Syarah Hadits Ke-6 Arbain

Berikut ini penjelasan hadits ke-6 kitab Arbain:

ÈÓã Çááå ÇáÑÍãä ÇáÑÍíã
ÇáÍóÏöíúËõ ÇáÓøóÇÏöÓõ

Úóäú ÃóÈöí ÚóÈúÏö Çááåö ÇáäøõÚúãóÇäö Èúäö ÈóÔöíúÑò ÑóÖöíó Çááåõ ÚóäúåõãóÇ ÞóÇáó : ÓóãöÚúÊõ ÑóÓõæáó Çááåö Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æó Óóáøóãó  íóÞõæúáõ : (( Åóäøó ÇáúÍóáÇóáó Èóíøöäñ æó Åöäøó ÇáÍóÑóÇãó Èóíøöäñ æó ÈóíúäóåõãóÇ ÃõãõæÑñ ãõÔúÜÊóÈöåóÇÊñ  áÇó íóÚúáóãõåõäøó ßóËöíúÑñ ãöäó ÇáäøóÇÓö Ýóãóäö ÇÊøóÞóì ÇáÔøõÜÈõåóÇÊö ÝóÞóÏö ÇÓúÊóÜÈúÑóÃó áöÏöíúäöåö æó ÚöÑúÖöåö æó ãóäú æóÞóÚó Ýíö ÇáÔøõÜÈõåóÇÊö æóÞóÚó  Ýíö ÇáÍóÑóÇãö  ßóÇáÑøóÇÚöíú íóÑúÚóì Íóæúáó ÇáúÍöãóì íõæúÔößõ Ãóäú íóÑúÊóÚó Ýöíúåö  ÃóáÇó æó Åöäøó áößõáøö ãóáößò Íöãðì ÃóáÇó æó Åöäøó Íöãóì Çááåö ãóÍóÇÑöãõåõ  ÃóáÇó æó Åöäøó Ýíö ÇáúÌóÓóÏö ãõÖúÛóÉð  ÅöÐóÇ ÕóáóÍóÊú ÕóáóÍó ÇáúÌóÓóÏõ ßõáøõåõ æó ÅöÐóÇ ÝóÓóÏóÊú  ÝóÓóÏó ÇáúÌóÓóÏõ ßõáøõåõ  ÃóáÇó  æóåöíó ÇáúÞóáúÈõ ))
ÑóæóÇåõ ÇáÈõÎóÇÑöíøõ æó ãõÓúáöãñ

6. Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma berkata : Aku telah mendengar Rasulullah  bersabda : “Sesungguhnya sesuatu yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan diantara keduanya ada persoalan yang samar-samar, kebanyakan manusia tidak mengetahui. Maka barang siapa menjaga dirinya dari persoalan yang syubhat itu maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya, dan barang siapa yang jatuh dalam perkara yang syubhat itu, maka ia telah jatuh dalam perkara yang haram seperti penggembala yang menggembala di sekitar tanah larangan, lambat laun ia akan masuk ke dalamnya Ingatlah bahwa tiap-tiap raja ada daerah batasannya. Ingatlah bahwa batasan Allah adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Ingatlah bahwa dalam tubuh terdapat sepotong daging, apabila ia baik maka baiklah badan itu seluruhnya, dan apabila ia rusak, maka rusaklah badan itu seluruhnya, ingatlah itu adalah hati”.
( Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim )

KEUTAMAAN HADITS

Hadits ini berkaitan dengan masalah halal dan haram serta masalah-masalah yang mutasyabihat/ syubhat. Menurut Imam Ahmad  ÑÍãå Çááå , hadits ini memiliki kedudukan yang sangat agung dalam ad-din ini. Beliau memasukkannya sebagai salah satu diantara 3 ushulul hadits (hadits pokok) dalam agama kita, dan hadits yang lainnya adalah hadits pertama dan hadits kelima dari kumpulan hadits Arbain An Nawawiyah.

Menurut Imam Ishaq bin Rahuyah /Rahuwaih ÑÍãå Çááå  (seorang guru utama dari Imam Bukhari ÑÍãå Çááå ) ketika melihat hadits-hadits, mengatakan 4 hadits yang pokok dalam ad-din ini, yaitu sebagaimana yang dikatakan Imam Ahmad ÑÍãå Çááå  dengan menambahkan hadits keempat dari Al Arbain An Nawawiyah. Imam Abu Dawud  ÑÍãå Çááå , seorang murid dari Imam Ahmad ÑÍãå Çááå dan penulis Sunan Abi Dawud( beliau yang paling banyak menyebutkan tentang keutamaan hadits ini) Beliau memasukkan hadits ini ke dalam 3 ushulul hadits, bahkan beliau mengatakan ada 5 hadits yang beredar padanya fiqih dalam ad-din dan beliau memasukkan hadits ini juga (yaitu hadits 1, 6, 7, 9 dan 32), beliau ÑÍãå Çááå  juga mengatakan bahwa ada 4 hadits yang pokok dalam Sunan Abi Dawud dan telah cukup bagi seseorang yang mau memahami ke empat hadits tersebut, dan beliau  juga memasukkan hadits ini.

Imam Ibnu Daqieq Al Ied  ÑÍãå Çááå , penulis syarh Al Arbain An Nawawiyah yang juga ulama besar dalam masalah fiqh mengatakan dalam syarh Arbain An Nawawiyah bahwa hadits ini adalah “ ÃÕá ÚÙíã ãä ÃÕæá ÇáÔÑíÚÉ  “ (termasuk hadits pokok yang agung dalam pokok-pokok syariat). Dan beliau berkata (mengutip dari Imam Abu Dawud  ÑÍãå Çááå ) : “telah ijma’ ulama tentang pentingnya dan tentang banyaknya faedah yang dikandung hadits ini”. Pendapat ini disetujui oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Imam Nawawi ÑÍãåãÇ Çááå . Dengan ini menunjukkan bahwa ulama memperhatikan tentang hadits ini.

Ulama lainnya adalah Imam Al Qurthubi ÑÍãå Çááå penulis tafsir Al Qurthubi dan sebelumnya Imam Ibnul Arabi ÑÍãå Çááå  yang memiliki tafsir tentang ayat-ayat ahkam dan juga bermadzhab Maliki, keduanya berkata bahwa seluruh masalah-masalah hukum bisa dikembalikan pada hadits ini, karena hadits ini telah menjelaskan masalah halal dan haram secara rinci dan juga menyinggung suatu masalah yang berada di antara keduanya (masalah syubhat). Dengan demikian sangat penting bagi kita untuk memperhatikan hadits ini, menghafalkan, memahaminya dan menyebarkan hukum-hukumnya. Demikian pula semua yang terdapat dalam Al Arbain An Nawawiyah yang sebagaimana diketahui mengandung hadits-hadits yang pokok.

SHAHABAT YANG MERIWAYATKAN HADITS
  Úä ÃÈí ÚÈÏ Çááå ÇáäÚãÇä Èä ÈÔíÑ ÑÖì Çááå ÚäåãÇ …

Perawinya adalah Abu Abdillah Nu’man bin Basyir Al Madani  adalah seorang shahabat dari kalangan Anshar. Kuniyah beliau Abu Abdillah. Bapak beliau adalah seorang shahabat yang mulia bernama Basyir bin Sa’ad bin Tsa’labah bin Julas bin Za’id Al Anshori Al Khazraji , dari kalangan suku khazraj, salah satu suku terkenal di Madinah.

Bapaknyalah yang memperkenalkannya kepada Rasulullah. Ketika kelahirannya, Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma dibawa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  untuk didoakan. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhabarkan bahwa anak itu (Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu) akan seperti bapaknya menjadi shahabat yang mulia dan akhir hidupnya juga akan sama, yaitu meninggal karena dibunuh. Pada akhirnya Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma memang meninggal karena dibunuh oleh seorang munafik dari Hims (Damaskus). Khabar ini adalah khabar gaib dari Allah shubhaanahu wa ta’ala  dan apa yang dikhabarkan beliau akan terbukti.

Jadi merupakan suatu sunnah untuk membawa seorang bayi yang baru lahir kepada orang yang shaleh untuk didoakan dan ditahnik atau kalau bisa juga untuk diberi nama. Hal ini bukan hanya khususiyah bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, karena sesudah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam para shahabat juga mendatangi Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu untuk meminta beliau mendoakan anaknya dan ini berlanjut terus sampai tabiin.

Ibu dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma adalah seorang shahabiyah yang bernama ‘Amrah bintu Rawahah ÑÖì Çááå ÚäåÇ ,  saudara perempuan dari shahabat yang mulia Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhuma (salah seorang penyair Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pemimpin perang Mu’tah). Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma adalah keponakan dari Abdullah bin Rawahah  dari sisi ibunya. Jadi beliau hidup dan belajar dari kalangan para shahabat sehingga beliau menjadi seorang yang shaleh dan shahabat yang mulia.
   
