Setiap Muslim Adalah Dai!
(Harian Umum PIKIRAN RAKYAT Bandung, Kamis 29 Nov 2007)

SIAPA yang seharusnya berhak disebut dai? Orang yang memberikan khotbah di podium? Ustaz? Aktivis lembaga dakwah kampus kah? Atau, mantan peserta “kontes” dai di stasiun televisi swasta kita?

Bila hanya itu jawabannya, bisa jadi negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini, tidak akan mengenal nama Islam sama sekali. Islam tersebar hingga menjadi salah satu agama terbesar dunia, karena jiwa besar pemeluknya untuk konsisten berdakwah. Tidak terbatas hanya pada ustaz, kiai, ulama atau bahkan Departemen Agama secara institusional. Karena, kewajiban dakwah mengajak pada kebaikan dan mencegah kemunkara, sejatinya diserahkan pada semua orang yang mengaku Muslim. Bahkan, Rasulullah saw. pernah berkata, "Sampaikankanlah dariku walaupun hanya satu ayat" (H.R.Bukhari).

"Hadis tersebut tidak menunjukkan batasan. Artinya, satu ayat yang sudah kita dapatkan dan betul (sahih) dari Nabi saw. wajib kita sampaikan sesuai dengan ilmu dan kemampuan yang kita miliki," ujar Ustaz Abu Abdurrahman saat memberikan materi pada pelatihan dai khusus mahasiswa yang diselenggarakan Wahdah Islamiyah Cabang Bandung di Masjid Al Hidayah, Sukajadi, Kota Bandung, Sabtu (24/11).

Pada pelatihan setiap Sabtu dan Ahad selama satu tahun ini, Ustaz Abu memaparkan bahwa berdakwah tidak harus melalui ceramah di atas podium. Namun, bisa dengan memberikan buku agama, bahkan menunjukkan pada seseorang ada pengajian, sudah termasuk bagian dari dakwah."Jadi, jangan tunggu sampai kita jadi ustaz dulu, baru mau ‘amar ma’ruf nahyi munkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah keburukan)," katanya.

Ia juga menanggapi pertanyaan peserta yang mengaku sering kali dihinggapi rasa ragu-ragu (syubhat), bahwa dalam dirinya masih banyak terdapat kesalahan sehingga enggan berdakwah. Pengajar pondok mahasiswa Ma’had Al Madinah Yogyakarta ini menjawab, "Hal itu jangan dijadikan penghalang dakwah. Kita tetap berkewajiban menyampaikan, namun kita bukan malaikat yang tidak pernah salah".

Problem umat

Urgensi berdakwah bagi setiap Muslim sangat mendesak. Menurut Dr. Miftah Faridl, Ketua MUI Kota Bandung yang hadir membuka pelatihan ini dua minggu sebelumnya, Ahad (11/11), dakwah yang belum merata, termasuk problem utama umat Islam saat ini. "Syahadat itu kan bab-nya sudah beres. Semua umat Islam, walau awam, harusnya sudah tahu. Ternyata, ada orang yang ngaku nabi aja masih percaya, syahadat bisa diubah aja percaya, solat hukumnya wajib dan enggak usah diragukan lagi…masih percaya bisa diubah!" tutur dosen agama Islam ITB sekaligus pembina Wahdah Islamiyah ini.

Kerawanan akidah ini oleh karenanya harus diselesaikan bersama oleh umat Islam, termasuk mahasiswa. Bila kita terus saling mengingatkan orang-orang di sekeliling kita termasuk kawan-kawan di kampus, tentu berbagai kasus kesesatan bisa diminimalkan.

Jangan seperti masyarakat Yahudi dahulu, yang berdasarkan fakta sejarah dari peninggalan arkeologi mendapat bencana besar dari Allah SWT. "Kesalahan mereka adalah menjadi masyarakat permisif, membiarkan masyarakat di sekitarnya melakukan kejahatan, perilaku tidak baik. Mereka tahu tapi mendiamkan saja. Seperti saat ini, sebagian masyarakat mengatakan, ’ah yang penting kita tidak, manakala melihat sebuah kemunkaran,” ungkap Ustaz Miftah.

Oleh karenanya, umat Islam harus menggerakkan kembali “totalitas dakwah”. "Seluruh umat Islam harus jadi dai! Dia siap jadi mad’u (yang didakwahi) orang lain. Tapi, juga siap menjadi subjek mendakwahi orang lain," kata Ustaz Mifitah. ***.-WI Bandung- (Sumber: www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/112007/29/kampus/wacana.htm)

Artikulli paraprakWanita Penghuni Syurga
Artikulli tjetërDi Sepanjang Usia Muda Kita

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini