Syaikh az-Zaidany “Tarbiyah Fardiyah”

Makassar, Malam Ahad  8 Jumadil Tsani 1431, Syaikh ‘Abdullah bin Hamd az-Zaidany, MA mengisi ta’lim di masjid Wihdatul Ummah. Pada kesempatan itu murid dari syaikh Utsaimin rahimahullah tersebut menyampaikan materi “Tarbiyah Fardiyah” di hadapan peserta yang berjumlah sekitar 500 orang dengan diterjemahkan oleh Ustadz Syaibani Mujiono, Ketua DPC Wahdah Islamiyah Makassar.

 

Yang dimaksud dengan tarbiyah fardiyah adalah bagaimana setiap orang bisa mentarbiyah  (mendidik) dirinya ketika ia melakukan amalan-amalan yang bersifat sendiri-sendiri atau bersifat jama’i, dengan kata lain usaha yang dilakukan seseorang ketika ia melakukan amalan-amalan baik secara jama’i maupun sendiri-sendiri dimana amalan-amalan tersebut bisa mentarbiyah dirinya.

Rekaman Ceramah  bisa download di sini

Tarbiyah bid’ah?

Ba’da shalat Isya ta’lim dilanjutkan dengan sesi pertanyaan. Pada sesi tersebut  seorang peserta menanyakan tentang syubhat yang beredar bahwa tarbiyah yang dilakukan selama ini khususnya di Wahdah Islamiyah adalah amalan bid’ah, jawaban beliau bisa di dengar pada rekaman di bawah ini

Rekaman Ceramah  bisa download di sini.

Pertemuan dengan Pengurus DPC WI Makassar

Ba’da ta’lim, Syaikh az-Zaidany juga menyempatkan diri untuk bertemu dengan pengurus DPC Wahdah Islamiyah Makassar di kantor DPC Wahdah Islamiyah Makassar. Pada kesempatan tersebut beliau menyampaikan taujihat kepada pengurus yang hadir. Diantara pesan beliau adalah bahwa seseorang yang tafarrugh (mengkhususkan diri) bekerja pada jami’ah dakwah kemungkinan besar tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan amalan nafilah atau menghadiri banyak halaqah ilmu sebagaimana penuntut ilmu lainnya karena kurangnya waktu untuk itu, namun bisa saja ia mendapat pahala sebagaimana yang lainnya bahkan bisa lebih, beliau kemudian menyebutkan sebuah hadits dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pada saat safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Pada saat itu sebagian sahabat berpuasa dan sebagian lain berbuka. Sampai di suatu tempat orang yang tidak berpuasa mendirikan kemah sebagai bentuk khidmat kepada orang yang berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memuji orang-orang yang tidak berpuasa dengan perkataan, “pada hari ini orang-orang yang berbuka pergi membawa pahala” Menurut beliau itu adalah isyarat bahwa dalam keadaan tersebut orang yang tidak berpuasa lebih banyak pahalanya.

Beliau kemudian melanjutkan pesannya kepada para pengurus untuk senantiasa menambah kafa’ah dalam bidang-bidang yang digeluti dan berusaha untuk mutqin (profesional) dalam bidang tersebut.

Tak lupa Beliau menasehati untuk bersabar dan bertahan dalam bergelut di atas jalan dakwah yang mungkin secara finansial masih kekurangan.

Ditanya tentang kesan beliau selama menuntut ilmu dengan syaikh Utsaimin rahimahullah, ia mengatakan bahwa kesan yang mendalam terhadap guru beliau adalah tsabat-nya Syaikh dengan amalan-amalan serta dalam mengajarkan ilmunya, beliau ceritakan bahwa awal-awal Syaikh Utsaimin mengajar majelisnya hanya dihadiri 2 atau 3 orang tapi itu tidak menyurutkannya untuk menyampaikan ilmunya. Termasuk dalam berfatwa Syaikh Utsaimin tidak akan merubah fatwanya sampai ia mengetahui bahwa fatwanya memang salah. [af/wimakassar.org

Artikulli paraprakBedah Buku “Wisdom of Lukman el-Hakim”
Artikulli tjetërBidang III DPP WI Kunjungan Kerja Ke Lima DPC

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini