Syarah Hadits Ke-3 Arbain
Berikut ini kami tampilkan penjelasan hadits Ke-3 dari Arbain :

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ “

3. Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma telah berkata : Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sabda : “Islam dibangun atas 5 dasar : (1) Bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, (2) Mendirikan shalat, (3) Mengeluarkan zakat, (4) Mengerjakan haji ke Baitullah, dan (5) Puasa pada bulan Ramadhan.” Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim

SAHABAT PEROWI HADITS

Hadits ini dari Abu Abdurrahman yaitu kuniyah dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma  dilahirkan dua tahun setelah diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  adalah shahabat Rasulullah  yang sejak kecil sudah mengenal Islam, yaitu sebelum baligh bersamaan dengan keislaman bapaknya Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu kemudian berhijrah bersama ibu dan bapaknya dalam usia 11 tahun. Sejak usia dini yakni usia 14 tahun ia sudah berkeinginan mengikuti Perang Uhud bahkan sebelumnya perang Badar, akan tetapi belum dibolehkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk mengikutinya. Setelah usianya mencapai 15 tahun, baru dibolehkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk ikut perang, yaitu perang Khandaq. Dari sini sebagian Ulama berdalilkan bahwa umur baligh pada usia 15 tahun. Dan beliau tidak pernah ketinggalan Ghozwah maupun Sariyah (Perang kecil yang tidak diikuti oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ).

Sosok Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma adalah :

– Terkenal sebagai sahabat yang rajin beribadah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala sejak kecil.

  Dalam riwayat Muslim, Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  pernah bersabda:

Sebaik baik laki-laki adalah Abdullah (bin Umar), seandainya ia sering sholat malam dan banyak melakukannya

Maka semenjak itu, sampai beliau- Radhiyallahu ‘Anhuma  meninggal dunia tidak pernah meninggalkan qiyamullail baik dalam keadaan mukim maupun musafir. Beliau selalu melakukan sholat, membaca Al-Quran dan banyak berdzikir menyebut nama Allah Subhaanahu Wa Ta’ala

– Beliau termasuk 7 shahabat nabi yang merupakan periwayat hadits yang terbanyak  setelah Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dengan jumlah musnad Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma   sebanyak 2630. Kelima sahabat lain yaitu :

1.  Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu
2.  Aisyah Radhiyallahu ‘Anha
3.  Abdullah bin Abbas  Radhiyallahu ‘Anhuma
4.  Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu
5.  Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu

– Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma adalah orang yang bersemangat dalam melaksanakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bahkan tidak ada yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kecuali beliau pun akan melakukannya baik untuk sesuatu yang masuk akal maupun yang tidak diketahui hikmahnya. Bahkan pernah beliau istirahat di bawah pohon di dekat Madinah dengan berdalilkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah tidur di situ. Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Bazzar dengan sanad yang baik/hasan.[1] Padahal tidurnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di bawah pohon tersebut tidak termasuk sunnah yang harus diikuti namun demikianlah Abdullah bin Umar radhiyallohu anhuma begitu semangatnya dalam melaksanakan semua hal-hal yang pernah dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai bentuk kecintaannya kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Sehingga sebagian ulama ketika tidak terdapat hadits yang marfu’ maka mereka akan kembali melihat perbuatan Abdullah bin Umar radhiyallohu anhuma untuk kemudian berdalilkan dan menjadikan beliau sebagai hujjah

Misalnya dalam sholat Jenazah tidak disebutkan secara tegas dalam hadits-hadits marfu’ tentang angkat tangan pada  setiap takbir namun Abdullah bin Umar radhiyallohu anhuma pernah mengerjakan sholat jenazah dengan mengangkat tangannya, karena beliau adalah sosok sahabat yang selalu menegakkan sunnah maka kemudian para ulama bersandar kepada perbuatan beliau sehingga mensyariatkan mengangkat tangan pada takbir sholat Jenazah[2]. Demikian pula masalah mengangkat tangan dalam sholat Ied pada saat takbir 7 kali di rakaat pertama dan 5 kali di rakaat kedua tidak didapatkan hadits Rasulullah    namun kembali para ulama berdalilkan dengan perbuatan Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma.[3] Beliau wafat tahun 73 Hijriyah.

 SYARAH HADITS

 Dalam hadits ini disebutkan bahwa

“ Dari Abu Abdurrahman Abdillah bin Umar bin Khaththab  telah berkata : “ Aku telah mendengar Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda . . .”

Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma mendengar langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka ini menunjukkan keutamaan beliau sebagaimana sahabat-sahabat yang lain. Sebagian mempertanyakan mengapa hadits ini disebutkan lagi oleh Imam Nawawi Rahimahullah padahal sudah ada disebutkan di hadits ke-2. Dijawab oleh sebagian ulama bahwa walaupun kandungan hadits ini sudah ada di H-2 Arbain An-Nawawi , namun ada tambahan faedahnya antara lain[4] :

1.   Permisalan Islam sebagai sebuah bangunan.

2. hadits ini menegaskan  bahwa kelima hal tersebut adalah rukun (penegak/tiang) berbeda dengan hadits ke-2 hanya dikatakan Al-Islam adalah … (pengertian Islam) tanpa menyatakan bahwa semua itu adalah rukun-rukun Islam , karena Islam kadang didefinisikan dengan bagian-bagiannya bukan rukun-rukunnya sebagaimana dalam hadits:

Dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi  : “(Perbuatan apa) yang terbaik dalam Islam ?”. Beliau bersabda : “Kamu memberi makan, dan kamu mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”  (HR.Bukhari dan Muslim)

 Disebutkan:

 “ . . Bangunan Islam (dibangun) atas lima . .”

Ada beberapa permasalahan berkaitan dengan potongan hadits ini :

·      Rukun adalah bentuk mudzakkar (laki-laki); menurut kaidah bahasa Arab bilangan dan yang dibilang (dihitung) itu berlawanan, yakni bila yang dihitung muannats (bentuk perempuan) maka bilangannya harus dalam bentuk mudzakkar. Dan sebagaimana diketahui bahwa Ñßä adalah mudzakkar maka seharusnya bilangannya muannats, tapi dalam hadits ini disebut ÎãÓ  , maka dijawab oleh Ulama bahwa taqdirnya (kata benda yang dihitung) adalah :

Dan ÏÚÇÆã  bentuk mufradnya ÏÚÇãÉ (muannats) dan maknanya sama dengan rukun.

·   Dalam beberapa ayat dan hadits disebutkan bahwa jihad fisabilillah termasuk amalan yang paling afdhal, bahkan dalam hadits Muadz Radhiyallahu ‘Anhu  diistilahkan sebagai puncak Islam namun permasalahannya mengapa tidak dimasukkan dalam rukun-rukun Islam?.

 Ibnu Rajab Al Hanbali mengatakan hal ini disebabkan oleh 2 hal :

1.    Hukum asal jihad adalah fardhu kifayah (menurut jumhur ulama) sedangkan yang  termasuk rukun Islam adalah  hal yang bersifat fardhu ‘ain.

2. Kewajiban jihad meski berlaku hingga kiamat namun ada selang waktu tertentu di mana kewajibannya hilang untuk sementara yakni ketika Islam telah tegak di seluruh muka bumi dan tidak ada lagi dien dan ajaran selainnya, yaitu pada saat turunnya nabi Isa alaihissalam untuk membantu Imam Mahdi dalam melawan Dajjal. Karena jihad adalah upaya untuk menegakkan bendera Islam dan menghancurkan  orang-orang kuffar sehingga ketika Islam telah tegak di seluruh penduduk bumi maka jihad  tidak diwajibkan lagi jadi tidak berlaku sepanjang zaman. Berbeda dengan kelima rukun Islam tersebut tetap hukumnya wajib kapan dan di mana saja, sejak  diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  sampai hari Kiamat tanpa ada selang waktu yang menghilangkan kewajibannya.[5]

·  Hadits ini memisalkan Al-Islam dengan bangunan dan tiang-tiangnya adalah rukun-rukun Islam, tanpa kelima ini maka tidak tegaklah Islam dalam diri seseorang. Diikhtilafkan jika ditinggalkan salah satu dari rukun-rukun ini apakah statusnya tetap muslim atau kafir. Yang disepakati adalah seseorang tidak dianggap muslim jika orang tersebut tidak mengucapkan syahadat.

Sedangkan untuk keempat rukun yang lain tetap diikhtilafkan oleh para ulama.

Dalam hadits ini disebutkan lima penegak bangunan Islam dalam diri seorang muslim, yaitu:

 (1)”…Syahadat (persaksian) bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah dan Muhammad (adalah) Rasulullah…”

Di sini menyebutkan persaksian kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala  dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam .

Syahadatain adalah miftah (kunci) untuk masuk Islam dan untuk memasuki surga, tanpa syahadat yang benar seseorang tidak akan masuk ke pintu Islam dan tidak mendapatkan kenikmatan surga karena tidak memiliki pembukanya. Adapun rukun-rukun Islam yang lain merupakan penunjang diibaratkan dengan gigi-gigi kunci, yang mana jika gigi-giginya tidak beres maka walaupun kuncinya ada namun tidak berfungsi dengan baik. Wahb bin Munabbih rahimahullah  pernah ditanya : “Bukankah kunci surga adalah kalimat Laa Ilaha Illallah?” Beliau menjawab : “Iya, akan tetapi setiap kunci memiliki gigi-gigi, jika seseorang datang membawa kunci yang gigi-giginya (baik) akan dibukakan baginya (syurga) jika tidak maka tidak dibukakan baginya”[6]

Syahadat disebutkan pada awal rukun sebab rukun berikutnya adalah ibadah yang tidak akan diterima kecuali 2 syarat yakni :

(1) ikhlas  refleksi syahadat mentauhidkan Allah

(2) ittiba’(mengikuti) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam refleksi syahadat kedua.

E Makna syahadat  :          áÇ Åáå ÅáÇ Çááå

       “Tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah”, dalam riwayat lain disebutkan :

“Beribadah (hanya kepada) Allah dan mengkufuri selainnya “ (HR Muslim)

Di sini ada An-Nafyu (peniadaan) sesembahan dan Al-Itsbat (penetapan) bahwa hanya Allah yang berhak disembah.

Dalam riwayat yang lain disebutkan :

 “Islam dibangun atas 5 dasar : Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya..” [7]

Rukun Iman kadang masuk ke Rukun Islam karena Rukun Iman yang kedua masuk juga kepada Rukun Islam yaitu adanya syahadat  “Muhammad Rasulullah”.

Iman kepada Allah mempunyai banyak dalil antara lain:

  Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq disembah) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. (Qs 47:19)

Iman kepada Allah  memerlukan 3 hal untuk sahnya :

–   Mesti diucapkan secara lisan, jika tidak pernah diucapkan maka tidak ada  manfaatnya seperti Abu Thalib yang meyakini syahadat tersebut namun tak mau   mengucapkannya   maka hal ini tidak bermanfaat baginya.

–  Harus diyakini dalam hati sehingga tidak gunalah imannya orang-orang munafik yang   hanya mengucapkan dengan lisan tanpa disertai keyakinan hati

– Harus diamalkan. Adapun orang musyrik tahu dan yakin dengan syahadat   tersebut namun tidak mengamalkan konsekwensinya, Allah Subhaanahu Wa Ta’ala  berfirman

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar( QS. Az Zumar : 3)

Mereka menganggap diri mereka kotor dan mengharapkan orang-orang sholeh yang telah meninggal menjadi perantara bagi mereka kepada Allah. Maka Allah tidak memberi petunjuk kepada mereka.
Syahadat menurut hukum asalnya hanya wajib dilakukan 1 kali namun perlu untuk selalu kita perbarui mengingat banyaknya pembatal-pembatal Islam.
Maka dalam syahadat ini ada 2 hal yang perlu diperhatikan yakni :

§ Iman kita kepada Allah adalah mentauhidkan Allah dalam 3 hal yakni  Mentauhidkan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dalam Rububiyah-Nya, Uluhiyah-Nya dan Asma’wa Sifat- Nya.

§  Iman kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah tauhid mutabaah yakni Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai  satu-satunya orang yang pantas diikuti dan diambil perkataan dan perbuatannya

 (2)  “… menegakkan sholat. . .”

·      Dalam Al Quran senantiasa disebut dengan “Iqamatush sholah” (menegakkan shalat) maka yang dituntut dari kita adalah menegakkan sholat bukan sekedar melaksanakannya. Kewajiban Sholat 5 kali sehari semalam dengan menegakkan sesuai rukun dan syaratnya. Jika hal ini kita abaikan maka sholat kita  tidak akan dianggap ada. Sebagaimana seseorang pernah diperintahkan untuk mengulangi sholatnya  karena tidak thuma’ninah yang merupakan salah satu dari rukun sholat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam   bersabda :

“Kembalilah untuk  mengulangi shalat karena sesungguhnya engkau (belum dianggap) shalat”.[8].
Jadi orang yang tidak melaksanakan rukun-rukun shalat tidak shah ibadah shalat yang dikerjakannya, adapun selain rukun atau syarat sholat maka sunnah sholat merupakan penyempurna.
Mengenai orang yang meninggalkan sholat maka terdapat ikhtilaf di kalangan para  ulama :

· Jumhur sahabat/salaf diantaranya Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu , Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘Anhu, Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu  , Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma, Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, Abu Darda Radhiyallahu ‘Anhu dan lain-lain mengatakan bahwa orang yang meninggalkan sholat maka ia telah kafir secara mutlak baik karena mengingkarinya atau karena malas “.

Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam H-29 Arbain   An-Nawawi:

 “ … Pokok amal adalah Islam dan tiang-tiangnya adalah sholat…”

Peringatan :

Adapun hadits:

” Sholat adalah tiang agama barangsiapa meninggalkannya berarti ia telah meruntuhkan dien..”

