Hampir saja Andalusia jatuh ke tangan kerajaan Kristen lebih awal jika tidak muncul seorang pejuang dan mujahid sekelas Yusuf bin Tasyfin.

Pasca runtuhnya pemerintahan Bani Umayyah di Cordoba, Andalusia terpecah. Sesama pemimpin Islam saling berseteru satu sama lain. Hal tersebut membuat kerajaan-kerajaan Kristen di utara seperti Kastila dan Navarre dengan mudah merebut wilayah Islam sejengkal demi sejengkal. Buruknya, jika terjadi perselisihan di antara sesama pemimpin Islam, mereka meminta tolong kepada kerajaan Kristen untuk melawan saudara mereka sesama Muslim. Betapa rusaknya perilaku para pemimpin Islam Andalusia di masa itu.

Di masa-masa kelemahan itu, di antara pemimpin Andalusia ada yang meminta tolong kepada penguasa di wilayah Maghrib (Maroko) yang saat itu dipimpin oleh Yusuf bin Tasyfin. Yusuf bin Tasyfin setelah mengokohkan pemerintahannya di wilayah Maghrib dan sekitarnya, ia pun merasa wajib untuk membantu ummat Islam di Andalusia.

Yusuf bin Tasyfin merupakan panglima besar Islam yang telah banyak dilupakan ummat Islam pada hari ini. Ia bernama lengkap Yusuf bin Tasyfin bin Ibrahim bin Wartaqtin, biasa dipanggil Abu Ya’qub. Ia merupakan raja kedua Daulah Al-Murabithun yang berpusat di Maghrib (Maroko). Kekuasaannya mencapai Tunisia di sebelah barat, Ghana di selatan, dan Andalusia di sebelah utara.

Ibnu Tasyfin adalah mujahid sejati. Ketika terjun dalam pertempuran Zallaqah usianya telah mencapai 80 tahun. Selain sifatnya yang pemberani, ia juga dikenal zuhud. Imam Adz-Dzahabi berkata tentangnya dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala, “Ibnu Tasyfin adalah seorang yang pemaaf, selalu dekat dengan para ulama, kulitnya kuning dan bertubuh kurus, berjenggot tipis, suaranya halus, dan tegas.”

Pada tahun 1086 di bulan Juni, Ibnu Tasyfin bersama lebih dari 7.000 pasukan menyeberang ke Andalusia. Di sana, ia disambut oleh Al-Mutawakkil penguasa kota Badajoz yang mengundangnya. Mendengar kedatangannya, Raja Alfonso VI menyudahi pengepungannya atas kota Zaragoza dan bergegas menuju Zallaqah, tempat di mana pasukan Yusuf berada.

Alfonso pun mengirim surat kepada Yusuf bin Tasyfin agar ia menyerah. Tapi, surat tersebut dibalas tanpa kenal takut. Ia menulis, “Alfonso, engkau berdoa supaya bisa bertemu kami. Engkau juga berharap memiliki kapal-kapal yang dengannya engkau bisa menyeberangi lautan dan bertemu kami. Sekarang, di tempat ini, Allah telah mempertemukan kita. Engkau pasti akan melihat akibat dari doamu itu.”

Yusuf juga menawarkan tiga pilihan kepada Alfonso: 1) masuk Islam yang akan membuatnya dilindungi dan dibela seperti Muslim lain, 2) membayar jizyah yang tak seberapa, atau, 3) perang. Dan, Alfonso tentu saja memilih perang.

Akhirnya, pada 22 Oktober 1086 M atau 12 Rajab 479 H meletuslah perang dahsyat yang dikenal dengan Perang Zallaqah. Pertempuran ini sangat menentukan nasib ummat Islam Andalusia. Jika saja pasukan Muslim kalah dalam pertempuran ini, maka Andalusia akan runtuh lebih cepat dan dikuasai seluruhnya oleh kerajaan Kristen.

Atas pertolongan Allah, pasukan Islam dipimpin oleh Yusuf bin Tasyfin berhasil memenangkan pertempuran. Mereka berhasil memukul mundur pasukan Kastila dipimpin Alfonso. Alfonso bahkan terluka parah di bagian lututnya yang membuatnya pincang seumur hidup. Melihat pasukan intinya kocar-kacir, Alfonso segera kabur menyelamatkan diri disusul pasukannya.

Pasukan Muslim berusaha mengejar, tapi Yusuf memerintahkan mereka untuk menghentikan pengejaran. Ia tidak ingin jika ada yang terbunuh lagi di antara mereka. Andalusia pun terselamatkan hingga benar-benar runtuh pada tahun 1492 atau 400 tahun setelah pertempuran Zallaqah.

Penulis: Mahardy Purnama, Pemerhati Sejarah Islam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here