Renungan Kemerdekaan
(Al Balagh Ed.56/Th.II/1427)

Peringatan hari kemerdekaan baru saja berlalu, peringatan yang dirayakan dengan meriah di berbagai penjuru negeri.

Kemeriahan yang tidak jarang membuat lupa akan banyak hal yang masih harus dibenahi dalam kehidupan kita. Kemerdekaan yang telah diklaim oleh negeri ini bukanlah jaminan bahwa negeri ini telah berada pada keadaan yang sempurna. Kenyataannya, masih banyak hal yang berlangsung di tengah-tengah kita yang menunjukkan keterbelakangan dan kelemahan kita yang menuntut perhatian dan tindakan nyata untuk mengangkat dan membawa negeri ini pada kejayaan.
   
Kemerdekaan yang membawa kita pada kondisi aman dan damai yang bisa kita rasakan saat ini adalah sesuatu yang seharusnya membuat kita bersyukur kepada Allah, demikian pula kepada orang-orang yang telah ikhlas berjuang untuk mengupayakannya. Bersyukur dalam arti sesungguhnya dengan penuh ketulusan hati, ikrar dengan lisan dan  tampak dalam amal perbutan yang mengundang keridhaan-Nya. Kesyukuran menjadi hal yang sangat menentukan untuk menjaga keberlangsungan nikmat dari Allah subhaana wa ta’ala. Kemerdekaan yang disikapi dengan kedurhakaan dan jauhnya diri dari petunjuk Allah hanyalah akan mengundang bencana dan kesengsaraan. Dan janji untuk adanya tambahan Nikmat dari-Nya, sebaliknya pengingkaran akan mendatangkan azab yang pedih, Allah subhaanahu wa ta’ala
berfirman, artinya:  “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti Azab-Ku sangat berat” (QS. Ibrahim:7).
   
Kemerdekaan yang membuka pintu-pintu kebebasan untuk meraih kesenangan dunia menjadikan sebagian kita terlalaikan, berlomba-lomba meraih kesenangan meski harus menghalalkan segala cara dan melupakan peringatan-peringatan Allah subhaanahu wa ta’ala. Hal ini justru menjadi sebab datangnya siksa dari Allah subhaanahu wa ta’ala sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’ala telah berfirman, artinya: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyang-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44).  
maka kemerdekaan akan menjadi sebuah nikmat yang besar jika kita menyikapinya dengan kesyukuran, dan sebaliknya akan menjadi tipuan yang memperdayakan ketika hal itu justru menjadikan kita ingkar kepada Allah subhaanahu wa ta’ala.

Realitas yang kita saksikan akhir-akhir ini  dengan banyaknya musibah melanda; bencana alam dengan berbagai implikasinya, krisis energi, kemiskinan, wabah penyakit dan sebagainya seharusnya membuat kita banyak berfikir tentang keadaan kita, apa yang salah? Begitu banyak peringatan Allah subhaanahu wa ta’ala datang silih berganti melanda negara kita tidakkah cukup untuk membuat kita sadar akan banyaknya pelanggaran dan dosa yang terjadi di tengah-tengah kita? Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan, beliau bersabda, artinya: “Tidak ada seorang hamba pun ditimpa musibah  yang lebih pedih, atau kurang dari itu, melainkan itu lantaran dosa. Dan yang diampuni Allah itu lebih banyak…” (HR. at-Tirmidzi)
   
Jika kita jujur, tidak akan sulit bagi kita menyebutkan satu persatu bentuk-penyimpangan dan pelanggaran yang banyak merebak di tengah masyarakat kita dari yang terbesar, kesyirikan dan kekufuran, dosa-dosa besar; praktek riba, perzinaan, pembunuhan, perjudian, korupsi, sogok menyogok, saling menzholimi di antara manusia serta  bebagai bentuk dosa dan pelanggaran lainnya yang tampak jelas di hadapan kita bahkan dilakukan terang-terangan. Dalam keadaan yang demikian tidakkah pantas bagi Allah subhaanahu wa ta’ala mendatangkan peringatan dan azabnya? Maha suci Allah subhaanahu wa ta’ala, Ia yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Banyak ayat dalam al-Qur’an memuat kisah umat terdahulu yang dibinasakan hanya dengan satu bentuk kemungkaran yang merebak di tengah-tengah mereka, atau kezhaliman yang merata ditengah-tengah mereka, Allah subhaanahu wa ta’ala  berfirman, artinya: “Dan sesungguhnya kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman” (QS. Yunus: 13). Lalu, bagaimana lagi akan hal yang terjadi di tengah-tengah kita? Tidakkah hal ini menggugah kita untuk segera berkomitmen untuk melakuakan perbaikan-perbaikan pada setiap pribadi dan orang-orang di sekitar kita? Azab yang melanda di dunia ini belumlah seberapa dibanding azab di akhirat, maka berbagai bencana adalah jalan untuk kita kembali kepada-Nya, AllahI berfirman tentang orang-orang yang fasik, artinya: “Dan pasti kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia)sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. As-Sajadah: 21)
Maka yang terpenting bukanlah apakah Negara kita telah merdeka atau tidak, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi kemerdekaan yang mendatangkan keamanan dan kebebasan dari belenggu penjajahan sebagai sebuah nikmat dari Allah untuk kita semakin menyadari keagungan dan kebesaran-Nya, semakin sadar akan  besarnya tangggung jawab yang kita emban dalam kehidupan ini  untuk senantiasa menaatiNya, menjalankan hukum dan syariat-syariat-Nya. Karena kemerdekaan yang disikapi dengan kedurhakaan dan jauhnya diri dari petunjuk Allah subhaanahu wa ta’ala hanyalah akan mengundang bencana dan kesengsaraan.
  
Satu hal yang penting untuk kita sadari di tengah hingar bingar kemeriahan perayaan hari kemerdekaan yang dirayakan penduduk negeri ini  adalah bahwa kemerdekaan bukanlah segala-galanya, bahkan kemerdekaan dalam arti kebebasan dan keterlepasan dari segala bentuk ketergantungan tidak seorangpun bisa memperolehnya, karena setiap manusia butuh dan bergantung sebesar-besarnya kepada rabbnya, dan hidup berinteraksi dengan orang-orang disekelilingnya saling tergantung satu dan yang lainnya. Maka hidup dinegeri yang ‘merdeka’ bukanlah akhir perjuangan, perjuangan seorang muslim adalah sesuatu yang akan terus berjalan. Apa dan bagaimanapun keadaannnya karena hal itu memang menjadi tuntutan kehidupan yang merupakan amanah dari Rabbnya. Allah subhaanahu wa ta’ala
berfirman, artinya: “Sesungguhnya kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat) lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh manusia itu amat zalim dan dan sangat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)  
-Abu Yahya-

Artikulli paraprakCeramah Online Jarak Jauh
Artikulli tjetërPRE-EKLAMPSIA–EKLAMPSIA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini