“La tahzan, innallaaha ma’anaa”. Jangan sedih, Allah bersama kita. Begitu dahulu Nabi kita menenangkan sahabat beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallaahu ‘anhu.

Jangan bersedih saudaraku ketika hari ini kamu terbaring sakit. Apa yang menimpa kita saat ini adalah sudah ditetapkan oleh-Nya. Sabar, berdoa, bertakwa dan tawakkal adalah jalan terbaik yang seharusnya ditempuh oleh setiap yang beriman kepada-Nya.

Apapun kesulitan hidup, sabar adalah tameng terbaik dan terindah bagi seorang Muslim. Dari musibah dan ujian hidup yang dihadapinya itu, bisa saja menjadi ladang pahala besar buatnya jika ia sabar dan ridho dengan takdir dan ketentuan-Nya dan bisa pula menjadi sebab Allah murka kepadanya.

Dari Anas bin Malik, beliau nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sesungguhnya pahala yang besar bersama ujian yang berat. Sungguh, ketika Allah mencintai suatu kaum, Allah akan menguji mereka.. Barangsiapa yang ridho, maka baginya ridho Allah. Barangsiapa siapa yang murka, (marah), maka Allah pun akan murka kepadanya.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani).

Bersabarlah selalu saudaraku. Penduduk Surga, mereka diberikan ganjaran berkat kesabaran mereka atas ketetapan-ketatapan Allah.

سَلَٰامٌ عَلَيۡكُم بِمَا صَبَرۡتُمۡۚ فَنِعۡمَ عُقۡبَى ٱلدَّارِ

Artinya: “Selamat sejahtera atas kamu karena kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 24)

Bersabarlah sesabar-sabarnya. Karena moment sakitmu di masa pandemi ini adalah ladang pahalamu akan selalu bersemi, meskipun saat ini kamu mungkin terbaring lemah tak berdaya. Bersabarlah terhadap ketetapan-Nya ini, karena Dia tidak akan meninggalkanmu. Dia akan selalu bersamamu, terkhusus jika kamu adalah diantara hamba-hamba-Nya yang sholeh.

Firman-Nya,

وَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعۡيُنِنَاۖ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ

Artinya: “Dan bersabarlah (Muhammad) menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika engkau bangun.” (QS. Ath-Thur: 48)

Bersabarlah ketika sakit. Berdoalah kepada-Nya agar disembuhkan. Karena Mukmin hanya bersandar kepada-Nya dalam penyembuhan. Obat, Dokter dan yang lainnya adalah wasilah agar kesembuhan itu kita dapatkan.

Sekali lagi, tanamkan dalam benak kita, “jika kita sakit wahai saudaraku, Dialah Sang Penyembuh.”

Firman-Nya,

وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ

Artinya: “dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80)

 

Jika Demam Malanda

Ketika sakit, tak ada yang bisa kita lakukan selain bersabar, berdoa, bertakwa dan berikhtiar agar diberikan kesembuhan. Tak ada yang bisa kita lakukan selain meminta bantuan dan pertolongan-Nya.

Firman-Nya,

وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ

Artinya: “Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Jika sakit mendera, tubuh akan meresponnya dengan demam dan tidak bisa tidur. Seperti sabda Nabi kita yang memberikan permisalan bahwa Muslim itu ibarat satu tubuh, jika satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh akan demam dan tidak bisa tidur.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)

Tak ada yang bisa kita lakukan selain meminta pertolongan-Nya. Bertakwa kepada-Nya sekemampuan kita dikala sakit. Kita tidak boleh keluar jalur dalam menjalani sakit yang mendera, apalagi sampai mencela sakit (khususnya demam) yang mungkin membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa.

فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ

Artinya: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 16)

Ketika sakit, ketika badan ini drop oleh demam yang sangat tinggi. Syariat yang mulia ini mengajarkan kita untuk menjadi ummat yang cerdas. Kita dituntut untuk ridho ketika menerima ketentuan-Nya, tidak mencela sakit (demam) ketika kita dideranya. Seperti kisah seorang shahabiyyah berikut ini yang menderita sakit demam, dan Nabi menasehatinya agar tidak mencela demam yang menderanya.

Diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhu. Kala itu Nabi menjenguk Ummu As Saib/Ummu al Musayyib. Shahabiyyah ini mengatakan sesuatu tantang demam yang membuat beliau ditegur oleh Nabi.

مَا لَكِ؟ يَا أُمَّ السَّائِبِ أَوْ يَا أُمَّ الْمُسَيِّبِ تُزَفْزِفِينَ؟

الْحُمَّى، لَا بَارَكَ اللهُ فِيهَا

لَا تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ، كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

Artinya: “ada apa denganmu wahai Ummu As Saib/Ummu al Musayyib, engkau gemetar (karena demam, pent)?” “Demam. Semoga Allah tidak memberkahinya” jawabnya. “jangan engkau mencela demam. Sesungguhnya dia menghilangkan dosa-dosa anak Adam, seperti alat pandai besi menghilangkan karatan.” (H.R. Muslim: 2575)

Sabar, tidak mencela adalah karakter seorang Mukmin ketika didera ujian. Tanda keimanannya yang kokoh, murni adalah sifat penerimaannya terhadap apa yang ditetapkan baginya. Kesabaran, ucapan dan tindakan, hendaknya bisa dikekang diawal benturan ujian melanda. Karena jika bersabar setelah itu, tidaklah akan dikatakan bersabar.

Seperti kisah wanita berikut, yang menangis dikuburan. Dalam riwayat Imam Muslim, wanita ini menangis karena meninggalnya sang buah hati.

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: مَرَّ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بامرأةٍ تَبكي عِنْدَ قَبْرٍ، فَقَالَ: اتَّقِي اللهَ وَاصْبِري، فَقَالَتْ: إِلَيْكَ عَنِّي؛ فإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي، وَلَمْ تَعْرِفْهُ، فَقِيلَ لَهَا: إِنَّه النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابينَ، فَقَالَتْ: لَمْ أَعْرِفكَ، فَقَالَ: إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi pernah melewati seorang wanita yang menangis dikburan. Nabi mengatakan, “bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.” Wanita itu mengatakan, “menjauhlah dariku. Kamu tidak merasakan musibah yang menimpaku.” Wanita ini tidak mengenal Nabi. Kemudian dikatakan kepadanya, “Dia adalah Nabi shallaahu ‘alayhi wasallam.” Wanita ini kemudian mendatangi Nabi, kemudian berkata, “saya tidak mengenalmu.” Nabipun mengatakan kepadanya, ke SABAR an itu pada HENTAKAN PERTAMA.” (H.R: Bukhari 1283 & Muslim: 926)

Oleh: Absaid

(Alumni STIBA Makassar, Penulis Buku “Naungan Cinta”)

Berita sebelumyaIni Cara Departemen PSDM DPP Wahdah Islamiyah Siapkan Event Dakwah yang Berkualitas
Berita berikutnyaHAK-HAK SESAMA MUSLIM – HADITS 1 BAB ADAB DARI KITABUL JAMI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here