Syarah Hadits Ke-4 Arbain

Berikut ini kami lanjutkan penjelasan hadits Arbain:

Úóäú ÃóÈöí ÚóÈúÏö ÇáÑøóÍúãäö ÚóÈúÏö Çááåö Èúäö ãóÓúÚõæúÏò   ÞóÇáó : ÍóÏøóËóäóÇ ÑóÓõæúáõ Çááåö  æóåõæó ÇáÕøóÇÏöÞõ ÇáúãóÕúÏõæúÞõ (( Åöäøó ÃóÍóÏóßõãú íõÌúãóÚõ ÎóáúÞõåõ Ýíö ÈóØúäö Ãõãøöåö ÃóÑúÈóÚöíúäó íóæúãðÇ äõØúÝóÉð Ëõãøó íóßõæúäõ ÚóáóÞóÉð ãöËúáó Ðóáößó Ëõãøó íóßõæúäõ ãõÖúÛóÉð ãöËúáó Ðóáößó Ëõãøó íõÑúÓóáõ Åöáóíúåö Çáúãóáóßõ ÝóíóäúÝõÎõ Ýöíúåö ÇáÑøõæúÍó æó íõÄúãóÑõ ÈöÃóÑúÈóÚö ßóáóãóÇÊò ÈößóÊúÈö ÑöÒúÞöåö æó ÃóÌóáöåö æóÚóãóáöåö æó ÔóÞöíøñ Ãóæú ÓóÚöíúÏñ ¡ ÝóæóÇááåö ÇáøóÐöíú áÇó Åöáåó ÛóíúÑõåõ Åöäøó ÃóÍóÏóßõãú áóíóÚúãóáõ ÈöÚóãóáö Ãóåúáö ÇáúÌóäøóÉö ÍóÊøóì ãóÇ íóßõæúäó Èóíúäóåõ æóÈóíúäóåóÇ ÅöáÇøó ÐöÑóÇÚñ ÝóíóÓúÈöÞõ Úóáóíúåö ÇáúßöÊóÇÈõ ÝóíóÚúãóáõ ÈöÚóãóáö Ãóåúáö ÇáäøóÇÑö ÝóíóÏúÎõáõåóÇ¡ æóÅöäøó ÃóÍóÏóßõãú áóíóÚúãóáõ ÈöÚóãóáö Ãóåúáö ÇáäøóÇÑö ÍóÊøóì ãóÇ íóßõæúäó Èóíúäóåõ æó ÈóíúäóåóÇ ÅöáÇøó ÐöÑóÇÚñ ÝóíóÓúÈöÞõ Úóáóíúåö ÇáúßöÊóÇÈõ ÝóíóÚúãóáõ ÈöÚóãóáö Ãóåúáö ÇáúÌóäøóÉö ÝóíóÏúÎõáõåóÇ )) . ÑóæóÇåõ ÇáÈõÎóÇÑöíøõ æó ãõÓúáöãñ

Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud telah berkata : Telah bersabda Rasulullah  dan dia selalu benar dan dibenarkan : “Sesungguhnya setiap orang diantaramu dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya 40 hari berbentuk nutfah, kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga, kemudian menjadi gumpalan seperti potongan daging selama itu juga, kemudian diutuslah kepadanya malaikat, lalu meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan atasnya (menulis) 4 perkara: (1) ketentuan rezkinya, (2) ketentuan ajalnya, (3) amalnya, (4) ia celaka atau bahagia.Maka demi Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain-Nya, sesungguhnya seseorang diantara kamu melakukan perbuatan ahli syurga sehingga tidak ada diantara dia dan  syurga  itu kecuali sehasta, maka mendahuluilah atasnya takdir Tuhan, lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka maka ia pun masuk neraka. Dan sesungguhnya seseorang diantara kamu melakukan perbuatan ahli neraka sehingga tidak ada diantara dia dan neraka itu kecuali sehasta, maka mendahuluilah atasnya takdir Tuhan, lalu ia melakukan perbuatan ahli syurga maka ia pun masuk syurga” Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

KEUTAMAAN HADITS INI
Keutamaan Hadits ini karena membahas bagaimana proses penciptaan manusia dan juga pembahasan Qadha dan Qadar yang merupakan salah satu Rukun Iman yang terpenting dimana tidak sempurna keimanan seseorang tanpa iman kepadanya. Hadits ini juga mengandung faedah-faedah yang lain yang dipetik dan telah dijelaskan oleh para ulama kita

 BIOGRAFI SAHABAT PERAWI HADITS
Nama beliau Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil bin Habib Al Hudzali dan kuniyah beliau Abu Abdirrahman. Ibu beliau Ummu Abdi termasuk diantara sahabat Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wasallam yang perempuan.

*Abdullah bin Mas’ud adalah sosok sahabat yang  sebelum masuk Islam hanyalah seorang remaja lemah dan miskin, yang menerima upah sebagai penggembala kambing milik Uqbah bin Abi Mu’aith. Namun setelah ia masuk dan ditempa dalam Islam maka beliau kemudian menjadi  seorang yang faqih atau ahli hukum ummat Muhammad shallalllahu ‘alaihi wasallam   sebagaimana sabda Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wasallam yang memberi wasiat kepada para sahabat agar menjadikan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu sebagai pegangan :
"Ambillah petunjuk dari petunjuk Ammar dan  Ibnu Ummi ‘Abdi (Abdullah bin Mas’ud) radhiyallohu ‘anhuma" (HR. Ahmad)
"Dan berpegang teguhlah kepada petunjuk Ammar dan apa saja yang disampaikan Ibnu Mas’ud   kepada kalian maka benarkanlah" (HR. Ahmad)
dan beliau tulang punggung para huffazh (penghafal) Al-Qur’an Al-Karim, inipun sebagaimana yang diwasiatkan oleh Rasulullah  agar mencontoh bacaannya, dan mempelajari cara membaca Al-Qur’an darinya :
ó"Barangsiapa yang suka membaca Al-Qur’an secara tepat sebagaimana diturunkan,hendaklah ia membaca sesuai bacaan  Ibnu Ummi ‘Abd (Abdullah bin Mas’ud)" (HR. Ibnu Majah)

*Beliau merupakan seorang sahabat yang sangat terkenal dari segi ilmu sebagai seorang alim dan dari segi amal beliau dikenal sebagai seorang abid (ahli ibadah) dan seorang mujahid yang tidak pernah absen dalam setiap perjuangan (jihad) di masa Rasulullah, begitupun di masa para khalifah sepeninggal beliau shallalllahu ‘alaihi wasallam.

*Selain itu beliau juga dikenal dengan keberaniannya sebagai orang pertama yang berani -setelah Rasulullah – mengumandangkan Al-Quran meski harus mempertaruhkan nyawa di hadapan kaum Quraisy Makkah.  Sebagaimana yang pernah dikisahkan oleh Zubair shallalllahu ‘alaihi wasallam .

*Sebelum Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wasallam masuk ke rumah Arqam, Abdullah bin Mas’ud telah beriman kepadanya dan merupakan orang keenam yang masuk Islam dan mengikuti Rasulullah. Dengan demikian ia termasuk Assabiqunal awwalun (golongan yang pertama-tama masuk Islam).

*Beliau juga dikenal sebagai sosok sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wasallam sehingga Abu Musa Al Asy’ari  pernah mengatakan : "Saya telah melihat Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wasallam  dan tidaklah saya melihat kecuali Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu  termasuk keluarganya" Beliau khadim (pelayan) Rasulullah yang senantiasa melayani bantal, siwak dan sandal beliau shallalllahu ‘alaihi wasallam, Namun kedekatan beliau dengan Rasulullah tidak menambah pada diri beliau kecuali hanya bertambah khusyu’ dan tambah baik akhlaknya.

*Beliau juga sangat berhati-hati dalm menyampaikan sabda Rasulullah  karena begitu takutnya akan lupa, hingga menaruh kata di tempat yang lain sampai-sampai badannya bergetar setiap menyebutkan "Saya dengar Rasulullah menyampaikan hadits dan bersabda …

*Demikian pula ia terkenal dengan kerasnya menentang bidah. Di antara perkataan beliau yang menunjukkan ketegasan beliau terhadap bid’ah adalah :
 “Ikutilah  Sunnah  dan jangan berbuat bid’ah karena telah dicukupkan bagi kalian dan hendaknya kalian berpegang teguh kepada urusan (orang) yang terdahulu
Sederhana dalam mengerjakan sunnah lebih baik dari bersusah payah dalam mengerjakan bid’ah
Ketika beliau mendapati orang yang berdzikir memakai batu-batuan dengan khusyu’ beliau mengatakan :
 “ Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi ia tidak   mendapat kebaikan itu “.

*Beliau wafat di Medinah (ada yang mengatakan di Kufah) pada tahun 32 H (ada yang mengatakan tahun 33 H.)

Syarah Hadits
Dalam hadits ini Abdullah bin Mas’ud berkata :
…Telah menyampaikan/menceritakan kepada kami…
Maknanya  seperti  perkataan : " íÞæá  ÓãÚÊ ÑÓæá Çááå ”  atau “ ÞÇá ÑÓæá Çááå   
namun kata “ÍÏËäÇ” ini mempunyai kandungan yang lebih kuat.

"…yang selalu benar dan dibenarkan…"
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memulai hadits ini dengan sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : yang selalu benar dan  dibenarkan karena suatu sebab yang telah dijelaskan oleh ulama hadits kita yaitu karena hal yang akan disebutkan dalam hadits ini berkaitan dengan hal yang ghaib. Olehnya itu perlu didahului untuk menegaskan sifat Rasulullah  (ÇáÕøóÇÏöÞõ ÇáúãóÕúÏõæúÞõ ) Untuk menjelaskan bahwa apa yang disampaikan Rasulullah, walaupun masalah yang ghaib adalah benar adanya. Karena kita ketahui bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada asalnya tidak mengetahui yang ghaib kecuali apa yang Allah kabarkan kepadanya. Karena itulah, Abdullah bin Mas’ud  menjelaskan bahwa apa yang beliau sebutkan ini adalah suatu yang benar dan telah dibenarkan, sesuai sifat  Rasulullah tersebut. Merupakan keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah bahwa tidak ada suatu makhlukpun mengetahui yang ghaib kecuali yang telah diberitahukan oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya dalam QS.72 : 26-27

artinya :“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan belakangnya”

Walaupun dalam hadits ini terkandung pengabaran tentang hal keduniaan (terbentuknya manusia secara biologis) yang mana sebagian orang tidak menerima pengabaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam khususnya yang     berkenaan     dengan  masalah     keduniaan    dengan   berdalih    pada perkataan Rasulullah  :
“ÃäÊã ÃÚáã ÈÃãæÑ ÏäíÇßã”.
 Padahal perkataan Rasulullah ini tidak boleh diberlakukan secara umum dan hanya dipakai pada kasus yang sesuai dengan kisah dalam hadits tersebut (yatu masalah benih tanaman) dan asalnya kabar Rasulullah harus diterima kecuali bila telah dikoreksi oleh Rasulullah.

Di dalam surah Az Zumar : 33 ada isyarat dari Allah tentang sifat Ashshadiqul masduq :
  “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya mereka itulah orang- orang yang bertaqwa”
Ayat ini mengandung pujian Allah kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dalam kisah Isra’ Mi’raj.
Demikian pula di surah An Nisaa : 69, Allah berfirman :
 “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul.Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, para Shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”
Disini Allah memuji para Nabi, para Shiddiqin, para syuhada dan Allah mendahulukan shiddiqin daripada syuhada. Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini menerangkan kepada kita akan keutamaan sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dibandingkan sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah penghulu para shiddiqin sedangkan Umar radhiyallahu ‘anhu adalah penghulu para syuhada. Dan di ayat ini Allah menyebutkan shiddiqin lalu syuhada menunjukkan kemuliaan Abu Bakar lalu Umar bin Khattab.
Hadits ini membahas tentang penciptaan Bani Adam dan semakna dengan beberapa ayat di dalam Al Qur’an, diantaranya:
“Hai Manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur) maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna  kejadiannya dan tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah pada kedewasaan, dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui apapun yang dahulu diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah” (QS Al Hajj : 5)

…Sesungguhnya setiap orang diantaramu dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya  empatpuluh hari berbentuk nutfah…”
Hal ini berlaku untuk semua Bani Adam (sesuai penjelasan hadits ini), namun dikecualikan untuk Bapak kita Nabi Adam alaihissalam (lihat surah Al Mu’minun : 17). Kemudian Allah mentashwir (membentuk rupa dan wajah) sekitar empatpuluh hari pula. Dalam Riwayat Muslim disebutkan bahwa tashwir terjadi sesudah lewat nutfah empat puluh dua hari, dan sebagaimana yang diisyaratkan dalam QS. 3 : 6
 “Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tidak ada Tuhan(yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Dari hal ini ada beberapa masalah fiqhiyah yang dikhilafkan oleh para ulama (yaitu status bayi sebelum 120 hari/sebelum ditiupkan ruh) :
1. Bila ia lahir sebelum 120 hari, belum dishalatkan karena belum adanya ruh dan bila lahir setelah 120 hari (4 bulan) dishalatkan (ini pendapat yang rajih).
2. Apakah seorang wanita dapat menggugurkan kandungannya sebelum ditiupkan ruhnya ?
– Sebagian ulama mengatakan  boleh digugurkan bila kurang dari 120 hari dengan alasan hal ini sama dengan azl (azl adalah seseorang yang berhubungan dengan istrinya lalu menumpahkan nutfahnya di luar).
– Pendapat yang rajih walaupun kurang dari 120 hari  dan belum ditiupkan ruh, namun karena Allah telah mentashwirnya dan hal ini tidak sama dengan ‘azl sebab nutfah telah masuk ke dalam rahim wanita maka tidak boleh digugurkan. Pendapat ini dipilih oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan ulama-ulama lain.
– Adapun bila lebih dari 120 hari, semua ulama bersepakat ketidakbolehannya.

“…Kemudian diutuslah kepadanya malaikat lalu meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan atasnya menulis  empat perkara :1. Ketentuan rezkinya; 2. Ketentuan ajalnya; 3. Amalnya; 4. Ia celaka atau bahagia…”

Salah satu tugas malaikat adalah sebagai wakil rahim bagi seorang ibu sebagaimana pada setiap manusia ada dua malaikat yang senantiasa mencatat amalnya maka ada malaikat yang mencatat empat hal pada bayi yang akan lahir. Malaikat ini tidak diketahui namanya (karena tidak dijelaskan dalam hadits) sebagaimana kebanyakan malaikat tidak diketahui namanya dan hanya kita ketahui tugasnya, misalnya malaikat pemikul Arsy, malaikat yang bertasbih di dekat Allah dan lain-lain. Yang kita ketahui namanya hanya beberapa saja (kurang dari 10).
Tugas malaikat ini adalah meniupkan ruh, dan masalah ruh ini banyak dikhilafkan dan kita serahkan saja pada Allah sesuai firmanNya
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. 17:85)

“… dan diperintahkan atasnya menulis empat perkara …”
Hal ini menunjukkan ada empat hal yang dicatat (pada tiap bayi) dan termasuk dalam salah satu jenis kitabah. Al kitabah ini ada beberapa macam, diantaranya ada 5 macam kitabah yang telah dijelaskan oleh sebagian ulama  kita yaitu :
1. Kitabah Ammah (penulisan umum)
Yaitu yang tercantum pada Lauh Mahfuzh. Semua yang terjadi di bumi ini sejak pertama hingga akhir yaitu sejak adanya langit dan bumi hingga hari kiamat semua telah tercatat pada Lauh Mahfuzh.
2. Kitabah Hauliyah (penulisan pertahun)
Yaitu kitabah yang terjadi pada malam Laulatul Qadr, sebagaimana yang diberitakan dalam QS Ad Dukhan (44):3-4
 sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul,
, pada tiap malam Lailatul Qadr turun malaikat untuk mencatat urusan manusia dalam satu tahun tentang rezki, ajal dan seterusnya.
3. Kitabah firrahim { yang dituliskan pada tiap anak yang akan lahir}
    sebagaimana yang kita bahas dalam hadits ini.
4. Kitabah untuk  penulisan tiap amalan manusia
, yaitu tiap manusia didampingi oleh dua malaikat yang mencatat amalan-amalan kita, (Raqibun Atid/Kiraman katibin  sifat malaikat tersebut dan bukan namanya)
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. 50:18)
Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. ( QS. 82:10-11)
5. Kitabah  hari Jum’at, yaitu  kitabah  yang  ditulis  malaikat  tiap  hari  Jum’at,
    diriwayatkan :
 “Tiap hari Jum’at ada malaikat yang berdiri dipintu masjid dan mencatat setiap orang yang datang lalu ia tuliskan seseorang bagai menyembelih unta, bagaikan menyembelih kambing, kemudian bagaikan menyembelih ayam dan seterusnya hingga khatib telah menaiki mimbar, maka malaikat menutup buku catatannya.” (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Khuzaimah , dll)
Kitab yang tidak mungkin berubah adalah kitab yang pertama, sedangkan kitab yang ke-3 ini diikhtilafkan oleh para ulama, apakah akan berubah atau tidak. Yaitu apakah rezki manusia yang dicatat oleh malaikat sebelum dia lahir bisa berubah atau tidak.
Sebagian ulama mengatakan  tidak dapat  berubah lagi dan sebagian mengatakan dapat berubah dengan amalan-amalan tertentu.
– Pendapat pertama : mengatakan tidak dapat berubah sama sekali, karena hal itu sudah ditetapkan (telah dicatat) sebelum ia lahir.
– Pendapat kedua :mengatakan hal ini dapat berubah jika kita berusaha.
Dalam beberapa hadits dapat dipahami bahwa umur dan rezki seseorang dapat berubah jika kita melakukan amalan-amalan tertentu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah mengatakan:
“Tidak menolak qadar kecuali doa”.
Dan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah,  Rasulullah juga bersabda :
 “Barangsiapa yang menyukai diluaskan rezkinya dan dipanjangkan  umurnya, maka hendaklah menyambung silaturrahim. (HR.Bukhari)
Hadits shahih ini mengisyaratkan umur dapat bertambah dan rezki menjadi lapang dan bertambah bila melakukan hal tersebut, dan bila tidak melakukan amalan tersebut maka umur dan rezkinya tetap (tidak mengalami perubahan) sesuai dengan yang telah dituliskan oleh malaikat ketika ia dalam rahim ibunya.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa bertambahnya umur dan menjadi luasnya  rezki (sesuai yang dikatakan dalam hadits) bukan makna yang hakiki tapi bertambah yang dimaksud bertambah berkah saja, jadi bertambah umurnya berarti bertambah berkah pada umurnya, misalnya umur yang telah ditetapkan baginya di rahim ibunya adalah 40 tahun bukan berarti ditambah menjadi 60 tahun, namun tetap 40 tahun hanya ditambah berkah pada umurnya tersebut.
Di dalam surah Ar Raad : 39
Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).
diisyaratkan bahwa ada catatan yang dihapus dan diganti. Yang telah tetap dan itu adalah catatan yang ditulis dalam Ummu Kitab (Lauh Mahfuzh). Adapun kitabah yang ketiga ini sebagian mengatakan dapat berubah. Wallahu A’lam.
Adapun Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah  beliau cenderung pada pendapat tidak berubah, karena panjangnya umur (yang diungkapkan dalam hadits) mengandung makna akan berkahnya umur, dan makna umur yang berkah adalah umur yang hakiki, karena pada dasarnya orang yang umurnya tidak berkah adalah mayyit dan orang yang beribadah itulah orang yang hidup. Maka jika seseorang beribadah berarti ia dipanjangkan umurnya yaitu ia dapat hidup yang sebenarnya, sebagaimana yang diterangkan dalam QS. Al Anfal : 24.
artinya :“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dengan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu dikumpulkan.”
Berarti orang yang tidak menyambut seruan Allah dan Rasulnya pada hakikatnya ia tidak hidup, dan perintah-perintah Allah itulah yang menghidupkan kita.

Jadi ada 4 (empat) hal yang ditetapkan bagi manusia yang akan lahir, diantaranya :
1. Rezki
Rezki seseorang telah dicatat oleh Allah melalui malaikat, karena itu seorang muslim harus mempunyai aqidah bahwa rezkinya telah ditetapkan oleh Allah. Dalam sebuah hadits dikatakan :
“Tidak meninggal anak cucu Adam sampai ia telah mengambil seluruh rezki yang telah ditetapkan oleh Allah”.
Artinya ketika seseorang meninggal dunia ia telah mengambil seluruh rezki yang diberikan oleh Allah dan ia telah memanfaatkan semua rezki tersebut. Hendaknya seorang muslim tidak mengkhawatirkan masalah rezkinya. Apalagi seorang kadang takut ikut memperjuangkan Islam ini karena takut masalah rezki. Karena perjuangan Islam ini sepertinya tidak menjanjikan apa-apa dari perhiasan dunia, dan orang-orang yang terjun ke dalamnya akan mendapatkan kehidupan yang tidak layak, bahkan ketika seseorang berjuang di jalan Islam sepertinya rezkinya selalu dihalangi. Aqidah seorang muslim yang benar tidak perlu takut masalah rezki, karena hal tersebut telah diatur oleh Allah. Bahkan bukan hanya manusia yang telah ditanggung oleh Allah, tetapi binatang melatapun telah Allah tetapkan rezkinya dan tidak satu makhlupun kecuali telah ditetapkan rezkinya oleh Allah. Sebagaimana yang telah dijelaskan pada QS. Hud : 6,
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezki dan Dia mengetahui berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)                                         ”
Karena itulah seorang muslim tidak boleh khawatir masalah rezki untuk dirinya dan anak keturunanya dan merupakan aqidah yang bathillah apabila seseorang membunuh anaknya karena takut miskin. Ini menunjukkan rusaknya aqidah seseorang dan tidak meyakini janji Allah. Oleh karena itu janganlah seseorang mengira bahwa dialah yang memberi rezki pada anak-anaknya namun Allah-lah yang menjamin rezki tersebut. Jangan berfikir bila anak bertambah rezki ita tidak cukup untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak , tapi kita harus yakin bahwa tiap anak yang lahir maka ada rezkinya tersendiri. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma menanyakan pada Rasulullah tentang dosa-dosa yang paling besar, lalu Rasulullah bersabda: “Kalian mempersekutukan Allah sedang Dia-lah yang menciptakanmu, kemudian kamu membunuh anakmu karena takut ia makan bersamamu, kemudian kamu berzina dengan istri tetanggamu. (HR. Bukhari & Muslim).
 Hal ini juga ditegaskan dalam 2 ayat Al Qur’an, di dalam QS. Al Isro’ : 31
Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.
dan QS Al An’am : 151.
Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).
Dalam kedua ayat tersebut jelas sekali menerangkan haramnya membunuh anak karena takut miskin, demikian halnya dengan usaha-usaha yang menuju ke arah tersebut, misalnya KB.  Maka bila seseorang melakukan program KB karena takut mempunyai anak, karena khawatir tidak cukup rezkinya untuk dibagikan kepada anak-anaknya, maka pemahaman yang seperti ini adalah aqidah bathil, dan usaha-usaha seperti ini hukumnya haram.
Dalam QS. Al Isra’ : 31,
artinya :“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin, Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kamu, sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”
Dalam QS. Al An’am : 151,
“Katakanlah : Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu, oleh Tuhanmu, yaitu : janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah kepada Ibu Bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).”

Dalam kedua ayat ini ada penekanan yang berbeda :
—  Dalam QS Al An’am : 151 dikatakan : “… Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka…”
Di ayat ini didahulukan “kum” (kamu) kemudian “hum”(mereka), maknanya bila ada seseorang memiliki anak dan anak tersebut telah lahir, tapi karena anaknya terlalu banyak ia menjadi khawatir rezki tersebut dimakan semua oleh anaknya dan ia tiidak mendapat bagian lagi, maka Allah mendahulukan “kum” lalu hum”, agar orang tersebut tidak usah khawatir dirinya tidak mendapat bagian rezki, sebab Allah telah menjamin dirinya lebih dahulu kemudian anak-anaknya.
—  Dalam QS. Al Isra : 31 dikatakan : “…Kamilah yang memberi rezki kepada mereka dan juga kamu…”
Di ayat ini didahulukan “åã "(mereka) kemudian “ßã” (kamu), maknanya : bila ada seseorang yang anaknya belum lahir, kemudian ia selalu melakukan usaha-usaha mencegah kelahiran anaknya, misalnya dengan melakukan KB, karena mengkhawatirkan tidak dapat memberi makan anak-anaknya, ia khawatir karena kemiskinannya ia tidak mampu  memberi makan pada anak-anaknya, ia takut ia mendapat dosa karena tidak memberi nafkah pada anak-anakanya.
Makanya Allah mendahulukan “åã” kemudian “ßã”, sehingga kamu tidak usah khawatir anak-anakmu tidak mempnyai rezki, karena Allah telah menjaminnya, bahkan Allah terlebih dahulu menjamin rezki mereka kemudian rezki kamu.
Sehingga sudah sangat jelas tidak dapat beralasan karena kemiskinan atau takut miskin ia mencegah kelahiran anaknya karena masing-masing orang telah Allah jamin rezkinya, bahkan telah Allah tuliskan (melalui malaikat) pada tiap anak Adam ketika ia masih berada di dalam kandungan ibunya. Dan ia tidak akan mati sampai ia menghabiskan rezki tersebut.
Adapun yang boleh sebagaimana dikatakan oleh ulama kita yaitu bila ada seorang wanita mencegah kelahiran/kehamilannya dengan pertimbangan kesehatan dan keselamatan. Adapun bila ada pertimbangan dari segi pendidikan dan pembinaan/tarbiyah anak-anaknya maka hal ini dibolehkan asalkan program tersebut tidak dilakukan untuk selama-lamanya (seterusnya) sebagaimana yang difatwakan oleh ulama-ulama kita.
2. Ajal
Ini merupakan aqidah seorang muslim bahwa Allah telah menetapkan dimana ia meninggal dan kapan ia meninggal dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui, karena ini adalah suatu hal yang termasuk “ãÝÇÊÍ ÇáÛíÈ” sebagaimana yang dikatakan Allah dalam QS. Lukman : 34.
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Dan ajal ini adalah suatu hal yang tidak bisa ditolak, dan ia adalah sesuatu yang tidak dapat ditakhirkan atau dikedepankan.    (QS. 7 : 34 / QS. 10 : 49 / QS.16:61). Bagaimanapun seseorang ingin membunuh dirinya, atau menangguhkan ajalnya, hal tersebut tidak dapat terjadi bila hal tersebut tidak dikehendaki oleh Allah. Bila seseorang sedemikian rupa menjauhkan dirinya dari kematian, dan menempati tempat-tempat yang menurut persangkaannya (persangkaan jahiliyah) bahwa tempat tersebut tak dapat dimaasuki oleh malaikat pencabut nyawa, maka hal ini adalah pertanda bahwa oramg tersebut tidak memahami aqidah ini. Sebagaimana Allah shubhaana wa taala terangkan dalam QS. An Nisa : 78, yang artinya :
“Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa seuatu bencana mereka mengatakan : “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah : “Semuanya ini(datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orasng-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sediitpun?”
Aqidah yang benar tentang takdir ini melahirkan satu amalan, seorang muslim tidak akan takut mati, dan ini membuat seorang muslim akan mencari mati yang terbaik, karena untuk menghindari mati adalah sesuatu yang mustahil. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran : 102,
“ Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”
Ini yang pertama harus kita perhatikan : bahwa kita hanya ingin mati dalam keadaan muslim, maka bila seseorang ingin mati dalam keadaan Islam maka ia pun terlebih dahulu harus hidup dalam Islam.
Kematian dalam Islam banyak modelnya. Seorang yang mati dalam Islam adalah orang yang mati dalam keadaan mengucapkan syahadat dan sangat banyak kaum muslimin yang mati dalam keadan ini, namun tetap saja tingkatannya berbeda. Yang paling mulia adalah syahadah fi sabilillah dan inilah yang dicari para sahabat, kematian yang senantiasa dicari oleh mereka-mereka yang mengenal hakikat hidup ini dan mengenal hakikat akhirat. Para sahabat adalah kaum yang berjihad fi sabilillah untuk mrncari syahadah ini. Dan yang mereka hadapi adalah kaum yang berqital untuk menghindari kematian. Hal ini ditegaskan oleh Khalid bin Walid ketika menghadapi pasukan musuh, berkata : “Kami datang bersama pasukan kami untuk mencari syahadah fi sabilillah. sebagaimana kalian datang untuk mempertahankan hidup kalian”.
Orang-orang kuffar berperang untuk mempertahankan hidup mereka, untuk menghindari kematian. Adapun kaum muslimin mencari kematian yang mulia, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits, diantaranya :
Dari Anas  dari  Nabi  bersabda : tidak ada jiwa yang mati di dalam jihad kecuali akan beroleh kebajikan di sisi Allah. Dia (jiwa tersebut) amat menyenangi seandainya dia dapat kembali semula ke dunia, sekalipun ia tidak mendapat apa-apa bahagian terhadap dunia dan isinya kecuali sebagai orang yang mati syahid. Sesungguhnya ia berharap dapat kembali semula ke dunia lalu terbunuh, Hal itu dikarenakan dia melihat/mengetahui kemuliaan syahid. (HR. Bukhari & Muslim)

Bahwa kematian yang paling mulia adalah maut fisabilillah disebutkan juga dalam :
•    QS. Al Baqarah : 154
 “ Dan janganlah kamu mengatakan bahwa terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa  mereka itu) mati, tetapi (sebenarnya)) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”

•    QS. Ali Imran : 169

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dan mendapat rezki.

Sehingga semua sahabat dalam jihad fi sabilillah ketika berangkat ke medan jihad tidak ada lagi pikiran untuk kembali ke kampung halaman. ‘Ubadah bin Shamit mengatakan : “Setiap para sahabat senantiasa berdoa kepada Rabbnya pagi dan petang agar mendapatkan syahadah fii sabilillah dan jangan sampai ia dikembalikan kepada negerinya, tempatnya,keluarganya dan anak-anaknya, tidak seorangpun mengharapkan apa yang telah dia  tinggalkan,  setiap kami telah menitipkan  keluarga dan anaknya kepada Allah. Kami hanya mencita-citakan  apa yang di depan  kami"”
Sehingga wajar saja kalau diantara mereka ada yang bersedih ketika tidak berhasil mendapatkan kematian yang mulia itu. Dan yang paling sedih adalah qoidul mujahidin Khalid bin Walid yang  digelari ÓíÝÇ ãä ÓíæÝ Çááå (pedang dari pedang-pedang Allah). Ia menangis ketika mau meninggal karena ternyata Allah menakdirkan beliau meninggal di atas ranjangnya. Dan beliau menganggap kematian di atas ranjang adalah kematian seorang wanita, sementara beliau dikenal sebagai seorang sahabat yang selalu berada paling depan karena beliau adalah seorang panglima dan ketika beliau meninggal banyak luka-luka yang berada di tubuh beliau.  ini menunjukkan bagaimana beliau selama ini berusaha mendapatkan maut fi sabilillah, namun Allah menakdirkan yang lain. Kita dapat melihat sahabat Khalid bin Walid ini adalah sahabat yang paling banyak melakukan peperangan, dan jihad merupakan profesi yang paling beliau gemari. Dikatakan oleh sebagian ahli siar bahwa beliau ini tidak terkenal sebagai seorang ahli ilmu di kalangan sahabat bahkan dikatakan bahwa beliau tidak menghafal seluruh Al Qur’an, dan banyak ayat Al Qur’’an yang belum beliau hafal. Namun beliau begitu gemar dalam jihad fisabilillah dan perhatian beliau  terhadap jihad begitu besar. Tak satu perangpun yang beliau tinggalkan. Namun beliau tidak meninggal di ma’rokah fi sabilillah, padahal boleh jadi seorang sahabat yang baru pertama kali berjihad sudah mendapatkan maut fisabilillah. Hal ini menunjukkan bahwa kematian itu ditangan Allah, dimana dan kapan kita meninggal cuma Allah Yang Mengetahui. Boleh jadi seseorang meninggal di tempat persembunyiannya, dan boleh jadi orang mencari-cari mati namnn tidak mendapatkan kematian tersebut.
Khalid bin Walid ketika menangis karena meninggal dalam keadaan seperti itu namun Rasulullah  menghibur dan mengatakan kepada para sahabat bahwa beliau tetap dicatat sebagai meninggal fisabilillah, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Barangsiapa yang meminta syahadah fisabilillah dengan shidq (jujur/benar) akan menyampaikan ia ke derajat syahid fisabilillah walaupun ia hanya meninggal di atas tempat tidurnya,” (HR. Muslim)
Jadi Khalid bin Walid ini sebagaimana yang dikhabarkan Rasulullah  bahwa beliau tetap syahid, walaupun syahidnya bukan syahid dunia dan akhirat karena syahid itu ada syahid dunia, syahid akhirat dan syahid dunia akhirat.
Karena itu hendaknya seorang Muslim bercita-cita untuk meninggal dengan cara yang terbaik, hendaknya ia banyak berdoa kepada Allah shubhaana wa ta’ala agar diberikan taufik kepadanya umtuk mati dalam keadaan muslim, dan yang afdhal lagi bila mati dalam keadaan yang terbaik yaitu syahadah fisabilillah, dan ini suatu hal yang disunnahkan. Adapun yang harus adalah seseorang mesti berjuang untuk memperjuangkan agama ini, sebagaimana hadits :
“Siapa yang meninggal dan belum pernah berperang dan tidak pernah meniatkan untuk itu, maka matinya adalah dalam salah satu cabang kemunafikan. (HR. Muslim)
Karenanya seorang muslim tidak boleh menghindari kematian. Dan tidak boleh ia meninggalkan perintah Allah  karena takut akan mati, sebagaimana orang-orang munafik ketika dipanggil untuk berperang mereka saling memandang satu sama lainnya, dengan pandangan yang ketakutan karena takut meninggal (QS. 47 : 20). Dan sebagaimana juga bila mereka dipanggil berjuang, mereka senantiasa beralasan dengan alasan-alasan yang tidak bisa diterima Ad Din ini, alasan kepanasan (QS 9 : 81), tidak ada yang menjaga rumahnya  (QS 33 : 13) dan sebagainya. Dan ini juga berlaku bagi seorang da’i. Seorang da’i harus berani menerima resiko dakwah ini, minimal ia dicela. Mungkin ia diintimidasi, bahkan mungkin ia akan dibunuh, sebagaimana firman Allah di QS Al Anfal : 30 :
artinya : “Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir memikirkan daya upaya terhadapmu dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu …”
Ini resiko seorang da’i, apakah ia akan ditangkap, akan dibunuh atau dikeluarkan dari kampungmu. Tidak boleh seorang da’i gentar dengan dakwahnya atau berhenti dari dakwahnya hanya karena ancaman-ancaman seperti ini, bahkan kita tahu bahwa ini adalah risiko perjuangan yang harus kita terima sampai kalau Allah shubhaana wa ta’ala menginginkan kita meninggal dalam dakwah fisabilillah. Dan inilah yang disebutkan dalam QS 33 : 39,
“(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allaa, mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak takut kepada (seorangpun) selain Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan.”
Sehingga bila kita melihat perjalanan para Nabi-nabi, mereka adalah da’i-da’i yang menghadapi resiko kematian. Nabiullah Ibrahim yang sampai beliau dibakar, begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat banyak kisah hidupnya yang menunjukkan seperti itu, bahkan ada dikalangan Nabi yang meninggal karena dibunuh oleh pengikutnya sendiri. Namun semua ini tidak membuat goyah perjuangan mereka. Berapa banyak orang saat sekarang ini yang begitu semangat dalam dakwah, namun ketika diancam sedikit, atau mendapat sedikit bagian dari dakwahnya atau resiko dari dakwahnya, maka ia langsung mencabut semua kata-katanya (lihat QS 29 : 10). Dan kita semua perlu berhati-hati dengan hal seperti ini. Dan kita berdoa kepada Allah untuk diteguhkan, dan mencintai kematian dan diberi kematian ang terbaik.
Mari kita ingat perkataan Syaikhu Islam Ibnu Taymiyah  ÑÍãå Çááå :
“Apakah yang diinginkan oleh musuh-musuhku terhadapku, karena sesungguhnya syurgaku didadaku, kemana saja saya pergi syurgaku selalu bersamaku tidak pernah meninggalkanku. Bila saya dipenjara, ini merupakan khalwat bagiku, saya diasingkan dari negriku, ini merupakan piknik bagiku. Dan kalau saya dibunuh, ini merupakan syahadah fisabilillah.”
Inilah semboyan yang senantiasa dipegang oleh seorang da’i yang siap meninggal fisabilillah. Inilah manfaat yang benar yang dapat kita petik dari aqidah kita (yang benar) terhadap kematian ini. Bahwasanya Allah telah menetapkan ajal kita sebelum kita lahir.

3. Amal
Amal seseorang juga telah ditetapkan oleh Allah shubhaana wa ta’ala. Para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Ya Rasulullah apakah amalan-amalan yang kami lakukan untuk sesuatu yang belum ditetapkan ataukah kami menuju kepada apa yang telah ditetapkan ?”, Rasulullah menjawab : “ Kepada sesuatu yang telah ditetapkan.” Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu untuk apa kita beramal (kita diam saja) lalu kita menuju apa yang telah Allah shubhaana wa ta’ala tetapkan.” Lalu sabda Rasulullah : “Beramallah, dan setiap orang dimudahkan dengan apa yang telah ditetapkan baginya.” Lalu Rasulullah membaca ayat 5 – 10 surah Al Lail.”
Barangsiapa yang bertaqwa dan memang telah ditetapkan baginya, maka Allah akan memudahkan baginya, sebaliknya siapa yang memang telah Allah tetapkan dia akan dipersulit maka ia tidak akan bisa menetapkan apa yang diinginkannya. Seorang muslim hendaknya beramal dan yakin bahwa bagaimanapun amalan yang dia lakukan dan usaha yang mesti kita lakukan secara sungguh-sungguh, maka keputusannya di tangan Allah shubhaana wa ta’ala. Olehnya seorang muslim harus banyak berdoa kepada Allah untuk ditetapkan kepadanya kebaikan. Disini juga dijelaskan bahwa kemudahan-kemudahan amal itu datang dari Allah shubhaana wa ta’ala, namun juga perlu diketahui tidak boleh seseorang, bila pada  awalnya ia merasa sulit melakukan kebaikan bahkan mungkin telah banyak terjerumus kepada kemaksiatan, lalu mengatakan : “Memang telah takdir saya mungkin menjadi orang jahat” Namun keyakinan Ahlussunnah wal jamaa’ah: tidak boleh seorang berhujjah dengan takdir dalam melakukan kemaksiatan. Maksudmya tidak boleh seseorang melakukan kemaksiatan, kemudian berkata “memang takdir saya berbuat ini” (misalnya berbuat zina) atau mengatakan “memang takdir saya mencuri saja”.
Di zaman Khalifah Umar bin Khattab pernah ditangkap seorang   pencuri , lalu pencuri itu akan dipotong tangannya, pencuri tersebut berkata : “Wahai Amirul Mukminin mengapa anda mau memotong tangan padahal Allah  telah menakdirkan saya mencuri, ini sudah takdir Allah shubhaana wa ta’ala”. Kata Umar radhiyallahu ‘anhu : “Kalau begitu Allah  juga telah menakdirkan tangan anda dipotong karena mencuri.”
Jadi dalam kemaksiatan kita tidak boleh berhujjah dengan takdir. Yang boleh berhujjah dengan takdir adalah dalam hal musibah-musibah, misalnya : Kita ditimpa musibah, kematian, kebakaran, dan sebagainya lalu kita mengatakan ini semua datang dari Allah shubhaana wa ta’ala sebagaimana yang difirmankan dalam QS 2 : 156
“Orang-orang yang bila ditimpa musibah, berkata sesungguhnya (semua) ini datang dari Allah dan (semua) ini akan kembali kepada Allah”
Orang yang berhujjah dengan takdir dalam masalah kemaksiatan, maka mereka itu beraqidah dengan aqidahnya orang-orang musyrik. Dalam QS Al An’am : 148 Allah berfirman :
Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan : “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak pula kami mengharamkan barang sesuatu apapun”. Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah ; “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga kamu dapat mengemukakannya kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta.

Kita wajib berusaha mencapai kebaikan ini dan seorang muslim hendaknya berprasangka baik kepada Allah shubhaana wa ta’ala dan orang-orang yang berprasangka buruk kepada Allah hanyalah orang-orang yang musyrik. Namun berprasangka baik kepada Allah tidaklah seperti yang dikatakan orang-orang Murjiah dengan mengatakan Allah Maha Pemurah dan Allah Maha Mengampuni dosa-dosa, karena itu mereka tidak beramal namun mengharapkan syurga Allah. Hal ini tidak benar. Berprasangka baik kepada Allah maksudnya kita berprasangka bahwa Allah menginginkan kebaikan pada kita, Allah menakdirkan  kepada kita syurga maka kita berusaha untuk meraih syurga itu.

4. Sengsara atau Bahagia
Allah telah menetapkan apakah seseorang itu sengsara atau bahagia. Dan hanya ada dua kemungkinan, seseorang akan beruntung atau merugi. Dan kesengsaraan atau kecelakaan hanya ada satu tempatnya yaitu neraka. Demikian pula kebahagiaan hanya ada satu tempatnya yaitu syurga, tidak ada tempat diantara keduanya, tidak ada tempat kesudahan selain syurga dan neraka. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam QS Hud : 105-106, 108:
 “Dikala datang hari itu, tidak ada seorangpun yang berbicara melainkan dengan izin-Nya, maka  diantara mereka ada yang celaka dan bahagia.” (105)“Adapun orang-orang yang celaka maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik napas (merintih)” (106)“Adapun orang-orang yang berbahagia maka tempatnya di dalam syurga mereka kekal di dalamnya selama ada langit  dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki yang lain, sebagai karunia yang  tidak ada putus-putusnya.”(108)
Hal ini  juga dapat dilihat pada QS. 42:7
Jadi hanya ada dua kemungkinan seorang masuk syurga atau masuk neraka.
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya diriwayatkan ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Ya Rasulullah apakah amalan-amalan yang kami lakukan untuk sesuatu yang belum ditetapkan ataukah kami menuju kepada apa yang telah ditetapkan ?”, Rasulullah menjawab : “ Kepada sesuatu yang telah ditetapkan.” Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu untuk apa kita beramal (kita diam saja) lalu kita menuju apa yang telah Allah shubhaana wa ta’ala tetapkan.” Lalu sabda Rasulullah : “Beramallah, dan setiap orang dimudahkan dengan apa yang telah ditetapkan baginya.”  

Hadits ini dilanjutkan dengan :  …Ýæ Çááå ÇáÐ í áÇÇáå ÛíÑå Çäø ÇÍÏßã…
Bagian akhir dari hadits ini diikhtilafkan oleh para ulama, apakah merupakan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau perkataan Abdullah bin Mas’ud. Bila ada perkataan dari perawi dan dimasukkan ke dalam hadits kemudian dianggap sebagai bagian dari hadits tersebut maka oleh ulama kita dinamakan mudraj. Contoh : perkataan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang wudhu. Beliau mengutip sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  :
ÇArtinya : Dari Abi Qathn dari Syababah, dari Syu’bah, dari Muhammad bin Ziyad, dari AbiHurairah, ia berkata : telah bersabda Rasulullah  :“Sempurnakan lah wudhu",  Kecelakaanlah api neraka bagi tumit-tumit yang tidak terkena air wudhu, ia akan dijilat api neraka.” (HR. Al-Khathib)
Ketika meriwayatkan hadits ini, beliau menyebutkan sebelumnya :  ö ÃóÓúÈöÛõæÇ ÇáúæõÖõæÁó artinya “Sempurnakanlah wudhu …”. Banyak orang yang menganggap perkataan ini adalah sabda Nabi . Setelah diteliti lebih lanjut akan kita dapati bahwa perkataan tersebut adalah perkataan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan bukan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dimasukkan dalam teks hadits sehingga disangka sabda Nabi . Hal ini ditegaskan oleh riwayat Bukhari. Karena omongan Abi Hurairah ada di permulaan matan maka  disebut mudraj pada permulaan.
Mudraj itu kadang terjadi ketika perawi hadits menafsirkan suatu masalah yang berkaitan dengan hadits tersebut, namun orang-orang yang datang setelah itu menganggap sebagai bagian dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun yang rajih dalam hadits kita ini bahwa bagian akhir ini juga merupakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bukan mudraj dari perkatanan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Wallahu a’lam

“Demi Allah yang tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersumpah untuk meyakinkan bahwa apa yang dikatakannya ini adalah sesuatu yang sangat benar dan sangat penting. Allah sendiri bersumpah di banyak ayat, untuk menunjukkan betapa pentingnya masalah yang disampaikan setelah sumpah itu tersebut. Sumpah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak bentuknya. Kadang beliau bersumpah dengan kata “Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya”, “Demi Allah”. Banyaknya bentuk sumpah ini tidak jadi masalah selama sumpah itu hanya ditujukan pada Allah shubhaana wa ta’ala. Tetapi kalau bersumpah atas nama selain Allah walaupun atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka itu tidak dibolehkan karena termasuk kesyirikan.
Tentang sumpah ini tidaklah disyariatkan untuk diperbanyak, artinya orang tidak boleh terlalu banyak bersumpah. Dan hal ini diingatkan oleh Allah dalam firmannya QS. 5 : 89.
 “Jagalah sumpah-sumpah kalian”
 Ada ulama yang menafsirkan jangan terlalu mudah bersumpah karena ketika kita banyak bersumpah dengan nama Allah itu menunjukkan kurangnya ta’zhimnya ( mengagungkan ) kepada Allah  .
Imam Muhammad bin Abdul Wahab rahimahulloh dalam kitab tauhidnya memasukkan masalah ini ke dalam syirik dengan lafazh; beliau menyebutkan ayat ini ke dalam pembahasannya tentang bagaimana menta’zhim asma dan sifat-sifat Allah  yang beliau beri judul : Bab Maa Jaa Fii Katsratil Halif  . Kesimpulannya, kita tidak boleh terlalu banyak bersumpah, namun kalau ada hal-hal yang sangat penting dan perlu ditekankan, maka boleh kita lakukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal ini karena masalah yang disampaikan adalah masalah yang sangat penting.
“Sesungguhnya salah seorang diantara kalian mengamalkan amalan ahli syurga sehingga tidak ada jarak yang memisahkan antara dia dan syurga kecuali satu hasta, tepi catatan (ketentuan) Allah telah mendahuluinya, kemudian ia mengamalkan amalan ahli neraka sehingga iapun masuk neraka. Ada salah seorang diantara kalian yang mengamalkan amalan ahli neraka hingga tidak ada jarak yang memisahkan dia dengan neraka, namun ketentuan Allah mendahuluinya iapun melakukan amalan ahli syurga sehingga iapun masuk syurga.”

Potongan terakhir hadits ini menunjukkan bahwa seseorang itu tidak mengetahui kesudahannya atau seseorang tidak boleh memastikan bahwa ia akan masuk syurga atau neraka. Kita tidak boleh mengatakan saya ahli syurga atau ahli neraka. Demikian juga dalam menilai orang lain, kita tidak boleh mengatakan bahwa orang itu ahli syurga atau ahli neraka, bagaimanapun amalannya di dunia ini.
Kalau kita melihat seseorang sejak kecil sampai tua terusaha beramal dengan amalan shaleh, maka kita tidak boleh memastikan bahwa dia ahli syurga. Demikian juga sebaliknya. Ini semua ada di tangan Allah shubhaana wa ta’ala. Orang yang beramal shaleh tidak boleh terpukau dengan amalan-amalannya, jangan ia menyangka  jika sekarang ia beriltizam/komitmen dengan agama ini,maka ia akan diakhiri dengan amalan tersebut. Allah shubhaana wa ta’ala yang lebih mengetahui hal tersebut, karena hati ini berbolak-balik sebagaimana kita dahulu sangat jauh dari Islam, sekarang kita diberi petunjuk dan pemahaman tentang keislaman ini dan beriltizam dengannya bukan tidak mustahil Allah akan mengembalikan kita dalam keadaan awal dahulu. Sehingga kita tidak boleh bangga dengan amalan-amalan kita dan tidak boleh kita yakin bahwa kita akan masuk syurga. Sebaliknya orang-orang yang terjerumus dalam kemaksiatan, tidak boleh mengatakan:" Saya ini memang cocok di neraka, saya ini nampaknya sudah ditetapkan sebagai penghuni neraka". Kita tidak boleh berputus asa dengan rahmat Allah shubhaana wa ta’ala.
Allah berfirman dalam QS. 39 : 53,
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
dan pada QS. 12 : 87:
  “.,..dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir"..”
Hadits ini kadang menimbulkan permasalahan bagi sebagian orang yang mengatakan untuk apa beramal dengan amalan baik sekarang ini, jangan-jangan kesudahan kita nanti adalah beramal dengan amalan ahli neraka. Kita katakan sejak awal bahwa Allah berfirman :
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah bertaqwa dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan muslim.
Kita wajib mati dalam keadaan muslim, dan mati dlam keadaan muslim tidak mungkin diraih kecuali kita hidup dalam keadaan Islam.
Orang yang bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa akan mati dalam keadaan muslim, yaitu ketika dia menjadikan kehidupannya kehidupan yang Islami. Dalam hadits ini dijelaskan bahwa ada orang yang tidak ikhlas dengan amalannya. Dan ini ditunjukkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari ketika seseorang ikut berjihad bersama Rasulullah kelihatan begitu bersemangatanya dalam membunuh orang-orang kafir. Para sahabat melihatnya dan melaporkannya kepada Rasulullah , dan beliau mengatakan bahwa ia adalah orang yang ditetapkan masuk neraka. Sahabat heran sehingga terus mempertanyakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah peperangan berakhir, orang tersebut didapati meninggal dengan senjatanya sendiri. Ternyata ia tidak sabar dalam menanggung luka-luka yang dideritanya, sehingga ia bunuh diri, dan akhirnya sahabat mengetahui kebenaran perkataan Rasuluuh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disitulah  Rasulullah bersabda :
Ada lelaki yang beramal seperti amalan ahli Syurga menurut pandangan manusia sedangkan dia adalah ahli Neraka. Ada juga lelaki yang beramal dengan amalan ahli Nerakamenurut pandangan manusia sedangkan dia adalah ahli Syurga  
Dalam riwayat Bukhari, Rasululullah menyatakan : orang yang beramal dengan amalan ahli syurga menurut apa yang dipandang manusia. Secara zhahir amalannya begitu baik, sebenarnya bukan amalan yang benar. Ia hanya riya’ atau mau dipuji, sehingga Allah menetapkan kesudahan yang tidak baik baginya. Dengan demikian kita tidak boleh tertipu dengan amalan manusia yang masih hidup karena boleh jadi kelihatannya baik tetapi tidak ikhlas kepada Allah shubhaana wa ta’ala.
Tentang  ÍÊì ãÇíßæä Èíäå æÈíäåÇ ÇáÇÏÑÇÚ ,
menurut Syekh Utsaimin sebenarnya bukan maksudnya amalannya banyak sekali sehingga sudah dekat dengan syurga, tetapi yang dimaksud adalah pada saat  sudah dekat ajal dia beramal dengan amalan-amalan buruk. Dalam riwayat Bukhari dikatakan :
 “Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung pada akhirnya”
Jadi apa yang kita usahakan berpuluh-puluh tahun namun disudahi dengan akhir yang tidak baik, maka tidak ada manfaatnya apa yang kita usahakan dahulu. karena itu seorang hendaknya memperhatikan yang akhirnya atau berusaha untuk husnul khatimah.
Berkaitan dengan masalah ini banyak kisah-kisah dari Salafushshaleh yang menunjukkan pentingnya untuk menjadikan kehidupan kita sejak awal kehidupan yang Islami. Seorang muhaddits (ulama hadits) yang terkenal di kalangan ahussunnah wal jama’ah yaitu Abu Zur’ah Ar Razi, beliau meninggal pada tahun 264 H. Beliau adalah salah seorang rekan Imam Al Bukhari. Di akhir hayatnya beliau memanggil murid-muridnya untuk membacakan hadits-hadits yang pernah beliau riwayatkan kepada mereka yaitu hadits-hadits yang diriwayatkan sanadnya bersambung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau ajarkan kepada murid-muridnya secara bersambung pula.
Beliau ingin mendengarkan hadits-hadits tersebut karena beliau sangat senang mempelajari hadits-hadits. Mulailah murid-muridnya membacakan hadits-hadits, mulai hadits pertama sampai hadits terakhir dan akhirnya beliau menemui ajalnya pada sebuah hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah yaitu :
 “Siapa yang akhir perkataannya di dunia ini Laa ilaha illallah masuk syurga "
Dan beliau meninggal pada saat membaca hadits ini.
Oleh karena itu hendaknya kita membiasakan diri dengan amalan-amalan yang baik, mencintai amalan kebaikan, sehingga pada saat kita membutuhkan pertolongan, Allah shubhaana wa ta’ala akan menyelamatkan kita. Kalau kebiasaaan kita dalam hidup ini adalah amalan-amalan yang buruk, maka kita akan dihukum dengan hukuman yang setimpal.
Ada orang yang dalam sakaratul mautnya meminta minum-minuman keras. Diantara kisah tentang akhir hayat ini dan amalan dipenghujung kehidupan kita, adalah kisah seorang yang bernama Abu Royah. Dia pernah menulis sebuah buku yang berjudul “Adhwaa ‘Alaa As Sunnah”  yang sampai sekarang buku tersebut selalu digunakan oleh-orang orientalis dalam memahami masalah-masalah sunnah, bahkan buku tersebut merupakan kebanggan mereka.
Dalam buku-buku tersebut dinyatakan begitu banyak tuduhan yang diarahkan kepada hadits-hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah Mereka menyatakan bahwa bagaimana mungkin Abu Hurairah bisa meriwayatkan hadits begitu banyak, padahal Abu Hurairah hanya + tiga tahun bersama Rasulullah, sehingga mereka banyak menolak hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.
Abu Royah ini adalah orang Mesir, dan ketika sudah banyak bukunya yang beredar, salah seorang ulama kita di Madinah (bernama Syekh Dhiyaurrahman Al A’zhomi) berangkat ke Mesir, untuk melihat siapa sebenarnya Abu Royah itu. Ketika ulama tersebut sampai ke tempat Abu Royah, anaknya tidak mengizinkan seorangpun untuk menjenguk Abu Royah yang saat itu sedang menghadapi sakaratul maut. Ulama ini mendesak untuk dan bersikeras untuk dapat bertemu dengan Abu Royah, akhirnya anak Abu Royah mengizinkan. Dan ketika beliau menemui Abu Royah, keadaannya sangat mengerikan sekali. Abu Royah dalam  keadaan sakaratul maut  dan hanya dapat menghadap ke tembok dengan wajah yang sangat menghitam dan mulut menganga dan hanya dapat berkata “Abu Hurairah… Abu Hurairah…” Dia seakan-akan menyesali celaannya selama ini kepada Abu Hurairah dan ia meninggal dalam keadaan yang demikian. Inilah contoh bahayanya jika seseorang menjalani kehidupannya dengan amalan-amalan yang buruk, maka ia mati dengan keburukannya tersebut.Kalau ia mati dalam keadaan seperti itu sudah jelas :    ÇäãÇ áÃÚãÇá ÈÇáÎæÇ Êíã. Juga disebutkan oleh ulama-ulama kita bahwa berapa banyak orang yang di akhir hidupnya diajarkan Laa ilaaha illallah namun dia tidak dapat menyebutnya. Ulama-ulama salaf kita tidak ada yang merasa aman dengan diri-diri mereka. Mereka menghitung dosa-dosa yang dilakukan selama ini, jangan-jangan belum diampui oleh Allah subhaana wa ta’ala. Yang mereka pikirkan juga bagaimana kesudahannya, apakah akan dicampakkan ke neraka atau dimasukkan ke dalam syurga.
Ada beberapa ayat dalam Al Qur’an yang berkaitan  dengan masalah-masalah ini :
1. QS. 23 : 57-61
ÅöSesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.
Allah subhaana wa ta’ala menceritakan bagaimana orang-orang mukmin itu begitu takutnya kepada Allah, dan orang-orang mukmin yang dimaksud adalah orang-orang yang rajin melaksanakan kebaikan, namun kekhawatirannya terhadap Allah sangat besar.
2. QS. 52 : 24-27
Allah menjelaskan  ahli-ahli syurga. Ahli syurga ketika saling bertanya mereka menyatakan sesungguhnya mereka sangat takut kepada Allah . Adapun sifat Ahli neraka adalah merasa aman dari siksa Allah. Tidak ada yang merasa aman dari siksa Allah kecuali orang-orang yang merugi.
3. QS. 7 : 97-99
“apakah penduduk kampung itu merasa aman Kami timpakan azab pada malam hari sedang mereka tidur, apakah mereka merasa aman akan ditimpakan azab diwaktu pagi, sedang merka bermain-main, apakah mereka merasa aman dari siksa Allah subhaana wa ta’ala ? Tidak ada yang merasa aman dari siksa Allah kecuali orang-orang yang merugi.
4. QS. 84 : 12-14
Mereka masuk ke neraka. Dulu mereka di keluarga mereka merasa senang-senang saja, tidak ada rasa takut kepada Allah  dan itulah ahli neraka. Lain dengan para generasi salaf yang merupakan generasi terbaik sepanjang hidup umat manusia justru sangat takut kepada Allah.
Dengan hadits ini membuat mereka sangat takut kepada Allah subhaana wa ta’ala dan mudah-mudahan dengan hadits ini juga, membuat kita lebih  dekat kepada Allah shubhaana wa ta’ala. Allahlah yang memberikan hidayah kepada orang yang dikehendaki dan memberikan kesesatan kepada siapa yang dikehendaki. Tidak ada yang dapat menghalangi keinginan Allah subhaana wa ta’ala. Tugas kita sekarang adalah meminta ketetapan pada hidayah tersebut dengan terus menambah amalan kita. Sifat hati ini berbolak balik. Kata Nabi  :
 “Sesungguhnya hati anak Adam terletak diantara dua jari jemari Allah, Dia  membolak-balikkannya sesuai dengan keinginan-Nya.” (HR. Tirmidzy dan Ibnu Majah). Karena itu kita minta kepada Allah agar ditetapkan pada kebaikan. Rasulullah  sendiri sering membaca doa :
. Wahai Yang Membolak-balikkan hati tetapkanlah hatiku di atas ad dien-Mu
Allah  juga mengajarkan kepada kita doa:
“Ya Allah, jangan kamu palingkan lagi hati kami ketika Kamu telah memberikan hidayah kepada kami, dan berikan dari sisi-Mu rahmat, sesungguhnya Kamulah yang banyak memberikan kepada hamba-hamba-Mu.”
Doa ini hendaknya kita banyak kita ucapkan. Seorang muslim ketika hidayah masuk pada dirinya, dia harus sadari bahwa itu adalah nikmat yang sangat besar dari Allah , maka harus dihargai dan dijaga serta takut jika meninggalkan kita. Kita juga harus tahu lawannya yaitu kesesatan, sehingga kita berusaha meninggalkan kesesatan-kesesatan tersebut.
Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :
 “Ada tiga hal yang jika terdapat pada seseorang dia  merasakan manisnya iman. Allah dan Rasul-Nya yang paling dicintainya selain keduanya,dia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan seseorang benci untuk kembali kepada kekufuran, sebagaimana bencinya untuk dicampakkan ke neraka” (HR.  Bukhari dan Muslim)
Maksiat yang pernah kita cintai kadang kembali menggoda kita, disaat itu kita harus benci kemaksiatan tersebut sebagaimana kita benci dicampakkan ke api neraka. Disitulah kita dapatkan  kelezatan iman.
Hidayah adalah nikmat Allah yang sangat besar dan harus dihargai nikmat yang dengannya kita dapat merasakan kebahagiaan yang kekal abadi. Oleh karenanya kita harus menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang dapat menjauhkan kita dari nikmat-nikmat tersebut, atau dapat merusak nikmat tersebut. Tidak merasa aman dari siksa Allah subhaana wa ta’ala dan tidak merasa lebih hebat  dari orang lain karena boleh jadi sekarang begitu baiknya tetapi di akhir hayatnya kita tidak baik.
Berkata Abdullah bin Mas’ud bahwa yang harus diangkat sebagai teladan adalah ulama-ulama salaf, bukan justru figur-figur yang datang belakangan, sebagaimana yang dilakukan oleh banyak aktifis Islam sekarang ini. Berkata Abdullah bin Mas’ud  :
“Barangsiapa diantara kalian yang mau mengikuti sunnah, maka hendaknya mengambil contoh kepada orang-orang yang sudah meninggal karena orang yang masih hidup tidak luput dari fitnah.”
Orang yang telah meninggal yang beliau maksudkan adalah para sahabat Nabi. Itulah contoh kita karena mereka telah dipuji oleh Allah  dan Rasulullah.
Adapun figur-figur setelah mereka boleh saja dipuji atau diidolakan namun tidak boleh dilebihkan dari ulama-ulama salaf. Sekarang banyak orang yang terkagum-kagum pada pemikiran tokoh-tokoh masa kini bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang baru dan tidak pernah dipikirkan oleh ulama-ulama salaf. Namun kadang-kadang figur mereka belakangan berkhianat dengan apa yang pernah dikatakannya. Itulah sebabnya Abdullah bin Mas’ud melarang mengidolakan orang yang masih hidup. Dan yang harus dijadikan contoh adalah Nabi dan para sahabatnya. Sehingga kita tidak boleh mengatakan “assyahid si fulan” atau “si fulan itu syahid”, karena hanya Allah yang tahu siapa yang syahid dan siapa yang tidak syahid. Kita tidak boleh memastikan seseorang ahli syurga atau ahli neraka kecuali yang Allah telah jamin. Salah satunya adalah generasi para sahabat.
Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang percaya kepada takdir Allah, bahwa Allah telah menetapkan kita sebagai ahli syurga atau ahli neraka, Kewajiban kita sekarang adalah beramal dan berharap kepada Allah mudah-mudahan akhir hidup kita ditutup dengan amalan-amalan baik dan bisa menjadi orang-orang yang istiqomah terhadap agama ini sampai ajal menjemput kita.
Mudah-mudahan hadits ini dapat kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin.

TAKRIJ HADITS
Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari & Muslim bahkan diriwayatkan oleh para penulis Kutubussittah,kecuali Imam Nasai, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya.

Artikulli paraprakAlqur’an Dan Akhlak Mulia
Artikulli tjetërSyarah Hadits Ke-5 Arbain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini