Sifat Orang Jepang Mendahulukan Orang Lain Sesuai Ajaran Islam
Alhamdulillah Rombongan “Undangan Pimpinan Pesantren Indonesia Ke Jepang” tiba di Bandara Narita Jepang, Rabu Subuh (25/1) sekitar pukul 07.00 Waktu Jepang . Rombongan disambut Ibu Miyo Furusawa pihak Deplu Jepang , selanjutnya diantar ke Hotel Prince yang letaknya kurang lebih 1 jam tempuh dengan bus, berdekatan menara tertinggi di Jepang "Tokyo Tower", icon kota Tokyo.
Musim sekarang di Jepang adalah musim dingin, Suhu di Narita dan Tokyo siang hari 9 derajat dan malam hari 4 derajat, suhu yang sangat ekstrim dibandingkan dengan suhu di Indonesia, syukurlah kami sudah antisipasi dengann pakaian-pakaian tebal dan juga dibekali pihak Dubes Jepang dengan alat penghangat serupa bubuk yang dibungkus terbuat dari bahan bubuk besi arang dan lain-lain,yang dapat bertahan sampai 9 jam, disimpan di kantong pakaian, dan tidak boleh mengenai kulit karena bisa terbakar.
Setelah santap siang, rombongan menuju Kantor Deplu Jepang dan diterima oleh Wakil Menteri Luar Negeri Joe Nakano. Dalam sambutannya pihak Deplu menjelaskan salah satu maksud program ini adalah agar terjalin hubungan yang baik antar masyarakat Jepang dengan masyarakat Indonesia khususnya di kalangan Pesantren sebagai basis pembinaan masyarakat Muslim yang mayoritas di Indonesia.
Dijelaskan pula tentang salah satu kekuatan masyarakat Jepang sekarang ini adalah sifat mau mendahulukan orang lain sekalipun sama-sama mengalami musibah, hal itu dibuktikan ketika terjadi bencana Tsunami yang melanda jepang, mereka memperlihatkan sifat ini, dan kata beliau ini adalah ‘Power" kekuatan orang Jepang untuk bangkit dan maju.
Menurut saya, sifat ini sudah ada konsepnya dalam Islam dan pernah dicontohkan oleh Shahabat Nabi SAW dari golongan Anshar terhadap golongan Muhajirin seperti disebutkn dalam Al Quran Surah ke 59 : 9, yaitu sifat Al Itsar (mendahulukan saudaranya), sayangnya konsep yang sangat mulia ini sudah kurang ditemukan dalam pergaulan masyarakat Muslim sekarang ini. Dalam Maratib al ukhuwwwah Islamiyah strata ukhuwwah, ini merupakan tingkatan ukhuwwah yang tertinggi.
Dari Deplu rombongan mengunjungi "Tokyo Tower" yang tingginya 333 M, merupakan salah satu icon kota Tokyo yg dibangun sejak tahun 1955. Selain naik di menara itu (hanya sampai di ketinggian 155 M) juga terdapat tempat-tempat perbelanjaan berupa souvenir dan makanan
Alhamdulillah komunikasi via internet lancar digunakan rombongan, pihak Deplu menanggung biaya akses internet di hotel 24 jam dengan biaya 1000 yen (sekitar Rp.118.000).
Rencana agenda besok (Kamis , 26/1) berkunjung ke SMA Bunkyo sebuah sekolah negeri percontohan, SMP Chitosebashi dan malam resepsi di kantor KBRI di Tokyo (Laporan :Ustadz Qasim Dari Jepang)