         Hadits ini diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari sahabat Umar Radhiyallahu ‘Anhu dan disebutkan oleh Al Gazhali  dalam Ihya’ beliau namun telah didhoifkan oleh para ulama diantaranya : Imam Al ‘Iraqi dalam Al Mughni (Takhrij Al Ihya’), As Sakhawi dalam Maqashidul Hasanah, Asy Syaukani dalam Al Fawaid Al Majmu’ah dan Al Albani dalam Dhoif Al Jami’[9]

     Abdullah bin Syaqiq (Tabi’in) mengabarkan :

“Adalah para sahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam   tidak memandang suatu  amalan jika ditinggalkan mengakibatkan kekufuran kecuali shalat”.[10]

          Ini adalah penegasan tentang kafirnya orang yang meninggalkan sholat

   §   Imam Ahmad dan Ishak bin Rahuyah rahimahumallohu telah menjadikan firman Allah dalam QS  Al Baqarah:34

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Sebagai dalil kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena jika  tidak sujudnya iblis kepada Adam saja dihukum kafir maka lebih pantas tidak sujud kepada Allah dihukum kafir.[11]

   §      Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu  menegaskan:

 “Tidak ada bagian dari Islam sedikitpun bagi orang yang yang meninggalkan sholat”.[12]

Ini juga pendapat Ali bin Aòbi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘Anhu, dan Abu Sa’id Al-Khudry Radhiyallahu ‘Anhu , bahkan Imam Ayyub As Sakhtiyani mengatakan : “Meninggalkan shalat adalah kufur hal ini tidak diperselisihkan” [13]

§ Jumhur ulama (jumhur fuqoha dan  madzhab)è tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan sholat berdasarkan dalil umum bahwa syahadat merupakan pelepas api neraka sebagaimana dalam sebuah hadits seseorang meski tidak beramal kebaikan tapi diselamatkan oleh syahadat yang pernah diucapkannya dengan ikhlas kepada Allah.

Dan yang lebih dekat dengan kebenaran berdasarkan dalil-dalil yang ada adalah pendapat yang pertama yakni kufurnya orang yang meninggalkan sholat secara mutlak baik karena malas maupun karena menolak kewajibannya. Wallahu A’lam [14]

  (3) “…menunaikan zakat…”

Sebelumnya pada hadits ini dikatakan  æÅÞÇã ÇáÕáÇÉ

Padahal sebenarnya dari segi kaidah bahasa mashdar  ÃÞÇã – íÞíã   adalah ÅÞÇãÉ , tetapi di sini dihilangkan ‘ta marbuthah’.Menurut ahlul lughoh ini adalah untuk mengikuti  æóÅíúÊóÇÁö ÇáÒøóßóÇÉ  Yang juga tidak memakai ‘ta marbuthah’ [15]

Menunaikan zakat di sini  adalah salah satu rukun Islam, yakni merupakan ibadah yang senantiasa/sering  diikutkan dengan sholat dan hal ini menunjukkan keutamaannya. Sebagaimana perkataan para ulama bahwa yang menunjukkan bahwa keutamaan berbakti kepada kedua orang tua adalah suatu ibadah yang paling afdhol, karena sering/senantiasa diikutkan dengan perintah ibadah kepada Allah (tauhid). Baik dalam dalil Qur’an Qs 17:23,  QS 2:83 , Qs 4 : 36, Qs 31:14    maupun pada hadits seperti Ridha Allah  terletak pada ridho kedua orang tua.

Dengan kaidah yang sama diberlakukan  dalam masalah zakat. Bahkan sebagian para ulama mengkafirkan orang yang meninggalkan  zakat.

Tentang orang yang meninggalkan zakat diikhtilafkan :

        §          Jumhur ulama tidak kafirnya orang yang meninggalkan zakat

        §          Sebagian ulama salaf  mengkafirkan orang yang  meninggalkan zakat dan rukun-rukun Islam lainnya. Sebab zakat adalah salah satu rukun/penegak Islam kapan ia hilang maka robohlah bangunan Islam. Di antara yang berpendapat demikian adalah Nafi’  dan Said bin Jubair [16].

Yang rajih -wallahu a’lam- adalah tidak kafirnya orang yang meninggalkan zakat tetapi ia harus diperangi berdasarkan hadits Abdullah bin Umar radhiyallohu ‘anhuma; dimana pada hadits tersebut digunakan “æ ” (harfu athf) yang menunjukkan semua kalimat yang ada harus diikutkan sebagai syarat untuk tidak diperangi[17] . Inilah yang dilakukan oleh Abu Bakar ketika Ayyamul Riddah yaitu kegoncangan dengan wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ; dimana sebagian kaum muslimin (termasuk diantaranya Umar Radhiyallahu ‘Anhu ) pada awalnya tidak membenarkan wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam   dan banyak diantara bangsa Arab yang murtad. Mereka murtad dengan mengatakan  “kami hanya ikut kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka setelah wafat maka kami kembali ke agama kami. Allah menjawab mereka dengan Qs 5: 54.

