Sahur

Definisi
Dalam segi bahasa sahur berasal dari kata ÓÍÑ yaitu akhir malam, menjelang subuh. Sedang pengertian sahur secara istilah adalah seperti yang dikatakan Imam Al Azhari beliau berkata : “Sahur  adalah segala sesuatu yang dikonsumsi pada waktu sahur baik itu berupa maka-nan, susu, tepung (dsb)“ (Lihat Lisanul Arab 4:350–351).
Makan sahur adalah salah satu diantara sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang sangat ditekankan, yang mana disamping hal itu sebagai penguat ketika melaksa-nakan puasa di siang hari, sahur juga memiliki keutamaan-keutamaan. Dan diantara keutamaan tersebut adalah:

1. Makan sahur adalah berkah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

 ÊóÓóÍøóÑõæÇ ÝóÅöäøó Ýöí ÇáÓøóÍõæÑö ÈóÑóßóÉð  ÑæÇå ÇáÈÎÇÑí æ ãÓáã

“Makan sahurlah kalian karena dalam sahur ada berkah” (HR. Bukhari dan Muslim)
di hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

 ÚóáóÜíúßõãú ÈöÛóÏóÇÁö ÇáÓøõÍõæÑö ÝóÅöäøóåõ åõæó ÇáúÛóÏóÇÁõ ÇáúãõÈóÇÑóßõ ÑæÇå ÇáäÓÇÆí

“Hendaknya kalian makan sahur, karena ia adalah makan pagi yang berberkah” (HR. Nasa’i)

2. Makan sahur berarti menyelisihi ahlul kitab
Dari Amru bin ‘Ash Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

 ÝóÕúáõ ãóÇ ÈóÜÜíúäó ÕöíóÇãöäóÇ æóÕöíóÇãö Ãóåúáö ÇáúßöÊóÇÈö ÃóßúÜÜáóÉõ ÇáÓøóÍóÑö  ÑæÇå ãÓáã

“Pembeda antara puasa kita dengan puasanya ahlul kitab adalah makan sahur” (HR. Muslim)

3. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur.
Mungkin berkah sahur yang terbesar adalah (karena) Allah Subhaanahu Wa Ta’ala akan meliputi orang-orang yang sahur dengan ampunan-Nya, memenuhi mereka dengan rahmat-Nya, malaikat Allah memintakan ampunan bagi mereka, berdo’a kepada Allah agar memaafkan mereka agar mereka termasuk orang-orang yang dibebaskan oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dari api neraka di bulan Ramadhan.

Dari Abu Sai’d Al Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

  ÇáÓøóÍõæÑõ Ãóßúáõåõ ÈóÑóßóÉñ ÝóáÇó ÊóÏóÚõæåõ æóáóæú Ãóäú íóÌúÑóÚó ÃóÍóÏõßõãú ÌõÑúÚóÉð ãöäú ãóÇÁò ÝóÅöäøó Çááåó ÚóÒøó æóÌóáøó æóãóáÇó ÆößóÊóåõ íõÕóáøõæäó Úóáóì ÇáúãõÊóÓóÍøöÑö íäó  ÑæÇå ÃÍãÏ

“Sahur itu makanan yang berberkah, karena itu janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya seteguk air, karena Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur” (HR. Ahmad)
Oleh karena itu seorang muslim hendaknya tidak menyia-nyiakan pahala yang besar ini dari Rabb Yang Maha Pengasih.
Niat

Apabila bulan Ramadhan telah masuk maka wajib bagi setiap muslim yang mukallaf (telah baligh) untuk berniat puasa di malam harinya, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

 ãóäú áóãú íõÜÜÈóÜÜíøöÊú ÇáÕøöÜíóÇãó ÞóÜÜÈúáó ÇáúÝóÌúÑö ÝóáÇó ÕöíóÇãó áóåõ  ÑæÇå ÇáÊÑãÐí æ ÇáäÓÇÆí

“Barangsiapa yang tidak berniat untuk melakukan puasa pada malam harinya, maka tidak ada puasa baginya” (HR. At Tirmidzi dan An Nasa’i)

Tidak ada dalil yang menjelaskan disyari’atkannya melafazhkan niat, karena niat letaknya adalah di hati bukan di lisan, walaupun manusia menganggapnya sebagai suatu perbuatan baik. Dan hal ini termasuk dalam perbuatan yang di ada-adakan di dalam agama (bid’ah). Berkata Syaikh Abdul Aziz  bin Baz –rahimahulahu- : “Melafazhkan ni’at termasuk bid’ah, sebab tidak pernah ada riwayat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan seorang shahabatpun. Maka meninggalkannya adalah wajib sebab tempat niat adalah di dalam hati dan sama sekali tidak diperlukan lafazh niat” (Lihat Fatawa Islamiyah 1:314)

Bersahur dengan apa ???
Sahur seorang muslim yang paling afdhal adalah dengan korma, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

 äöÚúãó ÓóÍõæÑõ ÇáúãõÄúãöäö ÇáÊøóãúÑõ  ÑæÇå ÃÈæ ÏÇæÏ

“Sebaik-baik sahurnya seorang mu’min adalah korma” (HR. Abu Daud)
Barangsiapa yang tidak menemukan korma, hendaknya bersungguh-sungguh untuk bersahur walau hanya dengan meneguk satu teguk air, karena keutamaan yang disebutkan tadi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

 ÇáÓøóÍõæÑõ Ãóßúáõåõ ÈóÑóßóÉñ ÝóáÇó ÊóÏóÚõæåõ æóáóæú Ãóäú íóÌúÑóÚó ÃóÍóÏõßõãú ÌõÑúÚóÉð ãöäú ãóÇÁò  ÑæÇå ÃÍãÏ

Sahur itu makanan yang berberkah, janganlah kalian meninggakannya walaupun hanya seteguk air” (HR. Ahmad)

Waktu sahur
Waktu sahur adalah mulai tengah malam hingga terbit fajar (subuh).
Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad , ia berkata : “Ketika turun ayat :

 …æóßõáõæÇ æóÇÔúÑóÈõæÇ ÍóÊøóì íóÜÜÊóÜÈóÜÜíøóÜäó áóßõãõ ÇáúÎóíúØõ úÇáÃóÈúíóÖõ ãöäó ÇáúÎóíúØö ÇúáÃóÓúæóÏö…  ÇáÈÞÑÉ : 187

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam”. (QS. Al Baqarah : 187)
pada watu itu seseorang jika ingin berpuasa, ia mengikat benang hitam dan putih di kakinya, lalu dia terus makan dan minum hingga jelas melihat kedua benang tersebut. Kemudian Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menurunkan ayat :

 …ãöäó ÇáúÝóÌúÑö…  ÇáÈÞÑÉ : 187

“(yaitu) fajar”
mereka akhirnya tahu bahwa yang dimaksud adalah hitam (gelapnya) malam dan terang (putihnya) siang” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan di riwayat lain dari shahabat Adi bin Hatim Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata :

áóãøóÇ äóÒóáóÊú  ÍóÜÜÊøóì íóÜÜÊóÈóÜÜíøóÜäó áóßõãú ÇáúÎóíúØõ ÇúáÃóÈúíóÖõ ãöäú ÇáúÎóíúØö ÇúáÃóÓúæóÏö  ÚóãóÏúÊõ Åöáóì ÚöÞóÇáò ÃóÓúæóÏó æóÅöáóì ÚöÞóÇáò ÃóÈÜÜúíóÖó ÝóÌóÚóáúÊõåõÜÜãóÇ ÊóÍúÊó æöÓóÇÏóÊöí ÝóÌóÚóáúÊõ ÃóäÜÜÜúÙõÑõ Ýöí Çááøóíúáö ÝóáÇó íóÓúÊóÈöíäõ áöí ÝóÛóÏóæúÊõ Úóáóì ÑóÓõæáö Çááåö  ÝóÐóßóÑúÊõ áóåõ Ðóáößó ÝóÞóÇáó  ÅöäøóãóÇ Ðóáößó ÓóæóÇÏõ ÇááøóÜÜíúáö æóÈÜÜóíóÇÖõ ÇáÜäøóÜÜåóÇÑö  ÑæÇå ÇáÈÎÇÑí æ ãÓáã

“Ketika turun ayat : “Makan dan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam (yaitu) fajar”. aku mengumpulkan antara tali berwarna hitam dan tali berwarna putih, kemudian aku meletakkan keduanya di bawah bantalku, apabila telah malam maka aku selalu melihatnya namun tidak nampak, pagi harinya aku pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan kuceritakan kepadanya perbuatanku tersebut, maka beliaupun bersabda : “Maksud ayat tersebut adalah hitamnya malam dan putihnya siang” (HR. Bukhari dan Muslim)
Fajar terbagi atas dua :
1. Fajar kadzib yaitu cahaya berwarna putih yang memancar panjang yang menjulang seperti ekor serigala, saat ini tidak dibolehkan shalat shubuh dan belum diharamkan untuk makan dan minum
2. Fajar shadiq yaitu cahaya yang memerah yang bersinar dan tampak di atas bukit dan gunung-gunung, dan tersebar di jalanan dan atap-atap rumah, saat inilah diharamkan makan dan minum bagi yang akan berpuasa dan di bolehkannya malaksanakan shalat shubuh.
Rasulullah bersabda :

  ßõáõæÇ æóÇÔúÑóÈõæÇ æóáÇó íóåöíÏóäøóßõãú ÇáÓøóÇØöÚõ ÇáúãõÕúÚöÏõ æóßõáõæÇ æóÇÔúÑóÈõæÇ ÍóÜÜÊøóì íóÜÚúÊóÑöÖó áóßõãú ÇúáÃóÍúãóÑõ   ÑæÇå ÇáÊÑãÐí æ ÃÈæ ÏÇæÏ

“Makan dan minumlah dan jangan kalian dihalangi (dari makan dan minum) oleh fajar yang memancar ke atas, makan dan minumlah sampai nampak fajar shadiq yang membentang” (HR. Tirmidzi, Abu Daud)
      
Jika telah jelas terbitnya fajar shadiq maka saat itulah yang di namakan waktu imsak atau menahan dari makan, minum dan berjima’.

Mengakhirkan Sahur

Disunnahkan mengakhirkan makan sahur sesaat sebelum fajar shadiq, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

 áÇó ÊóÒóÇáõ ÃõãøóÊöí ÈöÎóíúÑò ãóÇ ÚóÌøóáõæÇ ÇúáÅöÝúØóÇÑó æóÃóÎøóÑõæÇ ÇáÓøõÍõæÑó ÑæÇå ÃÍãÏ

“Senantiasa ummatku dalam keadaan baik apabila mempercepat buka puasa dan mengakhirkan sahur” (HR. Ahmad)
dan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata:

 ÊóÓóÍøóÑúäóÇ ãóÚó ÇáäøóÈöíøö  Ëõãøó ÞóÇãó Åöáóì ÇáÕøóáÇóÉö ÞõáúÊõ ßóãú ßóÇäó ÈóÜÜíúäó ÇúáÃóÐóÇäö æóÇáÓøóÍõæÑö ÞóÇáó ÞóÏúÑõ ÎóÜãúÓöíäó ÂíóÉð  ÑæÇå ÇáÈÎÇÑí æãÓáã

“Kami makan sahur bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kemudian beliau shalat.” Aku (Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu ) bertanya, “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab. “Kira-kira seperti lamanya membaca 50 ayat Al Qur’an” (HR. Bukhari dan Muslim)
Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar ÑÍãå Çááå“yaitu seperti lamanya orang yang membaca (50 ayat) secara pertengahan, bukan ayat yang panjang dan bukan pula yang pendek, bukan membaca dengan cepat dan bukan pula dengan lambat” (Lihat Fathul Baari 4:164)

Menetapkan waktu imsak sebelum fajar shadiq

Masyarakat muslim dewasa ini beranggapan bahwa  imsak  adalah tidak boleh makan dan minum beberapa menit sebelum waktu shubuh, ini adalah anggapan yang keliru, bahkan kekeliruan ini semakin besar dengan menentukan waktu imsak dan membuat jadwal tertentu sebelum waktu fajar shadiq. Mereka berdalilkan perkataan Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘Anhu , ketika beliau ditanya oleh  Anas bin Malik tentang jarak antara adzan dan  sahur Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, ia berkata:

 ÞóÏúÑõ ÎóãúÓöíäó ÂíóÉð  ÑæÇå ÇáÈÎÇÑí æãÓáã

 “Kira-kira seperti lamanya membaca 50 ayat Al Qur’an” (HR. Bukhari dan Muslim)
Padahal hadits di atas bukanlah batasan terakhir untuk makan sahur akan tetapi hanyalah penjelasan tentang kebiasaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menghentikan sahur, dengan kata lain masih dibenarkan untuk makan sahur kurang dari waktu tersebut, hal ini  berdasarkan ayat dan hadits terdahulu (lihat dalil-dalil waktu sahur hal. 2), bahkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam masih memberikan keringanan kepada seseorang yang apabila di tangannya ada segelas air yang belum sempat ia minum, sedangkan fajar shadiq telah masuk untuk meminumnya walaupun ia mendengarkan adzan, Rasulullah  bersabda :

 ÅöÐóÇ ÓóãöÚó ÃóÍóÏõßõãú ÇáäøöÏóÇÁó æóÇúáÅöäóÇÁõ Úóáóì íóÏöåö ÝóáÇó íóÖóÚúåõ ÍóÜÊøóì íóÜÞúÖöíó ÍóÇÌóÜÜÊóåõ ãöäúåõ  ÑæÇå ÃÈæ ÏÇæÏ æ ÇáÍÇßã æ ÃÍãÏ

“Jika salah seorang dari kalian mendengar adzan padahal gelas ada di tangannya, janganlah ia letakkan hingga memenuhi hajatnya (meminumnya)” (HHR. Abu Daud, Al Hakim dan Ahmad)
Berkata Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam, seorang tokoh ulama Najd, Saudi Arabia : “Dengan ini kita dapat mengetahui hahwa dua waktu yang dibuat orang yaitu waktu imsak untuk memulai tidak makan/ minum di waktu sahur dan waktu terbit  fajar, adalah bid’ah, sama sekali tidak ada petunjuknya dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Itu hanyalah waswasah (bisikan) syaithan untuk mengotori kemurnian dienul Islam. Imsak (menahan makan dan minum) yang sebenarnya menurut sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah pada saat terbit fajar itu sendiri”. (Lihat Taysir Al Allam juz. I hal. 429, Hadits no. 177)
     
Kini telah jelas bahwa melarang makan sebelum terbit fajar shadiq dengan dalil tersebut adalah perbuatan yang di ada-adakan dalam agama (bid’ah) –Wallahu A’lam-
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, keluarga dan shahabat beliau.

Maraji’:
Shifatus Shoumi An Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam fi Ramadhan, Salim bin ‘Ied Al Hilali dan ‘Ali Hasan ‘Ali Abdul Hamid

 

Artikulli paraprakHal-Hal Yang Dibolehkan Dalam Berpuasa
Artikulli tjetërHukum-Hukum Seputar Ramadhan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini