Kita tentu sering mendengar kisah ini. Ketika Ustman bin Affan membeli sumur dari seorang yahudi dengan harga yang sangat fantastis sekitar 20.000 dirham senilai 1 Milyar saat ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi, agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” [Q.S. Fathir 29-31]

Itulah perniagaan yang sesungguhnya, perniagaan yang menghubungkan seseorang kepada tujuannya yaitu surga. Kebahagiaan didunia dan keselamatan di akhirat.

Bahkan para sahabat karena saking bersemangatnya mengejar akhirat mereka bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tentang apa perniagaan yang paling menguntungkan.

Maka turunlah Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

يا أيها الذين آمنوا هل أدلكم على تجارة تنجيكم من عذاب أليم* تؤمنون بالله ورسوله وتجاهدون في سبيل الله بأموالكم وأنفسكم ذلكم خير لكم إن كنتم تعلمون

Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui” [Q.S. Ash-Shaf : 10-11]

Maka para sahabat paham betul bahwa ini adalah panggilan dari al-qur’an bagaimana mereka bermuamalah didunia untuk akhirat mereka. Dan akhirnya mereka saling berlomba dengan gigih dalam kebaikan dan kepada kebaikan. Dan itu semua membuat mereka mendapatkan kebahagiaan didunia dan keselamatan di akhirat.

Para sahabat merekalah yang tidak perhitungan ketika menyumbangkan harta mereka, jiwa mereka bahkan darah dan ruh mereka di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai kepada tingkat yang tidak terbayangkan bahkan mungkin sebagian kita mengatakan mustahil tapi mereka para sahabat benar-benar telah melakukannya.

Sebagai contoh sahabat yang mulia ini, yang memiliki julukan dzunnurain karna telah meminang dua putri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam salah satu dari khulafaur rasyidin dan salah satu yang dijamin surga dialah Utsman bin Affan radhiyallahu anhu.

KISAH PEMBELIAN SUMUR RAUMAH

Setahun lebih setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang ke kota Madinah, dan kaum muslimin kesulitan untuk mendapatkan air tawar yang jernih kecuali mereka harus membeli kepada seorang yahudi. Yang kita kenal sebagai bi’r raumah karena dimiliki oleh seorang yahudi yang bernama Raumah dan sekarang dinamakan bi’r Utsman.

Akan tetapi penamaan yang disepakati oleh para ahli sejarah adalah seorang laki-laki dari bani ghaffar. Adapun namanya secara spesifik disebutkan raumah perlu diteliti kembali.

Dahulu si yahudi ini tidak memperbolehkan seseorang minum dari sumur ini kecuali dengan membayar.

Singkat cerita Utsman Radhiyallahu anhu segera mendatangi Yahudi pemilik sumur dan menawar untuk membeli sumur Raumah dengan harga yang tinggi.

Meski sudah ditawarkan harga yang bagus, Yahudi pemilik sumur tetap menolak menjualnya. Ia beralasan, seandainya sumur tersebut dijual, penghasilan yang diperolehnya setiap hari akan berhenti.

Utsman tidak kehilangan akal untuk kembali menawar sumur tersebut. Ia pun memberi tawaran menarik akan membeli setengah dari sumur tersebut. Jika Yahudi itu setuju, ujarnya, maka sumur itu bisa dimiliki bergantian. Satu hari dimiliki Utsman, besoknya kembali lagi menjadi milik Yahudi. Begitu seterusnya.

Yahudi itu pun menerima tawaran Utsman. Ia merasa bisa mendapatkan uang banyak dari Utsman tanpa harus kehilangan sumur. Utsman pun meminta penduduk Madinah untuk mengambil air tersebut dengan gratis. Ia juga mengingatkan masyarakat kota madinah mengambil air dalam jumlah yang cukup untuk dua hari karena esok hari sumur itu bukan lagi milik Utsman.

Keesokan hari Yahudi mendapati sumur miliknya sepi pembeli karena penduduk Madinah masih memiliki persedian air di rumah. Yahudi itu pun mendatangi Utsman. Ia meminta Utsman untuk membeli setengah lagi sumurnya tersebut dengan harga yang sama seperti saat Utsman membeli kemarin. Utsman setuju, lalu dibelinya seharga 20.000 dirham maka Sumur Raumah menjadi milik Utsman secara penuh.

(Walaupun disini ada khilaf antara ahli sejarah termasuk Imam ibnu abdil bar menjelaskan bahwa pembelian yang pertama sejumlah 12.000 dirham dan yang kedua 8.000 dirham dengan total 1 Milyar saat ini).

Utsman lalu mewakafkan Sumur Raumah. Sejak itu, sumur tersebut dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk Yahudi pemilik lamanya.

Sebagian ulama melihat bahwa sumur raumah ini merupakan wakaf pertama kali yang tercatat di sejarah Islam, namun ini juga perlu diteliti kembali karena sebelumnya tanah pada masjid nabawi juga ingin di wakafkan oleh pemilik nya walaupun pada akhirnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menolak. Dan Utsman bin Affan membeli sebidang tanah disamping masjid nabawi dan digabungkan dengan bagian masjid nabawi.

Akan tetapi jika dikatakan bahwa sumur raumah ini adalah wakaf sumber air pertama dalam sejarah islam insya allah sudah tepat.

LETAK SUMUR UTSMAN

Sumur ini terletak sebelah barat Selatan dari kota madinah, jaraknya dari masjid nabawi sekitar lima kilometer, di dekat wadi yang terkenal yaitu wadi aqiq dekat mujamma’ assail.

PERNAH RUNTUH

Sumur tersebut pernah runtuh pada pertengahan abad ke delapan akan tetapi sudah diperbaiki oleh seorang qadhi dari makkah al-mukarromah yaitu Syihabuddin Ath-thabari.

SUMUR UTSMAN PADA 1439 H

Pada saat sekarang ini sumur sekitar sumur tersebut sudah menjadi kebun yang subur ditumbuhi pohon-pohon kurma dan memiliki batas tanah wakaf atas masjid nabawi yang disebut kebun Utsman. Dan dikelola sejak 50 tahun yang lalu oleh kementerian pertanian dan air sebagai kebun percontohan untuk para penduduk kota madinah. Di sekitar sumur tersebut juga ada kolam yang air tawarnya bisa dinikmati dengan gratis sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

REKENING BANK ATAS NAMA UTSMAN

Mungkin sebagian kita bertanya-tanya, mana mungkin seseorang yang hidup 14 abad lalu memiliki rekening bank atas nama dirinya?

Itu semua bisa terjadi jika allah menghendaki dan Allah telah menghendaki untuk hamba-Nya Utsman bin Affan radhiyallahu anhu.

Bermula ketika setelah beberapa kurun waktu, ternyata pohon-pohon kurma tumbuh disekitar sumur ini dan Daulah Utsmaniyah merawatnya sampai besar, dan sampai datang kerajaan arab saudi tetap dirawatnya kebun ini yang akhirnya mencapai 1550 pohon kurma.

Yang separuh dari hasil panennya oleh menteri pertanian dibagikan kepada anak-anak yatim dan dhuafa dan setengahnya disimpan di rekening bank atas nama Utsman bin Affan.

Sampai akhirnya uang itu cukup untuk membeli sebidang tanah disekitar masjid nabawi dan dibangunlah apartemen yang besar dari hasil penjualan kurma tersebut.

Bahkan saat ini sudah selesai pembangunan hotel Bintang lima dan disewakan bagi masyarakat saudi sendiri atau kepada para jama’ah haji dan umrah, yang bisa meraup keuntungan sekitar 50 juta real sekitar 200 Milyar pertahunnya.

Sekali lagi pemerintah membagikan setengahnya untuk anak-anak yatim, orang-orang miskin dan dhuafa dan setengah lagi disimpan di rekening Utsman bin Affan radhiyallahu anhu tercatat resmi atas nama beliau.

Begitulah ketika Allah memilih diantara hambanya menjadi teladan bagi yang lain, kerena ketulusan niat hamba tersebut untuk menggapai negeri akhirat dan pengorbanannya dari jiwa, harta bahkan nyawa sekalipun.[]

___
Yoshi Putra Pratama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here