PERANG INI SANGAT NYATA

Baru saja, sebuah konferensi internasional diselenggarakan di kantor Perserikatan Bangsa-bangsa di New York. Mereka menyebutnya konferensi Peking + 10.

Tujuannya adalah untuk menegaskan hasil-hasil konferensi untuk masalah perempuan dan kependudukan yang sebelumnya diadakan di Kairo, Peking dan New York. Untuk menguatkan kesepakatan melenyapkan segala bentuk tindakan diskriminatif terhadap perempuan dan mendukung Undang-undang hak azasi anak (!). Sebuah misi global untuk membentuk pemikiran baru dalam memandang persoalan keluarga, perempuan dan anak. Sebuah misi internasional untuk menyusun paradigma baru yang sejalan dengan paradigma dan nilai yang dianut barat tentang itu semua.
 
Ternyata PBB tidak hanya memainkan peran-peran politik. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa lembaga ini juga memainkan peran-peran lain yang tak kalah mengkhawatirkannya. Dalam persoalan peradaban, sosial-kemasyarakatan dan tata nilai, rupanya lembaga ini juga “diam-diam” juga unjuk gigi. Bahkan semakin hari tingkahnya makin meningkat saja. Tidak sekedar memberikan usulan dan masukan, namun juga “mengharuskan” dan “mewajibkan” penerapan keputusan-keputusan itu di seluruh negara di dunia. Bahkan lebih dari itu, PBB juga mengawasi dan menerapkan sanksi terhadap pelanggaran dalam masalah ini. Jadi dimanakah kebebasan setiap Negara untuk menerapkan sistem dan tata nilai yang diyakininya ??

Bila demikian, tampak jelas begitu banyaknya badan dan lembaga bantuan kemanusiaan PBB yang dimanfa’atkan oleh organisasi-organisasi misionaris dalam menjalankan misi kristenisasinya, maka badan-badan khusus PBB yang menangani persoalan keluarga dan perempuan juga telah menjadi kuda tunggangan berbagai organisasi perempuan dan lembaga yang memperjuangkan kebebasan perilaku-perilaku menyimpang ! Dunia akhirnya menjadi mainan para pengikut hawa nafsu dan perilaku menyimpang !
Prof. Catherine Fort menyatakan : “Sesungguhnya kesepakatan-kesepakatan internasional yang khusus untuk perempuan, keluarga dan kependudukan sekarang ini disusun dan dibentuk oleh lembaga dan badan yang dikuasai oleh tiga tipe manusia : kaum feminis ekstrim, para pembenci kelahiran dan pertambahan penduduk serta orang-orang yang mempunyai perilaku seksual yang menyimpang. Badan yang mengurus persoalan perempuan di PBB itu dibentuk oleh seorang wanita asal Skandinavia yang meyakini bahwa pernikahan hanyalah sebuah belenggu dan menolak institusi keluarga, dan bahwa kebebasan seks seharusnya diberikan secara mutlak kepada siapapun.”

Francise Fukuyama dalam salah satu makalahnya Akhir Sebuah Sejarah dan Manusia Terakhir dengan pongah mengatakan : “Nilai-nilai liberal Barat modern telah berada di puncak ketinggian dan perkembangan peradaban kemanusiaan yang dicapai oleh manusia. Sementara begitu banyak Negara-negara dunia ketiga masih tenggelam dalam lumpur sejarah.”  Dalam tulisannya yang lain (dimuat di Newsweek  Desember 2001) ia juga mengatakan bahwa Islam-lah satu-satunya peradaban yang masih memiliki masalah dengan liberalisme modern. Tapi dia kemudian memberikan dua pilihan kepada masyarakat muslim –tanpa ada pilihan ketiga- : “berdamai” dengan tata nilai liberalisme modern itu…atau kehancuran !!

Begitulah logika-logika yang digunakan oleh Barat dalam berinteraksi dengan bangsa-bangsa di dunia. Sangat jelas, itu semua disebabkan oleh arogansi dan nafsu menjajah yang kuat terhadap peradaban. Maka tidak mengherankan bila Barat kemudian melakukan tekanan-tekanan yang sangat kuat terhadap negara-negara dunia ketiga agar melakukan perubahan besar-besaran terhadap undang-undang yang mengatur tata sosial  dan al ahwal asy syakhsiyyah mereka. Bahkan mengubah kurikulum pendidikannya. Semuanya disertai dengan tuntutan untuk membersihkan segala bentuk penghalang “agama” yang dapat menghambat keseriusan penerapan undang-undang baru itu.

Untuk semakin menambah kekuatan tekanan dan “penghinaan” itu, negara-negara Barat sengaja mengatur agar penandatanganan berbagai kesepakatan ekonomi dan bantuan keuangan haruslah dengan mempertimbangkan seberapa besar reaksi dan kepatuhan suatu negara terhadap apa yang telah mereka diktekan. Ini akan terus berjalan. Yah, hingga seluruh bangsa di bumi ini kehilangan peradaban mereka, lalu terhempas ke dalam tong-tong sampah peradaban mereka yang rendah ! Benarlah yang dikatakan Allah Ta’ala :
“Dan orang-orang Yahudi dan Nashrani itu tak akan rela hingga kalian mengikuti millah mereka.” (Al Baqarah : 120)
Maka tidak mengherankan mengapa Uni Eropa benar-benar “terganggu” dengan beberapa undang-undang yang baru ditetapkan di Turki belakangan ini. Undang-undang yang menetapkan hukuman hadd  untuk pelaku zina sesuai syari’at. Persatuan negara-negara Eropa itu bahkan menuntut –dengan bahasa penuh ancaman- agar Turki membatalkan undang-undang tersebut, lalu mengakui undang-undang yang mengakui kebebasan hak para pelaku seks yang menyimpang untuk melakukan “kekotoran-kekotoran” mereka di tengah masyarakat.

Dan yang jauh lebih menyedihkan adalah bahwa ternyata banyak dari apa yang disebut sebagai negara dunia ketiga yang justru memberikan reaksi positif terhadap keputusan-keputusan itu. Karena itu kita dapat melihat betapa lebih dari 10 negara Arab seperti Tunisia, Irak, Libia, Aljazair, ditambah lagi beberapa negara besar Islam seperti Pakistan, Indonesia dan Bangladesh telah menandatangani kesepakatan-kesepakatan tersebut (kesepakatan untuk apa yang mereka sebut dengan “menghilangkan segala bentuk tindakan diskriminatif terhadap perempuan”), tanpa penolakan sedikitpun.
Demikianlah, dan Itu semua telah terjadi. Namun di tengah serangan-serangan keji terhadap dien, akhlaq dan tata nilai masyarakat itu, seharusnya kita bertanya :
Apa yang dapat kita lakukan khususnya untuk menghadapi hasil dan keputusan pertemuan “Peking + 10” itu ??
Apa yang dapat kita lakukan untuk menghadapi upaya pembaratan (westernisasi) global yang setiap saat menerkam  peradaban kita ??
Di manakah peran lembaga-lembaga fatwa dan organisasi-organisasi Islam di seluruh dunia Islam ??
Kemana para ulama, du’at dan pendidik ??
Kemana perginya mereka yang berakal dan yang masih memiliki ghirah terhadap dien-nya ??

Sungguh perkara ini sudah sangat mengkhawatirkan. Ia menuntut kerja-kerja serius yang dibangun diatas kesadaran dan kepekaan. Ia menuntut pengerahan segala potensi dan kemampuan untuk melindungi ummat dari kotoran dan sampah pemikiran Barat. Ini adalah sebuah perang dalam babak yang baru. Telah lama berlangsung. Dan hari ini, kobar apinya terus saja membakar. Sungguh menyedihkan bila kita tak kunjung menyadari panas nyala api peperangan ini. Namun yang jauh lebih menyedihkan adalah jika kita sengaja menafikan, atau pura-pura tidak tahu dan menutup mata terhadapnya. Sekali lagi, perang ini sungguh nyata. (byn/miz, Mjlh Islamy)

Artikulli paraprakISLAM DAN KAUM WANITA
Artikulli tjetërKerja-kerja Tarbiyah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini