RAKUS

Oleh: Syamsuddin Al-Munawi

Ketahuilah bahwa sifat rakus bila dibiarkan tanpa kendali maka ia akan beralih menuruti hawa nafsu untuk makan sepuasanya”. Demikian dikatakan Al-‘Allamah al-Hafidz Jamaluddin Abul Faraj Abdurrahman Ibnul Jauzi (w.597 H) rahimahullah dalam kitabnya Ath-Thib Ar-Ruhani (Terapi Penyakit Ruhani) Pasal Tentang Daf’usy Syirrah (Mencegah Ketamakan). “Sifat ini menuntut terpenuhinya banyak hal yang menjerumuskan seseorang ke dalam kehancuran”, lanjut Imam yang masyhur dengan sebutan Ibnul Jauzi ini. “Sifat ini pulalah yang yang menjadi sebab utama menguatnya nasfu syahwat seksual”, imbuhnya.

sifat-rakus

Syahwat perut atau makanan memang sangat berbahaya. Sebab ia merupakan pangkal bagi munculnya syahwat lainnya, sepeti syahwat terhadap sex, harta, jabatan, dan seterusnya, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad bin Muhammad bin Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisi (w.742 H) dalam Mukhtashar Minhajil Qashidin yang merupakan ringkasan dari Minhajul Qashidin karya Ibnul Jauzi.

Syahwatul Bathn (syahwat perut) merupakan penghancur (muhlikat) yang paling berbahaya”, kata Imam Ibnu Qudamah. Beliau melanjutkan, bahwa “Dari syhwat perut (makanan) muncul syahwat kemaluan dan hasrat terhadap harta. Selanjutnya hal itu menimbulkan kerusakan yang banyak, yang kesemuanya bermula dari kekenyangan yang berlebihan”.

Sebab kekenyangan yang berlebihan bukan merupakan ciri dan sifat seorang Muslim. “Seorang Mukmin makan dengan satu lambung, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh lambung”, sabda Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Ahmad. Dalam hadits lain beliau bersabda, “Tidaklah seorang Anak Adam mengisi wadah yang lebih buruk dari dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suap untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk nafasnya”. (terj. HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah, Imam Tirmidziy berkata hadits ini hasan).

Maknanya,seorang Muslim makan secukupnya sebatas menegakkan punggungnya demi melanjutkan hidupnya dan memperkuat tubuhnya beribadah kepada Allah. Inilah sifat orang cerdas dalam menikmati makanan. Sebab “orang berakal merasa butuh makan untuk tetap hidup (ya’kul liyabqa), sedangkan orang jahil hidup untuk makan (yabqa liya’kul)”, kata Ibnul Jauzi. Sebab, “tidak jarang sesuap makanan menyebabkan seseorang terhalangi dari menikmati makanan yang lainnya serta memicu kebinasaan”, lanjutnya.

Oleh karena itu hendaknya seorang muslim menikmati makanan secara adil dan proporsional. Sebagimana dinasehatkan oleh Nabi dalam hadits di atas. “Makan secara proporsional dapat menyehatkan badan dan menolak penyakit. Yakni tidak makan sebelum berhasrat untuk makan (lapar) dan berhenti di saat masih berhasrat”, jelas Ibnu Qudamah. Atau dengan kata lain, makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang. Dan tidak dikatakan rakus orang yang menikmati makanan saat lapar dan berhenti sebelum kenyang. Yang disebut rakus terhadap makanan adalah makan melebihi hajatnya. Makan sebelum lapar dan tidak berhenti meskipun sudah kenyang. (sym).

Sumber: Mukhtashar Minhajil Qashidin, Ibn Qudamah dan ath-Thib ar-Ruhani, Ibn Jauzi.

Artikulli paraprakWahdah Jambi Laksanakan Pelatihan Pengajar Dirosa
Artikulli tjetërUstad Zaitun: Tanggung Jawab Utama Pembinaan Keluarga di Pundak Ayah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini