Renungan
Sesuai Kebiasaanmu

Saudaraku…
Banyak diantara kita yang senang dengan zhahir penampilan pada dirinya saat ini. Bagi laki-laki ia berpenampilan rapi, bersih, jenggotnyapun rapi, ikut sunah Nabi alhamdulillah. Ia menampakkan keshalihannya. Sedang yang wanita ia semakin cantik dengan jilbab panjangnya, melambangkan kesuciannya, kehormatan dan kemuliannya, ia wanita shalihah.

Akan tetapi, wahai saudaraku…
Berhati-hatilah, mungkin aku dan dirimu sedang tak sadar berada dalam bisikan-bisikan setan. Jika hal itu terasa, maka mari kita beristighafar, lalu berhenti dari lingkaran setan yang membinasakan itu.

Sebagian diantara kita, ada yang bersembunyi dibalik pesona zhahir penampilannya itu, yang sunnah, yang terlihat suci dan terhormat. Apalagi ditambah amalan-amalan sunah yang mungkin tidak dilakukan orang lain. Akan tetapi, justru karena itu juga, kadang kala kita semakin meremehkan perbuatan dosa, “Amalan kebaikan masih lebih dominan,” pikir kita.

Kita tidak sadar sedang terpedaya oleh bisikan-bisikan setan, yang menghiasi setiap amalan seolah-olah indah. Namun dengan halusnya setan itu menjadikan hati ini keras, sakit, bahkan mati. Ia tidak merasakan kepekaan terhadap dosa.

Jadilah kita bersantai ria dengan dosa dan amal shalih, mata gemar melirik pada sesuatu yang tak pantas dilihat, telinga gemar mendengar sesuatu yang harusnya tak didengar, lisan mengucapkan perkataan buruk dan tercela, lalu hati semakin keras, ia tak bisa lagi menerima siraman rohani.

Karena penampilan mengikuti sunah dan amalan shalih kita lakukan, dosa yang juga kita lakukan itu tidak lagi serasa gunung yang hendak menindih kita. Ia hanya seolah lalat yang dengan mngayunkan tangan ia akan pergi, atau layaknya daun yang terkubur oleh tanah, sangat dalam, hingga kita tidak mempedulikannya. Padahal ia terpendam, terkumpul dan membusuk menjadi sampah dalam catatan amalan kita, mungkin tak tercium baunya, tapi akibatnya fatal…

Saudaraku…
Mari renungi sejenak satu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهْوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ.

Sesungguhnya ada seseorang yang beramal dengan amalan penghuni surga yang nampak dalam pandangan manusia, padahal ia adalah seorang penghuni neraka. Dan sesungguhnya ada seseorang yang beramal dengan amalan penghuni neraka yang tampak dalam pandangan manusia, padahal ia adalah seorang penghuni surga. (HR. Bukhari dan Muslim)

Saudaraku…
Berusahalah untuk istiqamah, dirimu dan diriku. Karena langkah kaki ini merupakan kehendak kita, kemana kita ayunkan, disitulah kita berpijak. Jangan sampai salah jalan lagi, hingga mati dalam keadaan suu’ul khatimah wal’iyadzu billah, semoga Allah jauhkan kita dari itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَنَ الطَّوِيلَ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ ثُمَّ يُخْتَمُ لَهُ عَمَلُهُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَنَ الطَّوِيلَ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ ثُمَّ يُخْتَمُ لَهُ عَمَلُهُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Sesungguhnya ada seseorang yang beramal dengan amalan penghuni surga dalam jangka waktu yang sangat panjang, kemudian ia menutup akhir hayatnya dengan amalan penghuni neraka. Dan sesungguhnya ada seseorang yang beramal dengan amalan penduduk neraka dalam jangka waktu yang sangat panjang, kemudian ia menutup akhir hayatnya dengan amalan penduduk surga.” (HR. Muslim)

Saudaraku…
Pahamilah, bahwa kematian seseorang itu sesuai dari kebiasaannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يُبعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

“Setiap orang akan dibangkitkan sesuai kematiannya.” (HR. Muslim)

Imam al-Hafizh Zainuddin Abdurrauf al-Munaawy rahimahullah berakata:

أي يموت على ما عاش عليه ويبعث على ذلك

Maksudnya adalah ia mati karena sesuai dengan kebiasaannya dan dibangkitkan sesuai itu. (at-Taisir Bi Syarhi al-Jami’ ash-Shaghir: 2/859)

Maka dari itu saudaraku…
Mari berhenti sejenak, lalu merenungkan pada perkara apa kita biasa berbuat. Jika pada dosa, maka berhentilah, semoga Allah mengampuni kita semua dan menutup semua aib-aib kita.

Saudaramu yang mencintaimu karena Allah

Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

Berita sebelumyaHukum Wanita Tanpa Mahram Kuliah di Luar Negeri Dalam Islam
Berita berikutnyaHukum Tabungan Untuk Qurban

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here