Rajulul Aqidah
(Al Balagh Ed.57/Th.2/5 Sya’ban 1427)

Salah satu problema krusial yang dihadapi kaum muslimin zaman ini adalah hilangnya karakter asli seorang muslim. Muslim yang berkarakter (al-Muslimul Mutamayyiz) lah yang kita harapkan menjadi unsur perubah di tengah-tengah masyarakatnya.
Akan tetapi kenyataanya, yang ada ditengah masyarakat kita adalah mereka yang muslim di atas data sensus. Sehingga tidak heran kalau mereka mudah goncang dengan berbagai serangan badai pemikiran, banjir mode dan berbagai trend yang sangat tidak Islami seperti pemilihan Putri Indonesia, kontes Waria Ayu, Indonesian Idol, dsb. Masyarakat muslim hari ini adalah masyarakat muslim yang berkepribadian pecah. Mereka hanya ingin mengamalkan satu atau dua dari ajaran Islam yang sesuai dengan seleranya saja.
Pembaca yang budiman al-Balagh edisi kali ini mencoba memaparkan bagaimana sebenarnya pribadi muslim al-mutamayyiz itu. Pribadi-pribadi yang sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Di antaranya, yaitu Rajulul Aqiedah. Selamat menyimak.

Allah subhaanahu wa ta’ala mengajak agar  kita menghadapkan wajah ini kepada syari’atNya yang lurus. Agama yang diturunkan Allah subhaanahu wa ta’ala  yang sesuai dengan fithrah kemanusiaan kita. Akan tetapi kebanyakan manusia suka menyimpang. Mereka lebih senang mengikuti selera nafsu rendahnya, wawasannya yang picik, dan akalnya yang pendek. Padahal Allah Ta’ala memberikan manusia akal dan ruh yang harus tunduk kepada Allah , jika salah satu di antaranya melewati batas yang ditetapkan, maka ia akan menyimpang dari jalan yang lurus.

Seorang muslim, adalah yang beriman kepada Allah subhaanahu wa ta’ala sebagai Rabbnya, Islam sebagai Dinnya, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi dan Rasulnya, dan tentu saja beriman kepada rukun iman yang enam. Dari sinilah ‘titik star’ perjalanan hidup seorang muslim. Seorang Rajulul Aqiedah memulai hari-harinya, menjalankan aktifitas hariannya sampai menutup hari-harinya, bahkan ketika ia menghabiskan dan menutup umurnya senantiasa berada di atas landasan ini.
Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman: Katakanlah: “sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupdan matiku hanyalah untuk Rabb alam semesta”. (Qs).

Jika tujuan diibaratkan sebagai kiblat seorang muslim, yang menjadi orientasinya dalam amal, perkataan, dan niat maka aqidah ibarat motor penggeraknya. Aqidah inilah yang menjalankan dan menyuruhnya maju merebut tujuan. Aqidah ini pulalah yang menghalanginya jangan sampai berhenti melangkah, apalagi berbalik haluan.
Aqidah ini bukan sekedar pengakuan yang terucap, atau teori yang dipaparkan di majelis ilmiyah, atau ucapan indah yang di hamburkan berulang-ulang di muhadlarah. Bukan. Akan tetapi yang lebih penting dari itu adalah aplikasi dalam amal nyata. Aqidah harus disertai dengan amal shalih. Karena itu, kita mendapati dalam al-Qur’an kata-kata iman bergandengan selalu dengan amal shalih. Salah satunya adalah firman  Allah  : “Dan adapun orang-orang beriman dan beramal shalih maka baginya pahala yang terbaik.”(QS.al-Kahfi:88)
Rasulullah  bersabda: “Iman itu memiliki tujuh puluh atau enam puluh cabang atau lebih. Yang paling utama adalah ucapan Laa ilaaha illallaah dan yang pling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang iman.”(HR.Abu Daud, an-Nasaa’I dan at-Tirmidzi).
Inti ajaran Islam ada pada persoalan yang agung  ini. Persoalan aqidah!. Karena itu, aqidah satu-satunya faktor yang berpengaruh dalam pembinaan, dan pembentukan, generasi awal ummat ini. Sungguh mereka telah mempesona kita dengan tingkah laku dan  sepak terjangnya. Potret yang mempesona itu bertumpuk banyak. Gambaran apa yang kita inginkan, apakah kita berbicara tentang Muhajirin dan Anshar? atau kita berbicara tentang generasi muda atau tua? Atau kita berbicara tentang wanita dan laki-laki?
Mereka inilah yang pernah melindungi Rasulullah di Uhud. Tujuh orang di antaranya gugur karena membela beliau  .
Atau dengarkanlah kisah mereka diperang Badar salah seorang di antara mereka berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” Berjalanlah wahai Rasulullah, kemanapun Anda menghendaki. Karena kami akan menyertai Anda. Demi Allah subhaanahu wa ta’ala yang mengutus Anda dengan membawa kebenaran. Sekiranya Anda menghadapi laut ini bersama kami lalu tuan menyebranginya, niscaya kami akan menyebranginya bersama Anda, dan tidak seorangpun yang akan ketinggalan…Maka, berjalanlah dengan berkah dari Allah subhaanahu wa ta’ala !”.
Lalu  ada Khansaa’ yang mendapati empat putranya gugur dalam perang Qadisiah, ia dengan tenangnya berkata: “segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan gugurnya mereka!”
Atau edarkan pandangan mata anda di tengah jejeran barisan yang berbaris, menunggu tugas menghadapi musuh di medan Uhud. Anda akan melihat Umair bin Abi Waqqash yang mengendap-endap, bersembunyi di antara rombongan tentara, berlindung di belakang mereka untuk menghindari pandangan Rasulullah. Ia takut disuruh pulang karena usianya yang masih muda.

Itulah generasi shahabat, sebuah generasi yang diselamatkan dari cengkraman jahiliyah dengan aqidah Islam. Lalu dengan aqidah itu mereka bekerja menegakkaan Risalah Allah subhaanahu wa ta’ala di atas permukaan bumi ini. Mereka itulah Rajulul Aqidah. Sepak terjang dan tindak tanduk mereka yang  dilandasi atas dasar aqidah. Alan tetapi ,inilah lembaran sejarah masa lampau yang sepertinya sulit bagi kita untuk melipatnya lalu memandang lembaran hari-hari kita yang saat ini terbentang. Sinar itu telah berubah menjadi gelap. Iman dan keyakinan sekonyong-konyong  berubah menjadi keraguan dan kebimbangan. Ini tidak perlu dijelaskan secara detail, karena kita semua menyaksikannya. Kita semua hidup di tengah-tengah tragedi itu.
Siapa yang tidak tercabik-cabik perasaanya yang melihat ummat terpecah dan aqidahnya bercampur baur dengan faham irjaa’(iman adalah keyakinn hati, amal dan dosa tidak berpengaruh terhadap iman) diombang-ambingkan oleh bid’ah, hawa nafsu, dan mitos.

Alaa kulli haal, inilah realita kita. Akan tetapi, Allah subhaanahu wa ta’ala tidak akan mengubah nasib sebuah ummat sebelum ummat itu mengubah nasibnya. Saat ini kita menunggu dari rahim-rahim halaqah tarbiyah lahirnya rajulul aqidah. Kalau halaqah tarbiyah ibarat kepompong, maka tugas para da’i dan murabbi adalah segera memperbanyak kepompong itu lalu mempercepat kematangannya. Agar ia segera lahir generasi yang siap mengubah wajah zamannya yang semraut dan carut marut. Andakah orangnya? Semoga.

Abu Hasan
Maraji : Al-Qur’an dan Sunnah

Artikulli paraprakTerlahir Untuk Unggul
Artikulli tjetërSyarah Hadits Ke-10 Arbain

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini