad Mukhtar As-Syinqity hafidzahullah pernah ditanya,  “Wahai Syaikh, dengan amalan apa Anda menasehati saya dalam menyongsong datangnya musim ketaatan?” Syaikh menjawab, “Sebaik-baik amalan dalam menyongsong datangnya musim ketaatan adalah memperbanyak istigfar. Sebab dosa akan menghalangi seseorang dari taufik Allah (untuk melaksanakan ketaatan.” Beliau melanjutkan, “Tidaklah hati seorang hamba selalu beristighfar melainkan ia akan disucikan. Bila ia lemah, maka akan dikuatkan. Bila ia sakit, maka akan disembuhkan. Bila ia diuji, maka ujian itu akan diangkat darinya. Bila ia kalut, maka akan diberi petunjuk. Dan bila ia galau, maka akan diberi ketenangan”.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan amalan ini, yaitu memperbanyak istigfar, maka Allah akan mempermudah rezekinya, memudahkan urusannya dan menjaga kekuatan jiwa dan raganya”.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Bila engkau ingin berdo’a, sementara waktu begitu sempit, padahal di dalam dadamu dipenuhi oleh begitu banyak hajat (kebutuhan), maka jadikan seluruh isi do’amu berupa permohonan maaf kepada Allah. Karena bila Dia memaafkanmu, maka semua keperluanmu akan dipenuhi oleh-Nya tanpa engkau memintanya.”

Olehnya, mari perbanyak taubat dan istigfar di setiap saat, kiranya Allah senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita untuk terus beramal saleh di bulan mulia ini.

Ketujuh, banyak berdoa dan memohon kemudahan kepada Allah. Hendaknya kita pahami bahwa untuk mudah melakukan berbagai bentuk kebaikan di bulan Ramadhan, kita membutuhkan pertolongan dan kemudahan dari Allah. Jika kita hanya mengandalkan diri sendiri, maka ibadah akan menjadi sulit untuk dijalani. Mengapa? Karena diri kita sesungguhnya lemah dan terbatas. Oleh karena itu, hendaknya kita banyak bergantung dan bertawakkal kepada Allah dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Teruslah memohon do’a kepada Allah agar kita mudah menjalankan berbagai bentuk ibadah seperti shalat malam, ibadah puasa itu sendiri, berderma, mengkhatamkan atau mengulang hafalan Qur’an dan kebaikan-kebaikan lainnya. Dan yang terpenting, kita terus memohon kepada Allah, kiranya Dia mencurahkan taufik-Nya agar kita istiqamah hingga akhir Ramadhan dan di bulan-bulan berikutnya. Salah satu doa yang pernah diajarkan oleh Nabi kita  adalah “Allahumma inni as-aluka fi’lal khairaat wa tarkal munkaraat” (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran) (HR Tirmidzi no. 3233, shahih menurut Syaikh Al-Albani).

Penutup

Hari-hari Ramadhan pasti akan berlalu. Namun, jangan pernah biarkan ia pergi begitu saja, seperti yang kita lakukan setahun bahkan bertahun-tahun silam. Bukankah dulu ketika ia hadir, kita membiarkannya sepi. Hingga ia beranjak, kita masih saja sepi. Entah ada atau tidak dosa-dosa yang terampuni. Entah rasa lapar dan dahaga itu termaqbulkankah di sisi-Nya. Entah shalat malam kita itu adakah nilainya. Entah berhakkah kita melewati pintu Ar-Rayyan-Nya kelak.  Entahlah. Bukankah Allah begitu pemurahnya kepada kita. Hari ini, Allah Ta’ala masih saja memberikan satu kali lagi kesempatan itu. Betapa kasihnya Ia pada kita saat Ia masih membiarkan nafas ini berhembus hari ini.

Jadi sekali lagi, jangan lepaskan Ramadhan ini pergi begitu saja. Jangan ucapkan perpisahan dengannya sebelum ia meninggalkan arti dalam lembaran amal kita. Bisa jadi ini adalah kali terakhir. Setelah itu tiada. Ya, tiada lagi Ramadhan, tiada lagi shiyam, tiada lagi qiyaam, tiada lagi tilawah, tiada lagi shadaqah, tiada lagi istigfar, tiada lagi doa, tiada lagi I’tikaf, tiada lagi ‘Idul Fitri. Semuanya tiada. Yang ada hanya hisab.

Teruslah bersemangat hingg akhir Ramadhan. Jangan kendor saudaraku, hingga Ia memanggil kita pulang!

Wallahu a’lam.

Oleh : Azwar Iskandar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here