Berikut ini kami sajikan Syarh Arbain An Nawawi Hadits ke 2, Semoga bermanfaat Úóäú ÚõãóÑó ÑÖí Çááå Úìå ÃóíúÖðÇ ÞóÇáó : ÈóíúäóãóÇ äóÍúäõ ÌõáõæúÓñ ÚöäúÏó ÑóÓõæáö Çááåö Õáì Çááå Úáíå æ Óáã ÐóÇÊó íóæúãò ÅöÐú ØóáóÚó ÚóáóíúäóÇ ÑóÌõáñ ÔóÏöíúÏõ ÈóíóÇÖö ÇáËøóíóÇÈö ÔóÏöíúÏõ ÓóæóÇÏö ÇáÔøóÚóÑö áÇó íõÑóì Úóáóíúåö ÃóËóÑõ ÇáÓøóÝóÑö æóáÇó íóÚúÑöÝõåõ ãöäøóÇ ÃóÍóÏñ ÍóÊøóì ÌóáóÓó Åöáì ÇáäøóÈöíøö Õáì Çááå Úáíå æ Óáã ÝóÃóÓúäóÏó ÑõßúÈóÊóíúåö Åöáì ÑõßúÈóÊóíúåö æóæóÖóÚó ßóÝøóíúåö Úóáóì ÝóÎöÐóíúåö æó ÞóÇáó : íÇó ãõÍóãøóÏõ ÃóÎúÈöÑúäöíú Úóäö ÇáÅöÓúÜáÇóãö ¡ ÝóÞóÇáó ÑóÓõÜæáõ Çááåö Õóáøóì Çááåõ ÚóáóÜíúåö æó Óóáøóãó : ÇáÅöÓúáÇóãõ Ãóäú ÊóÔúåóÏó Ãóäú áÇó Åöáåó ÅöáÇøó Çááåõ æó Ãäøó ãõÍóãøóÏðÇ ÑóÓõæáõ Çááåö æóÊõÞöíúãó ÇáÕøóáÇóÉó æóÊõÄúÊöíó ÇáÒøóßÇóÉó æóÊóÕõæúãó ÑóãóÖóÇäó æóÊóÍõÌøó ÇáúÈóíúÊó Åöäö ÇÓúÊóØóÚúÊó Åöáóíúåö ÓóÈöíúáÇð ÞóÇáó : ÕóÏóÞúÊó. ÝóÚóÌöÈúäóÇ áóåõ íóÓúÃóáõåõ æóíõÕóÏøöÞõåõ. ÞóÇáó : ÝóÃóÎúÈöÑúäöí Úóäö ÇáÅöíúãóÇäö¡ ÞóÇáó : Ãóäú ÊõÄúãöäó ÈöÇááåö æóãóáÇóÆößóÊöåö æóßõÊõÈöåö æóÑõÓõáöåö æóÇáíóæúãö ÇáÂÎöÑö æóÊõÄúãöäó ÈöÇáúÞóÏóÑö ÎóíúÑöåö æóÔóÑøóåö : ÞóÇáó : ÕóÏóÞúÊó. ÞóÇáó : ÝóÃóÎúÈöÑúäöí Úóäö ÇáÅöÍúÓóÇäö ¡ ÞóÇáó : Ãóäú ÊóÚúÈõÏó Çááåó ßóÃóäøóßó ÊóÑóÇåõ ÝóÅöäú áóãú Êóßõäú ÊóÑóÇåõ ÝóÅöäøóåõ íóÑóÇßó ÞóÇáó : ÝóÃóÎúÈöÑúäöí Úóäö ÇáÓøóÇÚóÉö ¡ ÞóÇáó : ãóÇ ÇáúãóÓúÄõæúáõ ÚóäúåóÇ ÈöÃóÚúáóãó ãöäó ÇáÓøóÇÆöáö ÞóÇáó : ÝóÃóÎúÈöÑúäöíú Úóäú ÃóãóÇÑóÇÊöåÇó ¡ ÞóÇáó : Ãóäú ÊóáöÏó ÇáÃóãóÉõ ÑóÈøóÊóåóÇ æó Ãóäú ÊóÑóì ÇáúÍõÝóÇÉó ÇáúÚõÑóÇÉó ÇáúÚóÇáóÉó ÑöÚóÇÁó ÇáÔøóÇÁö íóÊóØóÇæóáõæúäó Ýíö ÇáúÈõäúíóÇäö Ëõãøó ÇäúØóáóÞó ÝóáóÈöËúÊõ ãóáöíøðÇ.Ëõãøó ÞóÇáó : íóÇ ÚõãóÑõ ÃóÊóÏúÑöíú ãóäö ÇáÓøóÇÆöáõ ¿ ÞõáúÊõ : Çááåõ æóÑóÓõæáõÜåõ ÃóÚúáóãõ ¡ ÞóÇáó : ÝóÅöäøóåõ ÌöÈúÑöíúáõ ÃóÊóÇßõãú íõÚóáøöãõßõãú Ïöíúäóßõãú. ÑóæóÇåõ ãõÓúáöãñ

Dari ‘Umar radhiallahu ‘anhu juga, telah berkata : Ketika kami duduk dekat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada suatu hari maka dengan tiba-tiba datang kepada kami seorang laki-laki yang memakai pakaian yang sangat putih berambut sangat hitam, tidak tampak padanya tanda-tanda perjalanan dan tak ada seorang pun diantara kami yang mengenalnya, hingga dia duduk dihadapan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu merapatkan lututnya ke lutut beliau dan meletakkan kedua tapak tangannya di atas paha (Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam), seraya bertanya : Wahai Muhammad, beritahukanlah padaku tentang Islam! Maka Rasulullah menjawab : "Islam adalah keharusan bagi engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah dan Muhammad itu utusan-Nya, engkau mendirikan shalat, engkau mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan haji ke Baitullah bila engkau mampu". Dia berkata : Engkau benar. Maka kami heran, dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya. Lalu dia bertanya lagi : Beritahukanlah padaku tentang Iman! Jawab Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam : "Hendaknya engkau beriman kepada Allah, kepada Malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada Hari Kiamat, dan hendaklah engkau beriman kepada Qadar yang baik dan yang buruk ". Orang itu berkata : Engkau benar.

Dia bertanya lagi : Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan! Jawab Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam : "Hendaknya engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu". Dia bertanya lagi : Beritahukanlah aku tentang (kapan) Hari Kiamat! Jawab Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam : "Orang yang ditanya tentang itu tidak lebih tahu dari sipenanya itu sendiri".

Dia bertanya lagi : Beritahukanlah aku tentang tanda-tanda-nya! Jawab Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam : "(Diantaranya) jika seorang hamba (sahaya) telah melahirkan tuannya (majikannya), dan jika engkau melihat orang yang tak beralas kaki, tidak berpakaian, miskin dan penggembala kambing saling berlomba untuk membangun gedung yang tinggi".

Kemudian orang tadi pergi, lalu saya diam dalam waktu yang lama. Kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Wahai ‘Umar, tahukah engkau siapa penanya tadi ?". Jawabku : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam : "Sesungguhnya dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian".(Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

KEDUDUKAN DAN KEUTAMAAN HADITS INI

  • Hadits ini merupakan dalil yang pokok bagi Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menetapkan bahwa rukun Iman ada enam.
  • Hadits ini mempunyai banyak faidah bahkan merupakan pokok dari seluruh hadits sehingga seorang ulama kita yaitu Imam Ibnu Daqiq Al ‘Ied (wafat 702 H) menyebut hadits ini dengan ummul (induk) hadits, beliau mengatakan : "Hadits ini sangat agung dan mengandung seluruh tugas amalan-amalan yang zhohir dan batin. Seluruh ilmu syari’at kembali kepada hadits ini dan bercabang darinya karena hadits ini mengumpulkan ilmu sunnah, maka hadits ini seperti umm (induk) bagi sunnah sebagaimana Al Fatihah dinamakan dengan Ummul Qur’an karena mengandung seluruh makna yang terdapat dalam Al Quran".1
  • Bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah menyebutkan bahwa hadits ini telah menjelaskan seluruh bagian Ad-dien :

    (…ÝóÅöäøóåõ ÌöÈúÑöíúáõ ÃóÊóÇßõãú íõÚóáøöãõßõãú Ïöíúäóßõãú …)
    "Sesungguhnya dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan "agama/dien kalian".2

  • Imam Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini mempunyai kedudukan yang sangat agung, karena hadits ini mencakup penjelasan tentang ad-dien secara keseluruhan.3
  • Dan beliau juga mengatakan: "Barangsiapa yang memperhatikan apa yang telah kami isyaratkan yang menunjukkan keagungan hadits ini dia akan tahu bahwa seluruh ilmu dan ma’rifah akan kembali kepada hadits ini dan masuk di dalamnya. Dan seluruh ulama dari berbagai spesialis ilmu yang ada pada ummat ini ketika berbicara sesuai bidangnya/spesialismenya masing-masing akan berbicara sesuai dengan apa yang dikandung hadits ini baik secara global maupun secara rinci. Karena sesungguhnya Fuqaha (Ulama Fiqih) berbicara tentang masalah ibadah dan ini merupakan bagian dari Arkanul Islam -dan Ulama yang berbicara tentang ushuluddien/aqidah akan berbicara lewat pembahasan syahadatain dan dengan Arkanul Iman, dan ulama yang berbicara tentang ilmu ma’arifat dan masalah bermuamalat (dengan Allah subhanahu wa ta’ala) akan berbicara tentang kedudukan Al Ihsan dan tentang amalan-amalan batin yang masuk juga dalam permasalahan iman- maka seluruh ilmu syariat yang disebutkan oleh kelompok muslimin terangkum dan akan kembali pada hadits ini, sehingga hadits ini saja sudah cukup (dalam membahas seluruh ad dien). Walillahilhamd wal minnah"4

BIOGRAFI SAHABAT PEROWI HADITS

Hadits ini diriwayatkan oleh sahabat Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu dan telah kami sebutkan biografi singkat beliau pada hadits sebelumnya, namun walaupun hadits ini dari sahabat Umar radhiallahu ‘anhu tapi pertama kali diperkenalkan oleh anaknya Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma.5

KISAH BERKAITAN DENGAN HADITS INI

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya hingga ke tabi’i Yahya bin Ya’mar beliau berkata:

"Orang yang pertama kali berbicara tentang takdir di Bashrah adalah Ma’bad Al Juhani. Maka aku (Yahya) dan Humaid bin Abdurrahman Al Himyari berangkat haji atau umroh, dan kami berkata: Jika kita bertemu salah seorang sahabat Rasulullah radhiallahu ‘anhu maka kita bertanya tentang apa yang dikatakan oleh mereka (Ma’bad Al Juhani dan pengikutnya) tentang takdir. Maka Allah memberi taufiq kepada kami untuk bertemu dengan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma yang sedang masuk ke masjid, maka aku dan temanku mendekatinya; salah seorang dari kami di sebelah kanannya yang lain di sebelah kiri beliau. Maka saya menduga bahwa teman saya akan menyerahkan kepada saya untuk berbicara, maka saya berkata: Wahai Abu Abdirrahman, sesungguhnya telah muncul di tempat kami orang-orang yang juga membaca Al Quran dan mengumpulkan ilmu -lalu beliau menyebutkan beberapa ciri-ciri yang lain- mereka itu menganggap tidak ada takdir yang ditetapkan sebelumnya dan semua urusan itu baru terjadi (tanpa takdir sebelumnya). Maka beliau radhiallahu ‘anhu berkata : "Jika engkau bertemu mereka (orang-orang yang mengingkari takdir) maka sampaikan kepada mereka bahwa aku (Abdullah bin Umar) berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dari saya, demi Dzat yang Abdullah bin Umar bersumpah atas nama-Nya, walaupun mereka menginfakkan emas sebesar bukit Uhud, Allah tidak akan menerima infak mereka sampai mereka mau beriman kepada qadar. Kemudian beliau (Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma) mengatakan bapak saya Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu menceritakan kepada kami…..(kemudian beliau membaca hadits ini).6

Dari kisah ini kita bisa mengambil beberapa pelajaran dan kesimpulan, diantaranya:

  1. Bid’ah Qadariyah sudah muncul pada masa tabi’in dan ketika itu sebagian sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup.
  2. Awal kali munculnya bid’ah ini di kota Bashrah yang dipelopori oleh Ma’bad Al Juhani.
  3. Perlunya meruju’ kepada Ulama Besar saat munculnya syubhat dan pemikiran-pemikiran baru yang dilemparkan oleh Ahlul Bida’.
  4. Pentingnya tanzhim (pengaturan) hingga permasalahan yang kecil seperti bertanya pada seorang alim; sebagaimana yang ditunjukkan oleh kedua tabi’i ini yang telah mengatur sedemikian rupa siapa yang menjadi juru bicara dan seterusnya.
  5. Para ahlul bida’ juga membaca Al Quran dan mengumpulkan ilmu namun metodologi mereka dalam mempelajari dan memahaminya menyelisihi manhaj salaf.
  6. Dipahami dari kisah ini bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma mengkafirkan orang yang tidak beriman kepada takdir karena seorang muslim hanyalah berlepas diri dari orang kafir dan orang kafirlah yang tidak diterima sedekahnya, sebagaimana disebutkan dalam QS. 9:54 :
  7. æóãóÇ ãóäóÚóåõãú Ãóäú ÊõÞúÈóáó ãöäúåõãú äóÝóÞóÇÊõåõãú ÅöáÇøó Ãóäøóåõãú ßóÝóÑõæÇ ÈöÇááøóåö æóÈöÑóÓõæáöåö æóáÇó íóÃúÊõæäó ÇáÕøóáóÇÉó ÅöáÇøó æóåõãú ßõÓóÇáóì æóáÇó íõäúÝöÞõæäó ÅöáÇøó æóåõãú ßóÇÑöåõæäó
    Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.

  8. Hadits ini diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu namun diperkenalkan oleh anak beliau Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma.
  9. Para sahabat berhujjah dengan hadits walaupun terhadap masalah-masalah yang belum disebutkan secara sharih (jelas) dalam Al Quran.

Footnote :
1. Syarhul Arba’in oleh Ibnu Daqiq (hal.31)
2. Lihat: Jami’ul Ulum wa Al Hikam (1:97)
3. ibid
4. Jami’ul Ulum wal Hikam (1:134-135)
5. Baca kisahnya pada pembahasan berikut

Artikulli paraprakOrang Mukmin Tidak Kekal Dalam Neraka
Artikulli tjetërHISTORIS AQIDAH ISLAMIYAH

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini