Berikut ini lanjutan penjelasan hadits arbain :

ÈÓã Çááå ÇáÑÍãä ÇáÑÍíã
ÇáÍóÏöíúËõ ÇáÓøóÇÈöÚõ

Úóäú ÃóÈöí ÑõÞóÜíøóÉó Êóãöíúãö Èúäö ÃóæúÓò ÇáÏøóÇÑöíøö   Ãóäøó ÇáäøóÈöíøó   ÞóÇáó :  ÇáÏøöíúäõ ÇáäøóÕöíúÍóÉõ  ÞõáúäóÇ : áöãóäú ¿ ÞóÇáó :  öááåö æó áößöÊóÇÈöåö  æó áöÑóÓõæúáöåö  æó  áÃóÆöãøóÜÉö ÇáúãõÓúáöãöíúäó  æó ÚóÇãøóÊöåöãú   ÑóæóÇåõ  ãõÓúáöãñ .

7. Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Daarii  bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : “Agama itu adalah nasehat”. Kami bertanya : “Untuk siapa ?”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam-Imam kaum muslimin dan bagi kaum muslimin umumnya”. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.

KEUTAMAAN HADITS INI
*     Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa  "ÇáÏíä ÇáäÕíÍÉ" , maka hadits ke-7 ini merupakan salah satu hadits yang penting karena merupakan salah satu penjelas tentang  hakikat Ad dien. Dan sebagaimana telah disampaikan pada hadits Jibril (H-2 AN) maka nasehat yang dimaksud meliputi Iman, Islam dan Ihsan.  Maka keseluruhan 3 hal inilah yang merupakan hakekat Ad-dien .
*  Imam Abu Daud (beliau banyak membicarakan hadits pokok) mengatakan ada 5 hadits yang beredar padanya masalah-masalah  fiqh dalam Ad-dien, yakni : Hadits 1, 6,7,9, 32 dari Hadits-hadits Arbain An Nawawi.
*   Muhammad bin Aslam Ath Thusi sebagaimana yang dinukil oleh  penulis kitab “Hilyatul Auliya”  yakni Abu Nu’aim Al-Ashfahany mengatakan bahwa hadits ini termasuk hadits yang pokok dan mengandung 1/4 dari Ad dien.

SAHABAT PEROWI HADITS
    Úä ÃÈí ÑÞíÉ  Êãíã Èä ÃæÓ ÇáÏÇÑí…
    Sahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Tamim bin Aus bin Kharijah (sebagian ulama mengatakan bin Haritsah tapi sebagian besar mengatakan bin Kharijah) bin Suud’ bin Jidzimah Ad Daari rahimahullah Beliau adalah bekas pendeta Nasrani, bahkan termasuk ahli ibadah sekaligus ulama dari 2 ahli Kitab yang disegani oleh orang Yahudi dan Nasrani. Beliau masuk Islam ketika datang ke kota Madinah  pada tahun ke-9 H dan beliau terus tinggal di Madinah sampai wafatnya khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu . Kemudian beliau hijrah ke Negeri Syam.
    Kunniyah beliau adalah Abu Ruqayyah. Beliau tidak memiliki anak laki-laki, sehingga kunniyah beliau mengambil nama putrinya. Ini menunjukkan bahwa boleh berkunniah dengan anak perempuan namun jika telah mempunyai anak laki-laki maka kunniah tersebut diganti dengan nama anak laki-lakinya karena hukum asal orang berkunniah dengan anak laki-laki.
Ketika masuk Islam beliau menceritakan beberapa hal penting kepada Rasulullah tentang agamanya terdahulu termasuk apa yang pernah beliau alami pada suatu perjalanan naik perahu yakni pertemuannya dengan Dajjal dalam rupa asli yang dikenal dengan kisah Jusasah atau Jasasah.
Pada suatu ketika beliau bersama teman-temannya berlayar dan akhirnya terhempas oleh topan dan ombak di sebuah pulau yang sama sekali tidak beliau ketahui. Disana mereka melihat binatang yang sangat aneh, berbulu sangat banyak yang  menutupi seluruh tubuhnya sehingga tidak diketahui yang mana yang muka dan yang mana yang belakang. Binatang ini bisa bicara dan ketika ditanya ia mengatakan bahwa ia adalah Al Jassasah. Binatang ini kemudian menyuruh Tamim bin Aus ke suatu tempat dan mengatakan bahwa engkau akan menemukan orang yang engkau pasti kaget ketika melihatnya. Mendengar bahwa ada orang di pulau tersebut Tamim bin Aus takut juga namun kemudian beliau dan teman-temannya pergilah ke tempat yang ditunjukkan dan akhirnya menemukan seseorang yang sangat besar yang belum pernah mereka lihat ada manusia sebesar itu. Tangannya terbelenggu ke lehernya dan kakinya terbelenggu dari lutut sampai mata kaki. (Kemudian banyak pertanyaan dari Dajjal di antaranya)Orang ini bertanya siapa kalian dan dijawab bahwa kami (Tamim bin Aus dan teman-temannya) adalah orang tersesat. Ia juga menanyakan bagaimana keadaan Thabariyah apakah masih banyak airnya atau tidak. (Tabhariyah adalah sebuah danau yang nantinya airnya akan habis diminum oleh Ya’juj dan Ma’juj). Kemudian ia bertanya lagi apakah sudah ada orang yang mengaku Rasul di negeri Arab yang mengaku sebagai nabi terakhir. Kemudian dijawab sudah ada. Kemudian Tamim bin Aus pulang.
Setelah masuk Islam pengalamannya itu diceritakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Rasululllah mengatakan kepada para sahabat : “Telah datang kepada kita Tamim  yang dulunya seorang pendeta Nasrani dan akhirnya masuk Islam dan telah menceritakan kepada kita tentang Dajjal yang menceritakan suatu kisah yang mirip dengan apa yang aku ceritakan pada kalian”. 
    Inilah salah satu keutamaan Tamim karena dia pernah melihat Dajjal dalam bentuk asli yang Rasulullah sendiri belum pernah menyaksikan langsung dan beliau juga menyampaikan sebuah hadits kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara sahabat yang lain mengambil hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Keutamaan lainnya adalah beliau sebelum masuk Islam sudah terkenal sebagai ahli ibadah dan setelah masuk Islamnya tetap mempertahankan sebagai ahli ibadah. Seorang tabi’in yang mulia yang pernah menemui Tamim Muhammad bin Sirin  mengatakan bahwa Tamim bin Aus radhiyallahu ‘anhu pernah menamatkan Al Qur’an pada satu rakaat. Tabi’in lainnya Abu Qilabah mengatakan bahwa beliau menamatkan Al Qur’an 7 hari 7 malam dan pernah satu malam ketika melaksanakan shalat Tahajjud, beliau membaca 1 ayat, mengulang-ulangnya dan menghafal maknanya serta menangis dengannya. Ayat tersebut adalah QS Al Jaatsiyah : 21.
    Setelah meninggalnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu , beliau pindah ke Syam dan menempati Baitul Maqdis. Beliaulah yang pertama kali menyalakan lampu di Masjid dan saat kekhalifahan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu maka beliaulah yang pertama kali berdakwah dengan kisah-kisah.
    Beliau wafat tahun 40 H. Namun karena terlambatnya beliau masuk Islam maka beliau tidak banyak meriwayatkan hadits. Hanya beberapa dalam riwayat dari Imam Muslim dan lainnya, sedangkan dari riwayat Imam Bukhari beliau tidak meriwayatkan kecuali secara muallaq saja. Ada sekitar belasan hadits kata ulama kita yang beliau pernah riwayatkan.

SYARAH HADITS

   "…ÇáÏíä ÇáäÕíÍÉ…"
“ Dien itu adalah nasehat”
Terdapat khilaf diantara ulama tentang makna potongan hadits ini menjadi beberapa pendapat :
1.    Ad-Dien itu kesemuanya adalah nasihat
2.    Ad Dien itu walaupun sangat luas cakupannya namun yang paling penting  dalam Ad dien ini adalah nasihat. Ini sama dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  :
– ÇáúÍóÌøõ ÚóÑóÝóÉõ  Haji itu adalah wukuf di Arafah
Padahal kita ketahui bahwa Haji itu mengandung banyak manasik/ibadah-ibadah lain selain wukuf di Arafah namun karena pentingnya wukuf di Arafah sehingga dikatakan ‘Al Hajju Arafah’.
– ÇáÈÑø ÍÓä ÇáÎáÞ  Kebaikan itu adalah baiknya Akhlak
Kata Al-birr itu mengandung semua kebaikan, namun meskipun demikian kalimat ini menunjukkan pentingnya akhlak yang baik.
–    ÇáÏÚÇÁ åæ ÇáÚÈÇÏÉ Doa itu adalah inti ibadah
Ini menunjukkan doa adalah ibadah terpenting.
    Imam Ath Thufi cenderung pada pendapat yang pertama karena yang dimaksud ‘nasehat’ dalam hadits ini adalah dalam arti yang luas yakni nasehat kepada Allah, Kitab-Nya, kepada Rasul-Nya kepada Imam-imam kaum Muslimin/Pemerintah Islam dan kepada muslimin umumnya dan ini telah mencakup semua masalah Ad-dien. Namun (Wallahu A’lam) pendapat kedua juga cukup kuat yakni bahwa bagian terpenting dari ad-dien adalah masalah nasehat sebab jka kita mengatakan bahwa nasehat yang disebutkan dalam hadits ke-7 ini telah mencakup keseluruhan Ad-dien  masih meninggalkan pertanyaan karena belum disebutkan tentang malaikat . Yang jelas tiga kandungan pokok Ad Dien (Iman, Islam dan Ihsan) semuanya membutuhkan nasehat.

Makna Nasehat
    Nasehat dari kata    äóÕÜöíÍóÜÉ –   íäÕÍ-  äÕÍó
Kalau dikatakan  äÕÍ ÇáÔíÁ  seperti pada perkataan 
 
* äÕÍ ÇáËæÈ   menasehati pakaian yakni mencucinya, membersihkannya dari kotoran.
Atau bisa dikatakan   äÕÍ ÇáËæÈ   adalah  ÎÇØå (menjahitnya)
* Kadang juga disebutkan   äÕÍ ÇáÚÓá     (menasehati madu) yakni membersihkan madu dari kotoran-kotorannya.
    Dari makna nasehat ini, ulama kita di antaranya Imam Khatthabi, Imam Ibnu Sholah, Imam Ibnu An-Nashr menyimpulkan dengan makna yang mirip bahwa makna nasehat adalah
ßáãÉ ÌÇãÚÉ íõÚóÈøóÑõÈåÇ ÅÑÇÏ Éõ ÇáúÎóíúÑö ááãäÕæÍ áå
kalimat yang menyeluruh untuk mengungkapkan perhatian yang penuh terhadap sesuatu yang menunjukkan keinginan yang baik terhadap yang dinasehati.
Kita menasehati pakaian maksudnya kita memberikan perhatian kepada pakaian tersebut. Bila ada yang kotor kita bersihkan,  dan bila lubang kita jahit. Begitupun menasehati madu berarti memberikan perhatian penuh kepada madu tersebut dengan memisahkan dari ampas-ampasnya untuk menjadi madu murni.
    Dengan makna ini maka tidaklah heran kalau ada yang disebut nasehat untuk Allah yakni memberikan perhatian yang penuh kepada Allah, demikian pula Kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam-imam kaum muslimin dan bagi muslimin umumnya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits ini seperti mengimani Allah.
Dalam beberapa riwayat juga disebutkan tentang nasehat namun tidak dirinci pada 4 perkara sebagaimana hadits kita dan kadang hanya dikhususkan pada satu nasehat saja misalnya hadits dalam kitabul Jami’ (Hadits I) yakni nasehat sesama kaum muslimin saja
ÍÞ ÇáãÓáã Úá ÇáãÓáã ÓÊ …æÅÐÇ Ç ÓÊäÕÍß ÝÇäÕÍå…
” Hak muslm atas muslim lainnya ada 6 …..dan apabila dia minta nasehat, maka nasehatilah”

Dalam hadits shahihain  disebutkan satu bentuk nasehat juga yakni hadits Jarir bin Abdullah riwayat Bukhari dan Muslim :
 
Úä ÌÑíÑ Èä ÚÈÏÇááå ÞÇá ÈÇíÚÊ ÇáäÈí Õáì Çááå Úáíå æÓáã Úáì ÅÞÇã ÇáÕáÇÉ æÅíÊÇÁ ÇáÒßÇÉ æÇáäÕÍ áßá ãÓáã
dari Jarir bin Abdullah berkata : aku berbaiat kepada Rasulullah untuk menegakkan sholat dan untuk menunaikan zakat dan untuk bernasehat kepada sesama muslim

Ada juga hadits  tentang nasehat yang  seakan khusus untuk wulatul umur (pemimpin kaum muslimin) seperti hadits yang diriwayatkan  oleh Bukhari Muslm yakni :
Úä ÃÈí åÑíÑÉ ÑÖí Çááå Úäå Úä ÇáäÈí Õáì Çááå Úáíå æÓáã ÞÇá Åä Çááå íÑÖì áßã ËáÇËÇ íÑÖì áßã Ãä ÊÚÈÏæå æáÇ ÊÔÑßæÇ Èå ÔíÆÇ æÃä ÊÚÊÕãæÇ ÈÍÈá Çááå ÌãíÚÇ æáÇ ÊÝÑÞæÇ æÃä ÊäÇÕÍæÇ ãä æáÇå Çááå ÃãÑß

“Allah menyenangi padamu 3 hal yakni kamu menuhankan Allah dan kamu tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kamu berpegang teguh kepada tali Allah dantidak bercerai berai serta kamu menasehati orang yang memegang urusan kalian.” (HR Bukhari Muslim)

Namun Imam An Nawawi tidak memasukkan hadits-hadits ini dalam Arbain An-Nawawiahnya  dan hanya mengambil hadits ke-7 ini karena dianggap lebih menyeluruh.
    Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan perkataan diatas , Rasulullah kemudian diam seakan-akan mencukupkan perkataan beliau. Dari sini Ibnu Hajar ÑÍãå Çááå mengatakan bolehnya mengakhirkan penjelasan dari waktu pertama kali diucapkan dan bolehnya menyebutkan sesuatu secara global/mujmal dan jika dirasa cukup tidak perlu dijelaskan sebagaimanan Rasulullah mentakhirkan penjelasan. Kalau ada yang belum paham /bertanya barulah dijelaskan dengan rinci. Inilah kaidah :
ÊÃÎíÑ ÇáÈÈÇä Úä æÞÊ ÇáÎØÇÈ
Maka boleh menunda penjelasan dalam membicarakan sesuatu  Dan  sahabat setelah mendengar perkataan ini sepertinya sudah mengerti makna nasehat pada hadits ini, namun yang belum mereka mengerti adalah kepada siapa nasehat itu, karenanya mereka bertanya :

   "…ÞáäÇ áãä…"
…Kami bertanya kepada siapa ditujukan/ diberikan?…
 Hal ini menunjukkan disunnahkannya/disyariatkan  untuk bertanya kepada suatu hal yang belum dipahami maksudnya baik sebagian atau keseluruhan perkara tersebut agar mendapat penjelasan/penjabaran yang tafshil/sejelas-jelasnya. Maka ini juga  merupakan pelajaran penting bagi penuntut ilmu kalau mendapatkan penjelasan yang masih global dan kita membutuhkan perinciannya  maka tidak boleh malu untuk bertanya untuk meminta penjelasan yang lebih dari yang telah disebutkan
    Setelah sahabat bertanya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawabnya. Dan dalam suatu kaidah juga bahwa
Êà ÎíÑ ÇáÈíÇä Úä æÞÊ ÇáÍÇÌÉ áÇ íÌæÒ
 ( Mengakhirkan penjelasan ketika dibutuhkan tidak boleh) Tadi Rasulullah menunda  penjelasan dari apa yang disebutkan pada saat pertama kali diucapkan karena belum diminta penjelasannya namun ketika diminta maka ini menunjukkan hajat/kebutuhan/kepentingan untuk dijelaskannya masalah tersebut. Maka dalam kondisi dibutuhkan ini tidak boleh berhenti  dan menunda-nunda  penjelasan tentang sesuatu yang belum jelas .
Beliau menjawab :
 "…ÞÇá ááå…"
”…Nasehat kepada Allah…"
    Makna nasehat kepada Allah telah dijelaskan oleh para ulama kita dan perkataan tentang nasehat kepada Allah sebenarnya telah disebutkan oleh Allah  dalam Al-Qur’an sendiri telah diisyaratkan bahwa nasehat itu juga ditujukan  kepada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana dalam surah At Taubah (9) : 91 tentang orang absen dalam jihad dengan udzur.
áóíúÓó Úóáóì ÇáÖøõÚóÝóÇÁö æóáóÇ Úóáóì ÇáúãóÑúÖóì æóáóÇ Úóáóì ÇáøóÐöíäó áóÇ íóÌöÏõæäó ãóÇ íõäúÝöÞõæäó ÍóÑóÌñ ÅöÐóÇ äóÕóÍõæÇ áöáøóåö æóÑóÓõæáöåö ãóÇ Úóáóì ÇáúãõÍúÓöäöíäó ãöäú ÓóÈöíáò æóÇááøóåõ ÛóÝõæÑñ ÑóÍöíãñ( ÇáÊæÈÉ:91)
Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, dan tidak pula atas orang-orang  yang sakit dan tidak pula berdosa atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dapat mereka nafkahkan (dengan syarat) ia bernasehat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    Makna nasehat kepada Allah kata ulama kita yang mensyarh hadits ini mempunyai banyak bentuknya  :
1. Mengenali Allah dengan sebenar-benarnya.
2. Mengikhlaskan peribadatan kita sepenuhnya hanya kepada Allah  dan tidak menduakan Allah apalagi  
menyekutukan-Nya dalam peribadatan kita dengan suatu apapun selain Allah. Di sini dikatakan oleh ulama kita  makna nasehat kepada Allah adalah ikhlas kepada Allah  dan ini  adalah suatu hal yang wajib untuk kita mengikhlaskan semua penyembahan kita kepada Allah  dan ini tidak boleh ditawar-tawar lagi, wajibnya kita untuk betul-betul ikhlas kepada Allah ,sungguh-sungguh dalam beragama/berdien ini  dengan mengikhlaskan seluruh ibadah kita kepada Allah, dan kita tidak mempersekutukan Allah karena ketika kita memperserikatkan Allah dalam ibadah kepadanya maka  sesungguhnya kita tidak mendapat apa-apa kecuali mendapatkan kerugian . Kita berusaha untuk menghindari diri-diri kita dari hal-hal yang dapat menghalangi hubungan kita dengan Allah shubhaana wa ta’ala, baik itu berupa kesyirikan dan bid’ah baik yang besar maupun yang kecil. Barangsiapa yang beribadah untuk Allah dan untuk selain-Nya  maka dia tidak akan mendapatkan apa-apa dari Allah . Ibadah yang Allah perintahkan kepada kita  diperintahkan secara menyeluruh ditujukan hanya kepada Allah  dan tidak boleh kita menduakan Allah dalam keinginan kita artinya tidak boleh kita mengharapkan Allah dan keinginan-keinginan lain selain Allah.
3. Mencintai Allah lebih daripada kecintaan kita  kepada selain-Nya. Artinya hal yang paling perlu kita perhatikan dan utamakan adalah Allah. Makanya salah satu bentuk perhatian kita adalah kecintaan kepada-Nya. Dalam masalah kecintaan kita kepada Allah betul-betul ada perhatian ynag penuh dari kita   kepada Allah dan ini merupakan hal yang sangat tinggi. Nasehat kepada Allah  kedudukannya sangat tinggi karena dalam nasehat kita mengandung makna kecintaan kita kepada sesuatu tersebut .
Ulama kita mengatakan di sini tidak terkandung makna  takut  artinya nasehat mengandung pengertian perhatian yang penuh dan menunjukkan kecintaan yang besar  terhadap yang kita nasehati dan tidak mengandung makna  takut di situ. Karena seorang ulama kita Fudhail bin Iyadh berkata:  
      "ÇáÍÈ ÃÝÖá ãä ÇáÎæÝ")    Kecintaan lebih afdhal/utama nilainya dari ketakutan)
Maka makna nasehat didalamnya tergantung kecintaan dan bukan ketakutan. Karena kecintaan itu lebih tinggi nilainya dari sekedar ketakutan. Contohnya : kalau ada 2 budak kita, yang satu taat kepada perintah kita karena kecintaannya kepada kita artinya dia rela melakukan apa yang kita perintahkan  maka meskipun kita belum sebutkan  dengan kata-kata dia telah melakukan apa yang kita perintahkan karena dia memang seorang yang senang untuk berkhidmat kepada kita. Sedang budak yang kedua taat hanya karena didasari ketakutannya kepada kita. Maka tentu saja budak yang disukai adalah budak yang pertama yaitu budak yang mencintai kita. Sedangkan budak yang  sekedar takut saja boleh jadi ketika kita tidak ada  maka perintah kita instruksikan  tidak dikerjakannya karena kita tidak berada di depannya.
Maka karena itulah makna nasehat kepada Allah berarti kecintaan yang besar dan penuh kepada Allah dan yang ini merupakan hal yang harus ada  yang sangat azas dalam Ad-dien ini yakni kecintaan kita kepada Allah. Dan masalah mahabbatullah telah banyak disebutkan oleh ulama kita dan telah banyak dijelaskan dalam buku-buku tentang ciri-ciri orang yang mencintai Allah  dan siapa orang-orang yang cinta kepada  Allah.Maka dipesankan kepada kita sekalian untuk membaca dan mengklasifikasi dan mengumpulkan  ayat-ayat Allah tentang orang-orang yang Allah cintai  dan orang-orang yang mencintai Allah  dan usahakan menjadi mereka yakni orang yang melakukan apa-apa yang dicintai Allah termasuk menjadi orang yang dicintai Allah seperti hizbullah *. Dan ciri-ciri tersebut perlu kita miliki seluruhnya  untuk menjadi orang yang termasuk menasehati Allah . Dalam masalah kecintaan, harus kita perhatikan karena dalam nasehat itu tergantung kecintaan. Dan kecintaan kita kepada Allah  membutuhkan mujahadah  yang memang pada awalnya berat namun mujahadah tersebut perlu dilakukan terus secara sabar  sehingga membuahkan hasil. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan hambanya. Allah shubhaana wa ta’ala berfirman :
QS Al-Ankabut (29): 69 

æóÇáøóÐöíäó ÌóÇåóÏõæÇ ÝöíäóÇ áóäóåúÏöíóäøóåõãú ÓõÈõáóäóÇ æóÅöäøó Çááøóåó áóãóÚó ÇáúãõÍúÓöäöíäó(69)
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

4. Mengimani Allah secara keseluruhan sesuai makna iman kepada Allah yang telah dijelaskan pada haditske-2 AN yaitu mengimani Allah dalam masalah Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa sifat-Nya
    Dan perlu kita ketahui bahwa nasehat itu ada dua hukumnya sebagiman dikatakan ulama kita ada yang hukumnya wajib dan ada sunnah.
    Imam An-Nawawi ketika menjelaskan hadits "……æÅÐÇ Ç ÓÊäÕÍß ÝÇäÕÍå…" (“…..Kalau ia meminta nasehat maka nasehatilah…..” ) mengatakan bahwa dalam hal ini maka  hukum nasehat  fardhu kifayah yaitu wajib kepada sebagian orang saja. Jika sudah ada yang melakukannya (menasehati) maka tidak diwajibkan bagi yang lainnya dan gugur dosa mereka . Namun maksud beliau dalam hal ini adalah nasehat  dalam satu bentuk saja  yaitu memberikan nasehat kepada sesama muslim . Jika ada yang melakukan kemungkaran maka kewajiban bagi yang mengetahuinya secara kifayah untuk menegurnya agar tidak jatuh dalam kemaksiatan  namun jika semuanya diam maka semuanya berdosa. Maka hadits ini yang dimaksudkan adalah nasehat dalam makna secara khusus (meminta nasehat) bukan makna secara umum/menyeluruh sebgaimana hadits kita H-7 AN.
Adapun hadits yang kita bahas ini adalah makna nasehat secara umum/keseluruhan ,dan kita ketahui bahwa Ad-dien ini hukum-hukumnya/perintah-perintahnya itu tidak keluar dari  2 hal yakni  kalau tidak wajib maka ia sunnah. Dan karenanya nasehat untuk Allah shubhaana wa ta’ala dan seterusnya yang disebutkan dalam hadits ini ada yang hukumnya wajib  dan ada yang hukumnya  sunnah tergantung pada hukum dari ibadah tersebut.  Sebab ketika kita jabarkan lebih rinci lagi  bahwa  pada hakekatnya ibadah-ibadah yang kita lakukan kepada Allah sebenarnya merupakan contoh-contoh yang nyata dari nasehat kita kepada Allah. Dan kalau ibadah tersebut wajib maka kita telah bernasehat kepada Allah  dengan nasehat yang wajib.Demikian pula untuk ibadah sunnah berarti kita telah melakukan nasehat kepada Allah dengan nasehat yang sunnah.
5. Melaksanakan seluruh  perintah-perintah Allah. Di sini (perintah) inilah ada nasehat yang bersifat    wajib   
dan ada nasehat yang sunnah sesuai dengan hukum perintah Allah tersebut ketika kita melaksanakan perintah Allah. Senantiasa melaksanakan perintah Allah shubhaana wa ta’ala dan menjauhi larangan-Nya. Bukan hanya karena rasa takut tapi karena Allah shubhaana wa ta’ala adalah segala-galanya bagi kita. Sehingga ketika datang kepada kita dua pilihan maka senantiasa kita dahulukan apa yang datang dari Allah shubhaana wa ta’ala .
6. Meninggalkan larangan-larangan Allah, yaitu yang haram dan mungkin juga sampai  pada yang makruh dan termasuk meninggalkan apa-apa yang belum jelas bagi kita hukumnya  (syubhat) karena adanya perintah (dalam hadits ke 6 ) dari hal-hal yang masih syubhat. Karena  Allah mengatakan :
Êöáúßó ÍõÏõæÏõ Çááøóåö ÝóáóÇ ÊóÚúÊóÏõæåóÇ(ÇáíÞÑÉ :229)
Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya.
Dan orang-orang yang tidak mendekati masalah-masalah yang syubhat ini termasuk salah satu bentuk  bernasehat kepada Allah. Kalau kita kembali kepada orang yang diberi rukhshah (keringanan) untuk tidak ikut berjihad fi sabilillah  , artinya mereka tidak mendapat dosa kalau memang ia bernasehat kepada Allah dan Rasul-Nya  yakni betul-betul ikhlas kepada  Allah  dan dia benar-benar dalam menyampaikan udzurnya kepada Rasulullah. Sebab kita ketahui orang-orang yang tidak ikut perang
fisabillah pada saat itu akan datang kepada Rasulullah untuk menyatakan udzur-udzurnya  untuk menjelaskan mengapa mereka tidak ikut jihad/perang  maka mereka tidak berdosa kalau mereka bernasehat kepada Allah dan Rasul-Nya  dengan jujur dalam perkataannya dan ikhlas bahwasanya  dia ingin  sekali  membuktikan kecintaannya kepada Allah  dalam bentuk jihad namun karena ada udzur maka ia tidak sempat melakukannya. Maka tetap dianggap nasehat kepada Allah walaupun tidak melakukan satu bentuk perintah yaitu jihad sebab melaksanakan jihad adalah salah satu bentuk nasehat  tapi kalau orang tidak melakukan jihad karena adanya udzur dan hatinya tetap mantap dan ikhlas kepada Allah  dan tetap cinta kepada Allah secara benar dan tetap jujur dalam perkataannya maka  dia tetap dianggap bernasehat kepada Allah  dan Rasul-Nya.
Hal ini sebenarnya yang paling berat yaitu nasehat kepada Allah  dan mungkin untuk mengungkapkannya itu lebih mudah namun kenyataanya sangat sulit. Sedangkan sekedar  mengungkapkannya adalah pembahasan  yang berat apalagi untuk mengamalkannya. Karena ia adalah menyangkut hubungan kita kepada Allah dan terlalu banyak  hal yang bisa merusak hubungan kita kepada Allah atau terlalu banyak hal yang dapat menghalangi bersihnya hubungan kita dengan Allah . Maka untuk dapat mencapai derajat bernasehat kepada Allah sebaiknya banyak memperbanyak pengetahuan kita/membaca tentang hal-hal yang berkaitan mahabbatullah

7.    Di antara bentuk nasehat kita kepada Allah adalah senantiasa tampil untuk mau mempertahankan syariat ini dan kita mau membela Allah shubhaana wa ta’ala . Kita ketahui Allah Maha Kaya dan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah kita menjadi Anshorullah { Penolong-penolong Allah }sebab berapa banyak  orang yang mau mencela/mentanaqqush/ merendahkan keberadaan Allah shubhaana wa ta’ala. Karena itulah kita senantiasa tampil untuk mau membersihkan umat ini dari segala macam kesyirikan dan bentuk-bentuk bid’ah. Orang-orang ahli ta’wil misalnya yang melenceng dari manhaj yang sebenarnya dalam Asma’ wa sifat. Mereka tidak mau menerima sifat-sifat Allah ketika mereka tidak mau mengitsbatkan Allah shubhaana wa ta’ala pada beberapa sifat dengan mengatakan bahwa Allah tidak mempunyai sifat tangan, Allah tidak mempunyai sifat  mendengar, Allah tidak mempunyai sifat turun, Allah tidak mempunyai sifat datang pada hari kiamat dan lain-lainnya. Itu berarti dia telah merendahkan Allah shubhaana wa ta’ala, dia telah menafikan apa yang ditetapkan datang dari Allah shubhaana wa ta’ala. Karenanya kita yang mau  bernasehat kepada Allah wajib membela Allah dari hal-hal yang seperti itu. Karena itu kita tampil sebagai pembela-pembela tauhid dan kita membersihkan umat dari segala bentuk kesyirikan dan bid’ah-bid’ah yang pada hakekatnya menuduh syariat ini sebagai syariat yang tidak lengkap, menuduh Allah shubhaana wa ta’ala belum melengkapi syariat ini sehingga mereka merasa mampu untuk melengkapi syariat ini. Karena itu  merupakan kewajiban kita untuk menyampaikan kepada umat tentang kelengkapan syariat ini dan sekaligus membantah segala macam hujjah yang didatangkan ahli bid’ah.  Ini semua merupakan konsekuensi /tuntutan yang mesti kita jawab  sebagai bentuk nasehat kita kepada Allah shubhaana wa ta’ala.

  "…æáßÊÇÈå…"
"Dan kepada Kitabullah”
    Di sini dikatakan "…æáßÊÇÈå…" Sebenarnya nasehat kepada Allah bisa mencakup semuanya karena nasehat kepada kitabullah, nasehat kepada rasul-Nya, nasehat kepada pemerintah, dan nasehat kepada masyarakat awam semua adalah  ikut pada perintah  Allah dan itu semua  adalah bagian dari nasehat kepada Allah namun disebutkannya secara khusus menunjukkan  pentingnya memperhatikan masalah tersebut
Makna nasehat kepada kitabullah adalah perhatian kita yang penuh  kepada kitabullah artinya kita menjalankan  hak kitabullah atas kita atau  kewajiban-kewajiban kita kepada  kitabullah. Karena sesungguhnya Allah shubhaana wa ta’ala menurunkan kitab-Nya bukan untuk menjadi pajangan , pameran dan kebanggaan saja yang kita ucapkan di lisan kita  tanpa ada wujud nyata dari pelaksanaan  tentang apa-apa yang terkandung dalam kitabullah. Kitab ini diturunkan Allah shubhaana wa ta’ala dengan banyak tujuan dan banyak haknya sebagaimana yang disebutkan dalam banyak ayat-ayat Allah dan hadits -hadits Rasullah . Dan orang yang tidak menjalankan kewajiban kepada Al-Quran dianggap sebagai
" "åóÌúÑõ ÇáÞõÑÂä (telah meninggalkan Al-Quran )dan dianggap sebagai musuh nabi  dan  sebagai orang -orang berdosa . Dan ini disebutkan Allah dalam surah Al-Furqan 30-31 :
æóÞóÇáó ÇáÑøóÓõæáõ íóÇÑóÈøö Åöäøó Þóæúãöí ÇÊøóÎóÐõæÇ åóÐóÇ ÇáúÞõÑúÁóÇäó ãóåúÌõæÑðÇ(30)æóßóÐóáößó ÌóÚóáúäóÇ áößõáøö äóÈöíøò ÚóÏõæøðÇ ãöäó ÇáúãõÌúÑöãöíäó æóßóÝóì ÈöÑóÈøößó åóÇÏöíðÇ æóäóÕöíÑðÇ( ÇáÝÑÞÇä:30-31)
Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan".Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.

æóÞóÇáó ÇáÑøóÓõæáõ    Artinya berkata Nabi Muhammad . Alif lam di sini adalah alif lam lil ahd  (alif lam yang khusus kepada orang tertentu yakni Nabi Muhammad)
Dalam ayat ini menceritakan pengaduan Rasulullah kepada Allah  salah satu yang pernah diadukan oleh Rasulullah dan paling dirisaukannya adalah  sikap ummatnya terhadap A-Qur’an  . Maka Allah pun menghibur beliau dengan mengatakan bahwa sudah sunnatullah bahwa setiap nabi mempunyai musuh.
Dalam 2 ayat ini Allah menjelaskan tentang orang-orang yang meninggalkan Al-Qur/an dan tidak mendengarkannya , tidak bernasehat kepada Al-Qur’an maka mereka adalah musuh nabi dan orang-orang yang berdosa.Seakan akan Allah mengatakan orang yang meninggalkan AL-Quran  adalah musuh nabi Muhamnmad sekaligus adalah  orang-orang yang berdosa. Meninggalkan Al-Quran artinya tidak mengerjakan kewajiban-kewajibannya  terhadap Al-Quran dan ini telah ditafsirkan denga baik  oleh Imam Ibnu Katsir  ÑÍãå Çááå ÊÚÇáì    . Namun sebelum beliau bahkan lebih lengkap dari pernyataan yang beliau sampaikan adalah tafsiran guru beliau Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr yang terkenal dengan nama Ibnu Qayyim Al-Jauziah ÑÍãå Çááå ÊÚÇáì.  Ibnu Qayyim Al-Jauziah menjelaskan tentang makna ayat tersebut dalam buku beliau yang berjudul “ Al Fawaid” (faedah-faedah). Beliau menyebutkan bahwa ada beberapa kriteria/ciri-ciri orang yang meninggalkan Al Qur’an (dari sini kita dapat menarik kesimpulan kewajiban-kewajiban kita  terhadap Al-Qur’an) di antaranya  yaitu  :
1.  åÌÑ ÓãÇÚå  æ ÇáÅ íãÇä Èå
     Tidak mendengarkan Al Qur’an dan tidak mengimani isi Al Qur’an.
Maka bentuk pertama seseorang dikatakan meninggalkan Al-Qur’an dan dikatakan musuh nabi serta orang-orang yang berdosa adalah orang  yang tidak mendengarkan Al-Qur’an ketika dibaca  atau orang yang tidak mengimani isi Al-Qur’an ketika dia mendengarnya, bahkan mungkin tidak ada minat untuk mengikuti bacaan Al-Qur’an padahal mendengarkan bacaan Al-Qur’an saja tanpa membacanya  pahalanya sangat besar di sisi Allah shubhaana wa ta’ala dan kita akan diberi rahmat oleh Allah shubhaana wa ta’ala  sebagaimana janji Allah dalam Qs 7 :204
æóÅöÐóÇ ÞõÑöÆó ÇáúÞõÑúÁóÇäõ ÝóÇÓúÊóãöÚõæÇ áóåõ æóÃóäúÕöÊõæÇ áóÚóáøóßõãú ÊõÑúÍóãõæäó( ÇáÃÚÑÇÝ:204 )
Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.
 Kata-kata "áóÚóáø" kalau datang dari Allah shubhaanahu wa ta’alaartinya suatu hal yang pasti yakni pasti Allah memberikannya rahmat dan rahmat adalah pahala yang sangat besar. Dan jauhnya ummat ini dari Al-Qur’an  sangat jelas bahkan begitu banyak kaum muslimin yang hanya untuk mendengarkan Al-Qur’an mereka merasa tidak punya waktu  Jadi mereka  yang meninggalkan Al Qur’an adalah mereka  yang tidak mendengarkan Al Qur’an, tidak menyempatkan waktu-waktu mereka untuk mendengarkan  Al- Qur’an ketika dibacakan. Jadi kewajiban kita adalah menyempatkan waktu untuk mendengarkan Al Qur’an dan kita mengimani isi Al Qur’an itu.
    Kewajiban itu kini banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin. Dan sebenarnya jauhnya ummat Islam dari mendengarkan Al-Qur’an tidak lepas dari makar orang-orang kafir yang mereka jalankan dan terus mereka kobarkan sejak dulu hingga sekarang maka Maha Benar Allah, dalam firmanNya Qs 41 :26
æóÞóÇáó ÇáøóÐöíäó ßóÝóÑõæÇ áóÇ ÊóÓúãóÚõæÇ áöåóÐóÇ ÇáúÞõÑúÁóÇäö æóÇáúÛóæúÇ Ýöíåö áóÚóáøóßõãú ÊóÛúáöÈõæäó
Dan orang-orang yang kafir berkata: "Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka).

 Kini kita kadang begitu sedikitnya waktu yang kita sediakan untuk mendengarkan Al Qur’an. Bahkan sebagian kaum muslimin kadang meragukan  beberapa ayat-ayat yang Allah shubhaanahu wa ta’ala sendiri telah sebutkan demikian halnya. Padahal Allah Maha Benar yakni Firman Allah tidak ada keraguan padanya(Qs2:2: yakni
Ðóáößó ÇáúßöÊóÇÈõ áóÇ ÑóíúÈó Ýöíåö åõÏðì áöáúãõÊøóÞöíäó(2)
 Bahkan ada sebagian kaum muslimin menolak sebagian isi Al-Qur’an. Padahal  menolak sepotong ayat dalam Al Qur’an bahkan satu huruf saja dari Al Qur’an, maka sungguh orang itu telah kafir. Lalu bagaimana pula dengan orang yang menolak satu ayat dalam Al Qur’an, atau orang yang menolak satu surah dalam Al Qur’an
Dalam  QS. Al Baqarah (2) : 85 Allah berfirman
ÃóÝóÊõÄúãöäõæäó ÈöÈóÚúÖö ÇáúßöÊóÇÈö æóÊóßúÝõÑõæäó ÈöÈóÚúÖò ÝóãóÇ ÌóÒóÇÁõ ãóäú íóÝúÚóáõ Ðóáößó ãöäúßõãú ÅöáøóÇ ÎöÒúíñ Ýöí ÇáúÍóíóÇÉö ÇáÏøõäúíóÇ æóíóæúãó ÇáúÞöíóÇãóÉö íõÑóÏøõæäó Åöáóì ÃóÔóÏøö ÇáúÚóÐóÇÈö æóãóÇ Çááøóåõ ÈöÛóÇÝöáò ÚóãøóÇ ÊóÚúãóáõæäó(85)
Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada adzab/siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.
Sebenarnya yang dimaksud Al-Kitab di sini adalah Taurat  namun  :
  ÇáÚöÈÑóÉõ ÈöÚõãõæãö ÇááóÝÙö áÇó ÈöÎõÕõæÕö ÇáÓóÈóÈö  (Pelajaran diambil dari keumuman lafazh dan bukan dari kekhususan sebab)
Sehingga tidak ada pilihan bagi kita selain mengambil Al Qur’an ini secara keseluruhan. Tidak boleh kita hanya mengambil ayat-ayat tentang shalat, tentang zakat, tentang haji dan sebagainya, lalu masalah-masalah Islam  tentang masalah masyarakat, sosial, politik kita tolak. Orang yang seperti itu pada hakikatnya adalah orang yang telah mengkafiri seluruh Al Qur’an.  Maka menolak sebagian pada hakekatnya menolak seluruh Al-Quran
    Kadang hal ini banyak terjadi ketika orang mengambil sebagian saja dari Islam ini, ketika timbul masalah mereka mau meminta solusinya dari Islam. Jadi mereka landasannya bukan dari Islam tapi ketika ada masalah mau mengambil solusi dari Islam. Ini adalah sesuatu yang tidak mungkin.. Islam ajaran yang utuh ini harus diambil secara keseluruhannya. Ketika kita mengambil Islam secara keseluruhannya maka kita akan mendapatkan kebenaran firman Allah yakni janji Allah keamanan dan ketentraman dan  tidak akan ada kekacauan yang akan terjadi di muka bumi ini ketika Islam ditegakkan.
Dan bentuk beriman kepada Al Qur’an adalah mengimani bahwa Al Qur’an bukan makhluk. Al Qur’an adalah perkataan dari Allah dan bukan  perkataan manusia. Merupakan aqidah Ahlussunnah wal jamaah bahwasanya Al-Qur’an bukan makhluk. Dan   Allah shubhaanahu wa ta’ala telah mengkafirkan orang-orang yang mengatakan bahwa Al Qur’an  adalah makhluk sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam QS Al Mudatsir (74) : 25-26 ketika ditanyakan kepada penduduk neraka Saqar
 ÓóÃõÕúáöíåö ÓóÞóÑó( ÇáãÏËÑ:25-26) Åöäú åóÐóÇ ÅöáøóÇ Þóæúáõ ÇáúÈóÔóÑö 
“……  ini (Al Qur’an) tidak lain hanyalah perkataan manusia” . Aku (Allah) akan memasukkan orang-orang ini kedalam (neraka) Saqar.

Di sini perkataan penduduk saqar bahwa dahulu mereka menganggap Al-Qur’an  tidak lain perkataan manusia maksudnya makhluk. Maka kata para ulama kita bahwa orang-orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk berarti dia telah kafir dengan ayat ini. Jadi  maka kita imani bahwa Al Qur’an ini datang dari Allah dan bukan makhluk dan bukan perkataan atau perbuatan Rasulullah .

2.  åÌÑ ÊáÇæÊå
Tidak membacanya (Al Qur’an).
Artinya kewajiban kita terhadap Al-Qur’an adalah membacanya.Orang yang menasehati Al Qur’an adalah orang yang mempunyai kecintaan membaca Al-Qur’an. Sedangkan orang yang meninggalkan Al Qur’an dari membacanya, tidak memberi perhatian untuk membaca  Al Qur’an pada hakekatnya adalah orang yang memusuhi Nabi dan  termasuk orang-orang yang berdosa. Jika kita lihat keadaan umat sekarang ini, mereka adalah ummat yang sangat jauh dari Al Qur’an. Dari sekian banyak umat Islam saja jika kita hitung-hitung orang yang dapat membaca Al-Qur’an dengan kata lain yang bebas aksara Al-Qur’an saja hanya sedikit sekali. Bahkan mayoritas kaum muslimin tidak tahu cara membaca Al-Qur-an.Lalu yang tahu membacanya seakan-akan tidak punya waktu untuk membaca Al Qur’an. Senantiasa kita mengatakan betapa sibuknya kita  tidak punya waktu lagi membaca Al-Qur’an. Padahal jika kita perhatikan baik-baik,  berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk berleha-leha atau bahkan mungkin bermaksiat kepada Allah shubhaanahu wa ta’ala. Berapa banyak waktu kita gunakan untuk membaca perkatan-perkataan manusia, perkataan makhluk-makhluk Allah tapi mengapa tidak ada ketertarikan pada diri-diri kita untuk membaca firman Allah shubhaanahu wa ta’ala, Allah  yang menciptakan kita. Allah menurunkan Al Qur’an ini bukan untuk dipajang, bukan hanya untuk dibanggakan sebagai pegangan kita. Tapi Allah menurunkan Al Qur’an ini  salah satu fungsinya untuk dibaca.

 Dalam Qs . Al Ankabut  : 45
Çõ Êúáõ ãóÇ Ãõ æÍöíó Åöáóíúßó ãöäó ÇáúßöÊóÇÈö æóÃóÞöãö ÇáÕøóáóÇÉó
"Bacalah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab (Al Qur’an) dan tegakkanlah sholat…."

Disini Allah mewajibkan kita untuk membaca Al Qur’an. Dan orang yang membaca Al Qur’an pahalanya begitu besar di sisi Allah shubhaanahu wa ta’ala. Orang yang rajin membaca Al Qur’an adalah pedagang dengan perdagangannya tidak akan merugi. Ini bisa kita lihat dalam QS Fathir (35) : 29

Åöäøó ÇáøóÐöíäó íóÊúáõæäó ßöÊóÇÈó Çááøóåö æóÃóÞóÇãõæÇ ÇáÕøóáóÇÉó æóÃóäúÝóÞõæÇ ãöãøóÇ ÑóÒóÞúäóÇåõãú ÓöÑøðÇ æóÚóáóÇäöíóÉð íóÑúÌõæäó ÊöÌóÇÑóÉð áóäú ÊóÈõæÑó(29)
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.

Setiap orang yang berdagang  mempunyai kemungkinan untuk merugi ,namun ada beberapa perniagaan yang tidak pernah merugi. Di antaranya adalah Jihad Fisabilillah, sebagaimana firman Allah dalam  Qs 9 : 111
Åöäøó Çááøóåó ÇÔúÊóÑóì ãöäó ÇáúãõÄúãöäöíäó ÃóäúÝõÓóåõãú æóÃóãúæóÇáóåõãú ÈöÃóäøó áóåõãõ ÇáúÌóäøóÉó íõÞóÇÊöáõæäó Ýöí ÓóÈöíáö Çááøóåö ÝóíóÞúÊõáõæäó æóíõÞúÊóáõæäó æóÚúÏðÇ Úóáóíúåö ÍóÞøðÇ Ýöí ÇáÊøóæúÑóÇÉö æóÇáúÅöäúÌöíáö æóÇáúÞõÑúÁóÇäö æóãóäú ÃóæúÝóì ÈöÚóåúÏöåö ãöäó Çááøóåö ÝóÇÓúÊóÈúÔöÑõæÇ ÈöÈóíúÚößõãõ ÇáøóÐöí ÈóÇíóÚúÊõãú Èöåö æóÐóáößó åõæó ÇáúÝóæúÒõ ÇáúÚóÙöíãõ(ÇáÊæÈÉ:111)
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

Dan bentuk perdagangan lain yakni rajin membaca kitabullah, menegakkan sholat dan rajin mengeluarkan nafkah zakat maupun sedekah Di dalam ayat Qs 35 :29
Åöäøó ÇáøóÐöíäó íóÊúáõæäó ßöÊóÇÈó Çááøóåö æóÃóÞóÇãõæÇ ÇáÕøóáóÇÉó æóÃóäúÝóÞõæÇ ãöãøóÇ ÑóÒóÞúäóÇåõãú ÓöÑøðÇ æóÚóáóÇäöíóÉð íóÑúÌõæäó ÊöÌóÇÑóÉð áóäú ÊóÈõæÑó(29)
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,
Dalam hadits-hadits juga sangat banyak yang menunjukkan keutamaan orang yang membaca Al Qur’an.Diantaranya :
((ãä ÞÑà ÍÑÝÇ ãä ßÊÇÈ Çááå Ýáå ÍÓäÉ¡ æÇáÍÓäÉ ÈÚÔÑ Ã ãËÇáåÇ¡ áÇ Ã Þæá : Çáã ÍÑÝ æáßä : ÃáÝ ÍÑÝ¡ æáÇã ÍÑÝ¡ æãíã ÍÑÝ))
Rasulullah  bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dalam kitab Allah (Al Qur’an) maka mendapat kebaikan dan tiap kebaikan berlipat sepuluh kali. Saya tidak berkata : Alif lam mim itu satu huruf  tapi Alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”. (Hadits Shohih Riwayat At-Tirmidzi)

Maka begitu banyak pahala yang kita dapat jika membaca surah Al Baqarah umpamanya. Sedangkan Çáã" " saja maka 30 pahala kebaikan menunggu kita apalagi jika lebih dari itu.Karena itu janganlah kita sampai menjadi orang-orang yang meninggalkan Al Qur’an. Jangan kita menjadi orang yang kadang begitu kuatnya membaca buku-buku manusia ratusan bahkan ribuan halaman komik dan majalah namun begitu lemahnya ketika berhadapan dengan Kitabullah (Wallahu Al-Musta’an). Dan ini adalah salah satu ciri tidak bernasehat kepada Al-Qur’an dengan meninggalkan Al-Qur’an.  Berapa banyak  di antara kaum muslimin yang berat meninggalkan rumahnya jika belum membaca bacaan yang dia cintai baik membaca koran atau majalah sebelum pergi kerja dan menanti pembawa koran tersebut. Namun ia tidak pernah mewajibkan dirinya untuk membaca Al Qur’an sebelum berangkat. Inilah bentuk nyata dan fenomena yang sangat kongkrit bagaimana umat kita kini adalah umat yang meninggalkan Al qur’an dan tidak bernasehat kepada Al-Qur’an.

3.   åÌÑ ÊÏ ÈÑå
 Tidak mentadabbur isi Al Qur’an.
    Ia mungkin membacanya tapi tidak mentadabburinya bahkan  ia sekedar membaca begitu saja dan tidak ada kekhusyukan ketika membaca dan tidak memahami maknanya., pada hakikatnya ia masih dianggap orang-orang yang meninggalkan Al Qur’an, karena ada satu kewajiban yang ia belum laksanakan. Allah masih mensifatkan orang yang membaca Al-Qur’an dan tidak mentadabburinya sebagai orang yang  hatinya terkunci. Dalam    QS. Muhammad : 24
ÃóÝóáóÇ íóÊóÏóÈøóÑõæäó ÇáúÞõÑúÁóÇäó Ãóãú Úóáóì ÞõáõæÈò ÃóÞúÝóÇáõåóÇ(24)
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci.

Dalam ayat ini seakan-akan Allah mengatakan bahwa orang yang tidak mentadabburi Al Qur’an adalah orang yang hatinya terkunci. Al Qur’an diturunkan untuk dibaca, dan dipahami apa yang kita baca itu. Sungguh merupakan hal yang tidak sopan/pantas ketika seseorang berbicara dengan kita dan kita hanya sekedar mendengarkan tanpa mencoba untuk memahami apa yang dikatakannya itu. Maka bukan suatu adab ketika lewat suatu perkataan  namun kita sekedar membaca tanpa mencoba memahami apa yang kita baca itu. Apalagi perkataan yang datang dari Allah shubhaanahu wa ta’ala.  Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung telah menurunkan kepada kita kitab untuk kita baca dan kita pahami apa makna yang terkandung di dalam kitab itu. Dan ini ditegaskan oleh Allah dalam surah  Shaad : 29
ßöÊóÇÈñ ÃóäúÒóáúäóÇåõ Åöáóíúßó ãõÈóÇÑóßñ áöíóÏøóÈøóÑõæÇ ÁóÇíóÇÊöåö æóáöíóÊóÐóßøóÑó Ãõæáõæ ÇáúÃóáúÈóÇÈö(29)
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad) penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.

Dalam sebuah hadits diceritakan Rasulullah  pada suatu subuh terlambat memimpin shalat subuh. Adalah kebiasaan beliau memimpin shalat-shalat jamaah. Pada suatu subuh para sahabat sudah menunggu cukup lama namun beliau tidak juga keluar. Kemudian Bilal radhiyallahu ‘anhu datang kepada beliau dan mengatakan bahwa beliau sudah ditunggu untuk memimpin jamaah shalat. Ketika itu Bilal mendapati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang menangis. lalu ditanya apa sebab beliau menangis. Jawab Rasulullah : “Telah diturunkan kepadaku tadi  malam beberapa ayat Al Qur’an dan sangat celakalah orang yang membacanya namun tidak memikirkannya”.(HR Abdullah bin Humaid dan Ibnu Marooyah)
Dan ayat-ayat yang dimaksud adalah 10 surat terakhir dari Ali Imran.
Hadits Rasulullah  ini sudah terbukti dimana kita lihat seringnya ayat-ayat ini dibaca terutama dalam shalat-shalat berjamaah.Tapi apakah kita sudah termasuk orang-orang yang mentafakkuri ciptaan Allah shubhaanahu wa ta’ala. Apakah kita sudah pernah melihat bagaimana penciptaan langit dan bumi ini lalu kita menyimpulkan bahwa tidaklah ini diciptakan dengan sia-sia (QS 3 :191)
ÇáøóÐöíäó íóÐúßõÑõæäó Çááøóåó ÞöíóÇãðÇ æóÞõÚõæÏðÇ æóÚóáóì ÌõäõæÈöåöãú æóíóÊóÝóßøóÑõæäó Ýöí ÎóáúÞö ÇáÓøóãóæóÇÊö æóÇáúÃóÑúÖö ÑóÈøóäóÇ ãóÇ ÎóáóÞúÊó åóÐóÇ ÈóÇØöáðÇ ÓõÈúÍóÇäóßó ÝóÞöäóÇ ÚóÐóÇÈó ÇáäøóÇÑö(191)
 Sudahkah kita berdoa kepada Allah  dengan ayat-ayat ini (QS 3 : 191-194)
ÑóÈøóäóÇ Åöäøóßó ãóäú ÊõÏúÎöáö ÇáäøóÇÑó ÝóÞóÏú ÃóÎúÒóíúÊóåõ æóãóÇ áöáÙøóÇáöãöíäó ãöäú ÃóäúÕóÇÑò(192)ÑóÈøóäóÇ ÅöäøóäóÇ ÓóãöÚúäóÇ ãõäóÇÏöíðÇ íõäóÇÏöí áöáúÅöíãóÇäö Ãóäú ÁóÇãöäõæÇ ÈöÑóÈøößõãú ÝóÂãóäøóÇ ÑóÈøóäóÇ ÝóÇÛúÝöÑú áóäóÇ ÐõäõæÈóäóÇ æóßóÝøöÑú ÚóäøóÇ ÓóíøöÆóÇÊöäóÇ æóÊóæóÝøóäóÇ ãóÚó ÇáúÃóÈúÑóÇÑö(193)ÑóÈøóäóÇ æóÁóÇÊöäóÇ ãóÇ æóÚóÏúÊóäóÇ Úóáóì ÑõÓõáößó æóáóÇ ÊõÎúÒöäóÇ íóæúãó ÇáúÞöíóÇãóÉö Åöäøóßó áóÇ ÊõÎúáöÝõ ÇáúãöíÚóÇÏó(194)

 Ayat-ayat ini adalah ayat-ayat yang sangat pantas untuk kita telaah maknanya dan dapat menguatkan dan mengkhusyu’kan hati kita. Karena itulah merupakan sunnah Rasulullah  menjadikan ayat-ayat ini sebagai ayat-ayat yang beliau baca ketika bangun shalat tengah malam. Karena waktu tengah malam adalah waktu yang sangat pantas untuk kita tadabburi ayat-ayat Allah  waktu ketika begitu tenangnya, orang- orang pada lalai dan kita dapat berhubungan dengan Allah  dengan sangat baiknya.Karena itu Rasulullah  sangat bersedih dan sempat menangis ketika memikirkan keadaan umatnya yang membaca Al Qur’an begitu saja tanpa berusaha memahami maknanya dan tanpa berusaha mentadabburi isi yang dia baca.
 Tentu saja merupakan salah satu wasilah yang perlu kita coba dan  jalankan/lalui  untuk memahami Al Qur’an ini dengan mengetahui bahasanya (Bahasa Arab). Merupakan salah satu tugas kita bagi orang yang mau mentabburi makna ayat-ayat Al-Quran ini  adalah dengan mengetahui makna firman Allah dan jalannya adalah dengan mengetahui bahasa Arab .Bahkan sebagian ulama kita mewajibkan untuk memahami bahasa Arab. Karena Allah telah mengatakan bahwa Allah telah memilih bahasa Arab untuk memahami Al Qur’an itu. Seakan-akan Allah mengatakan bahwa sekiranya Al Qur’an bukan diturunkan dalam bahasa Arab maka suatu hal yang mustahil untuk dapat memahami Al Qur’an itu. Adapun pemilihan ini adalah datang dari Allah. Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memahami makna Al Qur’an itu dengan memahami bahasa Arab sekemampuan kita. Tentang hal ini minimal disebutkan oleh Allah dua kali dalam Al Qur’an.
    QS. Yusuf : 2
ÅöäøóÇ ÃóäúÒóáúäóÇåõ ÞõÑúÁóÇäðÇ ÚóÑóÈöíøðÇ áóÚóáøóßõãú ÊóÚúÞöáõæäó(2)
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an ini dengan berbahasa Arab,
supaya kamu memahaminya.

    QS. Az Zukhruf : 3
ÅöäøóÇ ÌóÚóáúäóÇåõ ÞõÑúÁóÇäðÇ ÚóÑóÈöíøðÇ áóÚóáøóßõãú ÊóÚúÞöáõæäó(3)
Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur’an dalam Bahasa Arab supaya kamu memahaminya.

Sangat banyak dalil yang menunjukkan pentingnya untuk mempelajari Bahasa Arab. Dan merupakan salah satu bentuk wala’ kita terhadap Islam ini sebagai agama yang mulia adalah  dengan mau memahami bahasanya. Dan merupakan bahasa persatuan kaum muslimin adalah bahasa Arab. Islam  ketika mau didakwahkan kaum muslimin pada zaman dahulu (zaman salafushshaleh), ketika mau mensyiarkan agama ini maka mereka juga memperkenalkan lewat bahasa Arab. Karena itu daerah-daerah yang dikuasai kaum muslimin juga mengetahui bahasa Arab tidak cukup mereka menjelaskan tentang Islam namun mereka juga menjelaskan bahasa Arab. Contohnya : Mesir pada mulanya tidak mengetahui bahasa Arab sebab bukan bahasa asli mereka namun akhirnya mereka tahu bahasa yang mulia ini setelah masuknya Islam ke negeri mereka . Dan sebaliknya dapat menjadi suatu bentuk wala/loyalitas terhadap musuh-musuh Allah dan menjauhi kaum muslimin ketika kita lebih senang (bersambung)

 
Artikulli paraprakJadwal Ta’lim Maghrib-Isya
Artikulli tjetërTK Islam

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini