MAKASSAR – Wahdah Islamiyah bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Basarnas Provinsi Sulawesi Selatan menggelar pelatihan tanggap bencana di Aula Kantor DPP Wahdah Islamiyah, Antang, Makassar, selama dua hari berturut-turut, terhitung dari hari Sabtu (2/3/2019) hingga Ahad (3/3/2019). Peserta dalam kegiatan ini berasal dari perwakilan DPD Wahdah Islamiyah se-Sulawesi Selatan dan umum dari lembaga internal maupun eksternal.

Ketua Tim Wahdah Peduli, Gishar Hamka mengatakan, pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta untuk melakukan perencanaan tanggap darurat.

“Penanganan bencana dan mempersiapkan tim yang solid patut ditingkatkan. Apatah lagi, selama ini Wahdah sudah terlibat dalam beberapa aksi penanganan bencana,” ujar Gishar yang juga penanggung jawab pelatihan.

Hadir pula dalam kegiatan ini, Syahruddin, Direktur LAZIS Wahdah. Dalam penyampaiannya, ia mengatakan, Wahdah perlu meningkatkan kualitas relawannya. Termasuk mempersiapkan pola kerja yang masif dan terencana.

Sebagai pemateri, Ardadi yang juga Kepala seksi Logistik BPBD Sulawesi Selatan mengatakan, koordinasi dan penanganan yang cepat, tepat, efektif, efisien, terpadu, dan akuntabel diperlukan dalam penanggulangan bencana agar dampak yang ditimbulkan dapat dikurangi.

Dalam penanggulangan bencana, tambahnya, khususnya dalam fase tanggap darurat harus dilakukan secara cepat, tepat, dan dikoordinasikan dalam satu komando.

“Kegagapan dalam penanganan dan ketidakjelasan informasi dalam kondisi darurat bencana dapat menghambat dalam penanganan kondisi darurat bencana. Situasi dan kondisi seperti ini disebabkan oleh belum terciptanya mekanisme kerja Tanggap Darurat yang baik. Keberadaan sistem yang baik akan memudahkan akses yang ada,” jelas Ardadi.

Di hari pertama, para peserta diberikan materi-materi kebencanaan. Termasuk, materi pengenalan alat-alat savety oleh pihak Basarnas.

Beberapa alat seperti tali karmantel, carabiner, ascender, descender, tandu basket dan semacamnya diperkenalkan.

“Alat-alat ini harus ada. Karena itu yang mendukung proses penyelamatan kita. Jadi, yang pertama kali harus savety ya, penyelamatnya dulu, baru korban. Dan itu perlu waktu untuk menjadi professional,” kata Darul, dari pihak Basarnas Sulsel.

Peserta juga mendapatkan pelatihan langsung di lapangan.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here