Wahdah Islamiyah, Ormas Lokal yang Diperhitungkan Dunia Internasional

Buku ini memaparkan sejarah kelahiran, perkembangan, serta pengaruh Wahdah Islamiyah dalam dinamika sosial, politik dan keagamaan di Indonesia.

Judul Buku : Islam Dan Politik Lokal
Penulis : Syarifuddin Jurdi
Tebal   : 372 Halaman
Cetakan : Pertama, Mei 2006
Penerbit : Pustaka Cendekia Press

Pasca peledakan menara kembar WTC New York Selasa, 11 September 2001 silam, AS kasak-kusuk mencari dukungan negara-negara di dunia untuk memerangi terorisme. Afghanistan, Irak, dan beberapa Negara Muslim lainnya—termasuk Indonesia—dituduh negara Paman Bush sebagai sarang kelompok teroris bernama Jemaah Islamiyah (JI) sehingga layak untuk diinvasi, atau minimal pemerintahnya diintervensi.

Selain Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI), Ponpes Hidayatullah Balikpapan, dan Ponpes Al Mukmin Ngruki Solo pimpinan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, International Crisis Group (ICG) memasukkan nama Wahdah Islamiyah sebagai lembaga ‘pembina’ teroris yang meresahkan masyarakat sejak maraknya kasus bom di negara ini. Bahkan untuk memperkuat tuduhannya, ICG dalam laporannya berjudul Jemaah Islamiyah in South East Asia: Damaged but Still Dangerous menyebut-nyebut pelaku Bom Makassar akhir 2002 lalu sebagai ‘orang binaan’ ormas lokal yang berdiri di ibukota Sulsel.

Syarifuddin Jurdi, kandidat doktor Ilmu Politik UGM dalam buku ini memaparkan mengapa ICG menuduh Wahdah Islamiyah sebagai salah satu lembaga yang patut diwaspadai AS. Penelitiannya terhadap ormas ini selama lebih-kurang 2 tahun (2003-2005) menghasilkan kesimpulan bahwa Wahdah Islamiyah tidak seperti apa yang dituduhkan ICG.

Ternyata, menurut Syarifuddin Jurdi, ICG tidak melakukan azas obyektivitas dalam penelitiannya. Lembaga yang diketua Sidney jones itu bersikap subyektif dan membuat laporan sesuai ‘pesanan’ AS sebagai negara sponsor yang memberikan tidak sedikit dananya bagi aktivitas ICG.
Tuduhan tidak berdasar yang dilakukan ICG membuat sebagian masyarakat sempat menaruh curiga buta terhadap Wahdah Islamiyah. Namun ormas yang didirikan beberapa mubalig alumni perguruan tinggi Timur Tengah memiliki ketabahan luar biasa dalam menghadapi fitnah tersebut. Ketabahan dan kejujuran Wahdah Islamiyah sebagai lembaga dakwah akhirnya membuahkan hasil. Kini masyarakat semakin bersimpati terhadap ormas lokal yang berpusat di Makassar tersebut. Perusahaan-perusahan besar (termasuk beberapa BUMN) pun tidak ragu-ragu menitipkan dana bantuan sosialnya kepada Wahdah Islamiyah untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk di antaranya dana pembangunan masjid, pesantren, serta fasilitas umum lainnya yang kini tersebar di 34 kota / kabupaten.
Bahkan hubungan Wahdah Islamiyah dengan pejabat maupun instansi pemerintah, TNI, serta Polri semakin erat. Salah satu bukti kedekatan hubungan tersebut adalah banyaknya pejabat pemerintah daerah (bupati, walikota, serta pejabat lainnya) yang berkenan meresmikan amal-amal usaha yang dikelola Wahdah Islamiyah. Malah presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan wapres H.M. Jusuf Kalla memuji semangat Wahdah Islamiyah dalam berdakwah di berbagai bidang.

Dalam buku yang terdiri dari 5 bab ini, penulis juga menceritakan sejarah kelahiran, perkembangan, hingga prestasi-prestasi Wahdah Islamiyah sehingga banyak memperoleh simpati masyarakat. Atas bantuan dan simpati masyarakat maupun pemerintah, ormas tersebut mampu membuka 34 cabang di seluruh Kawasan Timur Indonesia. Bahkan sejak tahun 2005 telah ada beberapa perwakilan dakwah ormas ini di Kawasan Barat Indonesia, seperti Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Pekanbaru, Aceh, dan Jakarta.
Perkembangan dakwah Wahdah Islamiyah yang luar biasa sebenarnya dapat diraih berkat pembinaan intensif bagi anggotanya melalui tarbiyah Islamiyah sehingga lahir insan-insan shaleh yang profesional di bidang masing-masing (sebagian kader binaan Wahdah Islamiyah berdakwah melalui amal-amal usaha ormas tersebut seperti pendidikan, kesehatan, social, dan lingkungan hidup).
 Penulis buku ini pun mengamati, beberapa parpol peserta pemilu 2004, team sukses para pasangan capres-cawapres dalam pilpres 2004, hingga para team sukses pilkada saling berlomba-lomba untuk meraih simpati—baca: suara—para anggota maupun simpatisan ormas tersebut yang kini jumlahnya di seluruh Indonesia mencapai ratusan ribu orang. Diperkirakan dalam 20 tahun mendatang Wahdah Islamiyah akan tumbuh sebagai ormas besar yang dapat disejajarkan dengan NU dan Muhammadiyah yang telah eksis sejak puluhan tahun silam. Wallahu’alam.

Peresensi :
Muhammad Nurhidayat Kaban
Alumni FISIP Universitas Hasanuddin,
Kini Mengajar di STIBA Makassar dan FISIP UIM.

Dapatkan segera Bukunya di:
Toko Buku Bursa Ukhuwah Agency, Kompleks Ruko Graha Modern Jaya Jl.Andi Tonro No. 5 Makassar
Tlp : (0411) 850509

Artikulli paraprakPernyataan Sikap Wahdah Islamiyah Menyikapi Palestina & Lebanon
Artikulli tjetërMENGENAL MA’HAD ‘ALIY AL-WAHDAH MENGENAL MA’HAD ‘ALIY AL-WAHDAH

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini