Masalah keluarga merupakan persoalan  penting  baik dalam kehidupan pribadi maupun maupun kehidupan bernegara. Masalah keluarga sangat penting  karena menyangkut kehidupan secara individual maupun  secara sosial sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat. Jika keluarga bahagia maka individu dan masyarakat pun bahagia. Karena  tujuan keluarga adalah sakinah mawaddah wa rahmah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum:21)

Salah satu unsur penting dalam keluarga adalah hubungan suami istri. Dan diantara aspek penting di dalam kehidupan  suami istri  adalah kemesraan diantara mereka.

Tulisan ini  fokus kepada  “bagaimana membangun kemesraan antara suami istri di tengah pandemi”.  Hal ini penting karena beberapa alasan, diantaranya:

Pertama,  Pandemi ini adalah rahmat bagi orang beriman. Sebagaimana hadits dari ‘Aisyah ketika bertanya tentang wabah tho’un. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hal ini melalui haditsnya:

عَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا-، أَنَّهَا قَالَتْ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الطَّاعُونِ، فَأَخْبَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ “.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwasanya dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wabah (tha’un), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepadaku: “Bahwasannya wabah (tha’un) itu adalah adzab yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah jadikan sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seseorang yang ketika terjadi wabah (tha’un) dia tinggal di rumahnya, bersabar dan berharap pahala (di sisi Allah) dia yakin bahwasanya tidak akan menimpanya kecuali apa yang ditetapkan Allah untuknya, maka dia akan mendapatkan seperti pahala syahid”

Kedua, Idealnya hubungan  pasutri menjadi lebih baik karena lebih banyak bersama.  Karena salah satu yang menjadikan keluarga itu baik adalah kebersamaan.

Tapi ternyata kebersamaan itu justru membuat keadaan semakin buruk. Banyak berita beredar bahwa terjadi peningkatan kasus perceraian di masa pandemi. Padahal secara ideal, kondisi keluarga di masa pandemi semakin mesra karena banyak bersama. Namun  realitasnya yang terjadi malah sebaliknya. Diantara penyebabnya adalah (1) Bertambahnya tugas istri di rumah selama masa pandemi, dan (2) Hubungan pasangan suami istri sebelum masa pandemi tidak kokoh.

Tugas Istri di Rumah Bertambah di Masa Pandemi

Tak dapat dimungkiri bahwa masa pandemi yang mengharuskan  aktifitas BDR (Belajar dan Bekerja dari Rumah) menyebabkan tugas dan tanggung jawab istri  di rumah bertambah. Diantaranya pekerjaan istri menjadi lebih banyak.  Mulai dari tugas rutin seperti menyiapkan makanan, menyiapkan berbagai kebutuhan keluarga, memasak lebih banyak dari biasanya, rumah lebih sering berantakan karena semuanya kebanyakan di rumah.

Sehingga karena pekerjaan bertambah, maka bisa saja menjadi beban berat dan menyebabkan depresi apalagi jika anggota keluarga yang lain tidak membantu.

Selain itu tugas istri juga menjadi bertamhab berat karena  pengeluaran cenderung bertambah, seperti kebutuhan makan bertambah banyak, kebutuhan protokol kesehatan dan lain – lain sedangkan pemasukan berkurang.

Ketika situasi mulai berat, suami tidak cepat tanggap, istri kurang sabar,  apalagi sampai ngomel maka bisa mengakibatkan pertengkaran dan berujung pada perceraian. Apalagi jika suami tidak sabar dan tidak cakap mengatasi masalah tersebut.

Hubungan Tidak Kokoh

Faktor lain yang menyebabkan hubungan suami istri pada masa pandemi harmonis dan tidak mesra adalah karena aslinya tidak kokoh. Artinya hubungan pasutri sebelum terjadinya pandemi memang tidak tidak kokoh. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti  (a) Perbedaan chemistry yang tidak diatasi, (b) kurangnya komunikasi, dan (c) kurangnya empati suami pada istri.

Mugkin sudah lama menikah tapi belum menemukan chemistry dalam hubungan  dan tidak berusaha diatasi. Misalnya perbedaan akal dan rasa. Perempuan (istri)  lebih mengedepankan rasa sedangkan laki – laki lebih mengedepankan akal. Laki – laki  banyak diam sementara perempuan   banyak bicara. Laki-laki lebih general sedangkan perempuan lebih detail. Laki- laki lebih suka memberi solusi sedangkan perempuan cenderung suka menasehati.

Slain komunikasi yang kurang  dan kurangnya empati serta perhatian suami  pada istri menambah daftar sebab tidak kokohnya hubungan suami istri. Ketika kebersamaan berkurang karena faktor kesibukan masing-masing berbagai masalah di atas tidak nampak. Sehingga belum menimbulkan masalah. Hubungan nampak di permukaan harmonis dan mesra. Namun ketika kebersamaan semakin intens di masa pandemi  berbagai masalah di atas muncul ke permukaan. Sehingga mengganggu keharmonisan dan kemesraan hubungan suami istri.

Lalu, apa solusi dan jalan keluar  agar harmoni dan kemesraan suami istri tetap terjaga di masa pandemi? Baca pada tulisan berikutnya.[] ed: Sym

Bersambung insya Allah.

Sumber: Transkrip Ceramah KH. Dr. Muhammad Zaitun Rasmin yang disampaikan pada Ta’lim Sakinah Spesial, “Lebih Mesra di Masa Pandemi:, Ahad 26 Juli 2020. Transkrip oleh: Ummu Afif Rusni Haris.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here