Ponariku Sayang Ummatku Malang

(Khutbah Seragam, Jum’at/20 Februari 2008)

 

Ponari, bocah kelahiran Jombang, 6 Juli 1999 tiba-tiba saja dikenal memiliki ”kekuatan” luar biasa. Ia bisa mengobati beragam penyakit. Kekuatannya konon berkaitan dengan sebuah batu yang didapatnya pada 12 Desember 2008. Informasi yang beredar, batu itu didapatkannya bertepatan dengan lewatnya petir di atas kepalanya.

Sejak itulah Ponari terkenal menjadi juru sembuh atau tabib alias dukun cilik. Praktik pengobatan putra tunggal pasangan Mukaromah-Kamsen ini sederhana. Batu yang menjadi ”aji kekuatan” itu cukup dicelupkan ke dalam air atau digosok-gosokan pada bagian tubuh yang terasa sakit. Dari praktik seperti ini, banyak pasien yang mengaku sembuh dari penyakitnya.

Potongan paragraf di atas adalah beberapa kutipan dari berbagai media nasional tentang pemberitaan ponari si dukun cilik. Fenomena Ponari ini cukup menyedot perhatian publik di tengah-tengah menghangatnya situasi politik jelang pemiliu. Mencermati fenomena tersebut ada beberapa hal yang perlu kita sorot:

Pertama, lemahnya aqidah ummat.

Inilah kenyataan yang kita saksikan, sudah ribuan tahun Islam masuk di Indonesia namun persolan syirik dengan mudah kita temukan di tengah-tengah ummat.  Perdukunan, sihir, ramalan nasib, benda-benda yang diyakini mengandung berkah masih menjadi produk best seller di negeri mayoritas muslim ini. Jika tersiar berita tentang seseorang yang memiliki keajaiban, maka kontan masyarakat pun langsung menyerbu tempat tersebut.

Jauh sebelum Ponari menjadi selebriti, di Makassar pernah ada dukun cilik yang juga diyakini bisa mengenyahkan berbagai penyakit, namanya Gerhana. Konon ‘kehebatan’ yang ia dapatkan ketika terjadi gerhana matahari total pada pertengahan tahun 80an di beberapa wilayah Indonesia. Kontan saja rumahnya di banjiri oleh orang dari berbagai daerah di sulawesi selatan yang ingin mendapatkan kesembuhan. Untunglah stasiun televisi pada waktu itu cuma TVRI sehingga kehebohan bernuansa syirik ini tidak sampai meluber ke mana-mana.

Inilah aqidah ummat kita. Cuma ‘gempuran sederhana’ yang bernama Ponari, Gerhana atau siapapun namanya sudah bisa menggoncangkan aqidah ummat. Kesabaran mereka seakan menguap begitu saja saat mendengar ada orang yang sanggup mengusir penyakit dalam waktu singkat. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang tahu bahwa mendatangi dukun adalah perbutan syirik. ”Tapi mau bagaimana lagi Ustadz, saya sudah tidak tahan menderita, entah sudah berapa uang saya habis ke dokter tapi saya tidak kunjung sembuh. Kalau sembuh, insya Allah, saya akan bertaubat…”, adalah  kalimat yang sering kita dengar dari mereka yang merasa terpaksa datang ke dukun atau orang yang dianggap pintar.

Kedua, Jahilnya ummat akan persoalan prinsip agama ini.

Persolan aqidah nampaknya belum dianggap sebagai persoalan yang maha urgen. Mayoritas ummat kita masih menganggap enteng pelanggaran-pelanggaran aqidah. Akhlak yang manis, moral yang bersih dianggap sebagai hasil paling penting dari pelajaran agama.

Sebaliknya mereka yang teguh memegang masalah prinsip dalam persoalan aqidah dituding menganut pemahaman yang aneh, padahal dalam agama kita persoalan aqidah  persoalan maha penting. Semua Nabi Rasul yang diutus oleh Allah mereka mengingatkan persoalan tauhid. Allah Berfirman, ”Sungguh telah Kami wahyukan kepadamu wahai Muhammad dan kepada orang-orang sebelum kamu bahwa engkau berbuat kesyirikan maka batallah seluruh amal-amalmu”. Begitupula penduduk neraka yang dikeluarkan dari tempat laknat itu adalah orang yang masih memiliki sedikit iman yang bersih dari syirik.

Dari kasus Ponari di atas ada dua hal yang menunjukkan akan jahilnya ummat ini akan persoalan-persoalan prinsip yaitu:
1. Benda apapun di atas permukaan bumi ini tidak ada yang memiliki  berkah kecuali yang telah ditetapkan oleh nash syariat seperti: air zam-zam, habbatussauda’ (jintan hitam), madu, minyak zaitun dll. selain itu benda apapun namanya dia tidak memiliki berkah dan tuah apapun seperti batu akik, keris bertuah, apalagi kalau sebiji batu biasa yang dimiliki ponari.
2. Adanya nuansa talbisul iblis (tipuan syaithan) yang senantiasa bermain dalam kasus sihir dan pedukunan seperti Ponari. Ini nampak ada seorang pasien yang kelelahan antri lalu mengambl tanah di sekitar rumah Ponari sebagai ganti dari ‘celupan air bertuah’ si dukun cilik. Ini berangkat dari keyakinan bahwa Ponari dan apa saja yang berkaitan dengannya mengandung berkah.

Di antara bentuk tipuan syaithan melalui para dukun adalah adanya beberapa orang yang ternyata sembuh tiba-tiba dari penyakit menahun padahal secara medis penyakit tersebut setalah melalui pengobatan bertahun-tahun.

Ketiga, Buruknya Pelayanan Kesehatan

Jamak kita dengar kalau urusan pengobatan di berbagai pusat pelayanan kesehatan, sejak dari Puskesmas hingga  Rumah sakit, kulitasnya sangat mengecewakan. Ada puskesmas tertentu yang dokternya jarang datang, atau ada rumah sakit tertentu yang tidak melayani pasien yang hanya datang dengan kartu Askes.

Tentu kita tidak begitu saja menyalahkan pemerintah, sebab anggaran pelayanan  kesehatan masih sangat jauh dari yang ideal. Anggaran kesehatan Indonesia yang baru 2,8 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2009, masih jauh dari standar Organisasi Kesehatan Dunia sebesar 15 persen.

Dengan anggaran yang terbatas, pasti berdampak pula pada pelayanan kesehatan. ”Jangan sampai timbul sindiran dari masyarakat terhadap rumah sakit. Orang miskin dilarang sakit. Kendati benar perlu biaya, unsur biaya ini tidak boleh menjadi orientasi utama. Orientasi rumah sakit yang terutama ialah harkat kemanusiaan.

Itu yang fundamental dan perlu dikedepankan,” Sindir Agung Laksono saat meresmikan Rumah Sakit Umum dan Holistik Sejahtera Bhakti Salatiga beberapa waktu lalu . Inilah kiranya yang membuat ummat kita berbondong-bondong datang berobat ke Ponari. Disamping pelayanan tidak berbelit-belit juga murah meriah, cukup bayar Rp. 5000 sudah bisa dapat nomor antri.

Keempat, Kurangnya perhatian Muballigh terhadap masalah pembinaan ummat

Amanah pembinaan ummat ini diletakkan di punggung para duat. Allah berfirman,  ”Hendaklah ada di antara kalian  sekelompok orang yang menyeru kepada kebaikan, mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar… ”

Kenyataannya tidak sedikit dai yang lebih sibuk mencari penghasilan dari pada membina dan mentarbiyah ummat ini. Buktinya, banyak  dai yang berdakwah dan membina ummat ini dengan menggunakan sisa-sisa waktu. Itu pun masih mending, sebab sekarang ini banyak kader dakwah dari ormas-ormas Islam yang lebih enjoy menjadi anggota legislatif (aleg) dengan alasan di dewan pun kita berjuang membela ummat.

Di satu sisi mungkin ada benarnya, tapi lihatlah kenyataan jumlah ummat yang harus dididik dan dibina agar mengenal Islam jauh lebih banyak dibanding mereka yang seharusnya melakoni "pekerjaan mulia" tersebut. Apalagi jumlah kemungkaran sangat berjubel dan kasat mata. Ummat diserang oleh berbagai program pemurtadan dari berbagai penjuru. Ummat tidak berkutik, bahkan mereka menikmati kemungkaran tersebut. Kabar terkini yang kita peroleh keluarga Ponari sudah mengantongi +1 Miliar dari praktek si dukun kecil.

Dalam kaitannya dengan fenomena Ponari kita layak untuk bertanya dimana peran pondok pesantren guna menangkal kesyirikan yang jumlahnya ribuan di tanah Jawa. Apalagi Jombang dikenal sebagai kota santri.

Akhirnya inilah realita ummat kita, Muhammad Ponari yang berwajah imut seharusnya disayangi dengan cara disekolahkan dengan baik agar menjadi anak yang terdidik, bukan sebaliknya menjerumuskan ummat ke lembah kesyirikan.

 

Artikulli paraprakHimbauan Dewan Syariah Wahdah Islamiyah
Artikulli tjetërTelkom Divre VII Serahkan Bantuan Palestina Lewat Komat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini