Ifthar / Berbuka puasa. Ini merupakan salah satu sunnah muakkadah dalam puasa, dan waktunya adalah tepat saat matahari tenggelam diufuk barat, inilah tolak ukur berbuka puasa, dan boleh juga menjadikan jadwal waktu shalat atau suara azan sebagai tanda waktu berbuka puasa tapi dengan syarat ; jadwal tersebut memang terbukti akurat dan muadzin adalah orang yang tepat waktu dalam mengumandangkan azan, sebab banyak kasus diberbagai tempat muadzin terlambat mengumandangkan azan magrib. Diantara adab-adab ifthar ini adalah ;

1.Menyegerakan berbuka puasa , yaitu sekedar matahari tenggelam maka disunatkan bagi orang yang puasa untuk segera berbuka, Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر

Artinya: “Manusia (umat islam) senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka”. (HR Bukhari ; 1957 dan Muslim : 1098)

Adapun mengakhirkan berbuka beberapa menit atau sampai muadzin selesai mengumandangkan azan dengan dalih untuk kehati-hatian ,bukan merupakan petunjuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Juga hendaknya berbuka terlebih dahulu sebelum shalat magrib, walaupun seseorang dalam safar dan kesulitan menyantap makanan atau meneguk minuman sebagai tanda berbuka puasa hingga shalat telah didirikan, ia tetap disunatkan berbuka dengan sedikit makan atau minum sebelum shalat karena inilah yang disunatkan dan merupakan petunjuk Rasul sebagaimana dalam hadis Anas berikut.

2.Berbuka puasa dengan kurma ; baik tamar (kurma kering) maupun ruthab (kurma mengkal), jika tidak ada kurma maka cukup dengan minum air, namun jika tidak mendapatkan air sedangkan matahari telah tenggelam maka cukup dengan meniatkan berbuka, dan ia telah mendapatkan pahala menyegerakan berbuka, insya Allah. Anas radhiyallahu’anhu mengisahkan ifthar-nya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ;

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يفطر على رطبات قبل أن يصلي فإن لم تكن رطبات فعلى تمرات فإن لم تكن حسا حسوات من ماء

Artinya: “Dulu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berbuka puasa dengan ruthabaat (kurma mengkal) sebelum shalat magrib, jika tidak ada maka dengan tamaraat (kurma kering), jika tidak ada, maka beliau meneguk beberapa tegukan air”. (HR Abu Daud : 2356 dan Tirmidzi : 696 dengan sanad hasan)

3.Membaca doa ketika berbuka puasa , dan diantara doa yang ada dalam hadis adalah :

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهِ

( Dzahaba Adz-Dzhama-u Wabtallatil ‘Uruuqu Wa Tsabatal Ajru Insyaa Allaahi )

Artinya: “Rasa dahaga telah hilang, kerongkongan telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah”. (Doa ini riwayat Abu Daud: 2357 )

Adapun doa yang ada dalam hadis Ibnu Abbas : “Allaahumma laka shumnaa wa’alaa rizqika aftharnaa, fataqabbalminnaa innaka anta assamii’ul ‘aliim”. Hadis ini HR Thabrani ; (Al-Kabir ; 12720) dan Daruquthni ; (2/185 ) ; derajatnya lemah, dinilai dhoif oleh beberapa ulama hadis diantaranya Ibnu Hajar (lihat At Talkhis : 2/202)

4.Memberi makan berbuka bagi orang-orang yang puasa. Ini bisa dilakukan oleh orang yang puasa atau tidak, dan barangsiapa yang melakukannya maka ia telah mendapatkan pahala memberikan makan pada yang membutuhkan (ith’aam ath-tha’aam) .

Adapun hadis Athaa’ bin Abi Rabaah dari Zaid bin Khalid Al Juhani radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

من فطر صائما كان له مثل أجرهم . من غير أن ينقص من أجورهم شيئا

Artinya:“Barangsiapa yang memberi makan berbuka untuk orang-orang yang berpuasa maka ia mendapatkan pahala orang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya”. (HR Ahmad ; 1144, Tirmidzi : 807 , Ibnu Majah : 1746)1.

Hadis ini dhoif karena sanadnya terputus (munqathi’) antara Athaa’ bin Abi Rabaah dan Zaid karena Athaa’ tidak pernah mendengar hadis dari Zaid radhiyallahu’anhu2, Ibnul-Madini rahimahullah bekata (Al’Ilal ; 138) : “…Dan dia (Athaa’) belum pernah mendengar Zaid bin Khalid Al-Juhani..”.

Catatan Kaki :

1 .Hadis ini diriwayatkan juga oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya (3/192) dari hadis Zaid bin Jud’an dari Sa’id bin Musayyib, dari Salman AlFarisi radhiyallahu’anhu, namun ini juga dhoif dikarenakan dhoifnya Zaid bin Jud’an. Juga diriwayatkan oleh AbdurRazzaq (7906) secara mauwquf/ dari ucapan Abu Hurairah dari jalur Ibnu Juraij dari Shalih dari Abu Hurairah, namun dalam sanadnya terdapat Ibnu Juraij yang seorang mudallis dan dalam hadis ini ,ia meriwayatkannya dengan ‘an’anah.

2 .Lihat ; Al-Maraasil oleh Ibnu Abi Hatim ; 149 dan Jaami’ At-Tahshil oleh Al-‘Alaai ; hal.237

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here