Ruhiyah I’tikaf
(Al Balagh Ed. 62/Ramadhan 1427 H)
Allah Ta’ala mensyari’atkan kepada hamba-hambaNya beberapa ibadah yang melibatkan gerakan fisik dan konsentrasi jiwa. Dengan ibadah itu seorang hamba berkhalwat kepada Rabbnya, tunduk dan menyerunya dengan penuh kekhusyu’an.
Dengan ibadah tersebut ia berpisah dengan hiruk pikuk dunia untuk sementara. Tujuannya agar ia menjadi hamba yang Rabbani. Diantara ibadah itu adalah i’tikaf. Diantara ibadah itu adalah i’tikaf.

Ibadah I’tikaf ini dikerjakan oleh Rasulullah setiap Ramadhan. Dari Abi Hurairah, beliau berkata: “Adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam beri’tikaf setiap ramadhan selama 10 hari, akan tetapi pada tahun wafatnya, beliau beri’tikaf 20 hari” (HR. Bukhari)
Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari  ibadah I’tikaf, kalau sunnah yang mulia ini diprogram dengan baik, diantaranya:          

a. Menambah frekwensi hubungan dengan Allah. Dengan I’tikaf kita bisa memperbanyak  jenis ibadah  kita dan menambah intensitasnya. Ini tidak bisa kita lakukn di luar ramadhan karena banyaknya kesibukan kita.

b.  I’tikaf adalah kesempatan yang paling bagus untuk menambah ilmu.

c. Terkhusus bagi para du’at, ini adalah kesempatan terbaik untuk melakukan tarbiyah dzatiyah,      mentarbiyah jiwa dengan ibadah-ibadah yang berfungsi menguatkan jiwa

Tujuan kita mengangkat tema ini adalah karena adanya penyakit yang melanda kebanyakan orang shalih. Yaitu, rendahnya perhatian mereka dalam menambah intensitas dan frekwensi ibadah dan taqarrub kepada Allah. Al-Imam Ibnul Jauzi berkata: “Aku berlindung kepada Allah dari orang yang kalau kita bergaul dengannya kita tidak melihat padanya himmah ‘aliyah, sehingga kita bisa mengikutinya. Dan kita juga tidak melihat padanya kezuhudan sehingga orang zuhud bisa mengikutinya”

Hal lain yang tak kalah urgennya adalah pentingnya kita untuk sementara berpisah dengan dunia ini. Agar ruh kita bisa mendaki ke puncak cita-cita untuk selanjutnya melihat dunia nyata, melihat manusia yang tenggelam dalam lumpur kehinaan. Karena itu jiwa yang lemah ini harus  sementara ‘uzlah menuju puncak.

Jika demikian maka I’tikaf yang bagaimana yang kita inginkan?
I’tikaf yang kita inginkan adalah I’tikaf yang menjadiakan kita dekat dengan suasana jiwa para salaf. Salaf shalih banyak menangis karena takut kepada Allah dan rindu bertemu denganNya. Dengan demikian cita-cita mulia ini akan mendorong kita agar dalam hari-hari yang tersisa dari bulan yang mulia ini diisi dengan penuh kesungguhan. Berikut beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar kita bisa menjadikan i’tikaf kita berkualitas.
Banyak Berzikir
Adalah salaf shalih telah sampai pada derajat yang sulit dibayangkan oleh orang yang lemah himmahnya. Di antaranya adalah mudawamatu zikrillah (menetapi dzikrullah). Malik bin Dinar berkata: “Orang yang mencari kelezatan tidak merasakan kelezatan yang sangat seperti pada dzikrullah. Tak satupun ibadah yang paling menenangkan, menggembirakan dan melapangkan jiwa selain dzikrullah”.
Al-Imam Ibnul Qayyim berkata: “Suatu ketika saya menemui syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika beliau sedang shalat subuh, setelah itu beliau duduk berdzikir sampai terbit matahari. Setelah itu beliau berpaling kepadaku lalu berkata: “Inilah makananku, kalau saya tidak mengambilnya maka akan hilang kekuatanku”.
Dilain kesempatan beliau berkata: “Dzikir bagi hati, seperti air bagi ikan, maka bagaimana keadaan ikan yang dikeluarkan dari air?
Di antara orang bijak ada yang pernah berkata:”Sesungguhnya suatu ketika aku pernah berkata, ”jika penduduk surga merasakan seperti yang aku rasakan, sungguh mereka berada dalam kehidupan yang bagus”.
Demikianlah, i’tikaf adalah sarana bagi setiap muslim untuk mengangkat derajatnya di sisi Allah dengan jalan senantiasa membasahi lidahnya dengan dzikir kepada Allah. Hampir tidak ada yang menyibukkan seorang mu’takif (orang yang beri’tikaf) untuk membaca dzikir pagi dan petang-yang banyak diabaikan oleh kebanyakan manusia-,berdo’a sesudah adzan, berdo’a setelah bangun tidur, keluar masuk masjid, berdo’a sebelum makan, dll. Dengan demikian jika seorang mu’takif menetapi semua jenis dzikir maka semua itu diharapkan membekas dalam jiwanya dan menjadi kebiasaannya setelah ramadhan berlalu. Dan ketahuilah dzikir yang paling agung adalah membaca al-Qur’an. Saudara perempuan Imam Malik bin Anas pernah ditanya tentang kesibukan Malik bin Anas dirumahnya, ia berkata:”Beliau mengakrabi mushaf di rumahnya”. Abu Bakr al-Ausy berkata:”Adalah Imam Malik senantiasa melihat ke lembaran mushaf beberapa tahun sebelum beliau wafat dan beliau sangat lama membacanya dan panjang tangisnya”.
Itulah para pendahulu kita para salafus shalih-rahimatullahi alaihim jami’an-, bacaan al-Qur’an mereka sangat banyak dilembaran hari-hari mereka. Dan itu semakin bertambah-tambah di bulan Ramadhan. Maka hendaknya orang berakal memanfaatkan kesempatan i’tikaf ini agar ia bisa menenggelamkan dirinya dalam lembaran-lembaran al-Qur’an. Jika seorang mu’takif  memanfaatkan waktunya dengan konsentrasi penuh membaca al-Qur’an maka ia akan mendapatkan kelezatan dan kemanisan jiwa yang tiada tara. Dengan demikian, kita akan lebih diantar untuk bertasyabbuh dengan salafusshalih.

Memperbanyak Shalat sunnat dan Memanjangkannya.
Muhammad bin Sama’ah berkata: ”Saya telah hidup empat puluh tahun dan belum pernah ketinggalan takbir pertama (dalam shalat berjama’ah) kecuali pada hari meninggalnya ibuku”.
Setiap kita yang mencita-citakan kesempurnaan shalat hendaknya memperhatikan dan merenungkan peristiwa seperti ini agar kita bercermin dengan mereka para salaf shalih.  Bagi kita yang sering ketinggalan takbir pertama hendaknya mengoreksi diri. Sebab ketinggalan takbir pertama dalam rentang waktu lama adalah salah satu bentuk pengabaian atas dua sunnah yaitu sunnah menetapi takbir imam dan shalat dua rakaat sebelum shalat. Maka, hari-hari i’tikaf adalah sarana yang paling baik untuk melatih diri dan senantiasa menambah kualitas shalat kita. Jadi kalau ada di antara para mu’takif yang sering ketinggalan takbir pertama, maka apa yang ia inginkan dari i’tikafnya?
Ibnu Wahb berkata: “Saya melihat Imam at-Tsaury di masjidil haram shalat sesudah maghrib, ketika ia sujud dengan sujud yang panjang dan tidak mengangkat kepalanya sampai adzan isya berkumandang”.
Di antara taqarrub yang sangat agung di bulan ramadhan adalah qiyamullail dan ini adalah kesempatan bagi para mu’takif berpanjang-panjang dalam qiamullailnya. Adalah Sufyan at-Tsaury kalau tiba pagi, beliau menjulurkan kakinya ke atas dan meletakkan kepalanya di bawah dengan harapan peredara darah normal kembali setelah semalam berdiri lama dalam qiamullail.
Itulah salaf kita, harapan kita dengan i’tikaf kita bisa mendapatkan berkah dari Lailatulqadar dan menambah kualitas ketakwaan kita seperti Salaf shaleh atau paling tidak mendekatinya.
Wallahu Ta’ala A’lam

Abu Hasan al-Bugisy

Artikulli paraprakAgar Tak Sekedar Lapar Dan Haus
Artikulli tjetërPenyebaran Sumbangan Buka Puasa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini