(Hadits-69 Kitabul Ada Shohih Al Bukhari)

Oleh: Abu Abdillah Muhammad Yusran Anshar, Lc, MA

69/6039- عَنْ الْأَسْوَدِ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي أَهْلِهِ؟ قَالَتْ: « كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ »

69/6039 . Dari Al Aswad dia berkata; saya bertanya kepada Aisyah “Apa yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di tengah keluarganya?” Aisyah menjawab; “Beliau senantiasa membantu pekerjaan rumah isterinya, apabila tiba waktu shalat, maka beliau bangkit untuk melaksanakan shalat

rosul

Kesimpulan dan Pelajaran:

  1. Bolehnya bertanya tentang amalan seorang ulama di rumah tangganya dan di tengah keluarganya untuk mengambil pelajaran dan meneladani kebaikannya.
  2. Keutamaan para istri Rasulullah shallallohu alaihi wasallam yang telah mendampingi beliau  di rumahnya sehingga mengetahui hal-hal tentang beliau yang tidak diketahui oleh selain mereka.
  3. Rasulullah shallalohu alaihi wasallam adalah uswah hasanah di setiap tempat terutama di rumah tangganya sendiri.
  4. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam senantiasa membantu istrinya di rumahnya.
  5. Para istri memiliki pekerjaan dan tugas yang tidak ringan di rumahnya karena itu tidak sepatutnya mereka lebih banyak di luar rumah ketimbang berada di luar rumahnya, sebagaimana sepatutnya kaum suami berupaya membantu meringankan tugas istrinya sedapat mungkin.
  6. Dalam sebagian riwayat Aisyah radhiyallohu anha merinci diantara pekerjaan yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di rumahnya adalah menambal pakaian beliau yang robek, memperbaiki sendalnya dan memerah susu kambingnya.
  7. Seorang pemimpin yang baik tidaklah berarti harus serba menunggu untuk dilayani, bahkan diantara hal yang menunjukkan kemuliannya jika menyempatkan waktunya untuk meringankan beban pekerjaan keluarganya.
  8. Keutamaan shalat pada awal waktu.
  9. Aktivitas dan pekerjaan duniawi tidak boleh melalaikan seseorang dari melaksanakan shalat pada waktunya. Seorang muslim yang terbaik adalah yang mampu menata waktunya dengan sebaik-baiknya di tengah berbagai macam aktivitas yang dimilikinya, sehingga dia mampu memberikan bagian setiap yang berhak secara proporsional dan pada waktu yang tepat.

Al Ustad Abu Abdillah Muhammad Yusran Anshar, Lc, MA hafidzahullah (Mudir STIBA Makassar). Asalnya tulisan ini merupakan materi pelajaran Hadits di Grup WA Belajar Islam Intensif [BII], Gabung Grup BII, Ketik BII#Nama#L/P#Daerah Kirim via WhatsApp ke:+628113940090_

 

Berita sebelumyaBERTAUBAT, MANTAN KOORDINATOR JIL INI BERGABUNG DALAM BARISAN DAKWAH SALAF
Berita berikutnyaWahdah Islamiyah Yogyakarta Gelar Kajian Umum Masuk Surga Sekeluarga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here