Sahabatku, engkau pasti sangat mengenal Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Beliau adalah sahabat nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits. Beliau radhiallahu ‘anhu meriwayatkan sekitar 5374 hadits dari rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (A’lam al akhyar min fukaha madzhab an nu’man al mukhtar, hal.106). Bukan hanya banyak meriwayatkan hadits, tapi beliau adalah sahabat yang sangat setia menemani sang nabi. Hingga rasulullah pun memujinya sebagai sahabat yang sangat semangat dalam menunut ilmu. Sewaktu sakit menjelang wafatnya, Abu Hurairah sempat menangis. Ketika ditanya, beliau berkata, “Aku menangis bukan karena memikirkan dunia, melainkan karena membayangkan jauhnya perjalanan menuju negeri akhirat. Aku harus menghadap Allah, Rabb Yang Mahakuasa. Namun aku pun tak tahu, perjalananku ke surga tempat kenikmatan atau ke neraka tempat penderitaan?” (Hilyatul auliya juz 2, hal.71)

Sahabatku, apa yang telah membuat Abu Hurairah radhiallau ‘anhu menangis sebelum ia wafat? Apa karena ditolak wanita cantik? Atau belum menikmati harta yang banyak? tidak, sungguh tidak, sahabat nabi yang mulia itu hanya khawatir akan kurangnya bekal yang akan ia bawa ke kampung akhirat. Sahabatku, kematian adalah perkara yang pasti, ia adalah tamu bagi setiap yang bernyawa. Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam surah Al anbiya ayat ke 34-35,:
وَمَا جَعَلۡنَا لِبَشَرٖ مِّن قَبۡلِكَ ٱلۡخُلۡدَۖ أَفَإِيْن مِّتَّ فَهُمُ ٱلۡخَٰلِدُونَ ٣٤ كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ٣٥
Artinya,:
34. Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal
35. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.

Sahabatku, kematian adalah jodoh yang pasti. Ia tak pernah peduli meskipun mereka yang dipisahkannya itu adalah orang-orang yang saling mengasihi dan mencintai. Yang kaya maupun yang miskin, muda atau yang tua, yang sehat atau yang sakit, ia telah banyak menarik dengan paksa para raja dari singgasana mereka menuju lubang kecil bernama liang kubur. Sahabatku, jika engkau begitu memahami hakikat ini, lantas kematian seperti apa yang akan engkau pilih? Kematian sebagai hamba yang durhaka kepada rabbnya? Atau hamba shalih yang selalu taat akan perintahNya? Sahabatku, engkau mampu memilih jalan kematianmu.

Sahabatku, jika engkau berharap diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah, dalam keadaan yang baik. Maka engkau harus menguatkan ketakwaanmu, memperbanyak ibadahmu, merajai hatimu untuk selalu jujur kepada Allah, agar keshalihanmu adalah keshalihan lahir dan bathin. Habiskan waktu-waktumu di atas pengabdian yang luhur kepada Rabb semesta alam, hingga engkaupun diwafatkan di atas kebiasaanmu sebagai hamba yang taat kepadaNya. Al Imam Al Suyuti dalam kitabnya Al jami’ al shaghir, hadits nomor 9018, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,:
من مات على شيء بعثه الله عليه
Artinya,”Siapa saja yang wafat di atas sebuah amalan, maka ia akan dibangkitkan dengan keadaannya itu.”
Hadits ini juga diriwayatkan oleh al Imam muslim dalam kitab shahihnya. Al Imam al Munawi ketika menjelaskan hadits ini, beliau berkata,:
أَي يَمُوت على مَا عَاشَ عَلَيْهِ وَيبْعَث على ذَلِك
“Yakni, bahwa seseorang itu akan meninggal sesuai dengan kebiasaan amalannya ketika hidup, dan ia juga akan dibangkitkan dalam keadaan seperti itu.”
(Al taisir bisyarhi al jami’ al shagir, juz 2, hal. 444)

Sahabatku, dengan demikian, jika kita hendak memilih wafat dalam keadaan yang baik, sebagai seorang hamba yang taat. Maka amalan-amalan yang kita pakai untuk menghabiskan waktu-waktu kita hendaknya dengan amalan-amalan shalih, amalan yang lahir dari ketakwaan kita kepada Allah, yang selaras antara amalan dzhahir dan bathin kita (amalan hati).
Seorang penyair berkata,:

وَلَدَتْكَ أُمُّكَ يَا ابْنَ آدَمَ بَاكِيَاً * وَالنَّاسُ حَوْلَكَ يَضحَكُونَ سُرُورَا
فَاعْمَلْ بخَيرٍ كَيْ تَكُونَ إِذَا بَكَواْ * في يَوْمِ مَوْتِكَ ضَاحِكَاً مَسْرُورَا

“Ibumu telah melahirkan engkau wahai anak cucu adam sedang engkau menangis”
“Sedangkan manusia di sekelilingmu tertawa bahagia” (atas kelahiran mu)
“Beramal baiklah untuk dirimu!”
“Agar pada ketika orang menangis di saat kematian mu, engkau tertawa bahagia” (bertemu tuhan mu). (Mausu’ah Al Raqaiq wa al Adab, Juz 1, hal. 3248)

Semoga Allah senantiasa memberikan keselamatan kepada kita baik di dunia maupun di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,:

ما من دعوة يدعو بها العبد أفضل من: اللهم إني أسألك المعافة في الدنيا و الآخرة

“Tidak ada do’a yang paling baik yang seorang hamba berdo’a dengannya dari do’a : YA allah sesungguhnya hamba meminta kepadaMu keselamatan di dunia dan di akhirat.” (H.R Ibn Majah. No. 3851)

Wallahu ta’ala a’lam.

Ditulis oleh : Rusdy Qasim
(Mahasiswa Universitas Islam Madinah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here