Diikhtilafkan oleh para Ulama tentang Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma , apakah beliau pernah mendengar langsung dari Rasulullah  atau hadits-haditsnya hanya murshal shahabi saja (menukil dari shahabat-shahabat yang lain) ?, karena ada juga shahabat yang tidak mendengarkan langsung hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  tetapi hanya menukil dari shahabat yang lain yang mendengarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Ahlul Madinah (ulama-ulama dari kalangan Madinah) banyak yang mengatakan bahwa Nu’man bin Basyir  tidak pernah mendengarkan langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun Ahlul Kufah mengatakan bahwa Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma pernah mendengarkan langsung, dan hadits yang pernah didengarkan beliau langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  adalah hadits ini. Karena beliau mengatakan “ ÓãÚÊ “ (saya mendengarkan), dan kalau seorang shahabat mengatakan “ ÓãÚÊ “ berarti dia mendengarkan langsung. Kalau dia mengatakan “ Úä “ (dari), berarti ada kemungkinan lewat perantara, tapi kalau sudah mengatakan “ ÓãÚÊ “ itu menunjukkan bahwa dia mendengarkan langsung. Jadi pendapat yang benar adalah pendapat Ahli Kufah. Dalam riwayat Imam Muslim ÑÍãå Çááå , beliau menegaskan bahkan mengisyaratkan ÈÃÕÈÚíå Åáì ÃÐäíå (beliau mengisyaratkan dengan telunjuknya menunjuk kepada kedua telinganya) ketika beliau berkata ÓãÚÊ (maknanya saya mendengarkan langsung dan tidak lewat perantara).
   
Di sini ada sebuah hukum dalam masalah Ilmu Hadits, bahwa orang yang mendengarkan hadits dalam usia yang muda itu diterima haditsnya walaupun dia belum baligh tapi dengan syarat  dia menyampaikan hadits tersebut ketika dia sudah baligh. Karena ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, umur beliau (Nu’man radhiyallahu ‘anhu) baru 8 tahun (belum baligh). Berarti ketika mendengar hadits ini, beliau juga belum baligh tapi haditsnya dapat diterima selama dia mumayyiz (dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk dan antara yang benar dan yang salah) tapi dengan syarat dia sampaikan ketika dia sudah baligh. Sama dengan masalah, tidak mengapa menerima  hadits dari seorang yang waktu mendengarkan hadits  masih dalam keadaan kafir dengan syarat dia menyampaikan hadits itu ketika dia sudah masuk islam. Sebaliknya jika ada yang mendengarkan hadits ketika ia masih seorang muslim, tapi dia menyampaikan hadits itu ketika dia sudah kafir (murtad), maka haditsnya itu tidak diterima/ditolak. Ini salah satu masalah dalam Ilmu Mustholah bahwa “ ÊóÍóãøõá “, menerima  hadits orang yang masih muda dengan syarat dia menyampaikan ( ÃÏ Ç Á ) ketika sudah baligh, seperti Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma .
   
Diantara keutamaan dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma adalah : pada masa Muawiyah radhiyallahu ‘anhu, beliau dipilih menjadi Amir di Kufah dan setelah kurang lebih 9 bulan di Kufah beliau dipindahkan ke Hims (Damaskus) sebagai Qadhi di Hims. Ada sedikit ikhtilaf dikalangan ulama, apakah hadits ini pertama kali beliau sebutkan ketika beliau berada di Kufah atau setelah beliau berada di Hims. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa beliau berkhutbah dengan hadits ini ketika menjabat Amir di Kufah, tapi dalam riwayat lain dikatakan bahwa beliau berkhutbah dengan hadits ini ketika di Hims. Kata Ibnu Hajar Asqalani ÑÍãå Çááå : “tidak ada masalah, boleh saja beliau berkhutbah dua kali dengan hadits ini yaitu beliau sudah pernah berkhutbah dengan hadits ini ketika beliau masih Amir di Kufah dan juga berkhutbah dengan hadits ini ketika telah menjadi Qadhi di Hims”. Beliau juga terkenal sebagai khotib yang bari’, ahli khutbah yang mempunyai balaghoh (keindahan bahasa dalam berkhutbah dan ahli retorika). Beliau adalah shahabat yang pertama kali lahir dikalangan Anshar setelah hijrah Nabi (sekitar 14 bulan setelah hijrah). Adapun shahabat dari kalangan Muhajirin yang pertama kali lahir setelah hijrah adalah Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhuma . Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu lebih tua 6 bulan darinya.
  
Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma wafat pada tahun 60 H.  Pendapat lain mengatakan tahun 62 H dan ada juga tahun 64 H, setelah menghindari fitnah Yazid bin Muawiyah tentang masalah Abdullah bin Zubair. Beliau menghindari fitnah tersebut tetapi dibuntuti oleh seorang munafik yaitu Khalid bin Khaly Al Khulai dari Dimasyq dan dialah yang membunuh shahabat yang mulia Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu (sebagaimana yang pernah dikhabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

SYARH HADITS
 ÓãÚÊ ÑÓæá Çááå Õáì Çááå Úáíå æÓÇÜã íÞæá …
(Saya telah mendengarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda …)
    “ÓãÚÊ “ merupakan salah satu bentuk periwayatan yang paling kuat dalam ilmu hadits, sama dengan bentuk “ ÍÏËÜäÇ  “.
 Åä ÇáÍáÇá Èíøä æ Åä ÇáÍÑÇã Èíøä …
(Sesunguhnya sesuatu yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas…)
   
Maksudnya urusan-urusan yang halal dan yang haram itu sudah jelas. Artinya ada urusan-urusan yang memang sudah dijelaskan bahwa dia adalah halal atau haram. seperti memakan makanan dan meminum minuman yang baik hukumnya halal, nikah itu halal, dan sebagainya. Dan kehalalan ini jelas dari Al Qur’an dan As Sunnah, yang jelas hukum-hukumnya dari dalil-dalil yang sifatnya nash (tidak ada makna lain dari hal tersebut). Karena ada dalil yang sifatnya nash (siapa saja yang membacanya bisa langsung memahaminya) dan ada dalil yang tidak nash dan inilah yang bisa dita’wil (mempunyai ihtimal/ banyak kemungkinan). Selain jelas dengan dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah, masalah itu juga jelas berdasarkan kaidah-kaidah yang umum seperti bahwa “semua masalah-masalah selama tidak ada larangan dan dalam masalah dunia maka hukumnya halal”.
  
Dan penjelasan ini, bahwa Allah shubhaanahu wa ta’ala telah menurunkan Al Qur’an untuk menjelaskan segala sesuatu (hukum Allah) bagi manusia dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga diutus untuk menjelaskan apa yang ada dalam Al Qur’an. Jadi Al Qur’an sebenarnya adalah penjelas tentang hukum-hukum, dan untuk memperjelas lagi apa yang ada dalam Al Qur’an maka Allah mengutus Rasul-Nya. Dan hal ini ditunjukkan minimal 2 ayat  dalam Al Qur’an. Sebagaimana firman Allah shubhaanahu wa ta’ala dalam surat An Nahl (16) : 89 ,
 æíæã äÈÚË Ýí ßá ÃãÉ ÔåíÏÇ Úáíåã ãä ÃäÝÓåã æÌÆäÇ Èß ÔåíÏÇ Úáì åÄáÇÁ æäÒáäÇ Úáíß ÇáßÊÇÈ ÊÈíÇäÇð áßá ÔÆ æøåÏì æ ÑÍãÉ æøÈÔÑì ááãÓáãíä   ( ÇáäÍá : 89 )
“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari diri mereka sendiri, dan kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”(AnNahl : 89).
Ayat ini (QS An Nahl : 89) jelas menyebutkan bahwa Al Qur’an ini diturunkan untuk menjelaskan hukum-hukum. Dan dalam surat An Nahl : 44, Allah  berfirman :
 ÈÇáÈíøäÇÊ æÇáÒÈÑ æÃäÒáäÇ Åáíß ÇáÐßÑ áÊÈíøä ááäÇÓ ãÇ äÒøá Åáíåã æáÚáåã íÊÝßÑæä   ( ÇáäÍá : 44)
“Dengan membawa keterangan-keterangan (Mu’jizat) dan kitab-kitab. dan kami turunkan kepadamu Al Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” (An Nahl : 44).
   
Dengan demikian jelaslah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diturunkan untuk menjelaskan hukum-hukum Allah yang terdapat dalam Al Qur’an lewat sunnahnya. Jadi Al Qur’an dan Sunnah kedua berfungsi untuk menjelaskan hukum-hukum itu. Dengan kedua hal itu (Al Qur’an dan As Sunnah) cukuplah untuk menjelaskan segala yang halal dan yang haram.
    

Dalam riwayat Imam Ahmad dan Imam Ibnu Majah  ÑÍãåãÇ Çááå, Rasulullah  bersabda:
ÊóÑóßúÊõßõã Úóáì ÇáãöËúáö ÇáÈóíúÖÇÁö áíáõåÇ ßäåÇÑöåÇ áÇ íóÒöíÛõ ÚäåÇ ÅáÇ åÇáößõ
“Saya telah meninggalkan kalian wahai umatku seperti baidho’/ yang sangat putih (sangat jelas/ terang sekali), malamnya seperti siangnya, tidak ada yang berpaling dari syariatku kecuali ia akan binasa”
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah  telah menjelaskan segala sesuatu yang halal dan yang  haram, dan ini pula telah disaksikan oleh para shahabat. Kata Abu Darda radhiyallahu ‘anhu  dan juga Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bahwa :
ÊÑßäÇ ÑÓæá Çááå  æáÇ ØÇÆÑ íØíÑ  ÈÌäÇÍíå Ýí ÇáÜåæÇÁ  ÅáÇ ÐßÑäÇ ãäå ÚáãÇð
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meninggalkan kami dan tidaklah ada seekor burung yang membolak-balikkan sayapnya di angkasa kecuali beliau telah menjelaskan hal tersebut kepada kami” (Hadits Shahih Riwayat Thabrani dalam  Al Mu’jam Al Kabir).
  
Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah menjelaskan segala sesuatu sehingga mereka (shahabat) faham antara yang halal dan yang haram. Karenanya hal-hal yang sudah dijelaskan dengan nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah tidaklah pantas seorang untuk jahil terhadap masalah-masalah tersebut. Sebagaimana yang dikatakan oleh ulama kita, ada masalah-masalah yang “ ãÚáæã ãä ÇáÏíä ÈÇáÖÑæÑÉ “(sudah jelas hukumnya dan tidak ada udzur untuk tidak mengetahuinya). Seperti kewajiban menyembah kepada Allah shubhaanahu wa ta’ala telah sangat jelas dalam Qur’an dan Sunnah, sehingga tidak boleh seseorang berkata “saya mengira kita bisa menyembah kepada selain Allah”. Demikian juga tentang keharaman memakan babi dan anjing. Bagi seorang muslim yang hidup di tengah kaum muslimin yang sudah mendengarkan Qur’an dan Sunnah, di negeri kaum muslimin, maka tidak ada udzur baginya untuk jahil tentang masalah-masalah itu, karena dia hidup di kalangan kaum muslimin dan dikalangan kaum muslimin pengetahuan akan hal itu sudah menyebar.
… æÈíäåãÇ ÃãæÑ ãÔÊÈåÇÊ áÇ íÚáãåä ßËíÑ ãä ÇáäÇÓ …
  
Musytabihat/ syubhat berasal dari kata “  ÔÈå – íÔÈå “ artinya mirip/ sama. Suatu perkara dikatakan syubhat karena perkara itu mirip/ sama, karenanya orang sulit membedakan apakah hal itu halal atau haram, apakah sunnah atau bid’ah, apakah boleh atau tidak boleh.
“áÇ íÚáãåä ßËíÑ ãä ÇáäÇÓ  “ (tidak banyak manusia yang mengetahuinya), artinya ada manusia yang mengetahuinya. Jadi sebenarnya urusan ini masuk pada salah satunya, halal atau haram, hanya tidak banyak manusia yang mengetahuinya. Yang memiliki pengetahuan atasnya adalah ulama, dan ini menunjukkan keutamaan ulama. Namun demikian tidak semua ulama juga mengetahui hal tersebut, mereka bertingkat-tingkat dalam masalah seperti ini.
   
Urusan-urusan yang syubhat/ ikhtilaf terjadi (padahal Rasulullah  telah menjelaskan segala sesuatunya) disebabkan beberapa hal :
1.    Dalil-dalilnya tidak sampai kepada semua ulama. Contoh, sebenarnya sudah ada hukum yang mengatur tentang suatu masalah, tetapi dalil/ haditsnya tidak menyebar kepada seluruh ulama, ada yang sudah sampai padanya dan ada yang belum. Maka bagi ulama yang telah sampai padanya dalilnya maka hal itu tidak samar lagi baginya, namun yang belum sampai kepadanya dia menganggapnya sesuatu yang syubhat.
2.    Ada masalah-masalah yang kadang disebutkan halal dan kadang disebutkan haram dan ulama kita tidak mengetahui yang mana yang nasikh dan yang mansukh, karena ada kelihatan sesuatu yang bertentangan, ada yang halal dan ada yang haram. salah satu untuk mentarjihkannya adalah dengan melihat yang mana yang lebih dulu turun. Kaidahnya yang lebih dulu turun itulah yang mansukh dan kita mengambil dalil yang belakangan. Tapi kadang ulama juga tidak mengetahui yang mana yang lebih dulu turun sehingga menimbulkan syubhat tentang hukumnya.
3.    Ada hukum-hukum yang tidak ada dalilnya yang jelas. Dia datang ketika ulama-ulama kita mau memutuskannya hanyalah menggunakan kaidah-kaidah syariat, apakah kaidah umum atau berupa qias atau yang lainnya yang digunakan fuqaha untuk memutuskan hukumnya. Dan masalah-masalah seperti inilah yang disebut masalah ijtihadiyah, ketika tidak adanya dalil yang jelas maka ulama kita berijtihad. Disinilah terjadi ikhtilaf mengenai hukumnya, kadang ada yang mengatakan halal dan kadang ada yang mengatakan haram.
4.    Adanya dalil yang mengatakan dia adalah suatu perintah dan ada yang mengatakan dia larangan pada perkara yang sama. Untuk hal yang seperti ini kadang dipakai beberapa kaidah seperti “Íãá ÇáãØáÞ Úáì ÇáãÞíÏ æ ÇáÚÇã Úáì ÇáÎÇÕ  “ (membawa dalil-dalil yang mutlak pada yang muqayyad atau membawa dalil-dalil yang umum ke yang khusus), atau kadang ada yang menyimpulkan bahwa karena ada perintah dan larangan maka hukumnya berarti makruh, atau ada juga yang berkata hukumnya mubah.  Contohnya : minum berdiri dikatakan dalam suatu hadits hal itu dilarang, tetapi dalam hadits yang lain dikatakan boleh. Maka sebagian ulama mengatakan bahwa di sini ada larangan dan ada perintah maka larangan di bawa kepada yang makruh, ada juga yang mengatakan karena adanya larangan dan adanya perintah, maka perintah disini (untuk tidak minum berdiri) hukumnya sunnah saja, dan ada juga yang mengatakan hukumnya mubah. Keragaman pendapat inilah yang menimbulkan syubhat.
Namun hal syubhat ini sebagian ulama mengetahuinya, dan merupakan keutamaan ulama untuk bisa menjelaskan mengenai hal-hal itu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ÑÍãå Çááå pernah mengatakan : “Yang faqih bukanlah orang yang bisa menjelaskan yang mana yang halal dan yang haram (dalam masalah-masalah yang sudah jelas hukumnya), tetapi seorang yang faqih adalah seorang yang bisa memutuskan antara dua hal yang samar-samar”.
Mengenai keutamaan ulama ini, sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini “ áÇ íÚáãåä ßËíÑ ãä ÇáäÇÓ   “ (kebanyakan manusia tidak mengetahuinya). Dan ini juga sudah diisyaratkan oleh Allah  dalam Al Qur’an surat Ali ‘Imran (3)  : 7,
 åæ ÇáÐì ÃäÒá Úáíß ÇáßÊÇÈ ãäå ÁÂíÇÊ ãÍßãÇÊ åä Ãã ÇáßÊÇÈ æÃÎÑ ãÊÔÇÈåÇÊ. ÝÃãÇ ÇáÐíä Ýì ÞáæÈÜåã ÒíÛ ÝíÊÈÚæä ãÇÊÔÇÈå ãäå ÇÈÊÛÂÁ ÇáÝÊäÉ æÇÈÊÛÂÁ ÊÃæíáå . æãÇ íÚáã ÊÃæíáå ÅáÇ Çááå. æÇáÑÇÓÎæä Ýì ÇáÚáã íÞæáæä ÁÇãäÇ Èå ßá ãä ÚäÏ ÑÈäÇ æãÇ íÐßÑ Åá ÃæáæÇ ÇáÃáÈÇÈ   ( Çá ÚãÑÇä : 7 )
“Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Diantara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata :”kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal” (Ali ‘Imran : 7)
Sebagian qiraah mengatakan : “ … æãÇ íÚáã ÊÃæíáå ÅáÇ Çááå æÇáÑÇÓÎæä Ýì ÇáÚáã ¡ …” ( tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya ), artinya orang yang mendalam ilmunya juga mengetahui hal tersebut. Meskipun qiraah seperti  ini adalah qiraah yang lemah. Ada yang mengambil dari ayat ini bahwa memang Allah  telah memberikan ilmunya kepada sebagian manusia yaitu para ulama kita yang mendalam ilmunya ( Wallahu ta’ala a’lam).
   
Dari sebab-sebab khilaf tadi, ulama kita berikhtilaf tentang makna “ ÃãæÑ ãÔÊÈåÇÊ  “ apakah sebenarnya hukumnya ? apakah halal, haram, atau ada hukum-hukum tertentu yang tidak masuk pada salah satunya, sehingga ketika menafsirkan masalah yang mutasyabihat ini ada beberapa pendapat :
1.    Ada yang mengatakan mutasyabihat adalah hal-hal yang diikhtilafkan oleh ulama sebagaimana yang telah disebutkan.
2.    Ada yang mengatakan mutasyabihat ini hukumnya makruh,
3.    Ada yang mengatakan mutasyabihat ini hukumnya mubah.
Dari semua pendapat itu , yang rajih adalah pendapat yang pertama (Wallahu a’lam), dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Hajar ÑÍãå Çááå bahwa makna yang mutasyabihat adalah yang diikhtilafkan oleh para ulama dan hukumnya salah satu diantara halal atau haram.

… Ýãä ÇÊøÞì ÇáÔÈåÇÊ ÝÞÏ ÇÓÊÈÑà áÏíäå æ ÚÑÖå …
    “Ýãä ÇÊøÞì  “ (maka siapa yang menjauhi), “ ÇÊÞì “ dari kata “ æÞì – íÞì “ yang artinya jauh atau berhati-hati/ menjaga diri, sebagaimana dalam ayat “ ÞæÃäÝÓßã  “ (jagalah dirimu/ berhati-hatilah). Karena itulah ketika Umar radhiyallahu ‘anhu ditanya tentang definisi taqwa, beliau mengatakan “Kamu seperti berjalan di jalan yang banyak onaknya/ banyak durinya/ gangguannya, kamu tentu saja berhati-hati dan inilah taqwa”. Berarti barang siapa yang berhati-hari dengan syubhat, maka juga menjauhi syubhat tersebut (tidak mau dekat-dekat dengan syubhat tersebut).
“ÝÞÏ ÇÓÊÈÑà áÏíäå æ ÚÑÖå “ (dia sudah menyelamatkan agamanya/diennya dan kehormatannya). “áÏíäå “ (menyelamatkan diennya) adalah berkaitan dengan hubungannya dengan Allah shubhaanahu wa ta’ala. Menjauhi syubhat merupakan perwujudan pertanggungjawabannya terhadap Allah. Namun orang yang melakukan syubhat akan ditanya oleh Allah di hari kiamat kelak. Karena itulah “áÏíäå “, maksudnya dia akan selamat dari pertanyaan Allah.
“æ ÚÑÖå  “ (menyelamatkan kehormatannya), berkaitan dengan hubungannya antara sesama manusia. Dengan meninggalkan syubhat maka dia akan selamat dari gangguan/ komentar manusia dan prasangka-prasangka yang buruk yang mungkin datang dari manusia. Karena itulah ulama mengatakan :
ãóäú æóÞóÝó ãóæÞöÝó ÇáÔøÈåÇÊ ÝáÇ íóáæãóäøó  ãä ÃÓÇÁó Èå  ÇáÙøóäæä
“Siapa yang selalu mau berada di posisi syubhat, maka jangan dia mencela orang yang berprasangka buruk kepadanya”.
Seperti orang-orang yang berada di tempat-tempat yang syubhat, haram, mungkar, ahlu bid’ah dan maksiat, ketika ditanya, mereka berkata : “Sebenarnya sama mau berdakwah”. Tapi orang-orang yang lewat akan berprasangka buruk dan mereka tidak dapat marah/ melarangnya karena wajar jika orang berpikiran seperti itu. Dan inilah yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam riwayat Bukhari – Muslim dari Ali bin Husain diceritakan :
    Suatu ketika Rasulullah  dikunjungi oleh istrinya Shofiyyah ÑÖì Çááå ÚäåÇ pada saat beliau sedang beri’tikaf. Ketika istrinya mau pulang, beliau mengantarkannya sampai ke depan pintu masjid. Ketika itu dua orang Anshar lewat di depan beliau. Lalu ketika mereka melihat beliau  bersama seorang wanita, cepat-cepat mereka pergi berjalan dengan jalan yang cepat, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil keduanya, dan berkata “Wahai Anshar, sesungguhnya perempuan ini adalah Shofiyyah bintu Hayyi (maksudnya istriku)”, lalu kedua shahabat itu berkata : “Ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kami tidak mungkin berprasangka buruk denganmu”. Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesunguhnya syaithan itu berjalan di tubuh manusia sebagaimana aliran darah, karena itulah saya kuatir syaithan menggoda kalian lalu kalian berprasangka buruk kepadaku”.
    Di sini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mau menjelaskan supaya menghindarkan syubhat atas dirinya. Kalau ada syubhat perlu kita jelaskan dan kalau perlu kita jauhi syubhat itu dan inilah jalan keselamatan. Orang yang menjauhi syubhat, tidak akan ada komentar buruk dari manusia, dia senantiasa akan selamat/ aman dari gangguan-gangguan manusia. Orang yang kadang-kadang berada di tempat orang-orang yang ahlul maksiat atau munafik atau ahlul bid’ah, mereka tidak akan selamat dari celotehan manusia. Karena itulah sikap seorang mukmin yang benar adalah adalah sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan “ÝÞÏ ÇÓÊÈÑà áÏíäå æ ÚÑÖå ”.
… æãä æÞÚ Ýí ÇáÔÈåÇÊ æÞÚ Ýí ÇáÍÑÇã …
(Siapa yang jatuh kepada syubhat maka dia akan jatuh kepada yang haram). Disinilah ada khilaf dari ulama ketika mengatakan apakah syubhat itu halal atau haram. yang mengatakan syubhat itu halal berdalilkan dengan permisalan yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang mengatakan bahwa syubhat itu haram berdalilkan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
Ýãä ÇÊøÞì ÇáÔÈåÇÊ ÝÞÏ ÇÓÊÈÑà áÏíäå æ ÚÑÖå
“Siapa yang menjauhi syubhat maka dia akan menyelamatkan agamanya dan kehormatannya”. Berarti orang yang jatuh ke syubhat maka dia tidak menyelamatkan agamanya dan kehormatannya, berarti hal ini adalah haram, apalagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengatakan : “æãä æÞÚ Ýí ÇáÔÈåÇÊ æÞÚ Ýí ÇáÍÑÇã  “ ini yang menyatakan adalah haram. Sedangkan yang mengatakan bahwa dia adalah suatu yang halal berdalilkan dengan permisalan yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ ßÇáÑÇÚì íÑÚì Íæá ÇáÍãì  “ (seperti pengembala yang mengembalakan gembalaannya di sekitar hima/ perbatasan/ ujung kawasannya sendiri) dan hima/ ujung kawasannya sendiri adalah sesuatu yang dihalalkan.
    Makna “æÞÚ Ýí ÇáÍÑÇã   “ (jatuh kepada sesuatu yang diharamkan), ditafsirkan oleh sebagian ulama dengan dua tafsiran :
1.    Orang yang jatuh kepada syubhat dan orang yang memudah-mudahkan masalah syubhat, suatu saat dia akan memudah-mudahkan juga sesuatu yang haram. artinya siapa yang melakukan hal yang syubhat maka suatu saat ia akan jatuh kepada hal yang haram. karena sesungguhnya maksiat itu akan saling panggil memanggil. Seorang yang terbiasa bermaksiat yang kecil suatu saat dia akan menambah kemaksiatannya dan suatu saat dia akan sampai kepada kekufuran dan dia tidak akan takut lagi. Karena itulah sebabnya ulama kita mengatakan :
"  ÇáÈÏÚÜÉ ÈÑíÏ ÇáÜßÝÑ "
 “Al bid’ah bisa mengantarkan kepada kekufuran”
ÇáãÚÜÇÕí ÈÑíÏ ÇáÜßÝÑ
 “Maksiat itu bisa mengantarkan kepada kekufuran (kalau sudah dianggap enteng)”
Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan sampai-sampai ada orang yang mencuri telur saja dipotong tangannya. Maksudnya pertama-tama yang dicuri adalah telur, tapi selanjutnya ia akan merasa hebat karena tidak ada yang mengetahui dia mencuri telur, maka dia akan mencuri yang lebih dari itu sehingga mungkin sampai kepada batasan dipotong tangan (1/4 dinar). Begitulah maksiat saling panggil memanggil.
2.    (a). Karena syubhat adalah sesuatu yang belum jelas tentang kehalalannya dan keharamannya, boleh jadi hal itu diharamkan sehingga ketika dia mau melakukannya dia mengatakan ini suatu yang syubhat saja (memudah-mudahkan dalam melakukannya) padahal dia sudah jatuh kepada yang haram. Atau boleh jadi dia menganggapnya suatu hal yang samar dan dianggap makruh, tapi kalau dia sudah sering  melakukan yang makruh maka suatu saat sampai ke yang haram dia masih menganggap biasa-biasa saja. Seperti orang yang mengatakan (meskipun kita tidak setuju) bahwa rokok hukumnya hanya makruh, maka suatu saat dia akan mencoba teman-temannya (minuman keras, ganja, morfin, dan lain-lain) hingga mengantarkan kepada suatu yang haram.
(b). Ini adalah masalah yang belum jelas apakah halal atau haram tapi dia syubhat baginya dan dia melakukannya, dan ternyata dia adalah hal yang diharamkan.
    Karena itulah, maka sikap yang tepat dalam masalah ini adalah dengan menjauhi syubhat. Tapi bagaimana dengan orang yang sebenarnya hal itu tidak syubhat baginya ? untuk kasus seperti ini maka tidak apa-apa dia mengamalkannya/ melakukannya, namun menjauhinya lebih afdhal, dan kalau dia mau melakukannya maka sebaiknya tidak dihadapan manusia untuk menyelamatkan kehormatannya dihadapan manusia, sebagaimana Rasulullah  menjelaskannya.
    Contoh lain adalah minum berdiri (ada khilaf tentang  hukumnya makruh atau mubah) sebaiknya kita meninggalkannya, walaupun kita yakin bahwa itu makruh. kecuali jika ada sekelompok masyarakat yang sepakat tentang keharamannya, maka kita boleh menjelaskan bahwa hal itu tidak sampai kepada yang haram. sebagaimana yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma, beliau berada dihadapan para shahabat dan beliau minum berdiri untuk menunjukkan bahwa hal ini sebenarnya tidak sampai pada hal yang diharamkan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari An Nazzal bin Sabrah berkata :
ÃóÊóì Úáìøñ ÑÖì Çááå Úäå ÈÇÈó ÇáÑøóÍÈÉö ÝÔÑöÈó ÞÇÆãÇð ¡ æ ÞÇá : Åäí ÑÃíÊõ ÑÓæáó Çááåö Õáì Çááå Úáíå æ Óáã ÝÚá
ßãÇ ÑÃíÊõãæäìö ÝÚáúÊõ  ( ÑæÇå ÇáÈÎÇÑí )
“Ali radhiyallahu ‘anhu masuk ke pintu halaman masjid lalu minum berdiri dan berkata : sungguh saya telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuat sebagaimana saya perbuat ini”.
    Ada tiga masalah yang juga termasuk syubhat :
1.    Masalah yang hukum asalnya halal, tapi dia menjadi syubhat ketika kita tidak mengetahui apakah hukum asalnya itu sudah berubah atau tidak. Seperti seorang laki-laki dengan istrinya. Hukum asal istrinya adalah halal baginya, tapi dia pernah menthalaq istrinya lalu dia ragu apakah dia sudah thalaq 3 atau belum. Disaat seperti maka yang kita ambil adalah hukum asalnya, karena yang kita yakini bahwa halal (istri halal) lalu yang muncul selanjutnya keraguan. Dalam hal ini berlaku kaidah “ ÇáíÞíä áÇ íÒÇá ÈÇáÔøß  “ (keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan keraguan). Ini juga terjadi ketika kita shalat, kita yakin kita sudah bersuci sebelum shalat dan ketika kita shalat ada di perut kita bunyi seakan-akan mau buang angin, lalu kita ragu apakah kita sudah buang angin atau tidak. Maka kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  ketika ditanya tentang seseorang yang mengalami hal tersebut :

(( ÅÐÇ æÌÏ ÃÍÏßã Ýí ÈØäå ÔíÆÇ ÝÃÔßá Úáíå ÃÎÑÌ ãäå ÔíÁ Ãã áÇ ÝáÇ íÎÑÌ ãä ÇáãÓÌÏ ÍÊìø íÓãÚ ÕæÊÇ Ãæ
   íÌÏ ÑíÍÇð  ))  ãÓáÜã
“Apabila salah seorang diantara kamu mendapatkan (merasakan) sesuatu diperutnya sehingga meragukan apakah mengeluarkan sesuatu darinya ataukah tidak, maka janganlah dia keluar dari masjid sampai dia mendengar suara atau mencium bau” (HR. Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu  ).
Karena hukum asalnya adalah sudah bersuci dan ini tidak boleh dibatalkan karena syubhat yang muncul.
2.    Masalah yang keharamannya sudah jelas, tapi kita ragu apakah hukumnya itu sudah berubah atau tidak. Contohnya makan binatang yang sudah menjadi bangkai. Lalu timbul keraguan bahwa apakah dia sudah disembelih dengan sembelih yang syar’i atau tidak. Maka disini yang diambil adalah hukum asal yaitu haram. sebagaimana kisah yang pernah terjadi pada shahabat Adi bin Hatim  yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :
“Ketika Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu menceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kejadiannya,  beliau  berkata  : Ya Rasulullah  saya sudah melepaskan anjing yang sudah saya ajarkan dan saya sudah mengucapkan basmalah ketika melepaskannya, lalu ketika saya mendapati anjing saya disitu juga ada buruan (bangkai) dan juga ada anjing lain yang tidak pernah saya ajari sebelumnya dan tidak saya kenali pemiliknya. Maka Rasulullah berkata : Jangan kamu makan (hasil buruan tersebut). Karena hukum asal bangkai adalah haram dan yang kamu ajarkan hanya anjingmu saja dan boleh jadi yang menangkap buruan adalah anjing orang lain, oleh karena itu jangan kamu makan”.
Dalam Al Qur’an surat Al Maidah : 4 , Allah shubhaanahu wa ta’ala berfirman :
 íÓÆáæäß ãÇÐÇ ÃÍá áåã ¡ Þá ÃÍá áßã ÇáØíÈÇÊ æãÇ ÚáãÊã ãä ÇáÌæÇÑÍ ãßáÈíä ÊÚáãæäÜåä ããÜÇ Úáãßã Çááå ¡
ÝßáæÇ ãã ÃãÓßä Úáíßã æÇÐßÑæÇ ÇÓã Çááå Úáíå æ ÇÊÞæÇ Çááå Åä Çááå ÓÑíÚ ÇáÍÓÇÈ   (ÇáãÇÆÏÉ : 4)
“Mereka menanyakan kepadamu : “Apakah yang dihalalkan bagi mereka ?”. Katakanlah : “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya” (Al Maidah :4 )
Jadi anjing yang sudah diajarkan dan ketika dilepaskan mengucapkan basmalah maka hasil buruannya dapat dimakan. Kata Ibnu Qayyim Al Jauziyah  ÑÍãå Çááå ini menunjukkan keutamaan ilmu. Anjing saja yang diajarkan (berilmu) berbeda dengan anjing yang tidak diajarkan. Anjing yang tidak diajarkan maka hasil buruannya tidak halal untuk dimakan.
3.    Hal-hal yang belum jelas tentang kehalalannya atau keharamannya, maka hal ini harus ditinggalkan. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapatkan kurma di rumahnya dan beliau tidak tahu apakah kurma itu sedekah atau hadiah, maka beliau meninggalkannya. Sebenarnya kurma adalah halal, namun masalah bagi Rasulullah apakah kurma itu sedekah atau hadiah dan kemungkinannya sama kuat. Karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “kalau saya tahu dia adalah hadiah tentu saya akan memakannya”. Namun karena beliau tidak tahu maka beliau meninggalkannya. Dengan demikian, kalau tidak jelas hukumnya maka kata para ulama sebaiknya meninggalkannya.
… ßÇáÑÇÚì íÑÚì Íæá ÇáÍãì íæÔß Ãä íÑÊÚ Ýíå …
Permisalan orang yang melakukan syubhat yang suatu saat akan jatuh pada yang haram. Salah satu manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ta’lim adalah menyampaikan sesuatu dengan permisalan. Ini adalah Manhaj Nabawi bahkan Manhaj Rabbani, Manhaj yang Ilahi. Allah shubhaanahu wa ta’ala juga menyebutkan permisalan-permisalan supaya kita berpikir dan untuk mendekatkan pemahaman kita terhadap apa yang dijelaskan. Permisalan itu tidak dibuat begitu saja oleh Allah tapi supaya kita bertafakkur dan mengambil ibrah darinya, sebagaimana firman Allah shubhaanahu wa ta’ala  dalam surat Al Ankabut (29) : 43 ,
 æ Êáß ÇáÇãËÇá äÖÑÈÜåÇ ááäÜÇÓ  æãÇ íÚÞáåÇ ÇáÇ ÇáÚÇáãæä     ( ÇáÚäßÈæÊ : 43 )
“Dan perumpamaan-perumpamaan ini kami buatkan untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu (Al Ankabut : 43)”.
Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah ÑÍãå Çááå dalam kitabnya Miftah Daar As Sa’adah mengatakan bahwa ada sekitar lebih 40 permisalan yang disebutkan Allah shubhaanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an dan hanya orang berakal/ berilmu saja yang dapat memahaminya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengikuti manhaj Allah shubhaanahu wa ta’ala dalam ta’lim, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak memberikan permisalan, baik permisalan itu berupa perkataan (seperti pada hadits ini) atau permisalan yang beliau gambarkan di tanah atau selainnya.
Disini dikatakan “ßÇáÑÇÚì íÑÚì Íæá ÇáÍãì íæÔß Ãä íÑÊÚ Ýíå  “, seperti seorang pengembala yang membawa gembalaannya disekitar  ÇáÍãì "" (batasan), kalau dia tidak hati-hati (membiarkan saja gembalaannya) maka boleh jadi gembalaannya itu akan melewati batasannya dan akan pindah ke tempat orang lain sehingga mengambil makanan dan rumput-rumput dari tetangganya. Dan inilah bahayanya orang yang memudah-mudahkan masalah syubhat. Ketika dikatakan ini masalah syubhat, tapi dia mengatakan ini belum jelas haram jadi tidak apa-apa melakukannya, sehingga suatu saat akan jatuh pada yang haram dan dia tidak merasa bersalah dengan hal tersebut. Mengenai hal ini ulama kita mengatakan bahwa “Salah satu hukum fiqh tentang bagaimana bila ada seorang pengembala membawa gembalaannya ke dekat rumput/ tanah orang lain dan ternyata gembalaannya itu makan rumput orang lain. Maka kalau dia tidak waspada dan tidak menjaga dengan baik gembalaannya itu dan dia biarkan begitu saja (dia mendekatkan gembalaannya itu ke dekat tempat orang lain) maka dia mesti membayar jaminan. Namun jika dia telah berusaha untuk senantiasa memperhatikan lalu gembalaannya itu memakan rumput orang lain maka tidak mengapa”.
…ÃáÇ æ Åä áßá ãáß Íãìð …
“ ÃáÇ “ (ketahuilah)  dalam istilah bahasa arab adalah harfu iftitah litanbih, untuk mengingatkan dan menarik perhatian orang tentang pentingnya masalah tersebut.
“áßá ãáß Íãìð   “  (setiap raja ada batasan-batasannya/ daerah kekuasaannya). Sebagian mengatakan bahwa “ãáß “ adalah raja-raja orang arab, namun yang shahih (Wallahu a’lam) adalah raja-raja secara umum dan setiap raja itu mempunyai daerah kekuasaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri membuat batasan-batasan, sehingga Madinah mempunyai batasan, yaitu sejauh 12 mil dari Madinah, dan dalam batasan itu orang dilarang untuk mencabut apa yang tumbuh diatasnya, dilarang memotong pohon-pohon diatasnya dan dilarang membunuh hewan-hewan disana. Demikian pula Umar radhiyallahu ‘anhu juga membuat batasan untuk ibil sadaqah (hewan yang digunakan untuk berzakat diberikan batasan untuk berumput). Pada masa kekhalifahannya juga dibuat batasan-batasan pada pemerintahan dan untuk hal-hal yang diharamkan (untuk dihilangkan).
… ÃáÇ æ Åä Íãì Çááå ãÍÜÇÑãå …
    Sesungguhnya batasan-batasan Allah shubhaanahu wa ta’ala adalah hal-hal yang diharamkan-Nya.  Dan Allah shubhaanahu wa ta’ala melarang kita untuk melanggarnya, bahkan Allah shubhaanahu wa ta’ala  melarang kita untuk mendekatinya. Dan inilah kaidah “ ÓÏ ÇáÐÑÇÆÚ “ tindakan pencegahan untuk melakukan hal-hal yang diharamkan. Jika ada suatu hal yang diharamkan, maka apa saja yang bisa menyebabkan terjadinya hal yang diharamkan tersebut maka dia juga dilarang. Karenanya dalam kaidah : “æÓÇÆá áÜåÇ Íßã ÇáãÞÇÕÏ  “ (wasilah-wasilah itu sama hukumnya dengan tujuannya). Jika sesuatu itu haram maka jalan yang digunakan untuk mencapainya hukumnya juga haram. sedangkan jika suatu tujuan halal maka jalan yang digunakannya juga harus halal.
    Dalil tentang tidak bolehnya melewati batasan-batasan Allah adalah firman Allah shubhaanahu wa ta’ala dalam surat Al Baqarah : 229,
… Êáß ÍÏæÏ Çááå ÝáÇ ÊÚÊÏæåÇ ¡ æ ãä íÊÚÏø ÍÏæÏ Çááå ÝÃáÆß åã ÇáÙÇáãæä    ( ÇáÈÞÑÉ : 229 )
“Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa yang melangar hukum-hukum Allah mereka itu orang-orang yang dzalim (Al Baqarah : 229)”.
    Dalil tentang dilarangnya mendekati batasan-batasan Allah shubhaanahu wa ta’ala, walaupun belum melakukan hal yang diharamkan adalah sebagaimana dalam firman Allah shubhaanahu wa ta’ala  :
… Êáß ÍÏæÏ Çááå ÝáÇ ÊÞÑÈæåÇ . ßÐáß íÈíä Çááå ÂíÇÊå ááäÇÓ áÚáåã íÊÞæä       ( ÇáÈÞÑÉ : 187 )
“Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertakwa (Al Baqarah : 187)”.
Inilah kaidah “ ÓÏÇ ááÐÑÇÆÚ “. Contohnya : Zina. Sebenarnya yang dilarang adalah zina, tapi banyak hal yang bisa mendekatkan kita pada zina., dan Allah shubhaanahu wa ta’ala  telah melarang dengan firman-Nya :
 æáÇ ÊÞÑÈæÇ ÇáÒøäì ¡ Åäøå ßÇä ÝÇÍÔÉ æ ÓÇÁ ÓÈíáÇð      ( ÇáÅÓÑÇÁ : 32 )
“ Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Al Isra’ : 32)
Ulama kita berkata bahwa yang dilarang/ diharamkan sebenarnya adalah zinanya, tetapi mendekati suatu yang dilarang/ haram itu bisa mengantar kepada yang haram, karena itulah Allah  melarangnya.
Makanya syariat kita melarang apa saja wasilah-wasilah yang bisa mengantar kepada zina. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita berkhalwat karena itu mengantar kepada zina dan Rasulullah juga melarang kita berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram, bahkan sekedar memandang juga dilarang, sebagaimana firman Allah shubhaanahu wa ta’ala :
  Þá ááãÄãäíä íÛÖøæÇ ãä ÃÈÕÇÑåã æíÍÝÙæÇ ÝÑæÌåã ¡ Ðáß ÃÒßì áåã ¡ Åä Çááå ÎÈíÑ ÈãÇ íÕäÚæä     
( ÇáäæÑ : 30 )
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman :“Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (An Nur : 30)
 æÞá ááãÄãäÇÊ íÛÖÖä  ãä ÃÈÕÇÑåäø æíÍÝÙä ÝÑæÌåäø      ( ÇáäæÑ : 31 )
“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman :”Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya” (An Nur : 31)
  
Contoh lain : Minuman keras. Minuman keras dilarang karena dapat menyebabkan mabuk, dan yang memabukkan sebenarnya adalah banyaknya. Tetapi sedikit juga dilarang karena bisa mengantar kepada yang banyak, dalam artian jika dia sudah suka maka dia bisa terus sampai mabuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Semua yang banyak jika memabukkan, maka sedikitpun diharamkan” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dari shahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma  ).
   
Demikian pula contoh lain : Jika berpuasa dilarang mendekati istri. Sebenarnya yang dilarang pada saat berpuasa adalah berjima’ tetapi sesuatu yang bisa mendekatkan kita kepada hal itu maka dia juga dilarang. Karena itulah sebagian ulama juga melarang mencium istri ketika sedang berpuasa padahal hal itu pada hakikatnya tidak dilarang secara hukum, tidak ada nash-nash yang menjelaskan larangannya dan sebagian ulama membedakan larangannya antara yang masih muda dan yang sudah tua, kalau yang tua tidak mengapa sedangkan yang masih muda dilarang.
   
Dan sudah banyak contoh dalam sunnah Rasulullah dan kehidupan kita bahwa orang yang memudah-mudahkan mendekati suatu yang haram maka suatu ketika dia akan jatuh kepada yang haram itu. Orang-orang yang bermuamalah dengan orang-orang yang banyak melakukan maksiat maka dia tidak akan aman dari perbuatan maksiat. Mungkin awalnya dia tidak ridho terhadap perkara maksiat itu dan menganggapnya sebagai sarana dakwah dan lain-lain tapi sedikit demi sedikit suatu saat dia akan ridho dengan semua itu. Contoh dalam kehidupan kita, seorang yang hidup di dekat sampah, pada awalnya tidak akan senang dan merasa terganggu tapi lama kelamaan dia tidak akan terganggu lagi karena sudah terbiasa.
  ÃáÇ æ Åä Ýí ÇáÌÓÏ ãÖÛÉ ÅÐÇ ÕáÍÊ ÕáÍ ÇáÌÓÏ ßáå æ ÅÐÇ ÝÓÏÊ ÝÓÏ ÇáÌÓÏ ßáå ÃáÇ æ åí ÇáÞáÈ
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup hadits ini dengan tanbih lagi, karena yang akan diucapkan adalah masalah yang penting dan masalah yang kelihatannya baru, padahal ini ada kaitannya dengan masalah yang telah disebutkan sebelumnya. Karena masalah meninggalkan syubhat ditentukan oleh masalah hati.
Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ÑÍãå Çááå  mengatakan bahwasanya hati itu sebagaimana kata Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu adalah pemimpin seluruh anggota tubuh dan seluruh anggota tubuh adalah tentaranya, baik tidaknya tentara ditentukan oleh pemimpinnya. Demikian pula anggota tubuh kita, baik buruknya (taat tidaknya) ditentukan oleh hati.
Ada beberapa hukum yang berkaitan dengan masalah ini, diantaranya yang sering dipermasalahkan yaitu : apakah akal ada di hati kita atau ada di kepala.  Adapun mengenai hati, disepakati bahwa tempatnya di dada, sebagaima dikatakan oleh Rasulullah  :
“ ÇáÊÞæì åÇ åäÇ  ( ÑæÇå ãÓáã )   “Taqwa itu ada di sini “ (dan beliau menunjuk ke dadanya). Artinya bahwa taqwa itu ditentukan oleh hati, dan hati telah ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ada di dada. Yang kadang jadi permasalahan adalah akal. Apakah akal itu di hati ataukah di kepala. Dan ini banyak disebutkan oleh ulama-ulama kita diantaranya, Imam Nawawi  ÑÍãå Çááå dalam kitabul Al Minhaj (Syarhu Shahih Muslim), ketika menjelaskan hadits “Wanita itu kurang akalnya”, beliau sempat menyebutkan khilaf ulama tentang di mana letak akal. Beliau mengatakan bahwa kebanyakan dari Madzhab Syafiiyah mengatakan akal ada di hati, dengan dalilnya adalah :
… áåã ÞáæÈ áÇ ÈÝÞåæä ÈåÇ …      ( ÇáÇÚÑÇÝ : 179 )
”Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah)” (Al-A’raaf : 179).
Dan juga dalilnya :
 ÃÝáã íÓíÑæÇ Ýí ÇáÃÑÖ ÝÊßæä áåã ÞáæÈ íÚÞáæä ÈåÇ …        ( ÇáÍÌø  :  46)
“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami…”  (Al Hajj : 46)
Dan sebagian mengatakan akal letaknya di kepala. Sebagian yang lain mengatakan akal letaknya di kepala dan erat hubungannya dengan hati. Tapi masalah ini tidak perlu diperpanjang, seperti dikatakan oleh syaikh Utsaimin dan Imam Nawawi sendiri tidak mentarjihnya dan hanya menutup khilaf tersebut dengan perkataan Wallahu Ta’ala A’lam.
Di akhir hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan tentang pentingnya hati karena hatilah yang menentukan baik tidaknya anggota tubuh kita. Dan dalil-dalil yang menunjukkan tentang hal tersebut diantaranya :
 íæã áÇ íäÝÚ ãÇá æ áÇ Èäæä . ÅáÇ ãä ÃÊì Çááå ÈÞáÈ Óáíã       ( ÇáÔÚÑÇÁ : 88-89 )
“(yaitu) di hari harta dan anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (Asy Syu’araa’ : 88-89).
Allah  telah menjelaskan bahwa modal yang paling berharga di hari kiamat kelak adalah Qalbun Salim (hati yang selamat). Harta yang banyak tapi tidak dengan hati yang bersih maka tidak ada manfaatnya di sisi Allah .
Diantara dalil yang lain yaitu bahwa Allah shubhaanahu wa ta’ala tidak melihat dari tinggi rendahnya derajat seseorang, juga bukan dari harta, kecantikan dan kejelitaannya, tapi dari hatinya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  :
æÚä ÃÈí åÑíÑÉ ÚÈÏ ÇáÑÍãä Èä ÕÎÑ ÑÖì Çááå Úäå ÞÇá ¡ ÞÇá Ñ Óæá Çááå Õáì Çááå Úáíå æ Óáã : (( Åä Çááå ÊÚÇáì
 áÇ íäÙÑ Åáì ÃÌÓÇãßã æ áÇ Åáì ÕæÑßã æ áßä íäÙÑ Åáì ÞáæÈßã ))  ÑæÇå ãÓáã
“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak melihat bentuk badan dan rupamu, tapi langsung melihat (niat dan keikhlasan) dalam hatimu” (HR. Imam Muslim)
    Tapi  tidak boleh seseorang mengatakan bahwa yang pentingnya hatinya bagus, tapi tidak pernah beramal. Sebab yang dimaksud adalah kebaikan hati yang disertai dengan amalan. Sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
(( æ áßä íäÙÑ Åáì ÞáæÈßã  æ ÃÚãÇáßã  ))  ÑæÇå ãÓáã
“… Tapi yang Allah nilai adalah kebaikan hati-hati kalian dan amalan-amalan kalian”.
    Sebenarnya tanpa penyebutan “amalan” dalam hadits ini sudah cukup, bahwasanya Allah hanya melihat hati-hati kalian. Karena hati yang baik pasti menghasilkan amalan yang baik. Tapi untuk lebih menegaskan dan untuk membuang syubhat-syubhat orang yang menganggap yang penting hatinya baik, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  menyebutkan “ … æÃÚãÇáßã   “.
  
Suatu amalan dhohir yang kelihatannya sama dilakukan oleh 2 orang, maka yang bisa membedakan derajatnya di sisi Allah shubhaanahu wa ta’ala adalah hatinya. Seorang yang melakukan suatu amalan karena ta’zhim kepada Allah  dan yang lainnya karena takut dicela, maka yang membedakan derajatnya di sisi Allah adalah hatinya itu. Ibnu Qayyim Al Jauziyah ÑÍãå Çááå menukil dari Hassan bin Athiyah ÑÍãå Çááå , beliau berkata : “Ada dua orang yang sama-sama mendirikan satu shalat, tapi ada perbedaan antara keduanya, seperti perbedaan antara langit dan bumi. Yang demikian ini terjadi karena salah seorang  menghadapkan hatinya kepada Allah, sedangkan yang satunya lagi lalai dan lengah. Jika seorang berhadapan dengan orang lain, sementara diantara keduanya ada pembatas, maka keduanya tentu tidak bisa saling bertatap muka dan berdekatan. Lalu bagaimana jika dia berhadapan dengan Allah ?”. Jadi keduanya berada di shaff yang satu, berdampingan, pundaknya saling bersentuhan, di belakang imam yang satu, shalat keduanya sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi yang membedakannya di sisi Allah  adalah hatinya.
   
Ulama membagi hati dalam tiga kelompok :
1.    Qalbun Salim (hati yang selamat)
Yang dimaksud adalah hati yang selamat/ bersih dari segala macam kesyirikan, bid’ah serta syahwat/ maksiat kepada Allah, sehingga hatinya penuh dengan kecintaan kepada Allah shubhaanahu wa ta’ala, dan semua amalannya adalah karena Allah shubhaanahu wa ta’ala. Inilah orang mu’min yang benar keimanannya dan imbalannya adalah syurga.
2.    Qalbun Al Mayyit (hati yang mati)
Lawan dari hati yang salim. Hati seperti ini dimiliki oleh orang-orang kafir. Hatinya tidak bisa lagi dihidupkan, dan tidak berguna lagi peringatan-peringatan kepadanya. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah :
 Åä ÇáÐíä ßÝÑæÇ ÓæÂÁ Úáíåã ÁÇäÐÑÊÜåã Çã áã ÊäÐÑåã áÇ íÄãäæä . ÎÊã Çááå Úáì ÞáæÈÜåã æ Úáì ÓãÚåã æ
 Úáì ÃÈÕÇÑåã ÛÔÇæÉ æøáåã ÚÐÇÈ ÚÙíã     ( ÇáÈÞÑÉ : 6-7 )
“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau kamu tidak beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup dan bagi mereka siksa yang amat berat” (Al Baqarah : 6-7)
3.    Qalbun Maridh (hati yang sakit)
Ini adalah hati yang dimiliki oleh orang-orang munafik dan mukmin yang lemah iman, dan hati ini juga bisa berkarat, dan sakitnya hati disebabkan oleh maksiat-maksiat yang kita lakukan. Hati jenis ini bisa diobati, jika diberi peringatan-peringatan akan sembuh, ketika  diingatkan dengan adzab Allah kembali lagi lagi pada keimanannya, dan timbul lagi semangat pada dirinya,  berbeda dengan hati yang mati tidak ada lagi faidah baginya peringatan. Namun dituntut bagi setiap muslim untuk menjaga hatinya dari segala bentuk penyakit dan caranya yang paling tepat adalah dekat dengan Al Qur’an, karena Al Qur’an itu diturunkan sebagai obat bagi yang dihati. Sebagaimana firman Allah  :
 íÇÃíåÇ ÇáäÇÓ ÞÏ ÌÂÁ Êßã ãæÚÙÉ ãøä ÑøÈßã æ ÔÝÂÁ áãÇ Ýì ÇáÕÏæÑ æ åÏì æøÑÍãÉ ááãÄãäíä     ( íæäÓ : 57 )
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran ( maksudnya Al-Qur’an) dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Yunus : 57)
    Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah ÑÍãå Çááå , ketika menafsirkan firman Allah :
æ ÞÇá ÇáÑÓæá íÇ ÑÈø Åä Þæãì ÇÊÎÐæÇ åÐÇ ÇáÞÑÂä ãåÌæÑÇ . æßÐáß ÌÚáäÇ áßá äíìø ÚÏæøÇ ãøä ÇáãÌÑãíä ¡
æ ßÝì ÈÑÈß åÇÏíÇð æøäÕíÑÇð      ( ÇáÝÑÞÇä : 30-31  )

Artinya:“Berkatalah Rasul : “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan. Dan seperti itulah, telah kami adakan bagi tiap-tiap Nabi musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi Petunjuk dan Penolong” (Al Furqan : 30-31)
       Beliau (Ibnu Qayyim) mengatakan bahwa termasuk meninggalkan (tidak mengacuhkan) Al Qur’an adalah ketika kita tidak menjadikan Al Qur’an sebagai obat, terutama obat bagi penyakit di dalam hati.
Dan yang paling bisa menyembuhkan penyakit yang ada di dalam hati adalah Al-Qur’an. Dan Allah juga mengibaratkan dalam ayat lain sebagai dzikir kepada Allah shubhaanahu wa ta’ala .
… ÃáÇ ÈÐßÑ Çááå ÊØãÚä ÇáÞáæÈ      ( ÇáÑÚÏ : 28 )
“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah hati menjadi tenang” (QS.Ar Ra’du:28)
Dan seafdhal-afdhal dzikir adalah Al Qur’an. Karena itulah kalau kita mau memperbaiki anggota tubuh kita, maka yang kita perbaiki adalah hati kita dengan pendekatan Al Qur’an.
    Hadits ini juga menjadi hujjah yang jelas sekali bagi kita terhadap kesalahan orang-orang yang mengaku hatinya baik, lalu tidak mengamalkan perintah-perintah Allah shubhaanahu wa ta’ala dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ulama kita mengatakan : ketika orang ramai-ramai mengaku cinta kepada Allah dan Rasulullah, lalu Allah  menurunkan satu ayat sebagai batu ujian bagi siapa yang mengaku cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, apakah memang benar pengakuan cintanya itu, yaitu dengan firman-Nya :
 Þá Åä ßäÊã ÊÍÈæä Çááå ÝÇÊøÈÚæäí íÍÈÈßã Çááå æ íÛÝÑáßã ÐäæÈßã æ Çááå ÛÝæÑ ÑÍíã      ( Çá ÚãÑÇä : 31 )
“Katakanlah : Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Ali Imran : 31)
Jadi untuk mengetahui cinta seseorang kepada Allah shubhaanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah dengan mengikuti sunnah, dan ini adalah sebagai bantahan yang sangat jelas sekali kepada orang yang hanya sekedar mengaku-ngaku cinta kepada Allah  dan Rasul-Nya namun tidak  mengamalkan sunnah Rasulullah, bahwa mereka dusta dengan pengakuannya itu.
Karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan hadits ini sebagai bantahan terhadap orang-orang yang mengaku hatinya baik tapi tidak beramal, karena Rasulullah mengatakan “Kalau hati baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh”, maksud dari baiknya seluruh anggota tubuh adalah semua anggota tubuh tunduk kepada Allah shubhaanahu wa ta’ala. Sehingga jika kita melihat seseorang tidak melakukan/ mengamalkan sunnah, maka kita katakan hatinya berpenyakit. Hadits inilah yang menjadi hakim/ pemutus bagi orang-orang yang mengaku hatinya baik tapi tidak mau mengamalkan sunnah, bahwa pengakuan mereka dusta.
Sangat penting bagi kita untuk memperhatikan masalah hati. Fenomena yang terjadi sekarang adalah umat khususnya pemuda-pemuda yang mau bangkit dan begitu semangatnya melakukan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ini perlu disyukuri,  maka seharusnya diingatkan kepada diri kita dan mereka agar memperhatikan masalah hati. Dhahir seseorang memang merupakan suatu tanda tapi kadang orang melihat dhahirnya dan melupakan masalah hati. Dikatakan oleh para ulama, kadang seseorang begitu baiknya dari segi gerakan, dari segi sunnah tapi ia tidak mendapatkan balasan kecuali 1/2 nya, 1/3 nya, atau 1/8 nya atau tidak sama sekali, karena masalah hatinya. Sebagaimana dalam hadits dari shahabat Ammar bin Yasir  , beliau berkata : saya mendengar Rasulullah  bersabda :
 Åöäøó ÇáÑøóÌõáó áóíóäúÕóÑöÝõ æóãóÇ ßõÊöÈó áóåõ ÅöáøóÇ ÚõÔúÑõ ÕóáóÇÊöåö ÊõÓúÚõåóÇ ËõãúäõåóÇ ÓõÈúÚõåóÇ ÓõÏúÓõåóÇ ÎõãúÓõåóÇ ÑõÈúÚõåóÇ ËõáõËõåóÇ äöÕúÝõåóÇ ﴾ ﴿     “Sesungguhnya seorang hamba telah melaksanakan shalat namun tidak dicatat baginya pahala kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahnya” (HR. Abu Dawud dan Ahmad dan dishahihkan oleh Al Iraqy)
Hati sangat membantu dalam melakukan amalan-amalan yang sulit dilakukan. Karena ada amalan-amalan yang sangat sulit dilakukan kecuali oleh orang-orang yang diberikan taufik oleh Allah. Bahkan begitu banyak orang yang sanggup melakukan amalan-amalan dhohir tapi untuk bangun shalat shubuh saja begitu beratnya, karena yang menentukan adalah masalah hati. Dengan kebersihan hati seseorang maka Allah akan membantunya untuk melakukan amalan-amalan yang begitu berat dilakukan. Bagi seseorang yang sudah beriltizam dengan agama ini, masalah hati sangat penting untuk diperhatikan. Karena ulama mengatakan : “Tasyabbuh bukan hanya masalah zhahirnya saja tetapi juga masalah batin”. Karena ciri-ciri umat terdahulu yang dicela bukan hanya masalah lahir saja tapi juga masalah batin. Salah satu bentuk tasyabbuh adalah kekerasan hati seperti yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi.  Allah  berfirman :
 Çáã íÃä ááÐíä ÂãäæÇ Ãä ÊÎÔÚ ÞáæÈåã áÐßÑ Çááå æãÇ äÒá ãä ÇáÍÞø æ áÇ íßæäæÇ ßÇáÐíä ÃæÊæÇ ÇáßÊÇÈ ãä ÞÈá
 ÝØÇá Úáíåã ÇáÃãÏ ÝÞÓÊ ÞáæÈÜåã  æßËíÑ ãäåã ÝÇÓÞæä      ( ÇáÍÏíÏ : 16 )
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara adalah orang-orang yang fasik” (Al Hadiid : 16).
    Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu  berkata ayat ini (Al Hadiid : 16) turun tidak beberapa lama sesudah mereka masuk islam, dan ini menunjukkan pentingnya masalah hati tersebut. Jika bagi masyarakat awam perlu kita tekankan masalah dhahir karena banyak yang mengabaikan masalah ini, maka bagi mereka yang sudah melakukan yang dhahir dan mau beriltizam dengan syariat perlu ditekankan masalah hati ini.

PERIWAYATAN(TAKHRIJ) HADITS
    Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam shahihnya dan juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam shahihnya, dan juga diriwayatkan oleh seluruh Kutubussittah.
    Hadits ini juga diriwayatkan dari shahabat yang lain, yaitu dari Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud , Ammar bin Yasir, dan Jabir bin Abdullah ÑÖì Çááå Úäåã ÃÌãÚíä , tetapi periwayatannya lemah.

Wallohu Ta’ala A’lam

 

Artikulli paraprakSyarah Hadits Ke-5 Arbain
Artikulli tjetërPernyataan Sikap Wahdah Islamiyah Menyikapi Palestina & Lebanon

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini