Halaqah tarbiyah, demikian pertemuan ilmiyah itu dikenal oleh orang-orang yang belajar islam melalui ormas wahdah islamiyah. Halaqah yang sederhana, namun darinya banyak melahirkan kesatria-kesatria tangguh sebagai pejuang-pejuang dakwah, mereka rela diutus dimana saja demi kebangkitan islam dan kemuliaan kaum muslimin.

Ia hanyalah halaqah-halaqah yang sederhana, tak seperti majelis-majelis akbar lainnya. Namun darinya banyak lahir cikal bakal para penghafal-penghafal al-Qur’an, yang menjadi muhaffizh-muhaffizh al-Qur’an di beberapa Ma’ahid. Tidak hanya menjadi cikal bakal penghafal saja, halaqah sederhana itu pun bahkan melahirkan para hafizh-hafizh al-Qur’an padahal mereka bukanlah anak-anak pesantren, melainkan hanya sekedar pekerja dan buruh bangunan saja.

Ia hanyalah halaqah-halaqah yang sederhana, yang mengisinya pun terkadang bukanlah ustadz-ustadz kondang, dimana namanya terkenal diseantero penjuru tanah air akan keluasan ilmunya. Namun, darinya banyak mengantarkan manusia pada pintu-pintu hidayah, lalu kemudian mengenalkan mereka pada ajaran islam yang baik dan benar, yang washatiyyah, lemah lembut tapi tegas. Terlebih lagi yang diajarkan itu sesuai dengan pemahaman orang-orang shaleh terdahulu, Ahlusunnah itu nama populernya.

Begitu banyak manusia yang mendapat hidayah melalui pertemuan pekanan sederhana ini. Termasuk saya pribadi yang menulis artikel ini. Dahulu bahkan saya tidak tahu ngaji, dipertemuan inilah saya mencoba memacu semangat untuk belajar membaca al-Qur’an. Dahulu saya tidak punya hafalan Qur’an, disinilah saya mulai belajar menghafal Qur’an. Dahulu saya tidak punya hafalan hadits, disinilah saya mulai menghafal hadits arbain. Dahulu saya tidak tahu akidah dan manhaj yang benar, disinilah saya mengenal itu semua. Saya tidak sedang memuji diri, tapi sedang bersyukur, kalau Allah telah memberikan hidayah kepada saya melalui halaqah sederhana yang disebut sebagai halaqah tarbiyah.

Telah terbukti, banyak orang yang mendapatkan hidayah dan faidah yang sangat banyak dari halaqah sederhana itu. Namun sangat disayangkan, banyak pula diantara mereka yang telah mendapat hidayah dari halaqah itu, justru balik mencelanya bahkan mengharamkannya, setelah sekian lama menimba ilmu dari halaqah kecil itu. Memang sangat disayangkan, mereka sangat kurang bersyukur sehingga lupa, kalau ilmu yang mereka ketahui itu awalnya mulai dipelajari dari halaqah itu, hidayah juga menyapa mereka dari halaqah sederhana itu.

Saya cukup takjub dan terharu pada tulisan Dr. Umar Ibnu Abdillah al-Muqbil hafizhahullah ketika beliau menyebutkan kebaikan akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membalas perbuatan seorang musyrik yang pernah berbuat baik padanya, dalam kitab yang ia tulis berjudul Qawaaidu Qur’aniyyah. Sebuah kitab yang berisi 50 kaidah-kaidah agung dari ayat-ayat al-Qur’an, yang begitu indah jika dipraktekkan dalam kehidupan. Diantara kaidah itu adalah satu ayat yang terdapat pada surah al-Baqarah:

وَلا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ

“Dan janganlah kamu melupakan keutamaan (kebaikan) diantara kamu.” (QS. Al-Baqarah: 238)

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada di kota Makkah saat kembali dari kota Thaif, orang-orang saat itu sangat membenci dirinya, bahkan beliau tidak boleh memasuki kota Makkah tanpa ada perlindunagn dari seorang tokoh saat itu.

Adalah al-Muth’im Ibnu Adi seorang laki-laki musyrik bahkan mati dalam kekafirannya, yang melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia bersama kaumnya keluar mengenakan senjata untuk melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika ia meninggal dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Jika seandainya al-Muth’im Ibnu Adi masih hidup dan ia meminta kepadaku untuk membebaskan tawanan kafir pada perang badar tanpa tebusan, niscaya aku akan bebaskan mereka demi dirinya.”

Masya Allah, ini balasan yang amat besar kepada seorang musyrik yang melindungi dirinya. mengapa kita sebagai muslim tidak mencontoh akhlak yang indah ini? Padahal tawanan dalam perang badar itu adalah orang-orang yang berniat menghabisi nyawa-nyawa mereka karena perbedaan agama antara mereka. Tidak menutup kemungkinan juga jika mereka dibebaskan bisa memberi mudharat yang lebih besar kepada kaum muslimin, karena jumlah mereka yang saat itu sangat sedikit, terlebih saat itu kaum muslimin selalu mengalami penyiksaan dari orang-orang kafir sehingga mereka harus hijrah ke Madinah.

Lalu bagaimana dengan halaqah tarbiyah yang darinya banyak melahirkan para penghafal al-Qur’an? Bagaimana dengan halaqah tarbiyah yang telah banyak melahirkan para da’i? Bagaimana dengan halaqah tarbiyah yang telah banyak mengantarkan kaum muslimin pada hidayah manhaj dan akidah yang hak? Bagaimana dengan halaqah tarbiyah yang mendidik manusia untuk memiliki akhlak yang baik, dekat dengan al-Qur’an dan jauh dari kesyirikan? Tidakkah seharusnya ini lebih utama untuk disyukuri?

Maka ketahuilah wahai saudaraku!

Tarbiyah hanyalah wasilah menuntut ilmu, jadi jangan katakan bahwa cara ini bukan cara salaf. tarbiyah tidak beda dengan sekolah, hanya saja sekolah bentuknya formal dan tarbiyah tidak formal. Ketika ada orang-orang yang meluangkan waktunya untuk belajar islam sekali sepekan tidakkah engkau bahagia, karena ada orang yang mendapat hidayah sepertimu? Bukankah hidayah menyapamu juga melalui cara ini? mengapa hatimu begitu keras untuk bersyukur.

Tarbiyah hanyalah wasilah, jangan karena cara belajarnya bermarhalah (bertingkat-tingkat) engkau katakan itu bukan cara salaf. Sesungguhnya setiap sekolah juga bermarhalah, universitas islam tempat para masyaikh mengajar juga bermarhalah, hanya saja namanya fashl (kelas) tapi tujuannya sama, bertingkat-tingkat. Jika engkau mengingkari ini semoga anda seorang yang belajar ngaji langsung mulai dari iqra 6 dan tidak dimulai dari iqra 1 agar engkau tidak belajar bermarhalah. Tidakkah engkau menyadari?

Tarbiyah hanyalah wasilah, penempatan halaqah-halaqahnya juga diatur oleh manusisa-manusia biasa yang kadang salah. Namun mereka telah berjasa meluangkan waktunya demi terwujudnya halaqah ini, agar orang-orang yag tidak tahu ngaji bisa ngaji, yang belum kenal islam bisa kenal islam.

Jangan karena terkadang ganti-ganti murabbi lantas engkau tidak suka dengan tarbiyah dan engkaupun mencelanya. Mengapa engkau begitu kurang bersyukur, padahal hidayah menyapamu dari halaqah ini. Saudaraku, tidak semua orang seperti dirimu, sehingga terkadang ada yang mulai bosan dengan halaqahnya. Maka dengan pergantian halaqah dia bisa memberi semangat baru.

Tidak semua murabbi standar ilmunya sama denganmu, engkau mungkin bisa mensyarah bermacam-maacam kitab melalui keahlianmu dengan bahasa arab dan keluasan ilmumu, tapi yang lain tidak. Bahkan ada yang tidak tahu bahasa arab sama sekali, walau mereka sudah memiliki kapasitas ilmu yang baik, menghafal beberapa juz al-Qur’an, menghafal beberapa hadits-hadits Nabi pilihan dan memahami penjelasannya, dan perkataan ulama lainnya. Makanya butuh adanya perubahan, sehingga seorang murabbi bisa mentarbiyah binaannya lebih baik lagi. Seorang binaan yang mulai sama dengan ilmu guru pertamanya bisa mendapatkan guru yang lebih baik lagi insya Allah.

Jika suatu saat tanpa disengaja sang murabbi tidak lebih luas ilmunya dari darimu menurutmu, maka tetaplah duduk beristifadahlah padanya?

Sofyan Ibnu Uyainah rahimahullah pernah berkata:

لا يكون الرجل من أهل الحديث حتى يأخذ عمن هو فوقه وعمن هو دونه وعمن هو مثله

“Seseorang tidak akan menjadi seorang ahli hadits hingga dia mengambil ilmu dari orang-orang yang berada di atasnya dalam masalah keilmuan, atau orang yang lebih rendah darinya, atau yang sama dengan dirinya.” (al-Jamiu Liakhlaqi ar-Rawi Wa adaabu as-Sami’: 4/413)

Imam Bukhari rahimahullah juga berkata:

لا يكون المحدث كاملا حتى يكتب عمن هو فوقه وعمن هو مثله وعمن هو دونه

“Seseorang tidak akan menjadi ahli hadits yang sempurna hingga dia menulis hadits dari orang-orang yang berada di atasnya, yang sama dengannya, atau lebih rendah darinya.” (Muqaddimatu Fathi al-Bari: 480)

Maka tak perlu risau, toh masih banyak faidah yang tidak engkau ketahui yang mungkin diketahui olehnya. Maka duduklah dan dengarlah faidah itu, engkau akan merasakan dirimu dalam keadaan kekurangan ilmu. Engkau juga bisa mengambil faidah dari guru-guru yang lain dalam masalah ilmu.

Ketahuilah para murabbi yang telah terpilih itu walau mereka terkadang tidak pandai bahasa arab, mereka tidak dijadikan sebagai murabbi kecuali telah memiliki kapasitas ilmu yang baik. Mereka juga tidak akan berani berkata tanpa ilmu. Maka jangan khawatir, sesungguhnya mereka tidak akan berani menafsirkan ayat, melainkan menyampaikan ilmu apa yang pernah mereka dengar atau dapat sebelumnya dari guru-gurunya.

Jika engkau melihat ini adalah kekurangan, maka ketahuilah, tidak ada yang sempurna kecuali Allah. Jika ada beberapa sifat yang tidak kau sukai, jangan tulis di facebok dengan nada lantang, mencela orang-orang yang telah berjasa menarikmu dari lembah kesesatan.

Dr Umar Ibnu Abdillah al-Muqbil hafizhahullah dalam menjelaskan kaidah tadi mengatakan:

إذا تعارف الناس الفضل بينهم سهل على المذنب الإعتراف بالذنب وسهل على من له حق أن يعفو.

“Apabila setiap manusia saling mengingat kebaikan sesama mereka, maka akan mudah bagi seorang yang berdosa untuk mengakui kesalahannya, dan akan mudah bagi seorang yang memiliki hak untuk memaafkan.” (Qawaid Qur’aniyyah: 24)

Maka bersyukurlah dengan tarbiyah ini, mari saling menguatkan dan jangan saling melemahkan.

Keep istiqamah…

Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy (Alumni STIBA Makassar, Ketua DPD Wahdah Islamiyah Palembang)

Artikulli paraprakWalikota Makassar Terima Panitia Muktamar III Wahdah Islamiyah
Artikulli tjetërKUTEMUKAN DAKWAH BIJAK AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH DI WAHDAH

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini