?Renungan?
?Tahun Barumu

Syaikh Ali ath-Thanthawi rahimahullah berkata:

ولو أنا إذا متنا تركنا

Jika saja setelah mati kita dibiarkan begitu saja

لكان الموت راحة كل حي

Maka sungguh kematian itu akan menjadi tempat peristrahatan bagi setiap yang hidup

ولكنا إذا متنا بعثنا

Tapi ternyata setelah mati, kita harus dibangkitkan lagi

ونسأل بعدها عن كل شيئ

Dan akan dimintai pertanggung jawaban atas segala yang kita lakukan.

نتجاهل الموت وهو نازل بنا يوما، وبعد الموت الحساب الدقيق عن كل عمل عملناه أحصاه الله ونسوه في كتاب لا يدع صغيرة ولا كبيرة إلا أحصاها يفجأ به العبد يوم القيامة ويوضع تحت عينيه يقال له (( اقرأ كتابك كفى بنفسك اليوم عليك حسيبا ))

Kita bersikap bodoh terhadap kematian, padahal ia pasti menghampiri kita pada suatu hari. Lalu setelah kematian itu, akan ada perhitungan yang amat teliti atas segala amalan yang kita lakukan. Allah menghitung semuanya semntara hamba-hamba-Nya telah melupakannya, tidak akan tertinggal yang kecil ataupun yang besar, kecuali semua akan dihitung oleh Allah. Kagetlah setiap hamba pada hari kiamat dengan amalan-amalannya, lalu diletakkan kitab perhitungan amalan itu di hadapannya. Dikatakan kepadanya: “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu”. QS. Al-Isra: 14

وإذا أنكر أسكت الله لسانه، وأشهد عليه جوارحه، فشهد اليد بما بطشت أو سرقت، والرجل بما مشت ألى الحرام، والعين بما رأت من الحرام، والفرج بما باشر من الحرم، يرى ذلك بعنيه ويسمع بأذنيه

Dan jika hamba itu mengingkarinya, Allah kemudian membungkam lisannya dari berucap, lalu anggota-anggota tubuhnya bersaksi terhadapnya.

Tanganpun bersaksi terhadap apa yang pernah ia sentuh, pukul ataupun curi, kaki bersaksi akan tempat haram yang pernah ia datangi, mata bersaksi terhadap perkara haram yang ia lihat, kemaluan bersaksi akan sesuatu yang haram yang telah ia lakukan.

Semua itu nantinya akan ia lihat dengan kedua matanya dan dengar dengan kedua telinganya.
(Nurun Wa Hidayah: 12)

———–

Duh Tuhan, tahun baru sudah tiba. Sementara pada setiap malam-malam seperti ini tidak sedikit dari hamba-hamba-Mu yang Engkau panggil, sedang perbekalan akhiratnya belum cukup menyelamatkannya dari siksamu. Mereka sadari itu, tapi…

Duh Tuhan, tahun baru sudah tiba. Sementara hamba-hamba-Mu masih saja gemar mengikuti budaya musuh-musuh-Mu yang dapat membinasakan diri mereka pada hari kiamat.

Tapi sayang, justru dengannya mereka berbabangga-bangga, bersenang-senang, berhura-hura, beruforia dalam gegap gempita semarak tahun baru itu. Lalu berkatalah mereka, “Rugilah engkau semalam tidak ikut bersama kami dalam pesta tahun baru.”

Padahal Engkau telah berfirman:

قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ (15) لَهُم مِّن فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِّنَ النَّارِ وَمِن تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ۚ

“Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api).” (QS. Az-Zumar: 15-16)

Duh Tuhan, tahun baru sudah tiba, dan kami tahu bahwa hal itu tidak menambah jatah hidup kami, tapi justru mengurangi jatah hidup ini di dunia.

Sementara kami masih saja tertipu dengan amalan-amalan kami, dengan sedekah kami, dengan shalat kami, dengan puasa kami, serasa itu sudah menjamin kami pasti masuk surga, lalu kami lupa kalau Kakek kami, Adam Engkau keluarkan ia dari surga karena satu dosa saja.

Duh Tuhan, ampuni kami semua yang lalai ini.

✍?Ditulis oleh:
Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here