Tarbiyah Sebagai Penopang Gerakan Da’wah

Salah satu kewajiban penting yang diamanahkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam  kepada kaum Muslim adalah "al amru bil ma’ruf dan al-nahyu ‘anil munkar" (memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran). Secara umum, kaum Muslim wajib mendukung tegaknya kebaikan dan melawan kemunkaran. Tugas ini wajib dilakukan oleh seluruh kaum Muslimin, sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Sebab, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam  sudah mengingatkan, agar siapa pun jika melihat kemungkaran, maka ia harus mengubah dengan tangan, dengan lisan, atau dengan hati, sesuai kapasitasnya.  Namun, secara kolektif, umat juga diwajibkan melakukan aktivitas ini.

Aktivitas "amar ma’ruf dan nahi munkar" adalah kutub terbesar dalam urusan agama. Ia adalah sesuatu yang penting, dan karena misi itulah, maka Allah mengutus para nabi. Jika aktivitas amar ma’ruf nahi munkar  hilang maka syiar kenabian hilang, agama menjadi rusak, kesesatan tersebar, kebodohan akan merajelela, satu negeri akan binasa. Begitu juga  umat secara keseluruhan.
Saat ini begitu banyak kemunkaran bertebaran di muka bumi. Melalui media televisi, sebagian kemunkaran itu menyelusup masuk ke pojok-pojok kamar kita, tanpa permisi. Tentu saja, kemunkaran terbesar dalam pandangan Islam, adalah kemunkaran di bidang aqidah Islamiyah. Yakni, kemungkaran yang mengubah dasar-dasar Islam. Inilah kemunkaran yang berawal dari kerusakan ilmu-ilmu Islam, yang menyangkut asas-asas pokok dalam Islam

Substansi dari dakwah itu sendiri adalah perubahan. Ada perubahan yang diinginkan  dari aktivis dakwah tersebut, mulai dari kognitifnya, konatif dan afektifnya perubahan itu sendiri tentunya perlu proses  yang di jalani  melalui pembinaan atau tarbiyah  islamiyah  yang ditekuni secara istimrariyyah ( berekelanjutan ) dengan arah  dan target –terget  yang jelas  melalui  program-program  yang mantap dan tertata.

Umar Bin Abdul Aziz pernah dibuat takjub oleh seorang bocah ketika beliau kedatangan utusan dari negeri Hijaz. Ketika itu, sang bocah maju menjadi juru bicara. Melihat seorang bocah yang maju, sang Khalifah berkata, "Wahai anak kecil, duduklah, biar orang yang lebih tua darimu yang bicara."

Mendengar itu, sang bocah menjawab, "Semoga Allah menolongmu, wahai Amirul Mu’minin. Seseorang itu dilihat dari dua hal yang kecil, yaitu lisan dan hatinya. Jika Allah memberinya lisan yang fasih dan hati yang kuat maka ia berhak berbicara… kalaulah segala urusan, ditentukan oleh usia, niscaya di antara umat ini ada yang lebih berhak menempati singgasana itu."

Seorang bocah yang “lantang” mengungkapkan isi hatinya di hadapan khalifah, sungguh sebuah perkara yang mengagumkan! Terlebih jika kita menyaksikan anak-anak kita saat ini, hari-harinya diliputi kegelisahan dan sikap minder. Jangankan berbicara lantang di hadapan orang asing, untuk bicara di depan kelas saja terkadang sangat sulit bagi mereka.
Mengapa ada anak yang memiliki kekuatan psikis? Dan mengapa ada anak yang tidak memilikinya? Bocah yang membuat takjub Umar bin Abdul Aziz adalah tipe anak yang memiliki kekuatan psikis yang menakjubkan. Kecerdasan emosional yang tinggi. Lalu apa yang terjadi dengan anak-anak kita atau lebih spesifiknya aktifis dakwah yang mengaku mengemban misi dakwah Rasulullah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam? Apa kira-kira yang akan mereka jawab jika mereka berada dalam situasi si bocah?
Semua terletak pada pendidikan (tarbiyah). Yakinlah bahwa bocah yang cakap berbicara itu adalah bocah yang sangat terdidik. Ia menerima tarbiyah yang benar dari guru utamanya. Dan, siapa lagi guru utamanya kalau bukan ibunya yang sangat menyayangi dan memahami kebutuhannya.
Relevansi antara objek dan subjek dakwah itu sendiri , tentunya  tidak akan bisa lepas  dari konsep tarbiyah ini. Seorang aktivis dakwah  tidak hanya berfikir  atau bergerak untuk  bisa mentarbiyah  orang lain. Konsep tarbiyah  itu pula tidak boleh lepas dari dirinya  karena justu  tarbiyah itulah  yang menopang kakinya  untuk melangkah dan  berdiria tegak di atas rel  perjuangan dalam pergerakan dakwahnya.
1. Esensi dari sasaran tarbiyah adalah individu
            Individu adalah obyek dan sekaligus subyek dari diturunkannya risalah. Di dalam al-Qur’an, banyak seruan yang langsung ditujukan kepada manusia, agar mereka mampu membina dirinya sendiri. Diantara seruan-seruan itu ialah:
"Hai manusia, sesungguhnya engkau semestinya harus bekerja keras dengan sesungguh-sungguhnya untuk menemui Rabb-mu, sebab engkau pasti akan menemuiNya". (QS. Al-Insyiqaq 6)

Ayat diatas dengan tegas menyuruh manusia untuk secara sungguh-sungguh bekerja keras, yakni beramal shalih dalam kehidupannya. Kesungguhan dan kerja keras hanya bisa dilaksanakan oleh seseorang yang memiliki disiplin, semangat yang terpelihara, dan jasmani yang kuat. Semua itu hanya bisa dilakukan oleh manusia yang terbina dalam tarbiyah islamiyah.
"Hai orang-orang beriman, jagalah setiap diri kalian masing-masing dan keluarga kalian dari api neraka".
(QS. At-Tahrim 6)
Ayat ini lebih tegas menunjukkan pada salah satu fungsi tarbiyah, yakni muhafadzah (penjagaaan) fitrah manusia dari berbagai faktor yang akan dapat menyesatkan mereka dari jalan Islam. Proses tarbiyah ini harus dimiliki oleh setiap muslim, sehingga mereka mampu menjaga dirinya masing-masing dan keluarganya.

2. Esensi dari perubahan adalah individu
            Risalah Islam ditujukan untuk ummat manusia, sedangkan ummat sendiri adalah kumpulan dari individu. Individu-individu inilah yang menyusun ummat, mulai dari institusi terkecil yakni keluarga, hingga institusi akbar yaitu khilafah islamiyah.
"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri". (QS. Ar-Ra’d 11)
Pada awal risalahnya, Rasulullah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melakukan pembinaan untuk merubah anggota masyarakatnya, yaitu bangsa Quraisy. Bimbingan yang intensif disertai kemampuan para shahabat dalam membina diri sendiri, akhirnya berhasil memunculkan individu-individu dengan jiwa yang baru (ruhul jadid) yang berbeda dari jiwa jahiliyah. Perbedaan ini tidak hanya dalam keyakinan, tetapi juga dalam pola pikir maupun sikap hidup.

3. Esensi pertanggung-jawaban adalah individu
Hidup seseorang adalah tanggung-jawab dirinya. Keberhasilan dan kegagalannya dalam menjalani kehidupan harus dipertanggungjawabkannya sendiri. Ketersesatan dan penyimpangan hidupnya tidak bisa ditimpakan kepada orang lain atau sebab diluar dirinya.
"Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya". (QS. An-Najm 38-39)

Disinilah urgensi tarbiyah, dimana setiap individu memahami berbagai potensi positif dirinya, yang apabila dipelihara (ri’ayah) maka hidupnya akan lurus dan sukses. Hidupnya lurus karena ia senantiasa mampu menerima petunjuk dan rambu yang diberikan Allah dalam menjalani hidupnya. Manusia yang tertarbiyah inilah yang masuk pada kriteria "yang Allah kehendaki" pada kitab-Nya:
"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya."
(QS. Al-Qashash 56). (tnr&Zhee, Mjlh al Firdaus)

Artikulli paraprakMembaca Ulang Warisan As salaf Shaleh
Artikulli tjetërHukum Gambar dan Patung

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini