Alhamdulillah washolatu wassalamu ala rasulillah, amma ba’du.

Sholat merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan juga merupakan tiang agama, apabila ia ditinggalkan secara sengaja maka dia telah kufur, wal iyyadzu billah.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari sahabat jabir bin abdillah radhiyallahu anhu :

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالكُفْرِ ، تَرْكَ الصَّلاَةِ

“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan syirik dan kufur itu adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

Dan juga hadits dari sahabat Buraidah radiyallahu anhu :

العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian yang mengikat antara kita dan mereka adalah shalat, maka siapa saja yang meninggalkan shalat, sungguh ia telah kafir.” (HR. At-Tirmidzi)

Dalam al qur’an ditegaskan bahwasannya sholat itu ada waktu-waktu yang telah ditetapkannya, dan tidak sah ketika sholat dikerjakan diluar waktunya, kecuali dengan udzur yang syar’i yang menyebabkan dikerjakan diluar waktunya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ كِتَـٰبࣰا مَّوۡقُوتࣰا

“Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [Q.S. An-Nisa’ 103]

Bahkan orang yang berjihab fi sabilillah pun mereka tetap diperintahkan untuk sholat pada waktunya, Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَإِذَا كُنتَ فِیهِمۡ فَأَقَمۡتَ لَهُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَلۡتَقُمۡ طَاۤىِٕفَةࣱ مِّنۡهُم مَّعَكَ وَلۡیَأۡخُذُوۤا۟ أَسۡلِحَتَهُمۡۖ فَإِذَا سَجَدُوا۟ فَلۡیَكُونُوا۟ مِن وَرَاۤىِٕكُمۡ وَلۡتَأۡتِ طَاۤىِٕفَةٌ أُخۡرَىٰ لَمۡ یُصَلُّوا۟ فَلۡیُصَلُّوا۟ مَعَكَ وَلۡیَأۡخُذُوا۟ حِذۡرَهُمۡ وَأَسۡلِحَتَهُمۡۗ وَدَّ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ لَوۡ تَغۡفُلُونَ عَنۡ أَسۡلِحَتِكُمۡ وَأَمۡتِعَتِكُمۡ فَیَمِیلُونَ عَلَیۡكُم مَّیۡلَةࣰ وَ ٰ⁠حِدَةࣰۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَیۡكُمۡ إِن كَانَ بِكُمۡ أَذࣰى مِّن مَّطَرٍ أَوۡ كُنتُم مَّرۡضَىٰۤ أَن تَضَعُوۤا۟ أَسۡلِحَتَكُمۡۖ وَخُذُوا۟ حِذۡرَكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلۡكَـٰفِرِینَ عَذَابࣰا مُّهِینࣰا

“Dan apabila engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu engkau hendak melaksanakan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata mereka, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang lain yang belum shalat, lalu mereka shalat denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata mereka. Orang-orang kafir ingin agar kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu sekaligus. Dan tidak mengapa kamu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat suatu kesusahan karena hujan atau karena kamu sakit, dan bersiap siagalah kamu. Sungguh, Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.” [Q.S. An-Nisa’ 102]

Lalu bagaimana tatacata perempuan haid mereka melaksanakan sholat wajib ketika telah suci di waktu sholat. Dalam artikel ini kita akan membahas secara ringkas agar memiliki banyak manfaat kepada kaum muslimin.

Syaikh Bin baz rahimahullah mengatakan dalam fatawa beliau :

إذا طهرت في وقت صلاة تجمع إلى ما يليها فإنها تصلي الاثنتين، فإذا طهرت في وقت العصر فإنها تصلي الظهر والعصر، وإذا طهرت في وقت العشاء فإنها تصلي المغرب والعشاء، وإذا طهرت بعد طلوع الفجر فإنها تصلي الفجر فقط، هذا الواجب عليها كما أفتى بذلك جماعة من الصحابة رضوان الله عليهم؛ لأنها كالمريض يجمع بين الصلاتين

“Ketika wanita suci pada waktu sholat maka dia menjamak dengan sholat yang berikutnya dengan mengerjakan dua-dua (raka’at), apabila suci diwaktu ashar maka dia sholat dhuhur dan ashar, apabila dia suci di waktu isya maka sholat magrib dan isya’, apabila dia suci di waktu fajr maka dia hanya sholat subuh saja, dan ini merupakan fatwa dari para sahabat ridwanullah alaihim ajmain. Karena dia (yang haid) hukumnya seperti orang sakit yang bisa menjama’ sholat.”
(Lihat Fatawa wa Maqalaat Asy Syaikh Ibn Baz jilid 29 hal 125)

Adapun ulama yang tidak memandang hukum masalah haid tidak seperti orang yang sakit maka tidak dikerjakan dua-dua rokaat. Sholat dhuhur, ashar, dan isya tetap di kerjakan dalan empat rokaat.

Dan juga kumpulan Fatawa Lajnah Da’imah dikatakan :

وجاء في فتاوى اللجنة الدائمة للإفتاء (6/158) : ” إذا طهرت المرأة من الحيض أو النفاس قبل خروج وقت الصلاة الضروري لزمتها تلك الصلاة وما يجمع إليها قبلها

“Ketika wanita suci dari haid atau nifas sebelum keluar waktu sholat maka dia wajib mengerjakan sholat itu dan sholat yang dijama’ kan bersama nya” (lihat dalam fatawa Al Lajnah Ad Daimah Lil Ifta’ Jilid 6 hal. 158)

Maksudnya yaitu sholat dhuhur dikerjakan bersama ashar di waktu ashar, dan sholat magrib bersama isya di waktu isya.

Tata cara mengerjakan nya bisa berdasarkan urutan sholat, dan bisa juga berdasarkan waktu sholat yang sebenarnya.

contoh ketika suci di waktu isya, maka boleh sholat isya dulu baru mengqadha’ sholat magrib, atau mengqodha’ sholat magrib dulu baru kemudian sholat isya.

Adapun ketika wanita haid suci disaat sholat dhuha, yang artinya sholat subuh telah habis waktunya, maka dia tidak perlu mengqadha’ sholat subuh dan sholat-sholat yang lain.

Adapun syaikh Muhammad bin Shalih Al-utsaimin rahimahullah mengatakan dalam kitab syarh al mumti’ :

لا يلزمها إلا الصَّلاة التي أدركت وقتها فقط ، فأما ما قبلها فلا يلزمها ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ( من أدرك ركعةً من الصَّلاة فقد أدرك الصَّلاة )

“Dia tidak wajib sholat kecuali sholat yang ditemui waktunya saja, adapun sholat yang sebelumnya tidak wajib baginya, karena nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda : barangsiapa yang mendapati satu rokaat dalam sholat maka dia telah mendapati sholat” (Lihat Kitab Syarh Al-Mumti’ jilid 2 hal. 133)

Kesimpulan :
1. Ulama berbeda pendapat apakah sholat yang ditinggalkan wanita haid wajib di qodho atau tidak, sebagian mengatakan wajib sebagian tidak.
2. Bagi yang memandang wajib mengqodho’ maka ketika suci di waktu ashar, wajib juga sholat dhuhur, begitu pula yang suci di waktu sholat isya wajib mengodho’ sholat magrib.
3. Tatacara qodho sholat boleh berdasarkan tartib sholat (urutan sholat) bisa juga dengan i’tibar Auqot atau waktunya.
4. Bagi yang suci pada waktu dhuha maka dia tidak wajib mengqodho’ apapun. Kecuali dalam madzhab yang mewajibkan untuk mengqodho semua sholat yang ditinggalkan.
5. Pendapat bahwa tidak ada kewajiban qodho sama sekali, dan wanita tersebut hanya mengerjakan sholat yang dia dapati waktunya.

Wallahu a’lam.

Oleh : H. Yoshi Putra Pratama S.H.,
(Alumni STIBA Makassar & Mahasiswa UIM KSA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here