Segala puji bagi Allah yang memberikan hidayah kepada saya dan para pembaca sekalian. Dan juga sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Para pembaca yang dirahmati Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika diutus dipermukaan bumi mengemban pesan yang begitu mulia bagi seluruh makhluk terutama manusia. Pesan untuk bertauhid, beribadah, bermuamalah, berjihad, dan semua amalan lainnya sesuai petunjuk-Nya.
Dan yang paling tinggi setelah seorang muslim mentauhidkan Allah adalah dia harus beradab, menghiasi dirinya dengan petunjuk nabawiyah dari suri tauladan baginda rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Dalam sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan dari sahabat abu hurairah radhiyallahu anhu beliau bersabda

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

“Sesungguhnya hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. ”

(H.R. Ahmad nomor 3657 dan juga Imam Al Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Juga didalam al-qur’an Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” [Q.S. Al-Qalam 4]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini beliau mengutip perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, ibnu abbas mengatakan :

وإنك لعلى دين عظيم وهو الإسلام

“Dan engkau benar-benar diatas agama yang Agung yaitu agama islam”

Dan juga dalam musnad ahmad ketika sahabat Sa’ad Bin Hisyam bin amir bertanya kepada Aisyah radhiyallahu anhuma, saya mengatakan :

يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ، أَخْبِرِينِي بِخُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَتْ : كَانَ خلقه القرآن ، أَمَا تَقْرَأُ الْقُرْآنَ، قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ : وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ؟

“Wahai ummul mu’minin, katakanlah kepadaku tentang akhlak rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau berkata : akhlak beliau al qur’an, apakah kamu belum membaca Firman Allah azza wajalla

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ؟

Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (nomor hadits 24601)

Para pembaca yang dirahmati Allah, sifat tercela yang seharusnya dihindari oleh seorang muslim diantara adalah sifat syamatah atau bergembira ketika ada saudaranya yang tertimpa musibah. Dan sifat ini diantara sifat yang paling buruk sehingga wajib untuk dijauhi dan ditinggalkan.

Definisi dari syamatah.

أصل هذه الكلمة يدلُّ على فَرَح عَدُوٍّ بِبَلِيَّة تُصِيب مَنْ يُعَادِيه

“Kalimat ini menunjukkan kata kesenangan musuh ketika lawannya tertimpa musibah.”

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰ إِلَىٰ قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي ۖ أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ ۖ وَأَلْقَى الْأَلْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ ۚ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلَا تُشْمِتْ بِيَ الْأَعْدَاءَ وَلَا تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Dan ketika Musa telah kembali kepada kaumnya, dengan marah dan sedih hati dia berkata, “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan selama kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” Musa pun melemparkan lauh-lauh (Taurat) itu dan memegang kepala saudaranya (Harun) sambil menarik ke arahnya. (Harun) berkata, “Wahai anak ibuku! Kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir saja mereka membunuhku, sebab itu janganlah engkau menjadikan musuh-musuh menyoraki melihat kemalanganku, dan janganlah engkau jadikan aku sebagai orang-orang yang zhalim.” [Q.S. Al-A’raf 150]

وشَمِتَ الرَّجُلُ: إِذا فَرِحَ ببَلِيَّةِ العَدُوِّ، وباتَ فلانٌ بلَيْلَة الشَّوامِت، أي بلَيْلَةٍ تُشْمِتُ الشَّوام

“Syamita ar rajul : ketika dia senang dengan musibah musuh, baata fulan bi lailatin as syawamit, maksudnya dia bergadang kegirangan atas musibah (yang ditimpa oleh musuh).”

Berkata pakar bahasa arab Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah :

الشَّمَاتَة: الفَرَح بالشَّرِّ الواصل إلى غير المستَحِق، ممَّن يعرفه الشَّامت

“Kegirangannya seseorang karena keburukan yang terjadi kepada seseorang yang tidak seharusnya menimpanya, dari orang-orang yang dikenal sebagai syamit (pelaku).”

Bisa kita simpulkan bahwa syamatah adalah sifat dimana seseorang merasakan bahagia, bangga, berbunga bunga, kegirangan ketika ada kaum muslimin yang tertima musibah ataupun fitnah entah dalam perkara dunianya maupun agamanya.

Orang yang ketika saudaranya tertimpa musibah kemudian malah senang dan bangga ini menunjukkan bahwa didalam hati orang ini ada penyakit.

Kebanyakan syamit ini adalah orang-orang yang gagal dalam kehidupannya dan dia menginginkan orang lain sama seperti dirinya, masuk kedalam lubang kesalahan yang sama bahkan dia ingin orang lain masuk lebih dalam dari dirinya.

Orang yang syamit biasanya disebabkan karena kebodohan orang tersebut terhadap hakikat dari bala’ dan musibah serta kebodohan orang tersebut dari hakikat dunia yang sebenarnya. Dia selalu berangan angan yang panjang seolah dunia ini abadi untuk dirinya sendiri.

Dia lupa bahwa disuatu hari nanti ada Raja dari para Raja akan menjadi hakim terhadap semua perbuatan yang pernah dilakukan didunia ini. Dialah Allah Rab semesta alam yang bisa menghidupkan dan mematikan, memberi Rizki dan menahannya, memberikan sehat dan sakit, mengabulkan do’a dan memberikan petunjuk, memberikan rahmat dan menurunkan adzab, meninggikan suatu kaum dan merendahkan yang lain. Ketika ruh sudah tercabut mereka baru sadar dan tidak bermanfaat muhasabah pada waktu itu.

Siapakan para syamitah tersebut?

Pertama.
Orang kafir yang terang-terangan memusuhi islam.

Kenapa mereka diurutan pertama? Ya, karena dengan mereka tidak beriman saja mereka sudah sangat berdosa, ditambah lagi dengan permusuhan mereka terhadap islam. Dan mereka tidak akan pernah berhenti sampai orang-orang islam masuk kedalam agama mereka.

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.” [Q.SAl-Baqarah 120]

Dan juga firman Allah subhanahu wata’ala :

إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيط

“Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Ali Imran 120).

Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meminta perlindungan dari syamatah dari musuh-musuh islam. Beliau berkata :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوَذُ بِكَ مِنْ سُوءِ الْقَضَاءِ، وَدَرْكِ الشَّقَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ. رواه البخاري.

“Ya Allah aku berlindung kepada-mu dari takdir buruk, ujian yang berat, dan kegembiraan musuh” (H.R. Al Bukhari)

Karena mereka adalah umat yang tidak ridho maka merekalah yang paling keras permusuhannya terhadap ummat islam.

Adapun kafir dzimmi yang tidak memusuhi umat islam maka kita memperlakukan mereka sebagai sesama manusia dan tidak menyakitinya. Bahkan termasuk dosa besar ketika menyakiti mereka orang-orang non muslim yang berada didalam perjanjian damai dan dalam perlindungan kaum muslimin.

Kedua.
Orang munafik nifaqan i’tiqadi.

Iya orang munafik, bahkan mereka ini terkadang lebih berbahaya dari yang pertama karena mereka samar samar tidak terlihat dan mengaku sebagai umat islam.

Oleh karenanya mengapa Allah mengancam mereka dengan tempat didasar neraka, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

“Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” [Q.S. An-Nisa’ 145]

Dan juga firman Allah subhanahu wata’ala :

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih” [Q.S. An-Nisa’ 138]

Orang munafik ini mereka merusak luar dalam tubuh umat islam. Perlu ditegaskan disini bahwa orang munafik nifaqan i’tiqodi ini bukan orang islam dia adalah orang kafir yang membungkus diri dengan pakaian islam. Dia tidak percaya al-qur’an sebagai kebenaran yang mutlak perlu dirubah kurang dan seterusnya, menanggap rasulullah shallallahu alaihi wasallam sabdanya tidak berasal dari Allah, menghalalkan apa yang jelas diharamkan oleh Allah seperti zina, LGBT, minuman keras dan hal-hal yang haram lainnya tapi mengatas namakan agama islam, wal iyyadzu billah.

Ketiga.
Orang muslim yang ada penyakit didalam hatinya.

Adapun golongan yang ketiga ini berbeda dengan yang pertama dan kedua. Golongan yang pertama dan kedua mereka akan masuk kedalam neraka kekal selama-lamanya, kecuali bertaubat kepada Allah sebelum meninggal dunia. Adapun yang ketiga ini dia akan berdosa sesuai dengan kadar bagaimana dia senang disaat melihat orang lain tertimpa musibah.

Sifat syamitah ini akan mengurangi wibawa seorang muslim, bahkan bisa menghabiskan muru’ahnya serta dianggap tidak memiliki adab dan akhlaq kepada sesama manusia.

Seyogyanya seorang muslim turut sedih dan prihatin ketika melihat musibah yang menimpa saudaranya, berusaha berada disampingnya untuk menghibur, berusaha menenangkan, menunjukkan wajah sedih, menguatkan dengan nasihat-nasihat motivasi untuk bisa bangkit lagi dan mereka melupakan musibah yang barusaja mempora-porandakan kehidupan, keluarga, dan harta mereka.

Kemudian bagi yang tidak ditimpa musibah, hendaknya memuji Allah dengan mengatakan :

الحمد لله الذي عافاني مما ابتلى به كثيراً ممن خلق، وفضلني تفضيلا

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari apa-apa yang telah banyak menimpa hamba hamba-Nya, dan memberikan karunia kepadaku dengan karunia yang nyata.”

Sekarang kita bisa merasakan nikmat Allah yang melekat pada diri kita, yang sekarang telah dicabut dari banyak saudara kita. Mari kita memuji Allah dan tutup aib saudara-saudara kita. Mudah-mudahan dengan kejadian ini mereka akan kembali kepada allah dan menjadi pelajaran bagi kita dan seluruh kaum muslimin.

Imam At-Tirmidzi rahimahullah menyebutkan dalam sebuah riwayat hasan gharib rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

لا تظهر الشماتة لأخيك، فيعافيه الله ويبتليك

“Jangan perlihatkan sifat syamatah anda kepada saudara anda, (kalau tidak) maka Allah akan mengampuninya dan menimpakan kepada anda.”

Dan juga beliau menyebutkan bahwa rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Barangsiapa yang mentertawakan saudaranya karena sebuah maksiat maka dia tidak akan meninggal sampai mengerjakan (maksiat itu).”

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitab madariju as salikin :

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عَيَّرْتَ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ

“Dan setiap maksiat yang engkau perolokan kepada saudaramu maka ia akan kembali kepadamu.”

Hari ini kita menjadi penonton akan tetapi besok kita tidak tau, boleh jadi cobaan itu akan berpindah kepada diri kita.

__
Yoshi Putra Pratama
(Mahasiswa UIM KSA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here