Pertanyaan : Assalamualaikum ustadz,
Saya ingin bertanya, bagaimana jika bulan dzulhijah puasa sunnah ayyamul bidh nya hanya 2 hari saja, karena tgl 13 masih hari tasrik, ini gimana ustadz?

Jawaban : Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.

Pertama kita mengetahui bahwasannya puasa pada dua hari raya, baik idul fithri ataupun idul adha ini hukumnya haram, sebagaimana hadits dari sahabat Abu Said Al Khudri Radhiyallahu anhu :

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الْفِطْرِ وَالنَّحْرِ

“Nabi Shalallahu alaihi wasallam melarang dari berpuasa pada hari Raya idul fithri dan idul adha”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Dan para ulama telah bersepakat bahwa puasa pada dua hari tersebut adalah haram. Sebagaimana haramnya berpuasa pada hari-hari tasyrik, yaitu tiga hari setelah hari Raya idul adha, (tanggal 11,12,13 pada bulan dzulhijjah)

Sebagaimana sabda nabi shallallahu alaihi wasallam :

أيام التشريق أيام أكل وشرب وذكر لله

“Hari-hari tasyrik adalah hari-hari makan, minum dan mengingat Allah”. (H.R. Muslim)

Dan juga diriwayatkan dari Abu Murrah bekas budak dari Ummu Hani, bahwasanya dia masuk bersama Abdullah bin Amr kepada ayahnya Amr bin Ash Radhiyallahu anhu kemudian mendekatkan kepadanya sebuah makanan, dan berkata : sesungguhnya saya sedang berpuasa, maka berkata Amr bin Ash Radhiyallahu anhu :

كُلْ فَهَذِهِ الأَيَّامُ الَّتِي كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا بِإِفْطَارِهَا ، وَيَنْهَانَا عَنْ صِيَامِهَا

“Makanlah karena hari-hari ini dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kepada kami untuk makan, dan melarang kami dari berpuasa.”

Dan Imam Malik Rahimahullah mengatakan : “Itu adalah hari-hari tasyrik”. (Dishahihkan oleh Al-Albani pada shahih abu dawud)

Akan tetapi khusus para jama’ah haji yang mereka tidak mendapatkan hadyu untuk disembelih entah karena tidak memiliki kemampuan untuk membeli hadyu ataupun tidak mendapatkan hadyu meski memiliki uang, maka dia dalam kondisi seperti ini mendapatkan pengecualian untuk berpuasa.

Sebagaimana dari Aisyah dan Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, mereka berdua berkata :

لم يرخص في أيام التشريق أن يصمن إلا لمن لم يجد الهدي

“Tidak ada rukhsah pada hari tasyrik untuk berpuasa kecuali orang yang tidak mendapatkan hadyu”. (H.R. Bukhari)

Tentunya yang di maksud dalam hadits ini adalah mereka yang berhaji dengan haji tamatu’ ataupun qiran, adapun haji ifrad yang tidak membutuhkan hadyu maka tetap dilarang untuk melakukan puasa.

Hal ini sebagaimana pendapat syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah :

” يجوز للقارن والمتمتع إذا لم يجدا الهدي أن يصوما هذه الأيام الثلاثة حتى لا يفوت موسم الحج قبل صيامهما. وما سوى ذلك فإنه لا يجوز صومها ، حتى ولو كان على الإنسان صيام شهرين متتابعين فإنه يفطر يوم العيد والأيام الثلاثة التي بعده ثم يواصل صومه ”

“Boleh bagi orang yang berhaji qarin dan tamat’ ketika mereka belum mendapatkan hadyu untuk berpuasa pada tiga hari (tasyrik) sehingga dia tidak kehabisan musim haji sebelum mengerjakan puasa tersebut. Adapun selain dua tadi maka tidak boleh berpuasa, sampai-sampai walaupun ketika seseorang berpuasa dua bulan berturut-turut maka dua berbuka pada hari Raya ‘id dan tiga hari setelahnya dan melanjutkan puasanya.” (Fatawa Ramadhan Hal 727)

Lalu bagaimana jika hari tasyrik bertabrakan dengan hari-hari pada puasa bidh?

Islam adalah agama yang lues, fleksibel dan tidak kaku. Anda boleh berpuasa pada hari hari setelah hari tasyrik tersebut, entah pada tanggal 14,15,16 atau jika anda mau bisa juga pada 17 dzulhijjah.

Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam mewasiatkan kepada kita agar berpuasa tiga hari pada setiap bulan entah bertepatan pada hari-hari bidh ataupun tidak. Akan tetapi jika bertepatan pada hari-hari bidh maka inilah yang lebih utama.

Wallahu a’lam

Dijawab oleh : Yoshi Putra Pratama S.H.
(Alumni STIBA Makassar & Mahasiswa UIM KSA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here