MENGGAPAI CITA-CITA MELALUI PONDOK PESANTREN SALAFIYAH WAHDAH ISLAMIYAH
Sebuah upaya mencerdaskan anak didik  sekaligus meningkatkan peran Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an
Oleh : Nursalam Siradjuddin
Penanggung Jawab Pondok Pesantren Salafiyah (PPS) Wahdah Islamiyah
                    


Muqaddimah

Keberadaan Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia dan perannnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa telah diakui oleh masyarakat. Dari masa ke masa, pondok pesantren yang berfungsi sebagai pusat pengajaran  Ilmu-Ilmu Agama telah banyak melahirkan ulama, tokoh masyarakat, muballigh dan guru agama yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
   
Akan halnya Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an yang berinduk pada Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah (YPWI), juga merupakan salah satu pondok yang telah banyak melahirkan huffadz (penghafal Al-Qur;an) dan telah tersebar ke seluruh pelosok nusantara, didirikan  pada tanggal 18 Dzulhijjah 1419 H / 4 April 1998, hingga kini telah menghasilkan  44 orang alumni.
   
Seiring dengan perkembangan zaman dan perkembangan Ilmu pengetahuan  & teknologi serta untuk menghadapi era globalisasi  yang penuh tantangan,  kebutuhan Sumber Daya Manusia yang berkualitas, berakhlaq dengan standar pendidikan minimal pendidikan dasar (SMP)  merupakan  hal mutlak yang tidak dapat ditawar lagi. Untuk itu Pondok Pesantren Penghafal Qur’an (Tahfidzul Qur’an) dituntut untuk lebih meningkatkan peran, fungsi dan tanggung jawabnya dalam rangka menjawab kebutuhan dan tantangan sebagaimana yang diuraikan di atas.

Landasan Hukum Program Pondok Pesantren Salafiyah (PPS)

Diantara fungsi, peran dan tanggung jawab yang diemban, bukan hanya melahirkan para huffadz tetapi juga melahirkan generasi muda yang cerdas, trampil dan kreatif melalui Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas) pada Pondok Pesantren yang dikenal dengan Pondok Pesantren Salafiyah (PPS)
Program ini dirancang sedemikian rupa, agar memberikan kesempatan kepada santri mengenyam pendidikan diluar program yang telah ditetapkan seperti menghafal dan mengkaji kitab. Dengan demikian, santri yang telah menyelesaikan hafalan dalam waktu 3 tahun diharapkan juga telah menyelesaikan pendidikannya setingkat SMP dan memberi peluang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Hal ini berdasar kesepakatan bersama yang dituangkan dalam bentuk SKB antara Menteri Agama  dan Menteri Pendidikan Nasional Nomor : I/U/KB/2000 dan Nomor : MA/86/2000 tentang Pondok Pesantren Salafiyah  sebagai Pola Pendidikan Dasar 9 tahun.

Sasaran dan Jenjang Pendidikan

Peserta didik yang menjadi sasaran dari program ini adalah para santri di Pondok Pesantren Salafiyah / Diniyah Salafiyah terutama yang berusia 7 -15 tahun yang tidak sedang belajar pada SD/MI atau SMP/MTs atau bukan tamatannya dalam arti belum memiliki ijazah. Program ini juga terbuka atau dapat diikuti oleh santri yang berusia di atas 15 tahun yang belum memiliki Ijazah SD/MI atau SMP/MTs.
  
Jenjang pendidikan untuk program Wajar Dikdas pada Pondok Pesantren Salafiyah terdiri dari : Salafiyah Ula atau Dasar yang setara dengan pendidikan Sekolah Dasar (SD)  atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan salafiyah Wustho atau lanjutan yang setara dengan SMP atau MTs
Bebas Biaya Pendidikan.

Dengan diundangkan dan disahkannya Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang memberikan Porsi anggaran 20 % dari APBN untuk bidang pendidikan, maka peran serta masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan swasta akan  semakin besar. Hal ini dapat dilihat dari niat baik pemerintah memberikan bantuan kepada seluruh sekolah baik negeri maupun swasta (SD/MI, SMP/MTS, SDLB, SMPLB dan PPS)  dalam bentuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang parameternya  dihitung berdasarkan jumlah siswa per sekolah sebesar Rp. 19.500,- / bulan untuk tingkat SD dan Rp. 27.000 / bulan untuk tingkat SMP.

Janji pemerintah untuk memberikan subsidi terhadap pendidikan atas kebijakan menaikkan harga BBM melalaui program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM) bidang pendidikan telah dibuktikan dengan telah cairnya anggaran tersebut langsung kepada rekening masing-masing sekolah. Dengan demikian sekolah / PPS yang mempunyai SPP lebih kecil dari dana BOS tidak dibenarkan lagi memungut biaya SPP atau Uang Komite dalam bentuk dan alasan apapun, karena kebutuhan tersebut telah dipenuhi melalui dana BOS untuk membiayai  11 item yang telah ditetapkan antara lain, membayar honor guru dan tenaga kependidikan, membeli alat tulis kantor, memperbaiki bagian-bagian sekolah yang rusak ringan, membeli buku pelajaran pokok dan penunjang, membayar daya dn jasa, dll.  Lain halnya jika sekolah / PPS mempunyai SPP lebih besar dari dana BOS, maka kekurangannya itulah yang dibayar oleh orang tua,. Hal ini tentu sangat membantu masyarakat / orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya minimal sampai tingkat SMP.
   
Data yang dihimpun oleh Departemen Pendidikan Nasional sampai tahun 2003, menyebutkan masih banyak anak usia sekolah yang tiodak dapat mengikuti pendidikan sebagaimana yang diharapkan. Anak usia 7 – 15 tahun yang belum pernah sekolah masih sekitar 693,7 ribu orang (1,7 %) sementara yang tidak sekolah baik karena putus sekolah maupun yang tidak melanjutkan dari SD/MI ke SMP/MTs maupun dari SMP/MTs ke jenjang di atasnya sekitar 2,7 juta orang atau 6,7 % dari total penduduk 1 – 15 tahun.

Pendidikan untuk ummat.

Melihat data yang dihimpun Depdiknas tahun 2003 di atas, bila di hitung pada tahun 2006 ini, maka penambahan jumlah anak didik yang tidak sekolah tentu semakin besar. Hal ini membuka peluang kepada PPS Wahdah Islamiyah untuk menerima lebih banyak lagi anak didik muslim mengenyam pendidikan dasar (SD dan SMP) tanpa dipungut biaya pendidikan sepersen pun. Kecuali uang konsumsi dan biaya perlengkapan santri (kasur, bantal, dll).  Pola pendidikan yang diterapkan di PPS Wahdah Islamiyah adalah 70 % waktunya digunakan untuk menghafal Al-Qur’an (Tahfidz)  dan 30 % waktu sisa diguanakan mempelajari ilmu-ilmu umum berdasarkan kurikulum Diknas dan muatan lokal seperti perikanan, peternakan dan pertanian. Insya Allah secara resmi penerimaan santri tahun 2006 / 2007 akan dimulai pada tanggal 1 Mei 2006 s/d 15 Juli 2006 dengan memfokuskan pada santri berumur 6 –  15 tahun untuk SD dan 13 – 18 tahun untuk SMP. Tempat Pendaftaran dapat dilakukan di tempat-tempat sbb : Kampus Tahfidzul Qur’an Kassi Manggala, Kantor Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (Jl. Abdullah Dg.Sirua No. 60) dan Kantor Kas BMT Al-Amin (Jl.Abdullah Dg.Sirua No. 68) pada setiap hari kerja, jam 08.30 – 14.00.

Khatimah

Dengan terlaksananya program Wajar Dikdas PPS ini, Pondok Pesantren akan dapat meningkatkan perannya dalam upaya mencerdaskan kehidupan ummat, disamping itu diharapkan para santri akan lebih siap dan mampu bersaing dalam menyongsong masa depan yang lebih baik. Berkaitan dengan program penuntasan  wajar dikdas ini pula diharapkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan dasar akan meningkat cukup signifikan dengan keberadaan PPS Wahdah Islamiyah, Insya Allah.

Artikulli paraprakTahfidz
Artikulli tjetërPengelolaan Sekolah Swasta

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini