(Jakarta-wahdah.or.id)- Ketua Umum Wahdah Islamiyah (WI), Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin mengatakan bahwa ibadah puasa pada bulan Ramadhan dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran dalam menyikapi perbedaan fikrah. “Puasa Ramadhan membimbing kita bagaimana seharusnya kita bersikap ditengah-tengah perbedaan fikrah”, ujar Ustadz Zaitun pada Ta’lim Dzuhur di PT.Medco E&P indonesia, di The Energy buliding Sudirman Jakarta, Senin (13/6/2016).

ustadz-zaitun-medco

Menurut Ustadz Zaitun yang juga Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu, puasa melatih dan membimbing dalam menjaga persatuan dan ukhuwah. “Puasa mengajarkan kita menjaga persatuan”, ucapnya. “Bukanlah Nabi kita bersabda Ash-Shaumu yauma Tashumun; Puasa adalah pada hari dimana kalian berpuasa bersama-sama”, imbuhnya mengutip suatu hadits Nabi yang menjadi dasar berpuasa dan berhari Raya bersama mayoritas kaum Muslimin.

jamaah

Demikian pula dengan peran puasa dalam melatih menjaga ukhuwah. “Puasa melatih kita untuk dapat menjalin, menjaga, dan mengeratkan ukhuwah”, tandas Wakil Ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat ini. “Puasa mengajarkan kita untuk menahan emosi, dan emosi yang tidak terkendali adalah awal terjadinya pertikaian, perpecahan serta retaknya persaudaraan”, lanjutnya.

Ustadz Zaitun juga menekankan tentang pentingnya merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah ketika terjadi perbedaan. “Karena rujuk kepada al-Haq yang bersumber dari Qur’an dan Sunnah wajib hukumnya”, jelas Ketua Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara ini.

Tips berikutnya yang beliau sampaikan dalam menyikapi perbedaan adalah membedaakn antara perbedaan dalam masalah ushul dan furu’, fokus pada persamaan dan tidak menonjolkan perbedaan, serta membangun sikap saling menasehati dengan cara hikmah.”fokuslah pada kesamaan dan jangan menonjolkan perbedaan serta bangunlah sikap saling menasihati dengan cara yang hikmah”, pungkasnya. (Lap:Jyd/ed:sym)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here