Dari sekian hal yang membuat kita bangga menjadi seorang muslim adalah karena kita mempunyai sejarah masa lalu yang gemilang  yang dilakoni oleh para pendahulu kita yang shaleh. Diantara kepingan sejarah itu adalah pembebasan Kontantinopel oleh seorang pahlawan muda Sultan Muhammad Al-Fatih. Di usianya yang belum genap 25 tahun, ia maju memimpin pasukan-pasukannya untuk membuktikan kabar gembira sang Nabi untuk membuka Konstantinopel, ibu kota Imperium Bizantium.

Sekitar 800 tahun mimpi indah itu tersimpan rapi di dalam kitab-kitab hadist. Bukan tidak ada yang beminat menjadi pahlawannya. Sudah banyak. Bahkan, sekitar 11 kali percobaan telah dilakukan oleh para tokoh-tokoh besar. Termasuk yang paling bersemangat adalah Abu Ayyub Al-Anshari. Kuburannya yang ditemukan di dekat benteng  Konstantinopel menjadi bukti kuat keinginannya untuk menjadi pembuat sejarah besar dan pewujud mimpi indah itu.

Tapi memang sejarah besar hanya akan ditorehkan oleh orang-orang besar. Seperti Muhammad Al-Fatih. Pada usia yang belum genap 25 tahun, dia mampu membuktikan dirinya sebagai sosok yang di sebut hadist mulia itu. Sosoknya boleh jadi tidak begitu dikenal oleh anak-anak generasi zaman kini. Tapi, sejarah sangat mengenalnya sebagai orang besar yang telah membuat sejarah besarnya.

Namun tugas mulia itu belum berakhir, masih tersisa satu tugas  yang belum tercapai sampai saat, yaitu penaklukan kota Roma. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan 2 kota penting dalam sejarah bumi ini yang akan ditaklukkan oleh kaum muslimin. Keduanya adalah Kontantinopel dan Roma, Rasulullah mengabarkan bahwa Kontantinopel akan ditaklukkan terlebih dahulu. Pada tahun 857 H/ 1453 M. Sampai saat ini setelah pembebasan Kontantinopel, kota Roma masih belum juga takluk di tangan kaum muslimin.

Untuk penaklukan kota Roma, Sultan Muhammad Al-Fatih adalah inspirasinya. Ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Salam dalam sabdanya menyandingkan antara pembuka Kontantinopel dan pembuka Roma, maka di sinilah letak kuncinya. Melahirkan sosok pemimpin seperti dia dan melahirkan masyarakat seperti masyarakatnya.

Kegigihan sang ayah Sultan Murad II dalam mendidiknya.

Keberhasilan Sultan Muhammad Al-Fatih dalam menaklukkan Kontantinopel tidak lepas dari kegigihan sang ayah Sultan Murad II dalam mendidiknya. Kita tidak akan menyajikan proses pembinaan Al-Fatih tanpa mencermati kepribadian ayahnya Sultan Murad II, yang memiliki pengaruh sangat besar dalam pembentukan dan pencapaiannya terhadap bergabagai kesuksesan-kesuksesan besar.

Sultan Murad II adalah sultan ke 6 dalam Daulah Utsmaniyah. Ia hidup antara tahun 1402-1452 M. Ia sangat mencintai Bahasa Arab, bahkan dia dianggap sebagai sultan pertama yang mempelajari dan melakoni seni kaligrafi Arab di antara para sultan Utsmani. Ia juga pandai menggubah syair Arab dan sangat menguasainya.

Menjadikan ulama sebagai pendidik/guru utama bagi Al-Fatih.

Setelah Sultan Muhammad Al-Fatih melewati usia kanak-kanak. Ayahnya Sultan Murad II menyiapkan beberapa guru khusus untuknya. Namun mereka semua gagal mengajarinya karena ia adalah seorang anak yang bandel dan tidak mau tunduk pada perintah mereka. Melihat kondisi itu, Sultan Murad II langsung mendelegasikan tugas pembinaan dan pengajaran putranya kepada seorang ulama, Maula Ahmad Bin Ismail Al-Kurani. Sultan memberinya cambuk yang akan digunakan untuk memukul Muhammad Al-Fatih jika ia bandel. Dalam waktu yang singkat ia pun berhasil menghatamkan Al-Qur’an sebelum usianya mencapai 8 tahun. Kemudian Syaikh Al-Kurani mengajarinya ilmu-ilmu keIslaman yang menjadi pegangan mayoritas ulama pengajar pada waktu itu. Kepada Maula Al-Kurani, Al-Fatih mempelajari berbagai kitab sejarah. Sejak kecil, ia telah menguasai bahasa Turki, Persia, dan Arab; baik untuk kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan menerjemahkan. Lalu di masa remajanya ia mempelajari bahasa Yunani, Serbia, Italia, dan Latin.

Sultan Murad juga memerintahkan seorang guru lain untuk mengajar putranya, Muhammad Al-Fatih. Yaitu seorang syekh spritual, Asy-Syarif Muhammad bin Hamzah Ad-Dimasyqi, yang digelari “AaqSyamsuddin”. Bersama dengan Al-Kurani, ia kemudian terlibat dalam pembinaan dan pendidikan pangeran Muhammad, serta menanamkan dalam dirinya sejak kecil bahwa dialah Sang pemimpin mujahid yang dimaksudkan dalam hadits Nabi yang ada dalam Musnad Imam Ahmad:

“Sesungguhnya Kontantinopel itu akan ditaklukkan. Maka sungguh panglima (pasukan penakluk itu) adalah sebaik-baik pemimpin, dan sungguh pasukan (penakluk itu) adalah pasukan terbaik.”

Al-fatih kemudian menguasai ilmu-ilmu Al-Qur’an, hadist Nabi, fikih dan usul fikih serta ushuluddin. Ia juga menonjol dalam ilmu sejarah, geografi, dan mantiq. Demikian pula ilmu-ilmu pasti seperti matematika dan falak, serta politik syariah.

Doa mulia dari sang guru untuk kesuksesan Al-Fatih.

Ketika pangeran Muhammad Al-Fatih berhasil menjadi sultan bagi Daulah Utsmaniyah, dan saat itu dia masih muda, Sang Syekh segera mengarahkannya untuk bergerak bersama pasukannya demi merealisasikan apa yang di janjikan oleh hadist Nabi tersebut. Maka pasukan utsmani pun mengepung Konstantinopel dari arah laut maupun darat. Sebuah peperangan yang sengit terjadi selama 54 hari.

Ketika Byzantium berhasil meraih kemenangan sementara dan rakyat Byzantium gegap gempita dengan masuknya 4 kapal laut yang dikirim oleh Paus kepada mereka sehingga semangat mereka menjadi lebih besar, para panglima dan menteri Dualah Utsmani pun  berkumpul dan menemui Sultan Muhammad Al-Fatih. Mereka mengatakan:

“Sesungguhnya Anda mendorong jumlah yang begitu besar pasukan ini menuju pengepungan ini hanya karena mengikuti omongan salah seorang ulama, yang mereka maksud adalah AqSyamsuddin. Akhirnya banyak prajurit yang tewas dan perlengkapan perang yang rusak. Ditambah lagi dengan hadirnya bala bantuan dari orang-orang Kafir di negeri Barat yang masuk ke dalam benteng (Kontantinopel), dan kini sama sekali tidak ada harapan bagi upaya penaklukan ini!”

Sultan Muhammad segera mengutus menterinya, Waliyyuddin Ahmad Basya menemui Syekh AaqSyamsuddin di kemahnya untuk menanyakan solusi terhadap kondisi tersebut. Maka sang Syekh menjawab: “Pasti, Allah akan mengaruniakan kemenangan!”

Sultan tidak puas dengan jawaban ini. Maka sekali lagi, ia mengutus menterinya untuk meminta penjelasan lebih banyak kepada sang Syekh. Maka sang Syekh menuliskan sepucuk surat kepada muridnya, Muhammad Al-Fatih itu dengan mengatakan:

“Dialah sang pemberi kekuatan dan kemenangan….Peristiwa masuknya kapal-kapal perang telah menyebabkan jiwa kaum muslimin menjadi hancur dan khawatir dan melahirkan kegembiraan dan kesombongan di kalangan kaum Kafir. Namun satu hal yang pasti adalah hamba mengatur namun Allah yang menakdirkan, dan ketetapan terakhir itu semuanya milik Allah

Oleh: Andri Astiawan Azis
(Mahasiswa Universitas Qassim, KSA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here