REFLEKSI 10 TAHUNLEMBAGA PENDIDIKAN
KADO JELANG MUKTAMAR I WAHDAH ISLAMIYAH
Oleh :Ir.Nursalam Sirajuddin*

Pengantar

Tidak pernah terbayang dalam benak kita bahwa suatu ketika Wahdah Islamiyah akan memiliki lembaga pendidikan dengan jenis dan jenjang  pendidikan lengkap, dari pendidikan pra sekolah (TK) hingga Perguruan Tinggi (Ma’had ‘Aliy) yang mempunyai ciri khas berbeda dengan sekolah lain pada umumnya. Krisis moneter yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997 dan berlanjut menjadi krisis moneter yang berkepanjangan menimpa Indonesia membuat jumlah penduduk miskin meningkat secara drastis. Pada tahun itu pula cikal bakal berdirinya lembaga pendidikan formal menjadi tonggak sejarah Wahdah Islamiyah karena telah berdiri Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu yang memadukan kurikulum nasional dan kurikulum dengan ciri khas keagamaan dan Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) kini Ma’had ‘Aliy
   
Sejalan dengan upaya pemerintah untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi seluruh usia sekolah penduduk negeri ini, Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah sebagai salah satu amal usaha dibidang pendidikan telah menetapkan strategi dasar  yang dimulai pada tahun 2003 lalu dengan : 1) memberikan kesempatan kepada Internal Wahdah Islamiyah (anak pengurus dan karyawan ) mengenyam pendidikan yang bernuansa  Islami  dengan biaya pendidikan terjangkau.  2) Peningkatan kualitas output dan kualitas tenaga pengajar satuan pendidikan dengan mengedepankan sumber daya manusia yang kreatif, inovatif dan produktif serta mampu beradaptasi pada perubahan termasuk di dalamnya peningkatan kualitas spritual dan pegamalan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari yang tercermin dari sikap, perilaku dan tutur kata di lingkungan sekolah dan masyarakat 3) Efisiensi dan efektivitas disemua lini terutama dalam pemanfaatan dana yang bersumber dari masyarakat sebagai salah satu akuntabilitas dan pertanggung jawaban moril  kepada masyarakat dan pemerintah. Strategi ini telah dilalui dengan baik, hasilnya pun mulai nampak terlihat dimasyarakat, setiap awal tahun ajaran baru, sekolah-sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah diminati banyak calon  murid baru, seleksi pun tak terhindarkan, semata-mata untuk mencari dan menemukan calon murid baru yang benar-benar siap fisik dan mental. Tak mengherankan bila dua tahun terakhir, dalam penerimaan murid baru disekolah-sekolah favorit di Makassar, lulusan TK, SD dan SMP Wahdah Islamiyah dengan mudah lolos seleksi ujian tulis.

Perubahan paradigma pengelolaan pendidikan
Seiring  diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) secara bertahap mulai tahun pelajaran 2006 / 2007 sebagai kelanjutan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), maka diperlukan aksi dan semangat menuju arah yang lebih baik. Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang dapat dilakukan untuk mengawali perubahan paradigma pengelolaan  pendidikan agar tidak ketinggalan dan ditinggalkan masyarakat.
Pertama : Kebutuhan  tenaga kependidikan yang tersertifikasi agar memiliki kompetensi yang diunggulkan sekolah sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang No. 14 tahun  2005 tentang guru dan dosen. Kebutuhan guru yang bersertifikasi dan berkualifikasi sarjana untuk kota Makassar masih jauh dari harapan. Data bulan Nopember 2006, Departemen Pendidikan Makassar menyebutkan bahwa hanya 40 % dari jumlah tenaga pendidik (TK sampai SMA) di Kota ini layak untuk mengajar.
Kedua : Melengkapi dan mengembangkan sarana prasarana Teknologi Informasi bagi sekolah. Tidak dpat dipungkiri bahwa penggunaan internet akhir-akhir ini sudah demikian pesat, selain akses mudah dan murah, informasi yang diperoleh cepat akurat. Tak  mengherankan bila dalam kunjungan lapangan Pejabat Dinas Pendidikan Kota Makassar ke SMA Wahdah Islamiyah bulan Agustus 2006 lalu dalam rangka memperoleh izin operasional, salah satu hal yang sangat ditekankan pada Penyelenggara dan pengelola sekolah adalah ketersediaan sarana Laboratorium IPA dan Lab. Teknologi Informasi serta Perpustakaan Sekolah.
Ketiga    : Menerapkan ISO 9001 : 2000 sebagai pintu masuk bagi sekolah untuk menuju sekolah yang menerapkan sistem manajemen mutu. Di dalam implementasinya dijelaskan bagaimana merancang dan membuat sebuah prosedur mutu pendidikan  agar menjadi pedoman dalam pelaksanaan sistem manajemen sekolah, yang melibatkan guru dan tenaga non kependidikan lainnya.

Kado Jelang Muktamar I Wahdah Islamiyah   
Keseriusan, ketekunan dan konsistensi  jajaran PengurusYayasan Pesantren Wahdah Islamiyah dalam menerapkan kebijakan satu atap pengelolaan pendidikan berdampak pada berkurangnya beban dan tanggung jawab Guru bahkan Kepala sekolah terutama dalam teknis pengembangan sekolah ke depan. Kerja rangkap bagi guru  yang selama ini  terbebani dengan  membuat rencana pengajaran, membuat model peraga sederhana, menjual pakaian dan buku di sekolah,  akan sedikit lebih leluasa menginplementasikan proses belajar mengajar dengan baik sesuai dengan tuntutan kurikulum. Agar pelaksanaan kebijakan ini berjalan secara menyeluruh di segala aspek maka dibutuhkan upaya-upaya khusus untuk mengadopsi budaya korporat. Hal ini dapat dilaksanakan secara bertahap dengan dukungan semua pihak, keberanian dan semangat himmah ‘aliyah  menjadi kunci pendorong utama.
   
Keberadaan lembaga pendidikan Wahdah Islamiyah tidak saja menjadi pilar menuju Visi 2015 / 1436 H yaitu tersedianya lembaga pendidikan minimal setingkat SMA/ MA disetiap cabang  tetapi juga menjadi lembaga penyedia lapangan kerja terbesar bagi para Ikhwah dan  akhwat . Sisi penting lainnya bagi para akhwat yang menjadi tenaga pengajar akan mendapatkan ketenangan dengan suasana lingkungan belajar, lingkungan kerja dan lingkungan lainnya yang benar-benar terpisah sesuai yang disyariatkan oleh  Islam.
   
Mari kita berfikir dan merenung sejenak bahwa apa yang ada sekarang ini sudah berada di depan mata kita, maka masuk dan berkiprahlah demi mendidik sebuah generasi yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNYa. Kita mengharapkan bahwa generasi yang ada sekarang ini akan tumbuh dan berkembang menjadi sebuah generasi yang diharapkan dapat tampil pada saat yang tepat, saat dimana 2015 / 1436 menjadi titik awal kebangkitan generasi kedua Wahdah Islamiyah.
Kini saat yang tepat, saat dimana jelang muktamar I Wahdah Islamiyah untuk bermuhasabah  pertama : hendaklah menghitung diri dalam masalah kewajiban, jika masih ada kekurangan maka hendaknya disusul dengan mengqada atau memperbaikinya;kedua: menghitung diri dalam masalah larangan, jika mengetahui ada larangan yang diterjang / dilanggar hendaknya segera  menyusulnya dengan bertobat dan beristighfar  serta banyak melakukan kebajikan-kebajikan; ketiga, muhasabah diri dalam kelalaian, jika selama ini sering lalai dalam tujuan penciptaan manusia di dunia, maka harus segera mengingatnya serta menghadapkan diri kepada Allah; keempat, menghitung diri dalam ucapan, langkah kaki, aktivitas tangan, pendengaran telinga dan penglihatan. Apa yang dikehendaki semua itu, untuk siapa serta apa tujuan melakukannya. Ketahuilah bahwa seluruh ucapan dan perbuatan hendaknya mempunyai dua sisi pertimbangan yang selalu diingat yakni pertimbangan untuk siapa berbuat dan kedua bagaimana berbuat. Yang pertama adalah pertanyaan tentang keikhlasan dan yang kedua adalah pertanyaan untuk mutaba’ah.
   
Kita berharap keberadaan lembaga pendidikan berfungsi pula sebagai lembaga da’wah, dan lembaga sosial yang dapat dirasakan luas  manfaatnya bagi ummat di Sulawesi Selatan  dan Indonesia pada umumnya. Insya Allah

*)Kabid II PP WI/Wakil Ketua Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah
 

Artikulli paraprakMELURUSKAN SEJARAH WAHHABI
Artikulli tjetërQuisioner Al Bashirah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini