Kalimat Tauhid atau Laa Ilaha Illallah adalah kalimat yang memiliki keutamaan yang sangat besar. Ia adalah kalimat yang akan menyelamatkan seseorang dari ketergelinciran peribadatan kepada sesembahan selain Allah. Tujuan mulia tersebut akan didapatkan oleh seorang Muslim ketika ia mengetahui syarat-syarat kalimat yang agung ini.

Alhamdulillah di edisi sebelumnya kita sudah membahas dua syarat yaitu tentang bagaimana kita mengetahui makna kalimat tauhid dan meyakininya. Insya Allah di edisi kali ini, atas izin Allah subahanahu wa ta’ala, kita akan membahas syarat-syarat yang lainnya.

Syarat Ketiga, menerima setiap konsekwensi kalimat tauhid.

Maknanya bahwa kalimat tauhid memiliki konsekwensi dan kelaziman atas siapapun yang meyakininya, sehingga syarat berikutnya adalah menerima setiap konsekwensi tersebut dengan sepenuh hatinya, dan mengikrarkan dengan lisannya. Allah subhanahu wa ta’ala sendiri telah banyak mengisahkan berita-berita tentang orang yang menerima konsekwensi keimanan kepada-Nya dan mereka yang menolaknya, tentang kaum yang menolak tersebut Allah mengabadikannya di dalam al qur’an.

وَكَذَٰلِكَ مَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ فِي قَرۡيَةٖ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتۡرَفُوهَآ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّقۡتَدُونَ۞قَٰلَ أَوَلَوۡ جِئۡتُكُم بِأَهۡدَىٰ مِمَّا وَجَدتُّمۡ عَلَيۡهِ ءَابَآءَكُمۡۖ قَالُوٓاْ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ كَٰفِرُونَ  ۞فَٱنتَقَمۡنَا مِنۡهُمۡۖ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِينَ۞

Artinya: “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. (Rasul itu) berkata: “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk dari pada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya”. Maka Kami binasakan mereka, maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS. Az- Zukhruf: 23-25)

Di dalam kisah lainnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

۞ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ وَمَا كَانُواْ يَعۡبُدُونَ۞مِن دُونِ ٱللَّهِ فَٱهۡدُوهُمۡ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡجَحِيمِ  ۞ وَقِفُوهُمۡۖ إِنَّهُم مَّسۡـُٔولُونَ۞مَا لَكُمۡ لَا تَنَاصَرُونَ۞ بَلۡ هُمُ ٱلۡيَوۡمَ مُسۡتَسۡلِمُونَ۞ وَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ۞ قَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَأۡتُونَنَا عَنِ ٱلۡيَمِينِ۞ قَالُواْ بَل لَّمۡ تَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ۞ وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنِۢۖ بَلۡ كُنتُمۡ قَوۡمٗا طَٰغِينَ۞ فَحَقَّ عَلَيۡنَا قَوۡلُ رَبِّنَآۖ إِنَّا لَذَآئِقُونَ۞ فَأَغۡوَيۡنَٰكُمۡ إِنَّا كُنَّا غَٰوِينَ۞فَإِنَّهُمۡ يَوۡمَئِذٖ فِي ٱلۡعَذَابِ مُشۡتَرِكُونَ۞إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفۡعَلُ بِٱلۡمُجۡرِمِينَ۞ إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ يَسۡتَكۡبِرُونَ۞وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۢ۞

Artinya: “(kepada malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah. Selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya: “Kenapa kamu tidak tolong menolong?”.  Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri. Sebahagian dan mereka menghadap kepada sebahagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka): “Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dan kanan. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab: “Sebenarnya kamulah yang tidak beriman”. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa atas kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” (QS. Ash-Shaffat: 22-36)

Adapun mereka yang menerima keimanan kepada-Nya, maka Allah abadikan pula balasan kebaikan untuk mereka dalam al qur’an.

وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ رُسُلًا إِلَىٰ قَوۡمِهِمۡ فَجَآءُوهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَٱنتَقَمۡنَا مِنَ ٱلَّذِينَ أَجۡرَمُواْۖ وَكَانَ حَقًّا عَلَيۡنَا نَصۡرُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

Artinya: “Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Ruum: 47)

Ayat-ayat ini tentu saja sekaligus menjelaskan bahwa menerima konsekwensi kalimat tauhid adalah sebuah keniscayaan agar seseorang mendapatkan balasan yang baik dari Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun yang mengucapkannya tanpa menerima konsekwensinya maka hal itu sama saja dengan keadaan orang munafik yang enggan mengamalkan perintah Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka bersembunyi di balik kalimat tauhid tersebut.

Demikian satu syarat yang bisa kita pelajari di edisi kali ini. Sebagaimana kalimat tauhid ini memiliki konsekwensi untuk tidak menyembah selain kepada Allah saja, maka konsekwensi bagi seorang penuntut ilmu dan yang telah mengetahui satu ayat ataupun satu hadits dari Nabi kita tercinta adalah menyampaikannya walau satu ayat.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kita keistiqomahan dalam mempelajari syariat-Nya, mengamalkan serta mendakawahkannya. Insya Allah syarat berikutnya akan kita pelajari di edisi mendatang.

Jazaaakumullah khaeran wa baarakallaahu fiekum….

Oleh: Ust. Rahmat Badani, Lc., MA
(Alumni S2 Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah, Dosen STIBA Makassar & Penulis Buku “Rahasia Kalam Ilahi”)

Berita sebelumyaTim Rukyat Falakiyah Wahdah Islamiyah Lakukan Pemantauan Hilal di Makassar
Berita berikutnyaBIOGRAFI IMAM MUSLIM BIN AL-HAJJAJ (W. 261 H)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here