Bulan ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Salah satu amalan yang dianjurkan untuk diperbanyak pada bulan ini adalah membaca al-Qur’an.

Karena itu, banyak kaum muslimin yang telah membuat jadwal dan target bacaan, berapa juz ia harus selesaikan pada bulan ini, atau berapa kali ia harus mengkhatamkan al-Qur’an.

Hanya saja, banyak diantara mereka yang hanya fokus pada target bacaan itu, hingga lupa bahkan kurang mempedulikan hal lain yang lebih utama dari itu pencapaian target itu, yaitu mentadabburi setiap ayat yang ia baca.

Salah satu amalan yang sangat ditekankan dalam membaca al-Qur’an adalah mentadabburi ayat-ayatnya. Sebab, salah satu tujuan al-Qur’an diturunkan adalah untuk ditadabburi ayat-ayatnya.

Allah azza wajalla berfirman:

كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad: 29)

Tadabbur adalah cara yang baik untuk membuat hati tersentuh pada saat membaca al-Qur’an, hingga menambah keimanan. Siapa yang tidak melakukannya, ia tidak akan merasakan manisnya membaca al-Qur’an. Bahkan, bisa saja hatinya tetap lebih keras daripada batu-batu gunung setelah membaca al-Qur’an.

Karena itu, mungkin kita pernah melihat orang-orang yang membaca al-Qur’an, tapi ia menjadi orang yang paling keras penentangannya terhadap sebagian isi al-Qur’an atau syariat yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Hatinya terkunci dari menerima kebenaran karena tidak mentadabburi ayat-ayat yang ia baca.

Allah azza wajalla berfirman:

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. Muhammad: 24)

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata:

فإن القرآن لم ينزل لمجرد التلاوة وانعقاد الصلاة عليه بل أنزل ليتدبر ويعقل ويهدى به علما وعملا ويبصر من العمى ويرشد من الغي ويعلم من الجهل ويشفي من الغي ويهدي إلى صراط مستقيم

“Sesunggunhya al-Qur’an tidak diturunkan hanya untuk dibaca dan melaksanakan shalat saja, tapi juga diturunkan untuk ditadabburi, dipikirkan, dijadikan sebagai petunjuk ilmu dan amal, bisa melihat dari keadaan buta, menjadi petunjuk dari kesesatan, menjadi ilmu dari kejahilan, menjadi penyembuh bagi kesesatan dan menunjukkan pada jalan yang lurus”. (Ash-Shawa’iq al-Mursalah: 1/316

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Tadabburilah Al-Qur’an hingga engkau memahami maknanya. Tadabburilah ia dari awal hingga akhir… Janganlah engkau membacanya dengan hati yang lalai, bacalah dengan hati yang terjaga”. (Fatawa Ibnu Baz: 9/25)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Aku mewasiatkan kepada kalian wahai para pemuda, untuk bersemangat mentadabburi al-Qur’an dan memahami maknanya. Sebab Al-Qur’an diturunkan agar ditadabburi ayat-ayatnya oleh manusia. Tidak ada faidah membaca ayat tanpa memahami maknanya. Jika ada ayat yang tidak kalian pahami, tanyakanlah tentangnya”. (Liqaat Baab al-Maftuh no. 171).

Olehnya, periksalah hati. Jika engkau membaca al-Qur’an namun tidak memberi pengaruh terhadap hati, tidak menambah keimanan dan tidak pula menambah keyakinan akan baiknya syariatnya, maka ketahuilah ada yang salah dengan cara kita membaca al-Qur’an. Engkau mungkin masih jauh dari mentadabburinya.

Bacalah Al-Qur’an dengan mentadabburinya, walau satu ayat yang dibaca berulang-ulang, karena itu merupakan kebiasaan para salaf bahkan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam melakukannya.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata:

فقراءة آية بتفكر وتفهم خير من قراءة ختمة بغير تدبر

“Membaca satu ayat al-Qur’an dengan upaya memahami dan memikirkannya lebih baik daripada membaca al-Qur’an dengan mengkhatamkannya tanpa mentadabburi dan upaya memahaminya.” (Miftah Daar as-Sa’adah: 193)

Wallahu a’lam bishshowab.

Oleh Ustadz Muhammad Ode Wahyu SH.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here