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Sebagian ulama diantaranya Hasan Al Bashri mengatakan ayat ini turun kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq  Radhiyallahu ‘Anhu ketika sudah banyak orang murtad  maka ia tetap tegak memegang kendali pemerintahan Islam dan memerangi orang murtad.[18]

Ketika itu kondisi orang yang murtad dari Islam terbagi dua :

    –  murtad penuh dengan kembali ke agamanya /kafir

    –  menolak sebagian syariat seperti zakat dengan berdalihkan

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Qs 9:103)

Mereka mengatakan kami hanya memberi zakat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Pada mulanya Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu berkata : “Mengapa kita perangi mereka padahal mereka masih Islam dan menegakkan sholat ?”. namun Abu Bakar dengan tegas mengatakan :

“Demi Allah, saya akan terus memerangi orang yang mau membedakan antara sholat dan zakat. Padahal Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  telah bersabda :

“Aku disuruh untuk memerangi manusia sampai mereka bertasyahud bahwa Tidak ada ilah yang berhak untuk disembah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah, dan mendirikan sholat, dan mengeluarkan zakat …”

Maka zakat mempunyai kedudukan yang tinggi karena orang yang meninggalkannya berhak untuk diperangi baik dia diperangi karena keluar dari agama atau tidak namun karena meninggalkan zakat. Kalau dia menolak kewajiban zakat berarti dia diperangi karena murtad, kalau tidak menolak kewajibannya berarti dia diperangi namun tidak karena kufur.

Beberapa hal yang perlu diketahui mengenai Zakat yakni  :

              §       Dalam Al Qur’an zakat muncul dengan berbagai lafazh diantaranya :

–    Lafazh ‘infaq’; lafazh ini kadang datang dengan makna sedekah sunnah dan kadang   dengan makna zakat   seperti Qs 8:3

 (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka

–          Lafazh shadaqah yang bermakna zakat :

Sesungguhnya shadaqah (zakat-zakat itu), hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. pada Qs 9 :60

–          dan juga dalam surah yang sama di ayat yang ke-103.

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Qs 9:103)

Faidah : Kata  dalam ayat ini adalah makna bahasa dari sholat yang artinya doakan. Di sini kata shalli tidak mengambil makna syar’i yakni sholat. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa sholat adalah doa. Juga seperti yang disebutkan dalam hadits berikut:

Dari Abu Hurairah  berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  bersabda : “Jika salah seorang diantara kalian diundang maka penuhilah, jika ia berpuasa maka doakanlah dan jika ia tidak berpuasa maka makanlah” (HR. Muslim)

Ayat di atas menunjukkan sunnah jika mengambil zakat mendoakan orang yang memberi zakat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  mencontohkan sebagaiman disebutkan dalam sebuah hadits:

Dari Abdullah bin Abi Awfa berkata: Adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  jika didatangi suatu kaum dengan sedekah/zakat mereka , beliau mendoakan: Allahumma shalli ‘ala aali fulaan ! Maka pada suatu hari ayahku datang membawa zakatnya, maka beliau mengatakan: Allahumma shalli ‘alaa aali Abi Awfa (HR.Bukhari dan Muslim) .

 Makna Zakat

        Secara lughoh (bahasa) :   mempunyai 2 makna yaitu      Artinya :

1.     Sesuatu yang berkembang .

Dinamakan demikian karena orang yang berzakat tidak akan kehilangan uangnya dan tidak akan kehabisan hartanya. Bahkan hartanya akan   berkembang  baik secara lahir dengan tidak akan fakir maupun secara maknawi dengan berkembangnya pahalanya di sisi Allah, sebagaimana Qs 2: 261

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  bersabda :

“Harta tidak berkurang disebabkan sedekah… (HR. Muslim)

2.      Pembersihan .

Dinamakan demikian karena orang yang mengeluarkan zakat telah membersihkan  /membebaskan hartanya dari hal yang diharamkan oleh Allah sekaligus membersihkan hati/dirinya dari kecintaan duniawi yang  menghalangi cintanya kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala .

  Allah  Subhaanahu Wa Ta’ala . berfirman :

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Qs 9 :103)

Keutamaan Zakat

Bagi seorang muslim ketika mendapat perintah maka sepantasnya untuk berkata sami’na wa atha’na meski mereka belum mengetahui manzilah (kedudukan) dan manfaat dari perintah tersebut. Namun Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  juga selalu menggairahkan kita untuk beramal dengan menyebutkan fadhilah sehingga seseorang tidak merasa sia-sia dan mengetahui bahwa ada buah yang diperolehnya dengan mengerjakannya.

Adapun beberapa keutamaan zakat adalah :

1.     Meraih rahmat Allah . Dalam Qs 9:71

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

   Fungsi rahmat banyak antara lain :

        §   Rahmat Allah memasukkan manusia ke dalam syurga. Sebab pada hakikatnya seseorang masuk ke syurga bukan karena amalannya tetapi karena rahmat Allah. Adapun amalan tadi merupakan salah satu sebab  datangnya rahmat Allah

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  bersabda :

Tidaklah seseorang dimasukkan ke surga dengan amalannya HR. Bukhari dan Muslim

Imam Nawawi  memberikan judul bab untuk hadits ini : “Bab Seseorang Tidak Masuk Surga dengan Amalannya Melainkan Rahmat Allah Ta’ala”

        §          Membebaskan kita dari segala macam khilaf yang ada, Sebagaimana Qs 11:118-119

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.

2.      Mensucikan diri dan harta kita.Qs 9 :103

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

 Bahayanya seseorang yang Meninggalkan zakat :

1.        Berhak untuk diperangi ( H-8 Arbain An-Nawawi)

2.        Siksaan yang sangat berat di akhirat kelak ( Qs 9:34)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,

      Meski khitab (sasaran) ayat ini kepada ahlul kitab tetapi ibrah tidak dikhususkan kepada mereka tetapi juga mengenai kaum muslimin ketika melakukan hal yang sama.

3.   Termasuk salah satu ciri orang musyrik è Qs 41 : 6-7

Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.

Kini banyak yang tidak memperhatikan masalah zakat harta yang disangka oleh banyak orang kewajibannya hanya pada bulan Ramadhan. Padahal zakat tersebut terlebih dahulu dihitung haul, nishab dan peraturan lainnya. Juga orang-orang menyangka bahwa barang dagang, hewan ternak, dan pertanian  tidak dikeluarkan zakatnya karena kejahilan mereka. Masalah zakat ini sering diremehkan  karena mereka menganggap hal ini telah diketahui.

 (4)”… Melaksanakan haji..

Pada kebanyakan hadits yang shohih, shaum Ramadhan didahulukan  dari haji. Maka sebagian ulama mengatakan hadits ini riwayatnya keliru. Sebagaimana  Ibnu Daqieq Al-Ied  katakan dan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma . sendiri ketika ditanya tentang riwayat ini.[19]

Dalam hadits ini tidak disebutkan “kalau mampu”  sebagaimana pada banyak dalil dari Al-Quran maupun hadits. Pada dasarnya semua ibadah wajib dikerjakan sekemampuan kita sebagaimana QS 64 :16

“Bertaqwalah kepada Allah semampumu”

Penyebutan haji kebanyakan dikhususkan dengan “kalau mampu” tidak sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Firman Allah dalam Qs 3:97

mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Hal ini disebabkan karena ibadah ini menjadi berat dengan terkumpulnya  2 komponen yakni bil maal (dengan harta) dan bil badan (dengan badan). Untuk ibadah yang hanya dengan harta misalnya zakat sedangkan yang hanya dengan badan/jasad seperti sholat dan puasa.

Makna Haji

     § Menurut bahasa  (Al-Qashdu)  artinya menuju

     § Menurut istilah  yakni menuju ke baitullah ikhlas karena Allah dengan melaksanakan manasik dengan  tatacara yang sesuai sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Syarat Haji

Dalam Qs 3 :97 tadi ada 2 penegasan yaitu :

1.(Demi Allah) maksudnya penegasan bahwa haji ini adalah kewajiban atas manusia hanya kepada Allah

2. (kalau mampu) kembali ditegaskan kalau mampu karena begitu beratnya haji ini.

Kewajiban haji

Hal ini diikhtilafkan yakni :

     §  wajib yang langsung

     §  boleh ditunda-tunda

Dan yang rajih -Insya Allah- pendapat yang pertama berdasarkan banyak dalil, di antaranya sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

 “bersegeralah menuju haji…”(HR. Ahmad dari sahabat Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhu )

Kewajiban haji boleh diwakilkan oleh orang dengan syarat ia sendiri telah haji dan pembayaran yang diterima Insya Allah halal. Maka tidak diperbolehkan berhaji dengan niat sekaligus menghajikan orang lain dan dirinya sendiri.

 (5) “…Berpuasa di Bulan Ramadhan.”

Menunjukkan bahwa puasa yang wajib adalah puasa Ramadhan dan tidak ada khilaf di dalamnya. Selainnya adalah puasa yang sunnah kecuali dinadzarkan

Dalil Puasa Ramadhon pada Qs 2:183

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,yang diwajibkan kapada kita sebagaimana diwajibkan kepada orang terdahulu semoga  bertakwa.

Dalam ayat ini disebutkan bahwa orang terdahulu juga diwajibkan berpuasa, sebenarnya demikian pula syariat sholat dan haji telah ada sebelumnya tetapi dengan tatacara yang berbeda. Haji adalah untuk pengagungan tapi thawaf mereka dahulu beda dan orang kafir Quraisy yang diamanahkan untuk menjaga baitullah namun telah bermaksiat kepada Allah.

Allah berfirman Qs 8:34:

“Sholat mereka hanyalah bersiul dan bertepuk tangan.”

Dari ayat ini maka Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah Rahimahullah  dalam kitabnya “Al-Kalam fii Masalati As-Sama”[20] mengatakan haramnya bertepuk tangan dan bersiul karena merupakan bentuk tasyabbuh kepada kaum kafir.

 Makna Puasa

        §          Secara bahasa      (menahan)

        §          Secara istilah syar’i : menahan dari makan, minum dan  berjima’ sejak terbit hingga terbenamnya matahari

         Namun dahulu ada syariat orang yang terdahulu yaitu puasa untuk tidak berbicara   sebagaimana Nabi  Zakariya Alaihissalam dalam Qs 3:41

Berkata Zakariya: “Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung)”. Allah berfirman: “Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari”.

Zakariya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda”. Tuhan berfirman: “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat”. (Qs19:10)

 Dan puasa seperti ini tidak disyariatkan kepada kaum muslimin dengan kata lain telah mansukh (dihapuskan hukumnya) Maka tidak boleh orang bernadzar 1 hari untuk tidak  berbicara karena ini adalah ma’siat kepada Allah meskipun nampak ada kebaikannya. Berdasarkan hadits riwayat Bukhari dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma  .

:“Ketika  Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  sedang berkhutbah mendadak beliau melihat seorang berdiri, maka beliau bertanya tentang orang tersebut Mereka menJawab: Itu Abu Isra’il ia nadzar akan berdiri dan tidak akan duduk, dan tidak bernaung, dan tidak berbicara, dan terud berpuasa. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  bersabda : Suruhlah ia berbicara duduk, bernaung dan meneruskan puasanya”

Namun harus kita pahami berbicara pada hal yang baik sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

..maka berkatalah yang baik atau diam”

Sebenarnya puasa yang disyariatkan adalah puasa seluruh anggota badan yakni menahan dari segala maksiat. Sebagaimana hadits dikatakan :

 “Begitu banyak orang yang berpuasa namun yang didapatkannya tidak lain lapar dan haus” (Hadits Riwayat Thabrani dalam Mu’jam Kabir dan dishohihkan oleh Al-Albani)

Dalam hadits lain :

Bukanlah puasa itu (hanya) dari makanan dan minuman , namun sesungguhnya shiyam itu (menahan) dari perkataan yang sia-sia dan keji

Penyebutan 3 hal yakni puasa makan, minum dan berjima’ dengan istri ditekankan karena pada asalnya ketiga hal ini dihalalkan. Namun ketika masuk bulan Ramadhan maka ketiga hal ini diharamkan. Dan tentu saja hal-hal yang pada asalnya haram tentu tetap dalan statusnya haram, bahkan bertambah keras pengharamannya pada bulab Ramadhan atau pada saat berpuasa. Dan hal ini kemudian menjadi syarat diterimanya ibadah puasa.

Manzilah (Kedudukan) Puasa

Puasa mempunyai kedekatan dengan sholat dari sisi taqarrub ilallah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  pernah ditanya oleh seseorang tentang ibadah yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala . maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  menjawab :

 “Hendaklah engkau berpuasa karena puasa tersebut tidak ada yang bisa menyamainya/menandinginya (dalam masalah fadhilahnya)” (HR. Nasaai dan Ahmad)

Demikian pula para ulama kita ketika ditanyakan tentang ibadah yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah dijawab dengan sholat dan puasa. Kedua ibadah ini adalah amalan sunnah dengan waktu-waktu tertentu. Berbeda dengan zakat tanpa waktu khusus. Begitu banyak sholat sunnah baik Qiyamullail dan sunnat rawatib. Adapun puasa :

–     per tahun seperti puasa Asy-Syuro (9 & 10 muharram) dan puasa Arafah (9 Dzulhijjah)

–    per bulan seperti puasa Ayyamul bidh (13,14,15 bulan Hijriyah)

–    per pekan yakni puasa Senin dan Kamis

–   hampir setiap hari yakni sehari berpuasa dan sehari berbuka yang dinamakan puasa Daud dan tidak ada yang lebih afdhol dari puasa  ini.

Fungsi Puasa

              §   Syarat untuk mencapai taqwa èQs 2:183

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

              §   Menghapuskan segala kesalahan

Hadits Riwayat Muslim dari sahabat Abu Hurairah

 “Dari Ramadhan yang satu ke Ramadhan yang lain sebagai penghapus dosa diantara keduanya jika ditinggalkan dosa-dosa besar”

  Puasa adalah junnah (perisai) sebagaimana yang disebutkan dalam hadits qudsy dari Abu Hurairah t  bahwa   Allah Subhaanahu Wa Ta’ala,  berfirman :

       Perisai terhadap 2 hal yaitu :

  1. untuk menahan seseorang dari masuk neraka, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu :

       “Puasa adalah perisai dari neraka sebagaimana perisai salah seorang diantara kalian  dari  peperangan” (HR. Nasaai, Ibnu Majah dan Ahmad)

  1. menahan diri kita dari maksiat

Hingga ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  mengajak pemuda untuk menikah namun jika tidak mampu maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  memberikan alternatif puasa. Sebagian ulama menamakannya dengan  Shiyam al A’zaab (puasa bagi orang yang belum menikah).[21] Ini juga merupakan dalil dilarangnya istimna’ karena solusi yang diberikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  bagi orang yang belum sanggup nikah hanyalah puasa bukan yang lainnya, sebagaimana Allah Subhaanahu Wa Ta’ala  berfirman dalam Qs 23 : 5-7

dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

Memperbanyak puasa harus tetap menurut sunnah dan diusahakan untuk bertahap sebagaimana jawaban Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  ketika ditanya oleh seorang sahabat yang mempunyai keinginan besar  untuk berpuasa lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  menyarankan terlebih dahulu dengan Ayyamul Bidh, lalu puasa Senin dan Kamis, kemudian Puasa Dawud yang akhirnya orang tersebut ketika berusia tua maka ia menyesal karena tidak mengambil keringanan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  .

Sunnah yang telah terbiasa dilakukan ketika ditinggalkan akan menjadikan pelakunya tercela Dalilnya :

¨         Sebagaimana Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim :

 “Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  memeberi tahu pada saya : Hai Abdullah, janganlah kamu seperti si Fulan, tadinya ia suka bangun qiamullail, kemudian meninggalkan qiyamullail .”

¨            Hadits Riwayat Bukhari dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu ,

 “Sesungguhnya Ad-dien ini mudah, dan tidak ada seorang yang mencoba menyulit-nyulitkan  dalam Dien ini melainkan ia akan dikalahkannya”

Untuk orang yang belum mumayyiz maka puasa ini akan menambah derajatnya di sisi Allah

 TAKHRIJ HADITS

Ulama yang meriwayatkan hadits ini selain Bukhari dan Muslim adalah :

1.      Imam Ahmad dalam Musnadnya

2.      Imam Humaidy dalam Musnadnya

3.      Imam Ibnu Hibban dalam Kitab Shohihnya

4.      Imam At-Tirmidzi dalam Sunannya

5.      Imam An-Nasai dalam Sunannya


[1] Lihat Shohih At Targhib wa At Tarhib

[2] Lihat Zaadul Ma’ad (1:492)

[3] Lihat Zaadul Ma’ad (1:427)

[4] Ta’liqaat ‘Alal Arbain oleh Asy Syaikh Utsaimin (hal.10)

[5] Jami’ul Ulum wal Hikam (1:152)

[6] Atsar ini disebutkan oleh Bukhari secara mu’allaq dalam Shohihnya di Bab yang pertama dalam Kitab Al Janaiz; lihat : Fathul Bari (3:141)

[7] Lafazh ini disebutkan oleh Bukhari dalam Shohihnya (4515) dari sahabat Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu

[8] HR. Bukhari dan Muslim

[9]   Periksa : Al Mughni (1:98-99 no. 368),  Al Maqashidul Hasanah (hal 317),  Al Fawaid Al Majmu’ah (hal 44) dan Dho’if Al Jami’ (no. 3566)

[10] Sunan At Tirmidzi (2622)

[11] Lihat : Jami’ Al Ulum wa al Hikam (!:149)

[12]  Diriwayatkan oleh  Malik  dalam Al Muwaththa (1: 62 no. 51)

[13]  Lihat : Jami’ Al Ulum (1:147)

[14]  Untuk lebih jelasnya baca : Kitab Ash Sholat wa Hukmu Tarikiha (Imam Ibnul Qayyim) dan Hukmu Tarik Ash Sholat (Syaikh Utsaimin)

[15]  Lihat At Ta’yin  (hal 78)

[16] Baca : Jami’ul Ulum wal Hikam (1:147)

[17] Lihat pembahasannya secara rinci pada syarah hadits ke-8 dari Arbain Nawawi

[18]  Lihat Tafsir Ibnu Katsir pada ayat tersebut

[21] Minhajul Muslim (hal. 303)

Artikulli paraprakMAKASSAR SYARIAH EXPO 2006
Artikulli tjetërSeminar Poligami,Walimah Jama’i,Seminar Ekonomi Syari’ah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini